Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Kamis, 13 September 2012

15 sept


"Inilah ibumu!"
(1Kor 10:14-22; Yoh 19:25-27)

"Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!" Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya" (Yoh 19:25-27), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta SP Maria Berdukacita hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Setelah mengenangkan Salib Suci Yesus kita diajak untuk mengenangkan BundaNya, SP Maria Berdukacita, Bunda Maria yang berpartisipasi dalam penderitaan dan salib Yesus. Seorang ibu pada umumnya memang sangat dekat dengan anaknya. Di dalam hidup sehari-hari seorang ibu pada umumnya lebih tahan menderita daripada seorang bapak, dan kasih seorang ibu kepada anak-anaknya juga lebih besar, sebagaimana tercermin dalam sebuah lagu "Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia". Dan juga ada motto "sorga ada di bawah telapak kaki ibu". Maka pertama-tama kami mengajak kita semua yang beriman kepada Yesus Kristus untuk meningkatkan dan memperdalam devosi kepada SP Maria, entah dengan berdoa rosario atau berziarah ke tempat-tempat perziarahan SP Maria. Tentu saja juga tak  boleh dilupakan untuk meneladan SP Maria yang rendah hati, hidup sederhana, taat kepada kehendak dan perintah Tuhan. Marilah kita kenangkan dan hayati juga kasih ibu kita masing-masing yang telah mengandung, melahirkan, menyusui dan mendidik kita dengan penuh pengorbanan. Tidak mengakui dan menghayati kasih ibu berarti menjadi orang yang tak tahu kasih, dan pada umumnya juga menjadi orang kurangajar, suka membuat orang lain menderita dan sengsara. Sebagai anak, dan kiranya kita semua pernah atau sedang berposisi sebagai anak, hendaknya menghayati sikap mental 'kemuridan', yaitu sikap mental rendah hati dan belajar terus menerus sampai mati. Kita dapat belajar dalam dan melalui aneka peristiwa atau kejadian sehari-hari, dan untuk itu perlu memperdalam keutamaan melihat dan mendengarkan. Sekali lagi semoga kita tidak melupakan ibu kita masing-masing kapan pun juga.
·   "Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, jauhilah penyembahan berhala! Aku berbicara kepadamu sebagai orang-orang yang bijaksana. Pertimbangkanlah sendiri apa yang aku katakan! Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur, adalah persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus? Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu." (1Kor 10:14-17). Sebagai orang yang percaya kepada Yesus Kristus berarti juga menjadi putera-puteri SP Maria, dengan kata lain kita semua adalah saudara. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan anda semua untuk membangun, memperkembangkan dan memperdalam hidup persaudaraan sejati. Ingatlah dan sadari bahwa SP Maria juga dihormati oleh penganut agama lain, misalnya Islam. Persaudaraan sejati pada masa kini hemat saya sungguh mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan, mengingat dan memperhatikan aneka bentuk permusuhan, kebencian dan ketegangan masih marak di sana-sini di dalam kehidupan sehari-hari. Kami berharap kepada para pemimpin dalam hidup bersama dimana pun dan kapan pun untuk memperhatikan masalah persaudaraan sejati ini, tanpa membedakan SARA, Suku, Ras dan Agama. Untuk itu pertama-tama dan terutama marilah kita hayati apa yang sama di antara kita secara mendalam dan handal, agar dengan demikian apa yang berbeda antar kita fungsional memperdalam dan meneguhkan persaudaraan. Marilah kita cermati bahwa laki-laki dan perempuan yang berbeda satu sama lain saling tarik menarik, tergerak untuk mendekat, mengenal dan bersahabat, dan bahkan ada yang akhirnya bersatu menjadi suami-isteri. Hendaknya aneka perbedaan yang ada pada kita menjadi bahan pembelajaran, dan dengan demikian kita saling belajar. Marilah kita hayati motto bangsa kita "Bineka Tunggal Ika", satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa.
"Pada-Mu, TUHAN, aku berlindung, janganlah sekali-kali aku mendapat malu. Luputkanlah aku oleh karena keadilan-Mu, sendengkanlah telinga-Mu kepadaku, bersegeralah melepaskan aku! Jadilah bagiku gunung batu tempat perlindungan, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku!Sebab Engkau bukit batuku dan pertahananku, dan oleh karena nama-Mu Engkau akan menuntun dan membimbing aku. Engkau akan mengeluarkan aku dari jaring yang dipasang orang terhadap aku, sebab Engkaulah tempat perlindunganku. Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku; Engkau membebaskan aku, ya TUHAN, Allah yang setia" (Mzm 31:2-6)
Ign 15 September 2012

14 sept

"Orang yang percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal."
(Fil 2:6-11; Yoh 3:13-17)

"Tidak ada seorang pun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia. Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia" (Yoh 3:13-17), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan Pesta Salib Suci hari ini , saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, khususnya yang beragama Katolik, setiap kali berdoa atau mengawali suatu acara atau tugas pekerjaan kita membuat tanda salib seraya berkata "Dalam Nama Bapa, Putera dan Roh Kudus". Entah sudah berapa kali kita membuat tanda salib mungkin tak sempat menghitung, dan mungkin kita juga tidak sadar lagi apalagi menghayatinya. Maka dalam rangka mengenangkan Pesta Salib Suci hari ini saya mengingatkan dan mengajak anda sekalian untuk mawas diri apa arti membuat tanda salib. Membuat tanda salib hemat saya berarti kita akan hidup dan melakukan segala sesuatu sesuai dengan kehendak dan perintah Tuhan, tidak mengikuti atau menurut selera dan keinginan pribadi. Dengan kata lain kita hidup dan bertindak meneladan Yang Tersalib, yaitu senantiasa membaktikan diri sepenuhnya demi keselamatan atau kebahagiaan orang lain, terutama keselamatan atau kebahagiaan jiwa. Untuk itu orang dengan jiwa besar dan hati rela berkorban siap sedia untuk menderita demi keselamatan atau kebahagiaan orang lain. Cara hidup dan cara bertindaknya dimana pun dan kapanpun senantiasa merupakan perwujudan iman pada Yang Tersalib, memiliki cara melihat, cara berpikir, cara merasa, cara bersikap dan cara bertindak sesuai dengan Yang Tersalib, yaitu melayani sesamanya dengan rendah hati. Kita semua kiranya mendambakan hidup kekal, bahagia dan damai sejahtera selamanya di sorga, setelah meninggal dunia atau dipanggil Tuhan, maka marilah cara hidup dan cara bertindak kita sungguh menunjukkan diri sebagai orang yang memiliki dambaan hidup kekal, bahagia dan damai sejahtera selamanya. Dengan kata lain selama hidup di dunia ini dalam situasi dan kondisi apapun senantiasa bergembira, bergairah dan ceria, karena Tuhan hidup dan berkarya dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini. Kita bagaikan orang gila/sinthing yang terus tersenyum dan tidak pernah menyakiti orang lain sedikitpun.
·   "Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib" (Fil 2:5-8), demikian peringatan Paulus kepada umat di Filipi, kepada kita semua yang beriman kepada Yesus Kristus. Peringatan ini kiranya mengajak kita semua untuk senantiasa hidup dan bertindak dengan rendah hati. Salah satu bentuk penghayatan rendah hati pada masa kini yang mendesak dan up to date adalah tidak mengeluh atau tidak menggerutu dalam situasi dan kondisi apapun, termasuk dalam situasi dan kondisi yang sulit dan berat, yang sarat dengan aneka tantangan, masalah dan hambatan. Secara konkret dalam hal-hal biasa setiap hari, misalnya dalam hal makan, minum dan tidur. Makanan dan minuman yang tidak enak namun sehat tetap dinikmati dengan ceria, demikian juga tidur dimana pun tak ada masalah. Ketika orang memiliki masalah dalam hal makanan, minuman dan tidur yang sehat berarti yang bersangkutan sedang menderita sakit, sebagaimana terjadi di rumah sakit. Sebaliknya jika orang tak memiliki masalah dalam hal makanan, minuman dan tidur pada umumnya yang bersangkutan juga tidak akan mengeluh atau menggerutu ketika harus melakukan tugas pekarjaan berat, yang sarat dengan tantangan, masalah maupun hambatan. Maka dengan ini kami berharap kepada para orangtua untuk membiasakan dan mendidik anak-anak sedini mungkin dalam hal makan, minum dan tidur yang sehat, jangan hanya mengikuti selera atau keinginan pribadi. Tentu saja orangtua dapat menjadi teladan bagi anak-anaknya dalam hal makan, minum dan tidur yang sehat.
"Apabila Ia membunuh mereka, maka mereka mencari Dia, mereka berbalik dan mengingini Allah; mereka teringat bahwa Allah adalah gunung batu mereka, dan bahwa Allah Yang Mahatinggi adalah Penebus mereka.Tetapi mereka memperdaya Dia dengan mulut mereka, dan dengan lidahnya mereka membohongi Dia.Hati mereka tidak tetap pada Dia, dan mereka tidak setia pada perjanjian-Nya" (Mzm 78:34-37)
Ign 14 September 2012

Rabu, 12 September 2012

13 Sept

"Kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu"
(1Kor 8:1b-7.11-13; Luk 6:27-38)

 "Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu. Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu. Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu. Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka. Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosa pun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun berbuat demikian. Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak. Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati." "Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu." (Luk 6:27-38), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Yohanes Krisostomus, Uskup dan Pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Sabda hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua untuk senantiasa hidup dengan dan dalam kasih pengampunan dan murah hati, menolak aneka macam bentuk balas dendam maupun kebencian.  Kepada yang memusuhi kita diharapkan mengasihinya, sedangkan kepada yang membeci kita diharapkan berbuat baik kepadanya. Hendaknya disadari dan dihayati bahwa orang tidak akan memusuhi dan membenci kita jika mereka tidak memboroskan waktu dan tenaga bagi kita, dan hemat saja pemborosan waktu dan tenaga merupakan wujud kasih yang konkret. Sikapi dan tanggapi mereka yang memusuhi dan membenci kita dengan 'terima kasih'. Kebetulan hari ini kita juga mengenangkan St.Yohanes Krisostomus, uskup dan pujangga Gereja, yang dikenal dengan berani mencela yang salah dan memuji yang baik. Tentu saja kepada yang salah dengan rendah hati dibetulkan, tidak hanya berhenti dalam mencela saja. Jika secara tatap muka atau fisik kita belum berani mengampuni mereka yang memusuhi dan membenci kita, baiklah kita doakan; biarlah Tuhan sendiri yang mengampuni dan menegornya untuk tidak lagi memusuhi dan membenci.

·   " Karena itu apabila makanan menjadi batu sandungan bagi saudaraku, aku untuk selama-lamanya tidak akan mau makan daging lagi, supaya aku jangan menjadi batu sandungan bagi saudaraku" (1Kor 8:13), demikian kesaksian iman Paulus. Dari kutipan ini kiranya yang baik untuk kita renungkan dan refleksikan adalah 'jangan menjadi batu sandungan bagi saudaraku'. Cara hidup dan cara bertindak kita dimana pun dan kapan pun hendaknya jangan menjadi batu sandungan bagi orang lain untuk berbuat dosa atau melakukan kejahatan. Misalnya dalam hal cara berpakaian atau menempatkan harta kekayaan yang kita miliki. Dalam cara berpakaian hendaknya sungguh sopan, tidak merangsang orang lain untuk berpikiran dan melakukan apa yang jahat atau berdosa. Maaf secara khusus hal ini kami ingatkan kepada rekan wanita atau perempuan: hendaknya jangan menghadirkan diri sedemikian rupa sehingga merangsang kaum laki-laki berpikiran jahat dan melakukan dosa. Kepada kita semua kami harapkan dalam omongan atau pembicaraan juga tidak menjadi batu sandungan, misalnya omong masalah seks atau berbicara keras. Dalam hal makan dan minum hendaknya sederhana saja, tidak berfoya-foya agar tidak menimbulkan pikiran jahat orang lain atau kecurigaan yang tidak perlu. Tak kalah penting adalah menempatkan uang atau barang-barang berharga: tempatkan di tempat yang tidak merangsang orang lain untuk berbuat jahat. Marilah kita saling menjaga dan mengingatkan agar kita tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain.

"TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi." (Mzm 139:1-3)
Ign 13 September 2012