Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Selasa, 14 Agustus 2012

15 Agt

 "Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam namaKu"
(Yeh 9:1-7;10:18-22; Mat 18:15-20)

 "Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga. Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka." (Mat 18:15-20), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Ketika orang sedang berduaan, entah sejenis atau antar jenis, pada umumnya akan omong-omong dengan mesra atau curhat. Dua orang yang sedang saling mengasihi pasti akan lebih melihat kebaikan dan keunggulan masing-masing, tetapi juga ada kemungkinan mereka sedang ngrumpi atau ngrasani orang lain, yang pada umumnya membicarakan kesalahan dan kekurangan orang lain. Ketika semua kiranya memiliki kecenderungan mudah untuk membicarakan kesalahan atau kekurangan orang yang tidak ada di hadapan kita. Sabda hari ini mengajak dan mengingatkan kita semua untuk tidak dengan mudah membicarakan kekurangan atau kelemahan orang lain, apalagi menjadikannya bahan rekreasi. Jika kita melihat kekurangan atau kelemahan orang lain serta berminat untuk memperingatkannya, diharapkan 'menegor di bawah empat mata', artinya secara langsung disampaikan kepada orang yang bersangkutan. Membicarakan kekurangan atau kelemahan orang yang tidak ada di hadapan kita hemat saya merupakan pelanggaran hak asasi manusia alias melecehkan harkat martabat manusia. Yang sering terjadi adalah entah suami atau isteri sering menceriterakan kekurangan pasangan hidupnya dengan rekan sekantor yang berbeda jenis kelamin, dan rekan yang bersangkutan mendengarkan dengan baik serta kemudian dirasakan dapat menerima keluh kesahnya. Maka dampak berikutnya dapat terjadi perselingkuhan. Memang secara khusus saya ingin mengingatkan rekan-rekan yang ada daalm satu komunitas atau suami-isteri: hendaknya jangan membicarakan kekurangan atau kelemahan rekan sekomunitas atau pasangan hidup kepada orang lain.

·   "Lalu kemuliaan TUHAN pergi dari ambang pintu Bait Suci dan hinggap di atas kerub-kerub. Dan kerub-kerub itu mengangkat sayap mereka, dan waktu mereka pergi, aku lihat, mereka naik dari tanah dan roda-rodanya bersama-sama dengan mereka. Lalu mereka berhenti dekat pintu gerbang rumah TUHAN yang di sebelah timur, sedang kemuliaan Allah Israel berada di atas mereka. Itulah makhluk-makhluk hidup yang dahulu kulihat di bawah Allah Israel di tepi sungai Kebar. Dan aku mengerti, bahwa mereka adalah kerub-kerub" (Yeh 10:18-20). Yang dimaksudkan dengan kerub-kerub adalah makhluk-makhuk sorgawi yang misterius dan menggambarkan kemuliaan Allah, maka kutipan di atas ini kiranya mengajak dan mengingatkan kita semua agar kita senantiasa melihat kemuliaan Allah, baik yang ada di dalam diri kita masing-masing maupun saudara-saudari kita atau orang lain. Dengan kata lain hendaknya kita senantiasa berpikiran positif terhadap diri kita maupun orang lain. Marilah kita ingat dan sadari bahwa kita adalah manusia yang diciptakan sebagai gambar atau citra Allah, maka hendaknya senantiasa dilihat dan diimani karya Allah dalam tiap diri manusia. Karya Allah dalam diri kita, manusia, antara lain menjadi nyata dalam kehendak baik kita, dan kami percaya bahwa masing-masing dari kita memiliki kehendak baik. Marilah  kita saling membagikan kehendak baik kita serta kemudian kita sinerjikan sehingga menjadi kehendak baik bersama, serta kemudian kita wujudkan bersama-sama. Marilah kita saling mengabdi, saling melayani, saling menghormat dan saling memuliakan serta memuji, sehingga kehidupan bersama sungguh menarik, mempesona dan memikat, karya Allah tinggal dan berkarya dalam kebersamaan kita. Semoga sabda Yesus bahwa 'dimana ada dua atau tiga orang berkumpul dalam namaKu' dapat menjadi nyata dalam kebersamaan kita dengan orang lain, siapapun dan dimana pun.

"Haleluya! Pujilah, hai hamba-hamba TUHAN, pujilah nama TUHAN! Kiranya nama TUHAN dimasyhurkan, sekarang ini dan selama-lamanya.Dari terbitnya sampai kepada terbenamnya matahari terpujilah nama TUHAN. TUHAN tinggi mengatasi segala bangsa, kemuliaan-Nya mengatasi langit. Siapakah seperti TUHAN, Allah kita, yang diam di tempat yang tinggi,yang merendahkan diri untuk melihat ke langit dan ke bumi?
" (Mzm 113:1-6)
Ign 15 Agustus 2012

Senin, 13 Agustus 2012

14 Agt

"Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam namaKu ia menyambut Aku."
(Yeh 2:8-3:4; Mat 18:1-5.10.12-14)

"Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: "Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?" Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, lalu berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku." Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga. "Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? Dan Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu dari pada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat.Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang."(Mat 18:1-5.10.12-14), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St Maksimilianus Maria Kolbe, martir, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Mengurus, mendidik dan merawat anak-anak kecil memang tidak mudah, membutuhkan waktu dan tenaga yang banyak serta pengorbanan. Cukup banyak keluarga muda masa kini kurang perhatian dalam mendidik atau mengurus anak-anaknya, dan pada umumnya anak-anaknya diserahkan kepada pembantu atau perawat khusus bayi atau neneknya. Dengan kata lain orang suka menanam, namun enggan atau tak dapat merawatnya dengan baik dan memadai. Jika Yesus bersabda bahwa   "Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.", kiranya merupakan ajakan atau peringatan bagi kita semua untuk senantiasa memperhatikan pendidikan atau pembinaan anak-anak sccara memadai. Kita juga dapat meneladan kemartiran St.Maksimilianus Maria Kolbe, yang telah merelakan diri untuk bersama dengan orang-orang tahanan, yang akhirnya meninggal dunia karena diracun; ia telah mengorbankan diri demi keselamatan dan kebahagiaan orang lain. Kami berharap para orangtua untuk dengan sungguh-sungguh berani memboroskan waktu dan tenaga guna merawat dan mendidik anak-anaknya, agar anak-anak kelak kemudian hari ketika tumbuh berkembang menjadi pribadi dewasa 'tidak hilang' alias tetap tumbuh berkembang sebagai pribadi yang cerdas beriman. Maklum masa kini kiranya cukup banyak anak-anak lebih taat pada para guru di sekolah daripada kepada orangtua atau bapak-ibunya, dan hal ini menunjukkan bahwa orangtua kurang memadai dalam mendidik dan mengasihi anaknya. Marilah kita sikapi anak-anak kita sebagai anak Tuhan, yang berarti harus kita sembah-sujud kepadanya alias membaktikan diri sepenuhnya demi perkembangan dan pertumbuhan anak. Tidak memperhatikan dan mendidik anak-anak dengan baik dan benar berarti mencelakakan diri sendiri maupun anak-anak di masa depan.

·   "Hai anak manusia, makanlah gulungan kitab yang Kuberikan ini kepadamu dan isilah perutmu dengan itu." (Yeh 3:3). Kutipan ini kiranya mengingatkan dan mengajak kita semua, umat beriman atau beragama untuk senantiasa membaca dan merenungkan apa yang tertulis di dalam Kitab Suci, sehingga hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak dan perintah Tuhan. Dengan  rendah hati setiap hari saya berusaha membaca dan merenungkan apa yang tertulis di dalam Kitab Suci serta kemudian menulis refleksi sederhana serta meneruskannya kepada anda sekalian. Semoga apa yang saya sampaikan kepada anda membantu untuk menghayati kutipan di atas. Makan 'gulungan Kitab' berarti melaksanakan atau menghayati apa yang tertulis dalam kitab tersebut. Maka baiklah saya ingatkan kepada kita semua: hendaknya aneka tata tertib dan aturan yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing kita 'makan sampai habis' alias kita laksanakan sebaik-baiknya. Biarlah tata tertib atau aturan sungguh mengusai atau merajai cara hidup dan cara bertindak kita. Sekali lagi kami ingatkan bahwa keunggulan hidup beriman atau beragama ada dalam pelaksanaan atau penghayatan, bukan wacana atau omongan. Semoga menyikapi dan melaksanakan aturan atau tata tertib tidak pilih-pilih apa yang menguntungkan dirinya sendiri saja, melainkan secara utuh dan total dilaksanakan atau diihayati. Sikapi dan hayati aneka tata tertib dan aturan dalam dan oleh kasih, maka akan terasa nikmat adanya.
"Atas petunjuk peringatan-peringatan-Mu aku bergembira, seperti atas segala harta. Ya, peringatan-peringatan-Mu menjadi kegemaranku, menjadi penasihat-penasihatku" (Mzm 119:14.24)
Ign 14 Agustus 2012

13 Agt


Jangan kita menjadi batu sandungan bagi mereka"
(Yeh 1:2-5.24-2:1a; Mat 17:22-27)
"Pada waktu Yesus dan murid-murid-Nya bersama-sama di Galilea, Ia berkata kepada mereka: "Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan." Maka hati murid-murid-Nya itu pun sedih sekali. Ketika Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Kapernaum datanglah pemungut bea Bait Allah kepada Petrus dan berkata: "Apakah gurumu tidak membayar bea dua dirham itu?" Jawabnya: "Memang membayar." Dan ketika Petrus masuk rumah, Yesus mendahuluinya dengan pertanyaan: "Apakah pendapatmu, Simon? Dari siapakah raja-raja dunia ini memungut bea dan pajak? Dari rakyatnya atau dari orang asing?" Jawab Petrus: "Dari orang asing!" Maka kata Yesus kepadanya: "Jadi bebaslah rakyatnya. Tetapi supaya jangan kita menjadi batu sandungan bagi mereka, pergilah memancing ke danau. Dan ikan pertama yang kaupancing, tangkaplah dan bukalah mulutnya, maka engkau akan menemukan mata uang empat dirham di dalamnya. Ambillah itu dan bayarkanlah kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu juga." (Mat 17:22-27), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Hidup sebagai warganegara memang terikat oleh aneka tata tertib dan aturan serta harus melaksanakan-nya sebaik dan seoptimal mungkin. Salah satu tata tertib atau aturan yang secara umum berlaku di seluruh dunia adalah 'kewajiban membayar pajak'. Salah satu yang menjadi dukungan kemajuan dan perkembangan hidup warganegara adalah ketertiban dan kedisiplinan pembayaran dan pengelolaan pajak. Mayoritas pemasukan anggaran pendapatan suatu Negara berasal dari pembayaran pajak, dan jumlah dana pajak yang masuk difungsikan untuk aneka pelayanan bagi warganegara. Dalam Warta Gembira hari ini dikisahkan bahwa Yesus bersama para rasul setia membayar pajak agar tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain. Maka kami berharap kepada segenap umat beriman atau beragama untuk setia membayar pajak, dan tentu saja para pengurus dan pengelola pajak juga melaksanakan tugas dan fungsinya sebaik dan sejujur mungkin, tidak melakukan korupsi sedikitpun. Maklum jika dicermati para pengurus dan pengelola pajak di negeri kita tercinta ini tidak jujur dan dampaknya para wajib pajak pun juga mangkir untuk membayar pajak atau kong-kalingkong dengan petugas pajak. Kami berharap kepada mereka yang berpengaruh dalam hidup bersama dapat menjadi teladan dalam kewajiban membayar pajak, dan para petugas, pegawai dan pengurus jujur dalam menjalankan tugasnya. Ingatlah dan sadari bahwa tindakan korupsi para petugas dan pengelola pajak telah menjadi batu sandungan banyak warganegara untuk membayar pajak seenaknya. Para pegawai negeri atau pemerintahan kami harapkan juga dapat menjadi teladan dalam hal kejujuran, karana imbal jasa atau gaji bagi anda sekalian berasal dari rakyat, dan hendaknya sungguh berusaha untuk melayani dan mensejahterakan rakyat. Pajak berasal dari rakyat dan harus kembali kepada rakyat dalam aneka bentuk pelayanan bagi rakyat.
·   "Seperti busur pelangi, yang terlihat pada musim hujan di awan-awan, demikianlah kelihatan sinar yang mengelilinginya. Begitulah kelihatan gambar kemuliaan TUHAN. Tatkala aku melihatnya aku sembah sujud, lalu kudengar suara Dia yang berfirman" (Yeh 1:28). "Busir pelangi, yang terlihat pada musim hujan di awan-awan" memang begitu indah, mempesona dan menarik. Sebagai orang beriman atau beragama kita semua dipanggil untuk hidup dan bertindak bagaikan 'busur pelangi' tersebut, dengan kata lain dimanapun dan kapanpun cara hidup dan cara bertindak kita senantiasa indah, mempesona, menarik dan memikat orang lain serta tidak pernah menjadi batu sandungan bagi orang lain untuk berbuat dosa atau melakukan kejahatan. Para gadis atau perempuan, terutama yang belum menikah dan berusaha mencari jodoh atau pasangan hidup, pada umumnya berusaha menghadirkan sedemikian  rupa sehingga menarik, mempesona dan memikat laki-laki yang didambakan menjadi jodoh atau pasangan hidupnya. Semoga hal itu tidak menjadi batu sandungan bagi rekan-rekan laki-laki untuk berpikiran serta melakukan yang jahat atau berdosa. Kami berharap apa yang menjadi daya pesona, daya tarik dan daya pikat buka hanya penampilan hal duniawi atau fisik belaka, tetapi terutama dan pertama-tama adalah yang terkait dengan hal rohani atau spiritual, dengan kata lain tunjukkan bahwa anda adalah pribadi yang baik, suci dan berbudi pekerti luhur, sehingga orang yang terpesona, tertarik dan terpikat pada diri anda menjadi semakin membaktikan diri sepenuhnya kepada Tuhan alias semakin hidup baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur. Biarlah apa yang mempesona, menarik dan memikat dalam diri kita adalah sesuatu yang menunjukkan kemuliaan Tuhan.
"Haleluya! Pujilah TUHAN di sorga, pujilah Dia di tempat tinggi! Pujilah Dia, hai segala malaikat-Nya, pujilah Dia, hai segala tentara-Nya!"(Mzm 148:1-2)
Ign 13 Agustus 2012