Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Selasa, 25 September 2012

26 Sept


"Ia mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang"
(Ams 30:5-9; Luk 9:1-6)

"Maka Yesus memanggil kedua belas murid-Nya, lalu memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit.Dan Ia mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang, kata-Nya kepada mereka: "Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, jangan membawa tongkat atau bekal, roti atau uang, atau dua helai baju. Dan apabila kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari situ. Dan kalau ada orang yang tidak mau menerima kamu, keluarlah dari kota mereka dan kebaskanlah debunya dari kakimu sebagai peringatan terhadap mereka."Lalu pergilah mereka dan mereka mengelilingi segala desa sambil memberitakan Injil dan menyembuhkan orang sakit di segala tempat." (Luk 9:1-6), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Sebagai umat beragama atau beriman kita memiliki tugas merasul atau pewartaan, yaitu mewartakan Kerajaan Allah atau Allah yang meraja. Tentu saja pertama-tama dan terutama kita sendiri senantiasa dirajai atau dikuasai oleh Allah, sehingga kita sungguh menjadi gambar atau citra Allah. Sesuai dengan sabda Yesus hari ini hendaknya dalam melaksanakan tugas merasul atau mewartakan Kerajaan Allah kita lebih mengandalkan pribadi kita, bukan aneka macam jenis sarana-prasarana atau peralatan maupun bekal berupa makanan atau uang. Dengan kata lain kehadiran, cara hidup dan cara bertindak kapan pun dan dimana pun hendaknya memikat, mempesona dan menarik orang lain untuk semakin beriman, semakin suci, semakin tergerak untuk melakukan apa yang baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur. Aneka bentuk penyakit social telah menguasai banyak orang masa kini, karena kemajuan dan perkembangan aneka jenis teknologi, antara lain sarana-prasarana komunikasi, seperti HP atau internet. Karena HP orang merasa tidak perlu lagi bertatap muka dalam berkomunikasi atau curhat. HP juga dapat disalahgunakan untuk penipuan atau melakukan kejahatan. Sabda Yesus hari ini mengingatkan kit semua pentingnya tatap muka, silaturahmi, antar kita, saudara, sesama umat beriman atau warga masyarakat. Tentu saja sekali lagi saya mengingatkan orangtua atau bapak-ibu: hendaknya tatap muka atau curhat secara langsung setiap hari tidak dilupakan, didiklah anak-anak anda untuk tidak menggantungkan diri atau dikuasai oleh HP atau internet dalam berkomunikasi. Hemat saya anda sebagai suami-isteri memiliki pengalaman yang mendalam perihal tatap muka dan curhat secara fisik atau langsung, maka teruskan pengalaman tersebut kepada anak-anak anda. Secara khusus juga kami mengingatkan para pewarta, pastor/kyai/pendeta dst.. untuk melupakaan sapaan langsung kepada umat yang harus dilayani,. Datangi dan sapa dengan rendah hati dan kasih umat anda.

·   "Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku" (Ams  30:8-9). Kutipan ini kiranya sangat bagus untuk kita renungkan dan refleksikan serta kemudian kita hayati. Sebagai umat beriman kita dipanggil untuk menjauhkan diri dari tindak curang atau bohong. Kecurangan dan  kebohongan pada masa ini masih marak dan memprihatinkan, lebih-lebih yang terjadi di lingkungan Departemen Pendidikan dan Departemen Agama. Di lingkungan dua departemen yang seharusnya membina warga agar semakin beriman dan berbudi pekerti luhur, ternyata terjadi sebaliknya. Aneka bentuk korupsi melalui aneka proyek masih berlangsung terus, entah itu berupa mark-up anggaran atau kebohongan dalam pelaporan. Sebagai contoh proyek BOS di lingkungan pendidikan dikorupsi seenaknya oleh para pegawai atau pelayan pendidikan. Kalau mereka yang bekerja di jajaran pendidikan korupsi dan berbohong, lalu bagaimana nasib para peserta didik. Sudah dapat diduga bahwa para peserta didik pun belajar korupsi antara lain dengan menyontek dalam ulangan atau ujian, dan hal ini dibiarkan oleh para pendidik/guru atau pengawas. Manipulasi dan kebohongan pembangunan rumah ibadat dan sarana-prasarana ibadat juga masih marak terjadi. Jika dalam hal urusan yang suci saja orang masih korupsi, apalagi dalam hal urusan duniawi. Marilah  sedini mungkin anak-anak di dalam keluarga dididik dan dibina untuk tidak melakukan kecurangan dan kebohongan, dan tentu saja orangtua dapat menjadi teladan dalam tindakan baik dan jujur.

"Taurat yang Kausampaikan adalah baik bagiku, lebih dari pada ribuan keping emas dan perak Untuk selama-lamanya, ya TUHAN, firman-Mu tetap teguh di sorga." (Mzm 119:72.89)
Ign 26 September 2012

Senin, 24 September 2012

25 sept

"IbuKu dan saudara-saudaraKu"
(Ams 21:1-6.10-13; Luk 8:19-21)

" Ibu dan saudara-saudara Yesus datang kepada-Nya, tetapi mereka tidak dapat mencapai Dia karena orang banyak. Orang memberitahukan kepada-Nya: "Ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan ingin bertemu dengan Engkau." Tetapi Ia menjawab mereka: "Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya." (Luk 8:19-21), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   KKN = Kolusi, Korupsi dan Nepotisme, itu kata-kata yang kiranya pada masa kini jarang dikatakan, namun masih terus dilakukan atau dihayati. Hemat saya kolusi dan nepotisme tidak apa-apa, asal tidak korupsi. Yang paling memprihatinkan pada masa kini adalah korupsi. "IbuKu dan saudara-saudaraKU ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya", demikian sabda Yesus menanggapi seruan orang banyak perihal kedatangan Ibu dan saudara-saudara Yesus. Keutamaan atau keunggulan hidup beragama memang terletak pada 'mendengarkan dan melakukan firman Allah' dalam cara hidup dan cara bertindak setiap hari kapan pun dan dimana pun. Hari-hari ini kita masih berada di bulan Kitab Suci, semoga anda semua semakin terampil mendengarkan dan melakukan firman Allah, sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci anda masing-masing. Dan tentu saja pertama-tama kita semakin terampil menjadi pelaku-pelaku atau pelaksana-pelaksana firman Allah dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari. Hemat saya tidak perlu semua ayat dari Kitab Suci harus kita hafalkan dan usahakan untuk dilakukan, tetapi satu dua ayat cukuplah, sebagaimana dihayati oleh para kudus, santo-santa atau juga para gembala atau uskup yang memakai ayat Kitab Suci sebagai motto pelayanannya. Mungkin kita dapat belajar atau bercermin pada tentara, dimana ketika ada perintah, tanpa diskusi atau membantah, segera dilakukan: mereka sungguh taat dan setia para perintah atasan, semoga juga taat dan setia kepada kehendak dan perintah Allah. Melakukan firman atau perintah Allah hemat saya antara lain dapat dihayati dengan mentaati dan melaksanakan aneka tata tertib dan aturan yang terkait dengan hidup dan panggilan serta tugas pengutusan kita masing-masing. Maka dengan ini kami mengajak anda sekalian untuk tertib berlalu-lintas, karena tertib di jalanan hemat saya merupakan cermin bangsa yang baik dan berbudi pekerti luhur.

·   "Hati raja seperti batang air di dalam tangan TUHAN, dialirkan-Nya ke mana Ia ingini. Setiap jalan orang adalah lurus menurut pandangannya sendiri, tetapi TUHANlah yang menguji hati. Melakukan kebenaran dan keadilan lebih dikenan TUHAN dari pada korban." (Ams  21:1-3). Kita semua kiranya adalah 'raja' di tempat tugas atau pekerjaan kita masing-masing, kita adalah 'raja' atas pekerjaan dan tugas yang dibebankan kepada kita. Marilah kita lakukan semua pekerjaan atau tugas sesuai dengan yang diinginkan oleh Tuhan, antara lain kita senantiasa diharapkan bertindak benar dan adil. Bertindak adil antara lain dapat kita wujudkan dengan senantiasa menjunjung tinggi dan menghormati hak-hak azasi manusia, harkat martabat manusia, yang diciptakan sebagai gambar atau citra Tuhan. Segala macam bentuk pelecehan terhadap harkat martabat manusia atau anggota tubuh manusia hemat saya merupakan perbuatan tidak adil. Fungsikan dan perlakukan semua anggota tubuh anda sesuai dengan kehendak Tuhan, artinya segala tindakan atau gerak-gerik kita hendaknya semakin membuat diri kita semakin suci, semakin membaktikan diri seutuhnya kepada kita, dimana kita semakin dikasihi oleh Tuhan dan saudara-saudari kita. Apa yang disebut benar senantiasa berlaku secara universal, kapan saja dan dimana saja, dan kebenaran sejati ada pada Tuhan. Salah satu tindakan benar adalah senantiasa 'berjalan lurus', artinya hidup dan bertindak sesuai tata tertib, mengkuti jalan yang benar, sebagaimana kereta api senantiasa melangkah maju mengikuti rel, tidak seenaknya sendiri. Jika anda mendambakan hidup bahagia dan damai sejahtera, hendaknya anda senantiasa 'berjalan lurus' dan untuk itu memang butuh kejernihan dan ketulusan hati, maka marilah kita usahakan agar hati kita tetap jernih dan tulus. Untuk mengusahakan dan memperdalam kejernihan dan ketulusan hati, antara lain tidak pernah melupakan doa setiap hari, terutama pemeriksaan batin atau hati.

"Aku telah memilih jalan kebenaran, telah menempatkan hukum-hukum-Mu di hadapanku. Buatlah aku mengerti, maka aku akan memegang Taurat-Mu; aku hendak memeliharanya dengan segenap hati. Biarlah aku hidup menurut petunjuk perintah-perintah-Mu, sebab aku menyukainya"
(Mzm 119:30.34-35)
Ign 25 September 2012

Minggu, 23 September 2012

24 Sept

 orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan"
(Ams 3:27-34; Luk 8:16-18)

 "Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya. Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan. Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya." (Luk 8:16-18), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Ilmu pengetahuan, keterampilan, bakat, hobby dst.. semakin difungsikan dan disumbangkan kepada orang lain pasti akan semakin bertambah dan handal, sebaliknya jika tak difungsikan akan segera musnah atau hilang. Maka sesuai dengan sabda Yesus hari ini kami mengajak dan mengingatkan kita semua untuk bermurah hati menyalurkan atau memberikan ilmu pengetahuan, keterampilan, bakat atau hobby kepada saudara-saudarinya. Memang pertama-tama dan terutama kita sendiri harus sungguh mencintai ilmu pengetahuan, keterampilan, bakat atau hobby yang kita miliki serta kemudian mewujudkan atau memfungsikannya, entah dibayar atau tidak dibayar, dipuji atau tidak dipuji. Marilah kita sadari dan cermati bahwa mereka yang sukses dalam kerja atau usaha adalah orang-orang yang pertama-tama sungguh mencintai kerja atau usahanya, tanpa kenal lelah mengerjakannya. Berbagai komisi pastoral di dalam lingkungan Gereja Katolik berawal dari seseorang yang begitu tekun dan kerja keras mengembangkan bakatnya. Demikian juga anda yang saat ini menjadi suami-isteri, bukankah pada masa pacaran sungguh tekun dan kerja keras memperkembangkan benih-benih cintakasih, sehingga kemudian terampil dalam saling mengasihi sebagai suami-isteri? Kami berharap kepada kita semua: sekecil atau sesederhana apapun ilmu pengetahuan, keterampilan, bakat atau hobby yang kita miliki, hendaknya difungsikan dan jika mungkin disumbangkan kepada orang lain. Jangan pelit untuk membagikan apa yang kita miliki kepada saudara-saudari kita.

·   "Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya.Janganlah engkau berkata kepada sesamamu: "Pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi," sedangkan yang diminta ada padamu" (Ams 3:27-28).  Kutipan ini mengingatkan dan mengajak kita semua untuk tidak menunda-nunda memberikan sesuatu kepada orang lain, yang berhak menerimanya. Secara khusus kami ingatkan pertama-tama kepada para pemberi kerja dalam memberikan imbal jasa, hendaknya diberikan pada waktunya. Yang tak ketinggalan perlu saya ingatkan adalah mereka yang harus menyalurkan sumbangan atau dana bagi para korban bencana alam: kami percaya aneka barang dan uang yang anda kumpulkan berasal dari orang-orang yang baik hati dan tulus hati memberikan sebagian miliknya bagi mereka yang sungguh membutuhkan, maka hendaknya ketika menerima sumbangan tersebut segera disalurkan. Memang hal ini hemat saya perlu dididikkan atau dibiasakan pada anak-anak di dalam keluarga dengan teladan konkret dari para orangtua, antara lain anak-anak dididik untuk segera mengerjakan atau menanggapi tugas atau kebutuhan. Mungkin secara konkret anak-anak perlu dididik dalam hal disiplin: disiplin diri pada saat bangun pagi, disiplin diri dalam tugas belajar dst… Tentu saja hal ini harus ada teladan konkret dalam relasi antar bapak dan ibu, suami dan isteri: hendaknya saling tanggap akan kebutuhan masing-masing. Hendaknya cermati dan perhatikan sungguh-sungguh bahasa tubuh saudara-saudari anda, dan tanggapi sebaik mungkin. Dalam hal bahasa tubuh hemat saya para suami-isteri lebih berpengalaman dan mahir, maka hendaknya disalurkan atau diteruskan kepada anak-anaknya. Marilah kita belajar dari  atau bercermin pada anggota-anggota tubuh kita, yang saling tanggap satu sama lain setiap kali harus melakukan sesuatu. Misalnya dalam hal makan: mata melihat, tangan mengambil dan kemudian memasukkannya ke mulut dan mulut mengunyah seperlunya untuk seterusnya disalurkan ke perut melalui leher dst…

"Yaitu dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya, yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya, yang tidak berbuat jahat terhadap temannya dan yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya; yang memandang hina orang yang tersingkir, tetapi memuliakan orang yang takut akan TUHAN; yang berpegang pada sumpah, walaupun rugi; yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba dan tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah. Siapa yang berlaku demikian, tidak akan goyah selama-lamanya"
 (Mzm 15:2-5)
Ign 24 September 2012