Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Minggu, 16 September 2012

18 Sept

"Allah telah melawat umat-Nya."
(1Kor 12:12-14.27-31a; Luk 7:11-17)

"Kemudian Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong. Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu. Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: "Jangan menangis!" Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata: "Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!" Maka bangunlah orang itu dan duduk dan mulai berkata-kata, dan Yesus menyerahkannya kepada ibunya. Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata: "Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita," dan "Allah telah melawat umat-Nya." Maka tersiarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya" Luk 7:11-17), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Allah hadir dan berkarya dimana saja dan kapan saja, tak terikat oleh ruang dan waktu, itulah salah satu pelajaran agama yang pernah saya terima ketika saya masih kecil. Memang hanya orang yang memiliki kepekaan hati yang tajam dan rendah hati akan mampu melihat dan mengimani  kehadiran dan karya Allah tersebut, dengan kata lain memiliki hati seperti Hati Yesus, yang HatiNya tergerak oleh belas kasihan terhadap orang yang dengan rendah hati menghadapNya, lebih-lebih orang yang sungguh membutuhkan bantuan atau pertolongan. Maka marilah kita usahakan agar kita memiliki hati yang berbelas kasih kepada siapapun tanpa pandang bulu. Dengan kata lain marilah kita hayati rahmat kenabian yang dianugerahkan Tuhan kepada kita sebagai umat beriman. Tugas utama seorang nabi adalah meneruskan kehendak dan rahmat Tuhan, maka sebagai umat beriman marilah kita saling berbelas kasih alias menyalurkan atau meneruskan rahmat dan kehendak Tuhan. Kita dipanggil untuk menghibur saudara-saudari kita yang sedang menderita atau mengalami kesusahan, sebagaimana dilakukan oleh Yesus yang telah menghibur janda miskin dimana anak tunggalnya meninggal dunia. Mungkin kita tidak akan melakukan identik seperti dilakukan oleh Yesus, melainkan menghibur orang lain dengan membangkitkan kelesuan atau ketidak-gairahan mereka dalam hidup dan tugas pengutusan. Ada kemungkinan mereka lesu dan tak bergairah karena kurang diperhatikan, maka marilah kita sapa dan perhatikan dengan hati yang berbelas kasih serta kerendahan hati. Marilah kita saling menghibur dan menggairahkan satu sama lain dalam dan melalui cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimana pun dan kapan pun

·   "Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus. Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh. Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota" (1Kor 12:12-14), demikian peringatan Paulus kepada umat di Korintus, kepada kita semua umat beriman, khususnya yang beriman kepada Yesus Kristus. Jika kita sungguh saling menghibur dan berbelas kasih, maka akan terjadilan kesatuan atau persaudaraan sejati. Paulus mengingatkan kita semua agar kita hidup bersatu dan bekejasama satu sama lain sebagaimana anggota-anggota tubuh kita yang berbeda satu sama lain bekerjasama demi kesehatan, kebugaran dan kesejahteraan tubuh. Perhatikan bagaimana kita kita sedang makan: mata melihat, tangan mengambil dan mengantarkannya ke mulut, mulut mengunyah seperlunya dan kemudian disalurkan ke usus/ perut melalui leher. Tidak ada komandan dan perintah jelas, namun masing-masing anggota berfungsi dan bekerja secara total. Tidak ada iri hati sedikitpun antar anggota tubuh, dan masing-masing anggota tubuh sungguh  fungsional di tempatnya masing-masing. Maka marilah kita yang sungguh berbeda satu sama lain: jenis kelamin, usia, pekerjaan, keterampilan dst.. saling bekerjasama. Marilah kita sadari dan hayati bahwa masing-masing dari kita adalah buah atau korban kerjasama cintakasih dari bapak-ibu kita masing-masing, maka jika kita tidak bekerjasama berarti ingkar diri. Kita juga dapat bercermin pada warga masyarakat desa yang sedang bergotong-royong atau semut-semut yang bekerjasama 'membawa' bangkai binatang tertentu, dalam  hal bekerjasama.

"Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi! Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai! Ketahuilah, bahwa TUHANlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya.Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya! Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun." (Mzm 100)
Ign 18 September 2012

17 Sept

"Keluarkanlah dahulu balok dari matamu"
(1Kor 11:17-26; Luk 7:1-10)

"Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu." "Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu." "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan?" (Luk 7:1-10), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Memang pada umumnya orang lebih senang dan mudah melihat kekurangan dan kelemahan orang lain daripada kelemahan dan kekurangannya sendiri. Namun demikian tidak apa-apa asal dapat melihat dengan benar dan tajam serta kemudian menjadikan kelemahan dan kekurangan orang lain tidak untuk disebarluaskan, melainkan dijadikan bahan mawas diri serta pembelajaran. Dengan kata lain jadikanlah kegagalan sebagai kesempatan untuk menyadari dan menghayati bahwa kita adalah manusia yang lemah dan rapuh, sehingga jika ada sesuatu yang baik di dalam diri kita sungguh merupakan karya Tuhan dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini. Memang agar kita dapat melihat kelemahan dan kekurangan dengan baik dan benar butuh kejernihan dan ketulusan hati kita, maka apa-apa yang membuat hati kita tidak jernih dan tidak tulus hendaknya disingkirkan atau dibuang. "Keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu", demikian sabda Yesus. "Aku ini adalah orang berdosa yang dipanggil oleh Tuhan untuk berpartisipasi dalam karya penyelamatanNya", itulah kebenaran iman. Marilah kita sadari dan hayati rahmat dan anugerah Tuhan yang melimpah ruah dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini, dan dengan rahmat Tuhan kita tolong saudara-saudari kita membebaskan diri dari aneka macam belenggu dosa. Dengan kata lain kita dipanggil untuk bermurah hati kepada saudara-saudari kita dimana pun dan kapan pun tanpa pandang bulu.

·   "Apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: "Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!" Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: "Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!" (1Kor 11:23-25). Paulus mengingatkan kita semua akan makna setiap kali kita berpartisipasi di dalam Perayaan Ekaristi, dimana kita menerima Tubuh Kristus, komuni kudus. Kita sama-sama menerima Tubuh yang sama, maka kita dipanggil untuk membangun dan memperdalam persaudaraan atau persahabatan sejati. Hendaknya dijauhkan aneka bentuk permusuhan dan perpecahan. Untuk membangun dan memperdalam persaudaraan atau persahabatan sejati pertama-tama dan terutama adalah berusaha dengan sepenuhnya apa yang sama di antara kita, misalnya sama-sama manusia ciptaan Allah, sama-sama beriman dst.. Sekali lagi saya angkat bahwa jika kita mampu menghayati apa yang sama di antara kita secara mendalam dan handal, maka apa yang berbeda antar kita akan fungsional membangun dan memperdalam persaudaraan atau persahabatan. Jadikanlah apa yang berbeda antar kita sebagai wahana pembelajaran, dengan kata lain marilah kita saling belajar satu sama lain, karena masing-masing dari kita memiliki bakat dan keterampilan yang berbeda. Marilah kita tingkatkan dan perdalam terus-menerus sikap mental belajar: hidup maupun bekerja merupakan kesempatan untuk belajar. Kita juga dapat belajar dari pengalaman kita masing-masing maupun dari orang lain, dan juga belajar melalui atau dari aneka macam peristiwa yang terjadi di lingkungan hidup maupun kerja kita.

"Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan dan korban sajian, tetapi Engkau telah membuka telingaku; korban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau tuntut. Lalu aku berkata: "Sungguh, aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang aku;aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku." (Mzm 40:7-9)
Ign 17 September 2012

Sabtu, 15 September 2012

Minggu Biasa XXIV


Mg Biasa XXIV: Yes 50:5-9a; Yak 2:14-18; Mrk 8:27-35
"Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku."

Dalam kehidupan bersama para imam, bruder, suster maupun awam sering terjadi ketegangan karena adanya perbedaan, entah antara tua dan muda maupun antara mereka yang bergelar sarjana, doktor atau professor dan mereka  yang hanya berijasah sekolah menengah atau sarjana biasa. Dengan kata lain ada orang-orang yang menyombongkan dirinya dengan pangkat, gelar, usia dst.., atau hidup dan bertindak hanya mengikuti selera dan keinginan pribadi, kurang atau tidak menghayati imannya. Dalam suatu kesempatan memberi rekoleksi pada suster Tarekat tertentu saya ingatkan akan apa yang tertulis dalam Kitab Hukum Kanonik, yaitu "Kerasulan semua religius pertama-tama terletak dalam kesaksian hidup mereka yang sudah dibaktikan, yang harus mereka pelihara dengan doa dan tobat"(KHK kan 679). Mendengar masukan saya ada suster senior yang bergelar sarjana marah-marah dan cukup lama membenci saya. Memang pada masa ini juga terjadi kemerosotan moral atau penghayatan iman hampir di seluruh bidang kehidupan, dimana orang hidup dan bertindak hanya mengikuti selera atau keinginan pribadi. Maka marilah kita renungkan atau refleksikan sabda Yesus hari ini.

"Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya" (Mrk 8:34-35)

Nyawa adalah yang menghidupkan dan menggairahkan, maka nyawa bagi kita masa ini hemat saya dapat diartikan sebagai 'cita-cita, harapan, dambaan atau impian dst..", yang hemat saya sungguh menjiwai cara hidup dan cara bertindak kita. Sabda hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua agar kita mengintegrasikan cita-cita, harapan, dambaan atau impian pada iman kita atau secara konkret hidup dan bertindak sesuai dengan visi, charisma atau spiritualitas yang telah kita akui dan usahakan untuk digeluti atau dihayati. Kami harapakan kita semua, umat beriman sungguh dalam semangat iman hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Apa yang dimaksudkan dengan "memikul salibnya"  antara lain adalah setia melaksanakan tugas pengutusan atau pekerjaan pokok sehari-hari, tidak pernah mangkir sedikitpun dari tugas utama atau pokok. Sebagai pelajar atau mahasiswa hendaknya belajar sungguh-sungguh setiap hari, baik selama proses pembelajaran di dalam kelas maupun belajar sendiri atau kelompok di luar jam pembelajaran di dalam kelas. Jika anda mendambakan sukses dalam tugas belajar, kami harapkan diusahakan setiap hari belajar selama kurang lebih 7 s/d 8 jam, artinya jika proses pembelajaran di dalam kelas berlangsung selama 5 jam, maka belajar sendiri di luar kelas atau di rumah kurang lebih selama 2 atau 3 jam, dimana selama belajar sendiri ini dapat mengulang atau memperdalam apa yang telah diajarkan atau mempersiapkan pelajaran hari yang akan datang/hari esok. Kami percaya ketika selama tugas belajar orang setia sebagaimana saya katakan di atas, maka ketika mereka menjadi dewasa pasti akan setia juga melaksanakan tugas-tugas utama atau pokok maupun setia menghayati panggilannya.

Kita juga dipanggil untuk setia 'mengikuti Tuhan', artinya senantiasa hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak dan perintah Tuhan. Secara konkret hal ini kiranya dapat kita hayati dengan setia dan taat melaksanakan aneka tata tertib atau aturan yang terkait dengan hidup dan panggilan kita masing-masing. Dengan kata lain kita tidak hanya setia dalam hal waktu tetapi juga setia mengisi waktu dengan melakukan pekerjaan atau tugas-tugas yang terkait dengan panggilan kita masing-masing. Kita semua mendambakan keselamatan atau kebahagiaan jiwa kita setelah meninggal dunia atau dipanggil Tuhan, maka marilah dambaan itu mulai kita wujudkan sedini mungkin alias mulai saat ini juga. Marilah kita hayati hidup ini adalah persiapan untuk mati alias dipanggil Tuhan, maka selama hidup ini hendaknya senantiasa terbiasa bergaul dan bertemu dengan Tuhan alias senantiasa berbuat atau melakukan apa yang baik, sehingga ketika dipanggil Tuhan secara personal kita tidak takut dan tidak melawan, melainkan dengan rela dan besar hati mempersembahkan diri seutuhnya alias menyambut kematian dengan ceria, penuh senyum dan gairah.

"Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: "Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!", tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati." (Yak 2:14-17)

Keunggulan hidup beriman memang terletak dalam penghayatan atau perbuatan, bukan wacana atau omongan. Maka kami berharap kepada kita semua, umat beriman, untuk saling membantu dan bekerjasama dalam penghayatan iman dalam dan melalui cara hidup dan cara bertindak sehari-hari kapan pun dan dimana pun. Wujud konkret penghayatan iman pada masa kini yang harus dihayati sungguh-sungguh serta disebarluaskan hemat saya adalah hidup jujur dan disiplin serta tidak melakukan korupsi sedikitpun (hal ini perlu dibiasakan dan dididikkan pada anak-anak atau peserta didik selama tugas belajar, yaitu anak-anak atau peserta didik dilarang menyontek baik dalam ulangan maupun ujian).

"Jujur adalah sikap dan perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat curang, berkata-kata apa adanya daan berani mengakui kesalahan, serta rela berkorban demi kebenaran" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 17). Sedangkan "berdisiplin adalah kesadaran akan sikap dan perilaku yang sudah tertanam dalam diri sesuai dengan tata tertib yang berlaku dalam suatu keteraturan secara berkesinambungan yang diarahkan pada suatu tujuan atau sasaran yang telah ditentukan"  (ibid. hal 10).
Kedua keutamaan di atas ini hemat saya bernilai pada dirinya sendiri, artinya saya akan hidup jujur dan disiplin atau tidak jujur dan tidak disiplin akan sangat menentukan diri kita sendiri. Jika kita tidak jujur dan tidak disiplin yang rugi dan celaka pertama-tama dan terutama adalah diri saya sendiri dan baru kemudian orang lain di lingkungan hidup atau kerja kita masing-masing. Ada rumor: "jujur akan hancur", memang benar jujur akan hancur, tetapi hancur untuk sementara dan  akan bahagia, mulia dan damai sejahtera selama-lamanya. Baik hidup jujur maupun hidup disiplin memang membutuhkan perjuangan dan pengorbanan, dan pada masa kini hidup jujur dan disiplin juga harus menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan. Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, marilah kita hayati bahwa beriman kepadaNya berarti siap sedia untuk menderita dan berkorban, sebagaimana Ia telah menderita dan wafat di kayu salib demi keselamatan umat manusia seluruh dunia.

"Bukan kepada kami, ya TUHAN, bukan kepada kami, tetapi kepada nama-Mulah beri kemuliaan, oleh karena kasih-Mu, oleh karena setia-Mu! Mengapa bangsa-bangsa akan berkata: "Di mana Allah mereka?" Allah kita di sorga; Ia melakukan apa yang dikehendaki-Nya! Berhala-berhala mereka adalah perak dan emas, buatan tangan manusia"
(Mzm 115:1-4)
Ign 16 September 2012