Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Selasa, 16 Oktober 2012

17 Okt


Barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal."
(Flp 3:17-4:2; Yoh 12:24-26)

"Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal. Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa" (Yoh 12:24-26), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Ignatius dari Antiokia, uskup dan martir, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Terpanggil menjadi uskup maupun pembantunya, imam, hemat saya harus mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan melalui umat maupun masyarakat dengan penuh pelayanan dan kerendahan hati. Ia sungguh menyerahkan atau membaktikan waktu dan tenaganya, tentu saja juga hati, jiwa dan akal budinya bagi keselamatan jiwa warga masyarakat pada umumnya dan umat katolik khususnya, yang harus digembalakan atau dilayani. Dengan kata lain menghayati rahmat kemartiran yang dianugerahkan oleh Tuhan. Perihal pastor paroki antara lain ditegaskan bahwa "hendaknya ia unggul dalam ajaran sehat dan moral, memiliki perhatian pada jiwa-jiwa dan keutamaan-keutamaan lainnya, dan juga mempuyai kualitas yang dituntut hukum universal dan particular untuk membina paroki yang bersangkutan" (KHK kan 521 $ 2). Perhatian terhadap jiwa-jiwa dan keutamaan-keutamaan pada masa kini memang sungguh merupakan salah satu penghayatan rahmat kemartiran, mengingat dan memperhatikan sikap mental materialistis telah begitu merasuki cara hidup dan cara bertindak warga masyarakat maupun umat Allah. St.Ignatius dari Antiokia yang kita kenangkan hari ini dikenal berbudi bahasa halus dan beriman teguh, maka dengan ini kami berharap secara khusus kepada rekan-rekan imam untuk senantiasa berbudi bahasa halus dan beriman teguh dalam menghayati panggilan maupun melaksanakan tugas pengutusannya. Hadapi dan sikapi segenap warga masyarakat maupun umat Allah dengan budi bahasa halus dan iman yang teguh, dan hendaknya jangan berbawa arus sikap materialistis yang marak pada masa kini. Marilah kita perhatikan keselamatan jiwa warga masyarakat maupun umat Allah, dan kita ajak mereka untuk berbudi bahasa halus dan beriman teguh dalam cara hidup dan cara bertindak mereka sehari-hari dimana pun dan kapan pun.

·   "Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya" (Flp 3:20-21), demikian peringatan dan ajakan Paulus kepada umat di Filipi, kepada kita semua umat Allah. Sebagai umat Allah kita dipanggil untuk senantiasa melaksanakan kehendak dan perintah Allah dimana pun dan kapan pun, "karena kewargaan kita adalah di dalam sorga". Kita semua berasal dari sorga dan pada suatu saat ketika dipanggil Tuhan atau meninggal dunia diharapkan kembali ke sorga. Maka selayaknya selama hidup di dunia ini kita senantiasa hidup dan bertindak sesuai dengan perintah dan kehendak Allah, tidak hidup dan bertindak seenaknya sendiri, mengikuti selera dan keinginan pribadi. Sebagai orang katolik yang telah dibaptis serta menggunakan nama baptis, santo atau santa, kiranya kita dapat meneladan cara hidup dan cara bertindak santo atau santa pelindung kita masing-masing. Maka hendaknya kita sungguh mengenal secara mendalam santo atau santa pelindung kita, yang telah hidup mulia dan berbahagia kembali di sorga. Marilah kita hidup dan bertindak sebagai orang yang sedang menantikan hidup bahagia dan damai sejahtera selamanya; tunjukkan kegairahan hidup dan tindakan kita sebagai orang yang memiliki harapan hidup bahagia dan damai selamanya. Arahkan harapan dan cita-cita anda pada hal-hal sorgawi atau spiritual/rohani, bukan pada hal-hal fisik atau jasmani belaka. Jagalah kesucian dan kebersihan hati, jiwa, akal budi maupun tubuh anda, dan hendaknya jangan melakukan dosa atau kejahatan sekecil apapun. Kami berharap agar anak-anak di dalam keluarga sedini mungkin dididik dan dibina dalam hal hidup berbudi pekerti luhur atau bermoral, jauhkan sikap materialistis atau duniawi dari anak-anak anda.

"Bersyukurlah kepada TUHAN dengan kecapi, bermazmurlah bagi-Nya dengan gambus sepuluh tali! Nyanyikanlah bagi-Nya nyanyian baru; petiklah kecapi baik-baik dengan sorak-sorai! Sebab firman TUHAN itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan.Ia senang kepada keadilan dan hukum; bumi penuh dengan kasih setia TUHAN." (Mzm 33:2-6)
Ign 17 Oktober 2012  

Senin, 15 Oktober 2012

16 Okt

"Berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu"
(Gal 4:31b-5:6; Luk 11:37-41)

" Ketika Yesus selesai mengajar, seorang Farisi mengundang Dia untuk makan di rumahnya. Maka masuklah Ia ke rumah itu, lalu duduk makan. Orang Farisi itu melihat hal itu dan ia heran, karena Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan. Tetapi Tuhan berkata kepadanya: "Kamu orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan. Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam? Akan tetapi, berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu" (Luk 11:37-41), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Cukup banyak orang dalam cara hidup dan cara bertindaknya lebih menekankan apa yang kelihatan di luar atau bagian luarnya dan kurang menunjukkan bagian dalamnya, atau bahkan apa yang di dalam hati, pikiran dan perasaannya disimpan rapat-rapat. Berpakaian rapi serta tampil cantik atau tampan ternyata yang bersangkutan adalah orang jahat atau tak bermoral. Sabda hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua untuk bersih luar-dalam, dan kiranya lebih-lebih dan terutama adalah yang bagian dalam yaitu bersih hati, jiwa dan akal budinya. Kami percaya jika bagian dalam ini sungguh bersih, maka orang yang bersangkutan pasti akan memikat, mempesona dan menarik semua orang dalam keadaan atau kondisi apapun. Maka kami berharap kita semua tidak munafik dan hidup bersandiwara, melainkan hendaknya jujur terhadap diri sendiri, tidak menipu atau mengelabui diri sendiri. Hendaknya kita juga terbuka, tiada sesuatu pun yang tertutupi dalam diri kita, tentu saja tidak secara fisik, melainkan secara spiritual dimana kita dengan rendah hati berani membuka dan membagikan isi hati, jiwa dan akal budi maupun perasaan kepada orang lain. Tentu saja pertama-tama dant terutama kami mengingatkan kita semua yang setiap hari hidup bersama, entah di dalam keluarga maupun komunitas, untuk senantiasa saling terbuka satu sama lain, misalnya antar suami dan isteri, antar orangtua dan anak-anak, antar anggota komunitas dst… Semoga kita semua senantiasa menjauhkan diri dari sikap Farisi, yang menekankan apa yang kelihatan, sementara apa yang ada di dalam hati, pikiran dan jiwa, yang tidak kelihatan kurang memperoleh perhatian. Marilah kita perhatikan pendidikan moral atau budi pekerti bagi anak-anak atau peserta didik kita dengans secara inklusif melalui aneka kegiatan dan derap langkah kita.

·   "Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia.Sebab oleh Roh, dan karena iman, kita menantikan kebenaran yang kita harapkan. Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih" (Gal 5:4-6). Kutipan ini mengingatkan dan mengajak kita semua untuk senanitiasa hidup dan bertindak dijiwai oleh iman. Maka baiklah di Tahun Iman ini kita berusaha terus menerus agar cara hidup dan cara bertindak kita dijiwai oleh iman kita, dan untuk itu sebagaimana dianjurkan kepada kita semua, marilah kita baca, renungkan dan cecap dalam-dalam apa yang tertulis di dalam Kitab Suci. "Hanya iman yang bekerja oleh kasih", demikian peringatan Paulus. Kita semua mengaku diri sebagai umat beriman, maka baiklah hal itu tidak hanya manis di mulut dalam kata-kata saja, melainkan menjadi nyata dalam cara hidup dan cara bertindak, dalam perilaku kita sehari-hari. Salah satu wujud penghayatan iman adalah hidup saling mengasihi dengan siapapun tanpa pandang bulu, SARA, karena kasih sejati tak dapat dibatasi atau tak terbatas. Kita juga diingatkan untuk mensikapi dan menghayati aneka aturan atau tata tertib dalam dan oleh kasih, karena aneka aturan dan tata tertib dibuat dan diundangkan dalam kasih dengan tujuan membantu kita semua untuk saling mengasihi secara konkret. Maka jika ada aturan atau tata tertib yang mendorong atau menuntun orang untuk hidup saling mengasihi, hendaknya dengan tegas diluruskan atau dibetulkan. Saya percaya bahwa semua agama mengajarkan hidup saling mengasihi, maka ketika ada orang beragama cara hidup  dan cara bertindaknya merusak dan mencelakakan orang lain, hemat saya yang bersangkutan sungguh munafik: mengaku beragama tetapi tidak menghayati ajaran utama atau pokok agamanya.
"Kiranya kasih setia-Mu mendatangi aku, ya TUHAN, keselamatan dari pada-Mu itu sesuai dengan janji-Mu, supaya aku dapat memberi jawab kepada orang yang mencela aku, sebab aku percaya kepada firman-Mu. Janganlah sekali-kali mencabut firman kebenaran dari mulutku, sebab aku berharap kepada hukum-hukum-Mu. Aku hendak berpegang pada Taurat-Mu senantiasa, untuk seterusnya dan selamanya.Aku hendak hidup dalam kelegaan, sebab aku mencari titah-titah-Mu"
(Mzm 119:41-45)
Ign 16 Oktober 2012

Minggu, 14 Oktober 2012

15 Okt


"Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia ia berbuah banyak"
(Rm 8:22-27; Yoh 15:1-8)

 "Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu. Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku." (Yoh 15:1-8) ,demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Teresia dari Avila, perawan dan pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   St Teresa dari Avila yang kita kenangkan hari ini dikenal sebagai perawan yang sungguh membaktikan diri sepenuhnya kepada Tuhan, ia penuh wibawa, polos, cantik dan menyenangkan. Dalam hal hidup membiara ia juga dikenal sebagai pembaharu Ordo Karmelit. Ia membukukan pengalaman iman dan rohaninya dalam sebuah buku tebal yang sampai ini sangat membantu dalam hidup membiara di dalam Gereja Katolik. "Tinggal di dalam Dia, dalam Tuhan" alias berusaha hidup suci itulah yang senantiasa diusahakan. Maka perkenankan secara khusus saya mengingatkan dan mengajak segenap anggota Lembaga Hidup Bakti, para biarawan dan biarawati atau religius, untuk dapat menjadi teladan hidup suci bagi umat Allah. "Kerasulan semua religius pertama-tama terletak dalam kesaksian hidup mereka yang sudah dibaktikan, yang harus mereka pelihara dengan doa dan tobat" (kan 673), demikian dan peringatan pimpinan Gereja Katolik. Bukan jabatan, kedudukan, ijasah, pengalaman hidup dst.. yang utama dan pertama-tama, melainkan cara hidup dan cara bertindak yang sungguh dibaktikan kepada Allah alias hidup suci, bermoral dan berbudi pekerti luhur. Cirikhas orang suci memang senantiasa menarik, menawan, mempesona dan memikat siapapun untuk mendekat serta memotivasi orang lain untuk berusaha menjadi suci, semakin membaktikan diri kepada Allah. Maka semoga para religius yang  pada umumnya berpakaian resmi warna putih, tidak hanya putih pakaiannya, tetapi juga putih hati, jiwa, akal budi maupun tubuhnya alias bersih, tiada dosa dan noda sedikitpun. Sekiranya sekarang belum putih dan masih abu-abu, baiklah dengan rendah hati bersama dengan Tuhan, dalam doa dan tobat, kita berusaha untuk menjadi putih.

·   "Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus" (Rm 8:26-27). Bahwa kita dapat berdoa dengan baik dan benar memang bukan semata-mata hasil usaha atau jerih payah kita, melainkan merupakan karya atau anugerah Allah, yang melalui RohNya senantiasa 'membantu kita dalam kelemahan kita". Para religius atau biarawan-biarawati sering juga disebut sebagai rohaniwan-rohaniwati alias orang yang sungguh hidup dari dan oleh Roh atau hobbynya bergaul bersama dengan Roh. Maka jika ada biarawan atau birawati bersikap mental materialistis dalam hidup dan pelayanannya berarti yang bersangkutan tidak hidup dan bertindak dalam dan oleh Roh, melainkan hanya mengikuti selera atau keinginan pribadi. Kami harapkan segenap biarawan dan biarawati dimana pun dan kapan pun dapat saling bekerjasama dan membantu dalam mengusahakan hidup suci, maka jika ada rekan biarawan atau biarawati tidak hidup suci, kami harapkan kepada siapapun tidak takut menegor dan mengingatkannya. Tentu saja antar biarawan dan birawati sendiri harus saling mengingatkan dan menegor ketika ada rekan-rekannya hidup seenaknya. Kami juga mendambakan semoga aneka pelayanan pastoral para biarawan-biarawati, entah pendidikan, social maupun kesehatan, juga lebih mengutamakan keselamatan jiwa manusia daripada aneka macam sarana-prasarana. Kesuksesan pelayanan terletak pada semakin banyak jiwa manusia diselamatkan.

"Sebab aku tetap mengikuti jalan TUHAN dan tidak berlaku fasik terhadap Allahku. Sebab segala hukum-Nya kuperhatikan, dan ketetapan-Nya tidaklah kujauhkan dari padaku; aku berlaku tidak bercela di hadapan-Nya, dan menjaga diri terhadap kesalahan. Karena itu TUHAN membalas kepadaku sesuai dengan kebenaranku, sesuai dengan kesucian tanganku di depan mata-Nya. Terhadap orang yang setia Engkau berlaku setia, terhadap orang yang tidak bercela Engkau berlaku tidak bercela, terhadap orang yang suci Engkau berlaku suci"
 (Mzm 18:22-27)
Ign 15 Oktober 2012