Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Selasa, 24 Juli 2012

25 Juli


"Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu hendaklah ia menjadi pelayanmu"

(2Kor 4:7-15; Mat 20: 20-28)

"Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. Kata Yesus: "Apa yang kaukehendaki?" Jawabnya: "Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu." Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: "Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?" Kata mereka kepada-Nya: "Kami dapat." Yesus berkata kepada mereka: "Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya." Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (Mat 20:20-28), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Yakobus, rasul, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   St Yakobus, termasuk dalam 12 (dua belas) rasul yang dipilih oleh Yesus, dan jabatan atau fungsi rasul masa kini diteruskan atau diemban oleh para uskup. Uskup kita imani sebagai pribadi yang terbesar dan tertinggi alias termasuk dalam jajaran primat Gereja Katolik. Salah satu cirikhas fungsi uskup adalah sebagai pelayan dan senantaiasa berusaha menghayati panggilan dan fungsinya dengan melayani, menghayati kepemimpinan partisipatif dengan mendengarkan dan menanggapi suka duka umat Allah yang harus dilayani, maka tugas atau fungsinya sungguh berat dan mulia. Maka dengan ini kami mengharapkan segenap umat Allah untuk mendukung dan mendoakan uskup atau gembala masing-masing agar dapat melayani umat dengan baik sebagaimana didambakan atau dikehendaki Tuhan yang telah memanggil dan mengutusnya. Karena tugasnya begitu berat dan mulia, maka yang dapat dipilih menjadi uskup, sebagaimana digariskan dalam KHK kanon 378, diharapkan memiliki cirikhas kepribadian: "unggul dalam iman yang tangguh, moral yang baik, kesalehan, perhatian pada jiwa-jiwa, kebijaksanaan, kearifan dan keutamaan-keutamaan manusiawi, serta memiliki sifat-sifat lain yang cocok untuk melaksanakan jabatan, mempunyai nama baik, dst..". Cirikhas kepridian macam ini hendaknya juga diusahakan untuk dimiliki oleh para pembantu-pembantunya, yaitu para pastor atau  imam. Maka kami berharap mereka yang terpanggil untuk menjadi imam alias para seminaris hendaknya dibina dan dididik dalam hal keutamaan-keutamaan atau cirikhas tersebut di atas. Tentu saja para formator di seminari-seminari juga memiliki cirikhas kepribadian tersebut di atas. Karena imam atau uskup berasal dari keluarga-keluarga, maka kami berharap para orangtua sungguh berusaha bersama-sama mendidik dan membina anak-anak agar memiliki cirikhas kepribadian di atas, yang dapat dipadatkan dalam keutamaan melayani dengan rendah hati.

·   "Harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami." (2Kor 4:7-10), demikian kesaksian iman Paulus, rasul agung. Sebagai umat beriman kita semua memiliki hidup yang berdimensi rasuli, maka baiklah kami mengajak dan mengingatkan anda sekalian, umat untuk berusaha menghayati panggilan rasuli tersebut dalam cara hidup dan cara bertindak setiap hari dimana pun dan kapan pun. Sebagai umat beriman hendaknya mengandalkan kekuatan rahmat Tuhan bukan menyombongkan atau mengandalkan kekuatan diri pribadi yang lemah dan rapuh ini. Ingatlah, sadari dan hayati bahwa kita semua berasal dari tanah dan akan kembali menjadi tanah ketika dipanggil Tuhan atau mati. Maka marilah kita hidup dan bertindak dengan penuh syukur dan terima kasih, karena kita dianugerahi hidup, kekuatan, ketampanan/kecantikan, kecerdasan dst.. dan hendaknya semuanya difungsikan untuk melayani saudara-saudari kita, sehingga kita bersama-sama senantiasa hidup dan berindak saling melayani dimana pun dan kapan pun. Jika kita hidup dan bertindak dengan sombong, mengandalkan kekuatan pribadi berarti kita tidak beriman.

"Ketika TUHAN memulihkan keadaan Sion, keadaan kita seperti orang-orang yang bermimpi. Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai. Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa: "TUHAN telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!" TUHAN telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita." (Mzm 126:1-3)

Ign 25 Juli 2012


Senin, 23 Juli 2012

24Juli


"Siapa pun yang melakukan kehendak BapaKu di sorga dialah saudaraKu"

(Mi 7:14-15.18-20; Mat 12:46-50)

" Ketika Yesus masih berbicara dengan orang banyak itu, ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya berdiri di luar dan berusaha menemui Dia. Maka seorang berkata kepada-Nya: "Lihatlah, ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau." Tetapi jawab Yesus kepada orang yang menyampaikan berita itu kepada-Nya: "Siapa ibu-Ku? Dan siapa saudara-saudara-Ku?" Lalu kata-Nya, sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya: "Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku." (Mat 12:46-50), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Aneka tantangan, masalah dan hambatan dalam hidup dan kerja sering membuat orang frustrasi, dan dalam keadaan frustrasi ada kecenderungan hidup dan bertindak menurut selera atau keinginan pribadi. Demikian juga ada orang menggunakan 'aji mumpung', kesempatan memiliki fungsi atau jabatan yang srrategis dan berpengaruh dalam kehidupan bersama: mengambil kebijakan atau membuat keputusan hanya mengikuti selera pribadi dan kurang atau tidak mempertimbangkan dan mengingat mereka yang kena kebijakan atau keputusan tersebut. Sabda hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua, sebagai orang beriman untuk hidup dan bertindak sesuai dengan iman kita: hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dijiwai oleh iman atau kehendak dan perintah Tuhan. "siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku", demikian sabda Yesus yang hendaknya kita renungkan atau refleksikan. Kehendak dan perintah Tuhan dapat kita temukan di dalam Kitab Suci maupun aneka aturan dan tata tertib yang dibuat dan diberlakukan sebagai usaha strategis untuk menghayati apa yang tertulis di dalam Kitab Suci. Maka baiklah kami mengajak dan mengingatkan anda sekalian, segenap umat beriman, untuk setia dan taat melaksanakan aneka tata tertib atau aturan yang terkait dengan panggilan, tugas dan kewajiban kita masing-masing, meninggalkan kehendak dan keinginan pribadi. Dengan kata lain secara khusus kami mengingatkan rekan-rekan untuk setia menghayati spiritualitas atau charisma pendiri paguyuban hidup di mana kita ada di dalamnya.

·   "Gembalakanlah umat-Mu dengan tongkat-Mu, kambing domba milik-Mu sendiri, yang terpencil mendiami rimba di tengah-tengah kebun buah-buahan. Biarlah mereka makan rumput di Basan dan di Gilead seperti pada zaman dahulu kala. Seperti pada waktu Engkau keluar dari Mesir, perlihatkanlah kepada kami keajaiban-keajaiban" (Mi 7:14-15). Kutipan ini kiranya baik untuk menjadi bahan refleksi atau permenungan terutama bagi para pemimpin dalam kehidupan atau kerja bersama dalam bentuk apapun dan dimanapun. Anda semua diharapkan memperhatikan "yang terpencil mendiami rimba di tengah-tengah kebuh buah-buahan" alias mereka yang miskin dan berkekurangan. Dengan kata lain hendaknya dihayati motto atau semboyan "preferential option for/with the poor" (=keberpihakan bagi mereka yang miskin dan berkekurangan). Sekali lagi saya angkat bahwa kita dapat meneladan calon gubernur DKI atau walikota Solo-Jawa Tengah, yang senantiasa berpihak pada mereka yang miskin dan berkekurangan dalam mengemban tugas kepemimpinannya; mengunjungi dan mendengarkan suka-duka orang miskin dan berkekurangan serta kemudian menanggapinya dalam pelayanan konkret terhadap mereka. Kepada para pastor atau imam di paroki-paroki kami harapkan memperhatikan umat yang terpencil secara territorial maupun fungsional, kepada para guru atau pendidik kami harapkan memperhatikan mereka yang kurang terdidik dan kurang cerdas, dan kepada kita semua marilah kita perhatikan saudara-saudari kita yang kurang memperoleh perhatian dalam hidup sehari-hari. Semangat gembala kami harapkan kita hayari bersama-sama, dan tentu saja terutama bagi para pemimpin, yaitu dapat meneladan motto bapak pendidikan nasional Ki Hajar Dewantoro "ing arso asung tulodho, ing madyo ambangun karso, tut wuri handayani" (keteladanan, pemberdayaan dan motivasi).

"Betapa disenangi tempat kediaman-Mu, ya TUHAN semesta alam! Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN; hatiku dan dagingku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup. Bahkan burung pipit telah mendapat sebuah rumah, dan burung layang-layang sebuah sarang, tempat menaruh anak-anaknya, pada mezbah-mezbah-Mu, ya TUHAN semesta alam, ya Rajaku dan Allahku! Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau.  Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah"

 (Mzm 84:2-6)

Ign 24 Juli 2012


Minggu, 22 Juli 2012

23 Juli


"Kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus"

(Mi 6:1-4.6-8; Mat 12:38-42)

" Pada waktu itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: "Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu." Tetapi jawab-Nya kepada mereka: "Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam. Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan menghukumnya juga. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus! Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama angkatan ini dan ia akan menghukumnya juga. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengar hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Salomo!" (Mat 12:38-42), demikian kutipan Warta Gemibira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Dalam kehidupan sehari-hari kita menghadapi aneka macam tanda, baik yang ada di dalam diri kita sendiri maupun diluar diri kita. Tanda-tanda yang ada dalam diri kita, khususnya bagi rekan-rekan perempuan adalah tanda akan menstruasi atau akan hamil, atau entah untuk laki-laki atau perempuan yang sungguh peka terhadap dirinya pada umumnya juga dapat merasakan tanda-tanda akan sakit, misalnya sakit flu. Sedangkan tanda-tanda yang ada diluar diri antara lain rambu-rambu lalu lintas, isyarat-isyarat melalui gerakan anggota tubuh dst… Sebagai orang beriman kita semua diharapkan peka akan aneka tanda atau isyarat atau simbol-simbol, memahaminya serta kemudian menghayati atau melaksanakan apa yang dimaksudkannya, agar kita tidak dinilai sebagai orang-orang jahat. Dalam warta gembira hari ini Yesus mengetengahkan tanda Yunus, dimana Yunus pernah berada di dalam perut ikan selama tiga hari dan dapat keluar dari perut ikan dengan selamat. Tanda Yunus tidak lain adalah menunjuk atau mengindikasikan pada Yesus yang wafat di kayu, dimakamkan dan pada hari ketiga dibangkitkan dari mati. Sebagai orang Katolik atau Kristen kita sering membuat tanda salib, semoga hal ini tidak hanya menjadi kebiasaan yang tak berarti atau bermakna, tetapi kita sungguh menghayati maksud atau tujuan membuat tanda salib. Bukankah dengan membuat tanda salib berarti kita akan melakukan segala sesuatu atas nama dan demi Yang Tersalib alias hidup dan bertindak dengan meneladan cara hidup dan cara bertindak Yang Tersalib, dan pada waktunya mempersembahkan diri secara total kepada Tuhan melalui pelayanan bagi sesamanya?

·   "Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?" (Mi 6:8). Kita semua, sebagai orang-orang beriman, dipanggil untuk "berlaku adil, mencintai kesetiaan dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allah". Keadilan yang paling dasar adalah hormat terhadap harkat martabat manusia, menjunjung tinggi harkat martabat manusia dalam cara hidup dan cara bertindak dimana pun dan kapan pun. Maka hendaknya cara hidup dan cara bertindak kita jangan pernah melecehkan harkat martabat manusia dalam bentuk apapun. Kita juga dipanggil untuk hidup setia dan rendah hati. Maka entah panggilan, tugas, fungsi, kewajiban kita apa pun kami harapkan kita semua setia melakukan atau menghayatinya. Sebagai orang yang terpanggil, entah menjadi imam, bruder atau suster dan suami-isteri, kami harapkan setia pada panggilan dan tidak pernah melakukan perselingkuhan atau penyelewengan dalam bentuk apa pun. Memang kita dapat berlaku adil dan setia perlu hidup dengan rendah hati, sebagai keutamaan yang paling dasar dan paling utama. Rendah hati pada masa kini antara lain dapat kita hayati dengan tidak mengeluh atau menggerutu sedikitpun ketika kita menghadapi tantangan, masalah atau kesulitan dalam hidup sehari-hari. Pertama-tama kami harapkan kita tidak mudah mengeluh atau menggerutu atas makanan dan minuman yang disediakan bagi kita untuk kita nikmati, asal makanan dan minuman tersebut sehat. Jika dalam hal makanan dan minuman kita tidak mudah mengeluh atau menggerutu, maka kiranya kita memiliki kemampuan untuk tidak mengeluh atau tidak menggerutu ketika dalam kehidupan sehari-hari harus mengahadapi tantangan, masalah atau kesulitan besar sebagai akibat kesetiaan dan usaha berlaku adil.

"Bawalah kemari orang-orang yang Kukasihi, yang mengikat perjanjian dengan Aku berdasarkan korban sembelihan!" Langit memberitakan keadilan-Nya, sebab Allah sendirilah Hakim.  Bukan karena korban sembelihanmu Aku menghukum engkau; bukankah korban bakaranmu tetap ada di hadapan-Ku? Tidak usah Aku mengambil lembu dari rumahmu atau kambing jantan dari kandangmu"

 (Mzm 50:5-6.8-9)

Ign 23 Juli 2012