Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Senin, 17 Desember 2012

18 des

"Seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum"
(Yer 23:5-8; Mat 1:18-24)
" Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka." Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: "Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel" -- yang berarti: Allah menyertai kita. Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya" (Mat 1:18-24), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Hari ini dikisahkan seorang tokoh bernama Yusuf, keturunan Daud secara fisik. Ia menerima panggilan dari Allah untuk mengambil Maria sebagai isterinya (Maria bukan keturunan Daud secara fisik), yang sedang hamil karena Roh Kudus. Yusuf tidak takut untuk melaksanakan perintah atau panggilan Allah tersebut, ia "berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya". Terjadi perkawinan atau integrasi antara fisik dan spiritual itulah yang ada dalam diri Yusuf, maka ia juga dikenal sebagai pribadi yang tidak mencemarkan nama baik orang di muka umum. Hemat saya kita semua, sebagai orang beriman atau beragama, juga dipanggil untuk tidak mencemarkan nama baik orang lain di muka umum, dengan kata lain tidak menceriterakan kekurangan atau kelemahan orang lain tanpa perlu di muka umum. Kita semua diharapkan memiliki hati yang tulus alias suci, sehingga dalam situasi dan kondisi apapun dan dimana pun kita senantiasa diharapkan mengusahakan apa yang suci, menyelamatkan dan membahagiakan, terutama keselamatan atau kebahagiaan jiwa manusia. Secara khusus dengan ini kami mengingatkan, entah para suami-isteri maupun rekan-rekan imam, bruder dan suster:  hendaknya jangan menceriterakan kekurangan atau kelemahan pasangan hidupnya atau rekan sekomunitas kepada orang lain tanpa perlu, karena jika kita menceriterakan kekurangan atau kelemahan pasangan hidup atau rekan sekomunitas berarti menghancurkan atau merusak hidup bersama. Jika kita tidak mampu mengasihi mereka yang setiap hari hidup dan bekerja bersama kita, maka sikap kita terhadap orang lain pasti menindas atau mencelakakannya, sebaliknya jika kita mampu mengasihi mereka yang setiap hari hidup dan bekerja dengan kita, maka sikap terhadap orang lain berarti melayani.
·   " Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan menumbuhkan Tunas adil bagi Daud. Ia akan memerintah sebagai raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri" (Yer 23:5). Kita semua kiranya mendambakan bahwa keturunan kita atau  generasi mendatang menjadi orang-orang "yang bijaksana dan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri". Hal itu akan terwujud atau menjadi kenyataan jika kita sendiri pada masa kini juga menjadi orang-orang yang bijaksana, melakukan keadilan dan kebenaran kapan pun dan dimana pun. Hidup dan bertindak dengan bijaksana, adil dan benar pada masa kini sungguh mendesak dan up to date untuk dihayati. Agar kita hidup dan bertindak dengan bijaksana, adil dan benar, hemat saya kita harus senantiasa mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan alias kapan pun dan dimana pun senantiasa melaksanakan kehendak dan perintah Tuhan tanpa cacat. Maka baiklah setiap hari kita membaca dan merenungkan sabda Tuhan, antara lain sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci. Para anggota Lembaga Hidup Bakti, biarawan dan biarawati, yang setia setiap hari mendoakan Ibadat Harian, hendaknya juga setia melaksanakan dan menghayati apa yang tertulis dalam buku Ibadat Harian, entah itu bacaan singkat maupun mazmur-mazmurnya. Bacaan-bacaan singkat yang ada dalam Ibadat Harian merupakan teks Kitab Suci terpilih, maka hayatilah agar anda dapat tumbuh berkembang sebagai orang yang bijaksana, benar dan adil. Demikian juga kita semua, umat beragama yang setia berdoa setiap hari, hendaknya juga menghayati isi doanya, tidak hanya dikatakan atau manis dalam mulut saja, tetapi indah dan mempesona dalam tindakan atau perilaku.
"Kiranya ia mengadili umat-Mu dengan keadilan dan orang-orang-Mu yang tertindas dengan hukum! Sebab ia akan melepaskan orang miskin yang berteriak minta tolong, orang yang tertindas, dan orang yang tidak punya penolong;ia akan sayang kepada orang lemah dan orang miskin, ia akan menyelamatkan nyawa orang miskin" (Mzm 72:2.12-13)
Ign 18 Desember 2012

Minggu, 16 Desember 2012

17des

 "Inilah silsilah Yesus Kristus"
(Kej 49: 2.8-10; Mat 1:1-17)
"Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham. Abraham memperanakkan Ishak, Ishak memperanakkan Yakub, Yakub memperanakkan Yehuda dan saudara-saudaranya, Yehuda memperanakkan Peres dan Zerah dari Tamar, Peres memperanakkan Hezron, Hezron memperanakkan Ram, Ram memperanakkan Aminadab, Aminadab memperanakkan Nahason, Nahason memperanakkan Salmon, Salmon memperanakkan Boas dari Rahab, Boas memperanakkan Obed dari Rut, Obed memperanakkan Isai, Isai memperanakkan raja Daud. Daud memperanakkan Salomo dari isteri Uria, Salomo memperanakkan Rehabeam, Rehabeam memperanakkan Abia, Abia memperanakkan Asa, Asa memperanakkan Yosafat, Yosafat memperanakkan Yoram, Yoram memperanakkan Uzia, Uzia memperanakkan Yotam, Yotam memperanakkan Ahas, Ahas memperanakkan Hizkia, Hizkia memperanakkan Manasye, Manasye memperanakkan Amon, Amon memperanakkan Yosia, Yosia memperanakkan Yekhonya dan saudara-saudaranya pada waktu pembuangan ke Babel. Sesudah pembuangan ke Babel, Yekhonya memperanakkan Sealtiel, Sealtiel memperanakkan Zerubabel, Zerubabel memperanakkan Abihud, Abihud memperanakkan Elyakim, Elyakim memperanakkan Azor, Azor memperanakkan Zadok, Zadok memperanakkan Akhim, Akhim memperanakkan Eliud, Eliud memperanakkan Eleazar, Eleazar memperanakkan Matan, Matan memperanakkan Yakub, Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus.Jadi seluruhnya ada: empat belas keturunan dari Abraham sampai Daud, empat belas keturunan dari Daud sampai pembuangan ke Babel, dan empat belas keturunan dari pembuangan ke Babel sampai Kristus." (Mat 1:1-17), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Mulai hari ini kita memasuki 'Hari Biasa Khusus Adven', dimana kita diajak untuk memasuki saat-saat menjelang pemenuhan janji Allah, Kelahiran Penyelamat Dunia. Warta Gembira hari ini mengenangkan 'silsilah Yesus Kristus', sejak dari Abraham, bapa umat beriman. Mengenal silsilah alias sejarah dengan baik dan benar hemat saya sungguh penting, namun jika dicermati hal ini kurang mendapat perhatian dalam bidang pendidikan di negeri kita. Jika orang tidak tahu silsilah atau sejarah pada umumnya yang bersangkutan juga tidak menghargai nilai-nilai atau warisan keutamaan para leluhur atau pendahulu, yang sungguh baik dan memadai untuk hidup masa kini. Sebagai orang beriman kiranya kita semua perlu mengenal bapa Abraham, yang sungguh beriman, demikian juga sebagai warga negara Indonesia kiranya perlu mengenal tokoh pejuang kemerdekaan NKRI. Sebagai orang beragama kita semua juga memiliki warisan nilai yang sangat berharga, sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci, yang sudah ada berabad-abad yang lalu, dan sampai kini masih up to date untuk menjiwai cara hidup dan cara bertindak kita. Maka sabda hari ini hemat saya antara lain mengajak dan mengingatkan kita akan pentingnya mengenal dengan baik dan benar 'silsilah atau  sejarah'. Marilah kita kenangkan nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan hidup yang diwariskan oleh para pendahulu atau leluhur kita, sebaliknya marilah kita hidup dan bertindak sebaik mungkin, sungguh beriman, bermoral dan berbudi pekerti luhur, agar dengan demikian kita pun mewariskan nilai atau keutamaan hidup bagi generasi mendatang.
·   "Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda ataupun lambang pemerintahan dari antara kakinya, sampai dia datang yang berhak atasnya, maka kepadanya akan takluk bangsa-bangsa" (Kej 49:10). Jika dicermati kiranya kita tahu bahwa keturunan Yehuda pada masa kini sungguh menguasai dunia, misalnya petualang uang atau bankir yang sangat berpengaruh dalam kehidupan ekonomi dunia adalah keturunan Yehuda, demikian juga dalam hal ilmu-ilmu pengetahuan atau ilmiah lainnya. Saya menerima informasi bahwa sampai kini pun, yaitu bangsa Israel, yang tidak lain adalah keturunan Yehuda lebih mengutamakan 'menjual hasil pikiran' kepada dunia, Negara yang kecil ini berpengaruh dalam kehidupan dunia karena pemikir-pemikir yang handal. Maka dengan ini kami harapkan agar kita semua juga lebih mengutamakan kecerdasan dalam membina dan mendidik anak-anak kita, entah itu cerdas secara fisik, sosial, intelektual, emosional maupun spiritual. Orang yang memiliki kecerdasan-kecerdasan ini pasti akan sangat berpengaruh dalam kehidupan bersama: cerdas secara fisik berarti tubuh senantiasa dalam keadaan sehat dan prima sehingga tak mudah kena penyakit dalam situasi dan kondisi apapun, cerdas secara social berarti orang dapat bergaul dan hidup bersama dengan siapapun, cerdas secara intelektual berarti orang dengan mudah memahami apa yang terjadi, cerdas secara emosional berarti orang tak mudah marah alias dapat menguasai emosinya, sedangkan cerdas secara spiritual berarti yang bersangkutan sungguh fungsional menyelamatkan dimana pun dan kapan pun.
"Ya Allah, berikanlah hukum-Mu kepada raja dan keadilan-Mu kepada putera raja! Kiranya gunung-gunung membawa damai sejahtera bagi bangsa, dan bukit-bukit membawa kebenaran! Kiranya ia memberi keadilan kepada orang-orang yang tertindas dari bangsa itu, menolong orang-orang miskin" (Mzm 72:1.3-4b)
Ign 17 Desember 2012

Jumat, 14 Desember 2012

MgAdven III


Mg Adven III : Zef 3:14-18a; Flp 4:4-7; Luk 3:10-18
"Jika demikian, apakah yang harus kami perbuat?"
Kutipan judul di atas ini kiranya senada dengan perjalanan akhir dalam Latihan Rohani St.Ignatius Loyola pada Minggu Pertama, dimana setelah retretan diajak mawas diri untuk menyadari dosa dan kerapuhan dirinya, kemudian akan bertanya pada dirinya sendiri: "Apa yang harus kuperbuat?". Pertanyaan muncul karena menyadari diri sebagai orang berdosa yang telah menerima kasih pengampunan Allah secara melimpah ruah. Kami percaya kita semua setelah kurang lebih menelusuri masa Adven juga mengadakan mawas diri, serta menyadari diri sebagai orang berdosa dan mempertanyakan "apa yang harus saya perbuat". Maka baiklah sesuai dengan Warta Gembira hari ini ada tiga profesi diangkat, yaitu: orang kaya, pemungut cukai atau militer dan mungkin anda terkait dengan profesi tersebut hendaknya mawas diri dan menanggapi sabda-sabda di bawah ini.
"Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian." (Luk 3:11)
Sabda di atas ini kiranya terarah bagi orang-orang kaya atau berkecukupan dalam hal harta benda atau kebutuhan hidup sehari-hari. Anda semua diharapkan uutuk berbagi kepada sesama alias solider terhadap mereka yang miskin dan berkekurangan di lingkungan hidup atau kerja anda,  dan sekiranya di lingkungan hidup dan kerja anda tidak ada yang sungguh membutuhkan bantuan, hendaknya solidaritas anda disalurkan melalui instansi Gerejani atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak dalam pelayanan terhadap mereka yang miskin dan berkekurangan. Solidaritas anda kiranya juga dapat disalurkan secara langsung ke panti-panti social atau panti-panti asuhan, tanpa pandang bulu atau SARA.
Jati diri manusia adalah social, artinya dari lubuk hati manusia yang terdalam ada kerinduan atau dambaan untuk hidup bersama dengan orang lain, sebagaimana disabdakan oleh Allah, yaitu bahwa "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." (Kej 2:11). Maka marilah kita bina diri kita maupun anak-anak kita perihal kepekaan terhadap orang lain, alias keutamaan social. Kami merasa dan melihat bahwa kepekaan social kebanyakan orang masa kini sungguh memprihatinkan, bahkan ada kecenderungan kuat dari kebanyakan orang untuk bersikap mental egois, hanya mengutamakan dan mengedepankan kepentingan pribadi, cari enaknya sendiri. Sebagai orang Indonesia marilah kita usahakan agar sila kelima dari Pancasila, yaitu "Keadilan social bagi seluruh bangsa" segera terwujud. Sungguh memprihatinkan jika dicermati bahwa departemen yang harus memperhatikan masalah social di negeri kita ini kurang melaksanakan tugasnya dengan baik, bahkan korupsi masih marak di lingkungan Departemen Sosial. 
            "Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu." (Luk 3:13)
Kutipan di atas ini erat kaitannnya dalam pinjam-meminjam. Pinjam-meminjam kiranya sungguh hidup dalam kehidupan bersama, tidak hanya secara pribadi atau perseorangan, tetapi juga secara organisatoris dan kenegaraan. Pinjam-meminjam memang juga merupakan salah satu bentuk penghayatan hidup dan kerja bersama, mengingat dan memperhatikan keterbatasan dan kelemahan masing-masing. Mereka yang berkekurangan dalam hal tertentu mencari pinjaman pada pihak lain, dan mereka yang merasa dapat memberi pinjaman pun dengan besar hati menanggapi secara positif, karena pada dirinya juga ada kekurangan tertentu. Memang masing-masing dari kita memiliki kelebihan dan kekurangan, dan selayaknya kemudian lalu saling meminjam.
Kita semua diingatkan agar mentaati tata tertib atau aturan pinjam-meminjam dengan baik dan benar, "Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan". Peringatan ini mungkin secara khusus terarah kepada para rentenir, yang pada umumnya mencekik orang-orang kecil dan miskin. Sungguh mengerikan bunga pinjaman yang harus dibayar kepada rentenir sebesar 20% (dua puluh persen) per bulan dari nominal sisa pinjaman yang ada, yang berarti bunga setahun lebih dari 100%.  Semoga para rentenir bertobat, dan kepada para pejabat pemerintahan di tingkat manapun kami ajak untuk memberantas rentenir yang menyengsarakan orang-orang kecil, miskin dan berkekurangan.      
"Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu."  (Luk 3:14)
Sabda ini memang secara khusus terarah kepada para prajurit atau militer serta profesi yang terkait dengan militer, karena ditanyakan oleh prajurit. Aneka bentuk perampasan dan pemerasan yang dilakukan oleh oknum-oknum Angkatan Bersenjata di negeri ini rasanya masih marak terjadi. Ada oknum-oknum yang merampas atau memeras secara halus dengan kedok atau alasan keamanan: melindungi judi atau pelacuran dengan imbalan uang. Yang sungguh memprihatinkan adalah mereka yang seharusnya memperjuangkan kejujuran dan memberantas korupsi dan kejahatan justru melakukan korupsi tanpa malu. Mereka yang seharusnya melayani rakyat justru merampas hak rakyat atau memeras rakyat melalui aneka cara dan bentuk. Korupsi atau uang pelicin atau sogokan masa kini tidak disampaikan secara terbuka seperti dulu, melainkan disampaikan secara diam-diam, seperti di hotel, di restaurant/rumah makan, di halte bus atau tempat parkir dst..
"Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus" (Fil 4:6-7), demikian pesan Paulus kepada umat di Filipi. Kutipan ini kiranya baik untuk direnungkan dan dihayati oleh mereka yang suka merampas dan memeras hak orang lain. Orang yang memiliki kebiasaan untuk memeras atau merampas pada umumnya dalam dirinya ada kekuatiran tentang kebutuhan dan kesejahteraan hidup. Paulus mengingatkan kita semua bahwa jika kita memiliki kekuatiran akan kebutuhan dan kesejahteraan hidup, hendaknya menyatakan hal tersebut kepada Allah, artinya dengan rendah hati mohon bantuan dari Allah dan secara konkret mohon bantuan kepada saudara-saudari kita. Percayalah di dunia ini lebih banyak orang baik yang senantiasa siap sedia untuk membantu daripada orang pelit atau egois.    
"Janganlah takut, hai Sion! Janganlah tanganmu menjadi lemah lesu.TUHAN Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai, seperti pada hari pertemuan raya."(Zef 3:16-18a). Kutipan ini kiranya baik untuk direnungkan dan dihayati oleh mereka yang memiliki kekuatiran akan kebutuhan dan kesejahteraan hidup. "Ia membaharui engkau dalam kasihNya", inilah yang kiranya baik kita renungkan atau refleksikan serta kemudian kita hayati dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari. Serahkan kekuatiran anda kepada Tuhan, dan percayalah bahwa Tuhan akan memusnahkan kekuatiran anda.
"Sungguh, Allah itu keselamatanku; aku percaya dengan tidak gementar, sebab TUHAN ALLAH itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku." Maka kamu akan menimba air dengan kegirangan dari mata air keselamatan. Pada waktu itu kamu akan berkata: "Bersyukurlah kepada TUHAN, panggillah nama-Nya, beritahukanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa, masyhurkanlah, bahwa nama-Nya tinggi luhur! Bermazmurlah bagi TUHAN, sebab perbuatan-Nya mulia; baiklah hal ini diketahui di seluruh bumi!" (Yes 12:2-5)
Ign 16 Desember 2012