Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Senin, 05 November 2012

6 nov

"Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah."
(Flp 2:5-11; Luk 14:15-24)

"Mendengar itu berkatalah seorang dari tamu-tamu itu kepada Yesus: "Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah."Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Ada seorang mengadakan perjamuan besar dan ia mengundang banyak orang. Menjelang perjamuan itu dimulai, ia menyuruh hambanya mengatakan kepada para undangan: Marilah, sebab segala sesuatu sudah siap.Tetapi mereka bersama-sama meminta maaf. Yang pertama berkata kepadanya: Aku telah membeli ladang dan aku harus pergi melihatnya; aku minta dimaafkan.Yang lain berkata: Aku telah membeli lima pasang lembu kebiri dan aku harus pergi mencobanya; aku minta dimaafkan.Yang lain lagi berkata: Aku baru kawin dan karena itu aku tidak dapat datang. Maka kembalilah hamba itu dan menyampaikan semuanya itu kepada tuannya. Lalu murkalah tuan rumah itu dan berkata kepada hambanya: Pergilah dengan segera ke segala jalan dan lorong kota dan bawalah ke mari orang-orang miskin dan orang-orang cacat dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh. Kemudian hamba itu melaporkan: Tuan, apa yang tuan perintahkan itu sudah dilaksanakan, tetapi sekalipun demikian masih ada tempat.Lalu kata tuan itu kepada hambanya: Pergilah ke semua jalan dan lintasan dan paksalah orang-orang, yang ada di situ, masuk, karena rumahku harus penuh.Sebab Aku berkata kepadamu: Tidak ada seorang pun dari orang-orang yang telah diundang itu akan menikmati jamuan-Ku." (Luk 14:15-24), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   "Dijamu di dalam Kerajaan Allah" antara lain dipanggil untuk hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Allah. Dalam warta gembira hari ini dikisahkan orang-orang yang menghindar dari atau menolak untuk melakukan kehendak Allah, hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Allah,  dengan alasan-alasan: mengurus ladang berarti sibuk dengan urusan sendiri, mengurus binatang peliaraan berarti sibuk mengurus harta kekayaan atau miliknya dan baru kawin berarti mau bersenang-senang sesuai dengan keinginan pribadi. Itu semua jelas bertentangan dengan kehendak Allah. Begitulah yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dimana orang tidak setia pada panggilan dan tugas utamanya, melainkan lebih cenderung untuk melakukan pekerjaan sampingan, menyeleweng dari panggilan atau tugas utamanya. Kalau akhirnya dikisahkan bahwa yang sanggup datang ke dalam perjamuan adalah mereka yang berada di jalanan dan lintasan, berarti adalah orang-orang yang hidupnya tergantung dari kemurahan hati Allah melalui orang-orang baik yang membantunya. Dengan kata lain adalah orang-orang yang sungguh mendambakan kemurahan hati Allah maupun kehendak Allah, maka ketika ada panggilan mereka segera menanggapinya secara positif. Maka dengan ini kami mengingatkan dan mengajak kita semua untuk senantiasa membuka diri terhadap kehendak Allah dan memiliki kesiap-siagaan dan kesedian untuk melaksanakannya.

·   "Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib." (Fil 2:5-11). Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus kita semua dipanggil untuk meneladan cara hidup dan cara bertindakNya: mengosongkan diri dan mengambil rupa seorang hamba, dengan kata hidup dan bertindak dengan semangat melayani dan kerendahan hati. Memang untuk itu kita harus rela berkorban, sebagaimana dihayati oleh para pelayan yang baik. Kami percaya kepada anda para suami dan isteri yang baik pasti memiliki pengalaman saling mengosongkan diri dan melayani alias saling membahagiakan dan menyelamatkan. Kami berharap pengalaman itu terus-menerus diperdalam dan diperkembangkan serta kemudian disalurkan atau dibagikan kepada anak-anaknya. Jika anak-anak di dalam keluarga memiliki pengalaman saling melayani dan berkorban, maka kami percaya mereka kelak berkat pendidikan dan pembinaan yang baik pasti akan tumbuh berkembang menjadi pribadi yang melayani dan siap sedia berkorban bagi keselamatan atau kebahagiaan orang lain. Kami juga berharap kepada segenap guru atau pendidik di sekolah-sekolah untuk memberi perhatian yang memadai dalam hal semangat melayani dan berkorban bagi para peserta didik, tentu saja anda sendiri sebagai guru atau pendidik juga hidup dan bertindak saling melayani dan berkorban satu sama lain. Marilah kita kenangkan para pahlawan kita yang telah dengan besar hati rela berkorban demi keselamatan seluruh bangsa.

"Karena Engkau aku memuji-muji dalam jemaah yang besar; nazarku akan kubayar di depan mereka yang takut akan Dia. Orang yang rendah hati akan makan dan kenyang, orang yang mencari TUHAN akan memuji-muji Dia; biarlah hatimu hidup untuk selamanya! Segala ujung bumi akan mengingatnya dan berbalik kepada TUHAN; dan segala kaum dari bangsa-bangsa akan sujud menyembah di hadapan-Nya. Sebab TUHANlah yang empunya kerajaan, Dialah yang memerintah atas bangsa-bangsa.Ya, kepada-Nya akan sujud menyembah semua orang sombong di bumi" (Mzm 22:26b-30a)
Ign 6 November 2012

Minggu, 04 November 2012

5 Nov

"Engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar"
(Flp 2:1-4; Luk 14:12-14)

"Dan Yesus berkata juga kepada orang yang mengundang Dia: "Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula dan dengan demikian engkau mendapat balasnya.Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar." (Luk 14:12-14), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Bekerja dahulu dan baru menerima imbal jasa atau gaji kemudian, itulah yang terjadi dalam perusahaaan atau kantor-kantor dalam rangka pemberian gaji atau imbal jasa kepada para pegawai atau karyawannya. Apa yang dilakukan ini kiranya senada dengan sabda Yesus, tetapi dalam perkara lain yang dimaksudkan oleh Yesus, yaitu dalam hal berbuat baik kepada orang lain. Kita semua diingatkan agar dalam berbuat baik kepada orang lain tidak segera mengharapkan balasan, lebih-lebih yang bersifat material. Maklum pada masa kini masih terjadi praktek kehidupan dalam hal memberi sumbangan atau berbuat baik, yaitu saya berbuat baik atau memberi sumbangan dengan harapan segera menerima balasan yang lebih besar daripada apa yang kita lakukan atau sumbangkan. Secara khusus kita diharapkan berbuat baik atau memberi sumbangan kepada 'orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta', yang pada umumnya tak mungkin segera memberi balasan kepada mereka yang telah membantunya, paling hanya ucapan kata 'terima kasih'. Kami memiliki penngalaman dalam hal melayani orang-orang kaya maupun orang-orang miskin: orang-orang kaya sudah dilayani sangat bagus masih mengeluh dan menggerutu, sedangkan orang-orang miskin meskipun hanya menerima pelayanan atau bantuan sedikit terus-menerus berterima kasih dan mengungkapan serta mewujudkan terima kasihnya dengan berbuat baik kepada orang lain. Marilah kita berbuat baik tanpa harapan balasan segera, melainkan biarlah Tuhan sendiri yang menganugerahkan balasan berupa hidup mulia dan bahagia selamanya setelah meninggal dunia.

·   "Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri;dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga" (Fil 2:1-4). Sebagai orang beriman kita semua diharapkan 'tidak mencari kepentingan sendiri atau pujian-pujian yang sia-sia..dan ..janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga'. Dengan kata lain kita semua diharapkan memiliki cara hidup dan cara bertindak social, orang-orang yang peka akan kebutuhan orang lain, terutama kebutuhan orang-orang miskin dan menderita. Jauhkan sikap hidup atau mental materialistis dan egois. Ingatlah, sadari dan hayati bahwa jati diri manusia adalah makhluk social, maka tidak hidup dan tidak bertindak social berarti mengingkari jati diri, sebagaimana dikehendaki oleh Allah. Marilah kita hayati salah satu motto hidup beriman, yaitu "preferential option for/with the poor" = keberpihakan pada atau bersama mereka yang miskin dan berkurangan. Kami percaya di lingkungan hidup dan kerja kita pasti ada yang miskin dan berkekurangan, dan sekiranya di lingkungan hidup dan kerja anda tidak ada yang membutuhkan bantuan, baiklah bantuan anda dapat disalurkan ke panti-panti asuhan social atau instansi/organisasi social, entah tingkat local, nasional maupun internasional. Kepada orang-orang kaya kami harapkan menyadari bahwa kekayaan anda tidak pernah terlepas dari orang miskin atau pekerja keras dalam rangka memperolehnya, maka selayaknya anda juga menyumbangkan sebagian dari kekayaan anda bagi mereka yang miskin dan berkekurangan. Tanpa mengurangi kesosialan anda, kiranya anda juga dapat membantu pendidikan calon imam di seminari-seminari, karena maklum mereka yang terpanggil menjadi imam atau menjadi seminaris pada umumnya dari keluarga miskin atau sederhana, sementara itu kebutuhan untuk pembinaan dan pendidikan di seminari cukup mahal. Ingatlah dan sadari bahwa mereka yang dididik di seminari kelak ketika menjadi imam, maka hidup dan dirinya sungguh dipersembahkan secara total bagi orang lain.

"TUHAN, aku tidak tinggi hati, dan tidak memandang dengan sombong; aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau hal-hal yang terlalu ajaib bagiku. Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku.Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel, dari sekarang sampai selama-lamanya!" (Mzm 131)
    Ign 5 November 2012

Minggu Biasa XXXI

Mg Biasa XXXI: Ul 6:2-6; Ibr 7:23-28; Mrk 12:28b-34
"Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri"

Entah ada berapa undang-undang, peraturan pemerintah, aturan pelaksanaan peraturan atau undang-undang dst.. kiranya tidak semua hafal, dan mungkin hanya segelintir orang yang hafal. Memang orang dengan mudah membuat dan mengundangkan aneka aturan dan tata tertib, namun apakah yang membuat dan mengundangkannya juga menghayati atau melaksanakannnya, kiranya boleh dipertanyakan. Kalau yang  membuat dan mengundangkan saja tidak menghayati atau tidak melaksanakan, apalagi warga masyarakat. Para pembuat tata tertib dan aturan itu hemat saya seperti orang-orang Farisi dan Saduki yang mencobai Yesus: tahu perihal tata tertib atau aturan tetapi tak pernah melaksanakan atau menghayatinya. Maka marilah kita hayati atau laksanakan hukum sebagaimana diwartakan hari ini.

"Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini." (Mat 12:30-31)

Ajaran perihal saling mengasihi hemat saja diajarkan oleh semua agama atau orang beriman. Kutipan di atas ini mengajak dan mengingatkan kita semua hendaknya dalam saling mengasihi dengan 'segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan'. Segenap berarti secara utuh atau total, dan kalau tidak genap berarti ganjil alias yang bersangkutan sedang menderita sakit, yaitu sakit hati, sakit jiwa, sakit akal budi atau sakit kekuatan atau tubuhnya. Orang yang sedang menderita sakit memang akan mengalami kesulitan dalam saling mengasihi, seperti orang Farisi dan Saduki hemat saya juga sedang menderita sakit, paling tidak sakit hati, dan sakit hati memang sulit disembuhkan atau bahkan dibawa sampai mati.

Perintah atau ajaran perihal kasih di atas hemat saya paling kentara atau dapat dilihat dalam diri suami-isteri yang sungguh saling mengasihi baik dalam untung maupun malang, sehat maupun sakit. Bukankah para suami-isteri telah saling mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan atau tubuh, yang antara lain memuncak dalam pengalaman yang sangat mengesan, yaitu dalam persetubuhan atau hubungan seksual. Dalam saling mengasihi keduanya dalam keadaan telanjang bulat tiada malu sedikitpun. Maka marilah kita meneladan kasih macam itu, yaitu dalam 'ketelanjangan' artinya dalam kejujuran dan ketulusan hati, sehingga tiada sedikitpun dari diri kita yang disembunyikan, tetapi semuanya dibuka secara jelas dan total.

Jika kita sebagai manusia dapat saling mengasihi maka kiranya dengan mudah kita akan mengasihi Tuhan alias bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan dalam dan melalui cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimana pun dan kapan pun. Kita semua telah menerima kasih Tuhan secara melimpah ruah melalui sekian banyak orang yang mengasihi dan memperhatikan kita, maka mengasihi Tuhan hemat saya berarti lebih bersyukur dan berterima kasih kepadaNya. Mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia hemat saya tidak banyak bedanya atau bahkan tak mungkin dipisahkan, maka jika kita benar-benar mengasihi Allah berarti juga mengasihi manusia, demikian juga ketika kita dalam hidup sehari-hari sungguh mengasihi manusia berarti juga mengasihi Allah. Itulah artinya hidup beriman atau beragama tak mungkin dapat dipisahkan, maka mereka yang memisahkan atau membedakan hemat saya adalah orang munafik.

Panggilan untuk mengasihi sasama masa kini hemat saya sungguh mendesak dan up to date untuk kita hayati  dan sebarluaskan, mengingat dan memperhatikan aneka bentuk permusuhan, pertentangan dan tawuran masih marak di sana-sini dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan permusuhan dan kebencian dalam keluarga, antar suami-isteri, kakak-adik dst.. juga masih terjadi. Kami juga mengajak dan mengingatkan mereka yang pakar dalam hal tata tertib dan aturan dapat menjadi teladan dalam pelaksanaan atau penghayatan saling mengasihi, karena tata tertib maupun aturan dibuat dan diberlakukan demi kasih. Dekati dan sikapi aneka tata tertib dan aturan dalam dan oleh kasih, karena dengan demikian akan enak dan nikmat mentaati dan melaksanakan tata tertib atau aturan.

"Dan dalam jumlah yang besar mereka telah menjadi imam, karena mereka dicegah oleh maut untuk tetap menjabat imam. Tetapi, karena Ia tetap selama-lamanya, imamat-Nya tidak dapat beralih kepada orang lain. Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka." (Ibr 7:23-25)
Yesus adalah Imam Agung, "menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah". Maka marilah sebagai umat beriman kita senantiasa dengan rendah hati berusaha menghadap Allah, dan tentu saja kita hendaknya dalam keadaan baik, suci dan tidak berdosa. Kepada mereka yang masih dalam keadaan dosa atau tidak bersih kami ajak untuk membersihkan diri, minta kasih pengampunan dari Allah maupun saudara-saudari kita yang telah kita lukai dengan dosa-dosa atau kata-kata dan tindakan yang tidak baik.
Ketika kita telah menerima kasih pengampunan alias menjadi bersih atau suci kembali, maka kita diutus untuk menjadi 'pengantara Allah dan manusia', yang berarti dari pihak Allah menjadi penyalur rahmat atau berkat Allah kepada manusia, dan sebaliknya menjadi penyalur dambaan, kerinduan, doa, cita-cita manusia kepada Allah. Cirikhas pengantara atau penyalur antara lain: jujur, disiplin, cekatan, serta pada waktunya melaporkan apa yang telah dikerjakan atau dilakukan. Yang tidak kalah penting adalah cirikhas 'tidak menyeleweng atau berselingkuh'. Marilah kita menjadi pribadi yang menarik, mempesona dan memikat orang, sehingga yang bersangkutan tergerak untuk menghadap Allah, membaktikan diri sepenuhnya kepada Allah.

"Maka dengarlah, hai orang Israel! Lakukanlah itu dengan setia, supaya baik keadaanmu, dan supaya kamu menjadi sangat banyak, seperti yang dijanjikan TUHAN, Allah nenek moyangmu, kepadamu di suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan" (Ul 6:3-6). Yang dimaksudkan dengan 'Israel' di sini tidak lain adalah 'orang pilihan dan kekasih Allah'. Kita semua sebagai orang beriman adalah 'pilihan atau kekasih Allah', maka marilah kita senantiasa mengasihiNya 'dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap kekuatan'. Hal ini kiranya dapat kita hayati ketika kita sedang berdoa, maka ketika sedang berdoa hendaknya sungguh berdoa dengan khusuk atau berkonsentrasi, lebih ketika berpartisipasi dalam ibadat bersama atau bagi orang Katolik dalam Perayaan Ekaristi.

Berdoa adalah berhubungan dengan Allah dalam kasih, dan karena Allah 'maha segalanya', maka berhubungan atau berrelasi denganNya mau tak mau kita pasti akan dikuasai atau dirajaiNya, dengan kata lain mau tak mau harus melaksanakan semua perintah dan kehendak Allah dalam dan melalui cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimana pun dan kapan pun. Karena Allah hadir di mana-mana, maka kapan saja dan dimana saja kita dapat berdoa. Kepada mereka yang akan mengadakan perjalanan kami harapkan berdoa lebih dahulu agar selamat di perjalanan dan akhirnya sampai ke tujuan. Hidup kita juga merupakan perjalanan, maka kami harapkan begitu bangun pagi, dan dalam keadaan bugar, kami harapkan berdoa singkat sejenak untuk bersyukur dan berterima kasih kepada Allah, yang telah menganugerahi kehidupan.
"Aku mengasihi Engkau, ya TUHAN, kekuatanku!Ya TUHAN, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku!Terpujilah TUHAN, seruku; maka aku pun selamat dari pada musuhku" (Mzm 18:2-4)
Ign 4 November 2012