Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Rabu, 14 November 2012

15 nov

"Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh angkatan ini"
(Flm 7-20; Luk 17:20-25)

" Atas pertanyaan orang-orang Farisi, apabila Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, kata-Nya: "Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu." Dan Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Akan datang waktunya kamu ingin melihat satu dari pada hari-hari Anak Manusia itu dan kamu tidak akan melihatnya. Dan orang akan berkata kepadamu: Lihat, ia ada di sana; lihat, ia ada di sini! Jangan kamu pergi ke situ, jangan kamu ikut. Sebab sama seperti kilat memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain, demikian pulalah kelak halnya Anak Manusia pada hari kedatangan-Nya. Tetapi Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh angkatan ini" (Luk 17:20-25), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Kerajaan Allah berarti Allah yang meraja atau menguasai. Kapan Allah sungguh merajai atau menguasai kita, umat beriman? Allah sungguh merajai atau menguasai kita tidak lain adalah ketika kita hidup baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur. Pada masa kini hemat saya hidup baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur akan menghadapi banyak masalah, tantangan dan hambatan, mengingat dan memperhatikan kemerosotan moral menjiwai hampir semua bidang kehidupan bersama di tengah masyarakat. "Sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu", demikian sabda Yesus. Memang di antara kita pasti ada orang-orang yang sungguh baik, bermoral atau berbudi pekerti luhur, demikian pula kami percaya bahwa dalam diri pribadi kita masing-masing ada kehendak baik. Maka marilah kita sharingkan kehendak baik kita kepada saudara-saudari kita serta kemudian kita sinerjikan sehingga ada satu kehendak baik milik bersama-sama untuk selanjutnya diwujudkan bersama-sama. Jika dalam kebersamaan kita pasti mampu mengatasi aneka hambatan, masalah dan tantangan, dan tentu saja kita semua harus siap sedia untuk berkorban dan berjuang, yang mungkin disertai oleh aneka penderitaan. Tak pernah ada perjuangan tanpa pengorbanan dan penderitaan. Perhatikan para atlit atau olahragawan yang sukses: bukankah mereka sungguh berjuang dengan pengorbanan dan penderitaan. Kami berharap, sekali lagi kami tujukan atau arahkan kepada para orangtua: janganlah memanjakan anak-anak anda, melainkan sedini mungkin pelan-pelan, berproses perkenalkan dan didik anak-anak bahwa untuk hidup baik, sejahtera, bahagia dan selamat orang harus berjuang dengan pengorbanan dan penderitaan. "Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian", begitulak kata sebuah pepatah yang selayaknya menjadi acuan hidup kita: bekerja keras dahulu baru gajian.

·   "Dari kasihmu sudah kuperoleh kegembiraan besar dan kekuatan, sebab hati orang-orang kudus telah kauhiburkan, saudaraku.Karena itu, sekalipun di dalam Kristus aku mempunyai kebebasan penuh untuk memerintahkan kepadamu apa yang harus engkau lakukan,tetapi mengingat kasihmu itu, lebih baik aku memintanya dari padamu. Aku, Paulus, yang sudah menjadi tua, lagipula sekarang dipenjarakan karena Kristus Yesus, mengajukan permintaan kepadamu mengenai anakku yang kudapat selagi aku dalam penjara, yakni Onesimus -- dahulu memang dia tidak berguna bagimu, tetapi sekarang sangat berguna baik bagimu maupun bagiku." (Flm 7-11). Onesimus adalah sesuatu yang berguna, menguntungkan dan bermanfaat. Yang dimaksudkan dalam kutipan di atas ini antara lain adalah Kitab Suci atau sabda-sabda Tuhan. Selama berada dalam penjara karena Kristus Yesus, Paulus tidak tinggal diam, melainkan tetap giat dan rajin membaca dan merenungkan apa yang tertulis di dalam Kitab Suci (dalam kesendirian tanpa diganggu orang sungguh merupakan kesempatan untuk secara pribadi bertemu dengan Tuhan). Maka marilah di Tahun Iman ini kita tingkatkan dan perdalam dalam hal membaca dan merenungkan apa yang tertulis di dalam Kitab Suci. Kita semua kiranya mendambakan keuntungan terus menerus dalam hidup dan bekerja, tetapi lebih dalam hal keselamatan jiwa. Jika kita sungguh mendambakan keuntungan terkait dengan keselamatan jiwa kita, maka jangan melupakan hidup rohani atau doa setiap hari, dan tentu saja kapan pun dan dimana pun senantiasa melakukan apa yang baik, menyelamatkan dan membahagiakan, terutama keselamatan atau kebahagiaan jiwa manusia. Akan menjadi kegembiran besar dan tak akan mudah terlupakan jika apa yang kita lakukan sungguh menyelamatkan jiwa kita sendiri maupun jiwa orang lain yang kena dampak hidup dan kerja kita.

"Yang menegakkan keadilan untuk orang-orang yang diperas, yang memberi roti kepada orang-orang yang lapar. TUHAN membebaskan orang-orang yang terkurung, TUHAN membuka mata orang-orang buta, TUHAN menegakkan orang yang tertunduk, TUHAN mengasihi orang-orang benar. TUHAN menjaga orang-orang asing, anak yatim dan janda ditegakkan-Nya kembali, tetapi jalan orang fasik dibengkokkan-Nya.TUHAN itu Raja untuk selama-lamanya, Allahmu, ya Sion, turun-temurun! Haleluya" (Mzm 146:7-10)
Ign 15 November 2012
Note: Selamat Tahun Baru (1Muharam 1434 H)

Selasa, 13 November 2012

14 nov

"Aku harus berada di dalam rumah BapaKu?"
(2Pet 1:2-11; Luk 2:41-50)

"Tiap-tiap tahun orang tua Yesus pergi ke Yerusalem pada hari raya Paskah. Ketika Yesus telah berumur dua belas tahun pergilah mereka ke Yerusalem seperti yang lazim pada hari raya itu. Sehabis hari-hari perayaan itu, ketika mereka berjalan pulang, tinggallah Yesus di Yerusalem tanpa diketahui orang tua-Nya. Karena mereka menyangka bahwa Ia ada di antara orang-orang seperjalanan mereka, berjalanlah mereka sehari perjalanan jauhnya, lalu mencari Dia di antara kaum keluarga dan kenalan mereka.Karena mereka tidak menemukan Dia, kembalilah mereka ke Yerusalem sambil terus mencari Dia. Sesudah tiga hari mereka menemukan Dia dalam Bait Allah; Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka. Dan semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasan-Nya dan segala jawab yang diberikan-Nya. Dan ketika orang tua-Nya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibu-Nya kepada-Nya: "Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau." Jawab-Nya kepada mereka: "Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?" Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka" (Luk 2:41-50), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan St.Stanislaus Kostka, biarawan SJ, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Pertama-tama saya minta maaf, karena saya seorang Yesuit, maka saya ambil bacaan untuk mengenangkan St.Stanislaus Kostka. Seorang biarawan berarti menjadi anggota lembaga hidup bakti atau juga disebut religius, maka memiliki tugas kerasulan utama : menjadi 'saksi hidup yang telah dibaktikan, sebagaimana dikatakan dalam KHK bahwa "Kerasulan semua religius pertama-tama terletak dalam kesaksian hidup mereka yang sudah dibaktikan, yang harus mereka pelihara dengan doa dan tobat" (KHK kan 673). 'Memelihara hidup bakti dengan doa dan tobat' kiranya senada dengan senantiasa 'berada di rumah Bapa/Allah', alias dalam keadaan suci, bersih dari aneka macam bentuk dosa. Pakaian resmi para religius pada umumnya juga berwarna putih, yang menunjukkan kesucian atau kebersihan, maka dengan ini kami mengingatkan dan mengajak segenap anggota lembaga hidup bakti, para biarawan dan biarawati untuk senantiasa setia pada karisma pendiri, sungguh membaktikan diri sepenuhnya kepada Allah, Penyelenggaraan Ilahi. Maka ketika melihat cara hidup dan cara bertindak para biarawan dan biarawati tidak sungguh membaktikan hidupnya alias suci, hendaknya umat tidak takut dan ragu menegor dan mengingatkannya dengan rendah hati. Tanyakan pada diri anda sendiri maupun orang lain yang telah dibaptis: "Apakah aku/anda telah dibaptis?". Bukankah dibaptis berarti disucikan atau dibersihkan dari dosa dan orang hanya mau mengabdi Tuhan saja serta menolak godaan setan?

·   "Kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang" (2Pet 1:5-7). Kiranya kita semua mengaku diri sebagai orang beriman, maka marilah kita hayati saran atau nasihat Petrus di atas ini. Ada tiga keutamaan utama yaitu iman, harapan dan cinta. Jika kita sungguh beriman selayaknya kita akan hidup saling mencinta atau mengasihi dengan siapapun dan dimana pun tanpa pandang bulu, tempat maupun waktu. Ingatlah bahwa dari iman ke cinta harus melalui harapan, dan isi harapan tidak lain adalah sebagaimana dikatakan Petrus di atas, yaitu senantiasa berusaha menambahkan pada diri kita: pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan dan kasih kepada saudra-saudara. Apa yang perlu ditambahkan ini hendaknya diusahakan dengan bergairah dan ceria, sebagai bukti bahwa kita hidup dalam pengharapan, dan keutamaan-keutamaan terjadi secara berurutan, artinya pertama-tama kita harus menambahkan pengetahuan, maka marilah di Tahun Iman ini kita pelajari aneka macam dokumen Gerejani. Ada bahaya ketika orang kaya akan pengetahuan akan jatuh ke kesombongan, maka hendaknya kemudiaan diusahakan 'penguasaan diri', dan dari penguasaan diri yang sukses orang akan tekun dan dari ketekunan lahirlah kesalehan, serta kemudian berkembang menjadi cintakasih. Kami harapkan keutamaan-keutamaan tersebut sedini mungkin dibiasakan atau dididikkan pada anak-anak dengan teladan konkret dari orangtua.

"Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: "Mari kita pergi ke rumah TUHAN." Sekarang kaki kami berdiri di pintu gerbangmu, hai Yerusalem. Hai Yerusalem, yang telah didirikan sebagai kota yang bersambung rapat, ke mana suku-suku berziarah, yakni suku-suku TUHAN, untuk bersyukur kepada nama TUHAN sesuai dengan peraturan bagi Israel. Sebab di sanalah ditaruh kursi-kursi pengadilan, kursi-kursi milik keluarga raja Daud." (Mzm 122:1-5)
Ign 13 November 2012

Minggu, 11 November 2012

12 nov


"Jagalah dirimu!"
(Tit 1:1-9; Luk 17:1-6)

"Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. Adalah lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke dalam laut, dari pada menyesatkan salah satu dari orang-orang yang lemah ini. Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia." Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: "Tambahkanlah iman kami!" Jawab Tuhan: "Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu." (Luk 17:1-6), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Yosafat, Uskup dan Martir, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Orang yang tak dapat menjaga atau mengurus dirinya dengan baik dan benar pasti tak mungkin atau tak dapat menjaga atau  mengurus orang lain. Dengan kata lain orang yang tak dapat mengurus atau menjaga dirinya akan menjadi batu sandungan bagi orang lain melakukan dosa atau tindak kejahatan. Sabda hari ini mengajak dan mengingatkan kita semua agar dalam hidup sehari-hari tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain serta dengan rela dan besar hati mengampuni siapapun yang menyalahi atau menyakiti kita alias berdosa. Pertama-tama kami mengajak dan mengingatkan kita semua di dalam Tahun iman ini hendaknya kita sungguh menjaga dan mengurus iman kita sebaik mungkin. Secara khusus kepada para gembala atau pelayan umat kami harapkan dapat menjadi contoh atau teladan dalam penghayatan iman. Memang setia pada iman pada masa kini sungguh merupakan bentuk penghayatan rahmat kemartiran, mengingat dan memperhatikan kemerosotan moral terjadi di sana-sini dalam kehidupan sehari-hari. Menjadi saksi kasih pengampunan pada masa kini kiranya juga merupakan salah satu bentuk penghayatan rahmat kemartiran, mengingat dan memperhatikan bahwa banyak orang lebih suka balas dendam ketika dirinya disakiti atau dipersulit hidupnya. Yesus mengingatkan bahwa jika kita memiliki iman sekecil 'biji sesawi' saja kita dapat melakukan sesuatu yang luar biasa, termasuk menjadi saksi iman dalam kondisi dan situasi apapun serta mengampuni mereka yang menyalahi atau menyakiti kita. Marilah kita hidup saling mengampuni sebagai perwujudan iman kita kepada Tuhan, yang senantiasa mengampuni kesalahan dan dosa-dosa kita.

·   "Aku telah meninggalkan engkau di Kreta dengan maksud ini, supaya engkau mengatur apa yang masih perlu diatur dan supaya engkau menetapkan penatua-penatua di setiap kota, seperti yang telah kupesankan kepadamu,yakni orang-orang yang tak bercacat, yang mempunyai hanya satu isteri, yang anak-anaknya hidup beriman dan tidak dapat dituduh karena hidup tidak senonoh atau hidup tidak tertib.Sebab sebagai pengatur rumah Allah seorang penilik jemaat harus tidak bercacat, tidak angkuh, bukan pemberang, bukan peminum, bukan pemarah, tidak serakah,melainkan suka memberi tumpangan, suka akan yang baik, bijaksana, adil, saleh, dapat menguasai diri dan berpegang kepada perkataan yang benar, yang sesuai dengan ajaran yang sehat, supaya ia sanggup menasihati orang berdasarkan ajaran itu dan sanggup meyakinkan penentang-penentangnya" (Tit 1:5-9). Kutipan di atas ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi bagi para pelayan atau gembala umat, yaitu hendaknya "tidak bercacat, tidak angkuh, buka pemberang, bukan peminum, bukan pemarah, tidak serakah, melainkan suka memberi tumpangan, suka akan yang baik, bijaksana, adil, saleh, dapat memguasai diri dan berpegang kepada perkataan yang benar". Dari hal-hal yang bersifat negatif di atas kiranya yang baik diusahakan pada masa kini adalah 'bukan pemarah dan tidak serakah', dengan kata lain senantiasa hidup dan bertindak dengan rendah hati dan sederhana. Jika dapat rendah hati dan sederhana maka pasti suka memberi tumpangan, yang baik, bijaksana, adil, saleh dan dapat menguasai diri. Menguasai diri berarti mengendalikan diri dan ketika orang dapat menguasai diri maka sikap terhadap orang lain pasti akan melayani, sebaliknya jika orang tak dapat menguasai diri maka sikap terhadap yang lain pasti menindas dan mencelakakan. Kesederhanaan dalam cara hidup dan cara bertindak para pelayan atau gembala umat sangat diharapkan. Maka jika ada pelayan atau gembala umat tidak hidup sederhana hendaknya umat tidak takut menegor dan mengingatkannya.

"TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya. Sebab Dialah yang mendasarkannya di atas lautan dan menegakkannya di atas sungai-sungai."Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?""Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu." (Mzm 24:1-4)
Ign 12 November 2012