Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Kamis, 06 Desember 2012

7des

"Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya"
(Ef 3:8-12; Yoh 10:11-16)

"Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu. Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu. Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku ,  sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku. Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala." (Yoh 10:11-16), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Ambrosius, Uskup dan Pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Sabda hari ini kiranya baik untuk menjadi bahan permenungan atau refleksi bagi para gembala, para uskup dan pastor, maupun para pembantunya, dalam rangka menggembalakan umat Allah. Para gembala beserta para pembantunya diharapkan meneladan semangat Yesus, "Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya". Menghayati semangat gembala kiranya dapat melaksanakan motto bapak pendidikan kita, Ki Hajar Dewantoro, yaitu "ing arso asung tulodho, ing madya ambangun karso, tut wuri handayani" (=keteladanan, pemberdayaan, motivasi). Para gembala beserta para pembantunya pertama-tama dan terutama hendaknya dapat menjadi teladan dalam penghayatan iman alias dalam hidup baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur maupun dalam semangat melayani dengan rendah hati atau menghayati rahmat atau janji baptis secara total, yaitu hanya mengabdi Tuhan saja serta menolak semua godaan setan. Maka kami berharap kepada segenap umat Allah ketika melihat para gembalanya tidak dapat menjadi teladan, tegor saya seraya menanyakan : "Apakah Romo/Pastor sudah dibaptis?". Pemberdayaan berarti kehadiran gembala dimana pun dan kapan pun hendaknya dapat memberdayakan iman umat, membangkitkan atau menggairahkan yang lesu, menyembuhkan yang sakit, terutama mereka yang sakit hati. Cara hidup dan cara kerja para gembala hendaknya juga menjadi motivator atau penggerak umat untuk berpartisipasi dalam hidup beriman, menggereja atau bermasyarakat.

·   "Kepadaku, yang paling hina di antara segala orang kudus, telah dianugerahkan kasih karunia ini, untuk memberitakan kepada orang-orang bukan Yahudi kekayaan Kristus, yang tidak terduga itu, dan untuk menyatakan apa isinya tugas penyelenggaraan rahasia yang telah berabad-abad tersembunyi dalam Allah, yang menciptakan segala sesuatu, supaya sekarang oleh jemaat diberitahukan pelbagai ragam hikmat Allah kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di sorga, sesuai dengan maksud abadi, yang telah dilaksanakan-Nya dalam Kristus Yesus, Tuhan kita" (Ef 3:8-11). Sebagai seorang rasul yang ulung Paulus menghayati diri sebagai 'yang paling hina di antara segala orang kudus'. Yang dimaksudkan dengan orang kudus di sini adalah umat yang beriman kepada Yesus Kristus atau umat Allah. Kiranya hal ini juga dinyatakan dan diusahakan untuk dihayati oleh para Uskup, yaitu sebagai 'hamba yang hina dina'. Memang para gembala diharapkan menghayati kerendahan hati dalam cara hidup dan cara bertindaknya, antara lain tidak pernah mengeluh atau menggerutu, termasuk ketika harus menghadapi masalah atau lelah dalam pelayanan. Rendah hati juga dapat diartikan sebagai "sikap dan perilaku yang tidak suka menonjolkan dan menomorsatukan diri, yaitu dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun pada kenyataannya lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan dirinya" (Prof  Dr Edi Setyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Kiranya segenap umat Allah juga diharapkan hidup dan bertindak dengan rendah hati, entah itu berarti meneladan para gembala atau mendukung usaha para gembala untuk hidup dan bertindak dengan rendah hati. Kerendahan hati merupakan keutamaan dasar, kebalikan dari kesombongan, maka mereka yang masih hidup dan bertindak dengan sombong kami ajak untuk bertobat menjadi rendah hati.

" Aku hendak menyanyikan kasih setia TUHAN selama-lamanya, hendak memperkenalkan kesetiaan-Mu dengan mulutku turun-temurun. Sebab kasih setia-Mu dibangun untuk selama-lamanya; kesetiaan-Mu tegak seperti langit. Engkau telah berkata: "Telah Kuikat perjanjian dengan orang pilihan-Ku, Aku telah bersumpah kepada Daud, hamba-Ku:Untuk selama-lamanya Aku hendak menegakkan anak cucumu, dan membangun takhtamu turun-temurun" (Mzm 89:2-5)
Ign 7 Desember 2012

Rabu, 05 Desember 2012

6 Des

"Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu"
(Yes 26:1-6; Mat 7:21.24-27)

" Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya." (Mat 7:21.24-27), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Ada orang jika berdoa begitu panjang dan bertele-tele serta disertai keluhan atau air mata, seolah-olah sungguh berdoa, padahal hal itu kiranya hanya pura-pura saja. Ada orang tidak berdoa lagi karena setiap kali berdoa mengajukan permohonan kepada Tuhan tak ada satu pun yang dikabulkan. Dalam hidup beriman atau beragama yang lebih harus diutamakan adalah penghayatan atau pelaksanaan, bukan omong-omong atau wacana. Dalam hal berdoa, hendaknya isi doa sungguh yang ada dalam hati, dan setelah didoakan hendaknya juga membaktikan diri sepenuhnya demi terwujudnya doa tersebut. Sebagai contoh: berdoa agar lulus dalam ujian atau belajar harus disertai dengan giat belajar, demikian juga berdoa agar sukses dalam bekerja harus disertai dengan bekerja keras, dst… Dalam hal berdoa kiranya kita dapat belajar dari Doa Bapa Kami yang diajarkan oleh Yesus: singkat, padat berisi dan sesuai dengan kebutuhan hidup sehari-hari. Sabda hari ini juga mengingatkan dan mengajak kita semua untuk memiliki iman yang teguh dan handal, maka baiklah di Tahun Iman ini kita sungguh-sungguh berusaha memperteguh dan memperkuat iman kita, sehingga kita tak mudah terseret ke tindakan-tindakan dosa atau amoral. Godaan dan rayuan berupa kenikmatan-kenikmatan duniawi pada masa kini sungguh marak, maka bagi orang yang tak kuat dan tak handal imannya pasti akan mudah jatuh ke dalam dosa. Kita hendaknya juga saling mendoakan agar kita semua memiliki iman yang kuat dan handal. Kami berharap kepada para orangtua maupun guru atau pendidik untuk lebih mengutamakan atau mengedepankan pembinaan iman, dan pembinaan iman di sekolah-sekolah secara inklusif dapat dilaksanakan dapat proses 'mengajar-belajar' jenis mata pelajaran apapun.

·   "Percayalah kepada TUHAN selama-lamanya, sebab TUHAN ALLAH adalah gunung batu yang kekal. Sebab Ia sudah menundukkan penduduk tempat tinggi; kota yang berbenteng telah direndahkan-Nya, direndahkan-Nya sampai ke tanah dan dicampakkan-Nya sampai ke debu. Kaki orang-orang sengsara, telapak kaki orang-orang lemah akan menginjak-injaknya."(Yes 26:4-6). Kutipan ini kiranya merupakan dukungan dan ajakan bagi kita semua, umat beriman, untuk senantiasa mengusahakan keteguhan, ketabahan dan kehandalan iman. Hendaknya dalam segala sesuatu senantiasa percaya kepada Penyelenggaraan Ilahi atau Tuhan, "sebab Tuhan Allah adalah gunung batu yang kekal", sehingga siapapun yang mengandalkan diri pada Penyelenggaraan Ilahi dalam segala sesuatu akan memiliki iman yang tangguh dan handal, tak tergoyahkan oleh godaan-godaan atau rayuan-rayuan setan. Di dalam Anggaran Dasar yayasan atau LSM katolik dalam asas dasar dikatakan bahwa "dengan atau dalam semangat iman kristiani yayasan berasaskan Pancasila dan UUD 45 dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara". Semoga para penyelenggara dan pelaksana yayasan atau LSM katolik menghayati asas ini, dan mungkin secara konkret juga menghayati spiritualitas atau visi pendiri yayasan atau LSM terkait. Secara khusus kami berharap kepada para pengelola, penyelenggara dan pelaksana karya pelayanan pastoral pendidikan atau sekolah sungguh memperhatikan pendidikan iman, nilai atau budi pekerti bagi para peserta didiknya. Pendidikan nilai atau budi pekerti, sebagaimana saya katakan di atas secara inklusif dilaksanakan dalam semua pengajaran mata pelajaran, misalnya kedisiplinan dan kejujuran. Disiplin dan jujur pada masa kini sungguh mendesak dan up to date untuk dihayati dan disebarluaskan. Anak-anak di dalam keluarga hendaknya sedini mungkin dididik dan dibina dalam disiplin dan jujur.

"Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.  Lebih baik berlindung pada TUHAN dari pada percaya kepada manusia. Lebih baik berlindung pada TUHAN dari pada percaya kepada para bangsawan" (Mzm 118:1-8-9)
Ign 6 Desember 2012
 

Selasa, 04 Desember 2012

5des


"HatiKu tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu"
(Yes 25:6-10a; Mat 15:29-37)

"Setelah meninggalkan daerah itu, Yesus menyusur pantai danau Galilea dan naik ke atas bukit lalu duduk di situ. Kemudian orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya membawa orang lumpuh, orang timpang, orang buta, orang bisu dan banyak lagi yang lain, lalu meletakkan mereka pada kaki Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya. Maka takjublah orang banyak itu melihat orang bisu berkata-kata, orang timpang sembuh, orang lumpuh berjalan, orang buta melihat, dan mereka memuliakan Allah Israel. Lalu Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata: "Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar, nanti mereka pingsan di jalan." Kata murid-murid-Nya kepada-Nya: "Bagaimana di tempat sunyi ini kita mendapat roti untuk mengenyangkan orang banyak yang begitu besar jumlahnya?" Kata Yesus kepada mereka: "Berapa roti ada padamu?" "Tujuh," jawab mereka, "dan ada lagi beberapa ikan kecil." Lalu Yesus menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti dan ikan-ikan itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya pula kepada orang banyak. Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, tujuh bakul penuh" (Mat 15:29-37), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Belas kasih merupakan salah satu wujud keutamaan dari orang yang memiliki hati bersih dan terbuka, serta senantiasa siap sedia untuk disakiti. Hari-hari ini mungkin cukup banyak orang yang membutuh-kan belas kasihan karena menjadi korban bencana alam, entah itu banjir bandang, tanah longsor dll.., yang menuntut kemurahan hati orang yang memiliki hati seperti Yesus, yang HatiNya tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak yang kelaparan. Apakah sebagai orang beriman kita memiliki hati yang tergerak oleh belas kasihan? Adakah di lingkungan hidup dan kerja kita yang sungguh membutuhkan belas kasihan? Marilah kita sadari dan hayati bahwa kita semua dapat tumbuh berkembang sebagaimana adanya pada saat ini, hemat kami karena belas kasihan Allah yang kita terima melalui sekian banyak orang yang telah memperhatikan dan mengasihi kita, tentu saja terutama orangtua atau pribadi-pribadi yang merawat dan mendidik kita sejak kecil. Dengan kata lain jika kita jujur dan terbuka mawas diri, kiranya masing-masing dari kita pasti akan menyadari dan menghayati  bahwa dirinya kaya akan  belas kasihan, serta kemudian tergerak untuk berbelas kasih kepada siapapun yang membutuhkan di lingkungan hidup maupun kerja kita. Jika kita semua saling berbelas kasih, kiranya tak ada lagi orang-orang yang menderita kelaparan, kehausan atau berkekurangan dalam kebutuhan pokok hidup sehari-hari.

·   "TUHAN semesta alam akan menyediakan di gunung Sion ini bagi segala bangsa-bangsa suatu perjamuan dengan masakan yang bergemuk, suatu perjamuan dengan anggur yang tua benar, masakan yang bergemuk dan bersumsum, anggur yang tua yang disaring endapannya. Dan di atas gunung ini TUHAN akan mengoyakkan kain perkabungan yang diselubungkan kepada segala suku bangsa dan tudung yang ditudungkan kepada segala bangsa-bangsa"(Yes 25:6-7). Kutipan ini merupakan kata-kata penghiburan yang penuh pengharapan. Masa adven juga diwarnai oleh keutamaan harapan, maka baiklah saya mengajak anda sekalian, segenap umat beriman, khususnya yang beriman kepada Yesus Kristus, untuk senantiasa dapat menjadi penghiburan yang penuh harapan bagi saudara-saudarinya dalam dan melalui cara hidup dan cara bertindak setiap hari. Maka baiklah kita perhatikan juga di lingkungan hidup dan kerja kita: adakah orang yang putus asa atau frustrasi, karena kegagalan dalam hal tertentu?  Dekati dan sikapi mereka dengan belas kasih seraya menghiburnya dengan kata-kata yang membangkitkan gairah dan semangat hidupnya. Ingatkan mereka bahwa dunia ini sangat luas, sarat dengan aneka kemungkinan dan kesempatan, maka gagal dalam hal tertentu masih ada banyak kemungkinan lain. Memang kita sendiri dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari hendaknya dapat menjadi penghiburan bagi orang lain, dimana pun berada atau kemana pun pergi kita mampu menggairahkan dan membangkitkan mereka yang putus asa atau frustrasi. Tentu saja kami berharap secara khusus kepada segenap anggota keluarga dalam keluarga masing-masing: hendaknya masing-masing anggota keluarga memiliki semangat menghibur dan menggairahkan yang lain, dan tentu saja secara khusus terjadi dalam relasi antar suami dan isteri, bapak dan  ibu. Biarlah pengalaman terhibur dan tergairahkan di dalam keluarga kemudian tumbuh berkembang dalam  lingkungan yang lebih luas.

"TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku." (Mzm 23:1-4)
Ign 5 Desember 2012