Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Selasa, 03 Juli 2012

4 Juli


"Apa urusanMu dengan kami hai Anak Allah?"

(Am 5:14-15.21-24; Mat 8:28-34)

" Setibanya di seberang, yaitu di daerah orang Gadara, datanglah dari pekuburan dua orang yang kerasukan setan menemui Yesus. Mereka sangat berbahaya, sehingga tidak seorang pun yang berani melalui jalan itu. Dan mereka itu pun berteriak, katanya: "Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah? Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?" Tidak jauh dari mereka itu sejumlah besar babi sedang mencari makan. Maka setan-setan itu meminta kepada-Nya, katanya: "Jika Engkau mengusir kami, suruhlah kami pindah ke dalam kawanan babi itu." Yesus berkata kepada mereka: "Pergilah!" Lalu keluarlah mereka dan masuk ke dalam babi-babi itu. Maka terjunlah seluruh kawanan babi itu dari tepi jurang ke dalam danau dan mati di dalam air. Maka larilah penjaga-penjaga babi itu dan setibanya di kota, diceriterakannyalah segala sesuatu, juga tentang orang-orang yang kerasukan setan itu. Maka keluarlah seluruh kota mendapatkan Yesus dan setelah mereka berjumpa dengan Dia, mereka pun mendesak, supaya Ia meninggalkan daerah mereka" (Mat 8:28-34), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Penjahat ketiika tertangkap basah atas tindakan jahatnya pada umumnya sebelum dibekuk untuk diamankan akan berteriak guna mengancam penangkapnya. Penjahat berusaha melindungi diri dengan menakut-nakuti orang lain. Ada penguasa yang berusaha melindungi kejahatan dengan mengalihkan perhatian rakyat, misalnya dengan mengadakan kerusuhan antar agama, sebagaimana pernah terjadi dengan adanya kerusuhan berwarna agama yang terjadi di Pandeglang dan Temanggung tahun lalu, yang tidak lain adalah merupakan permainan penguasa untuk mengalihkan perhatian rakyat dari korupsi ke agama. Kerusahan yang dalam rangka singkat dapat diselesaikan adalah merupakan permainan penguasa atau pejabat, sedangkan kerusuhan sejati pada umumnya tak kunjung henti. Sabda hari ini mengingatkan kita semua perihal ciri orang baik dan orang jahat. Orang baik pada umumnya tampil atau menghadirkan diri dengan tenang, sedangkan orang jahat senantiasa merasa dirinya terancam dan ketika diketahui kejahatannya ia berusaha menggertak atau menakut-nakuti. Sekeras atau sekuat apapun usaha penjahat menakut-nakuti hendaknya dihadapi dengan tenang, jangan gegabah. "Pergilah", demikian satu kata yang keluar dari Yesus menghadapi teriakan setan atau penjahat; satu kata yang sungguh wibawa dan kuasa. Kami berharap kepada anda sekalian ketika menghadapi ancaman hendaknya tenang dan tidak gegabah, seraya berdoa mohon kekuatan dan terang dari Allah dalam menghadapi ancaman. Bersama dan bersatu dengan Allah kita akan dengan mudah dan enak menghadapi aneka ancaman atau persoalan.

·   "Karena segala jalan orang terbuka di depan mata TUHAN, dan segala langkah orang diawasi-Nya. Orang fasik tertangkap dalam kejahatannya, dan terjerat dalam tali dosanya sendiri. Ia mati, karena tidak menerima didikan dan karena kebodohannya yang besar ia tersesat" (Am 5:21-23). Tuhan memang sungguh memberi kebebasan kepada kita, manusia. Dalam kenyataan sering kita lihat ada orang-orang yang menyalahgunakan kebebasannya, yaitu untuk menjadi kesenangan atau kenikmatan pribadi saja dan kurang memperhatikan keselamatan jiwa, entah jiwanya sendiri maupun jiwa orang lain. Marilah kita gunakan kebebasan yang dianugerahkan oleh Tuhan untuk melakukan apa yang baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur, sehingga kita menjadi orang yang sungguh menikmati kebebasan sejati, bukan kebebasan semu, kebebasan abadi bukan kebebasan sementara atau sesaat. Kepada siapapun yang menyalahgunakan kebebasan yang dianugerahkan oleh Tuhan alias  hidup dan bertindak seenaknya sendiri, hanya mengikuti selera pribadi, kami ajak untuk bertobat atau memperbaharui diri: berjalan di jalan Tuhan. Marilah kita hayati kebebasan yang dianugerahkan oleh Tuhan untuk melakukan apa yang baik dan menyelamatkan jiwa, bukan untuk melakukan sesuatu mengikuti selera pribadi. Hanya mengikuti selera pribadi pasti akan terjebak dalam kesesatan dan akhirnya menderita untuk selama-lamanya. Marilah kita jauhkan cara hidup dan cara bertindak yang hanya mengikuti selera pribadi, dan kemudian hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan agar selamat dan bahagia jiwa-raga kita. Kepada mereka yang hidup dan bertindak hanya mengikuti selera pribadi kami ajak untuk segera bertobat dan memperbaharui diri: hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan, antara lain dengan mengikuti dan melaksanakan aneka tata tertib yang berlaku.

"Dengarlah, hai umat-Ku, Aku hendak berfirman, hai Israel, Aku hendak bersaksi terhadap kamu: Akulah Allah, Allahmu! Bukan karena korban sembelihanmu Aku menghukum engkau; bukankah korban bakaranmu tetap ada di hadapan-Ku? Tidak usah Aku mengambil lembu dari rumahmu atau kambing jantan dari kandangmu, sebab punya-Kulah segala binatang hutan, dan beribu-ribu hewan di gunung." (Mzm 50:7-10)

Ign 4 Juli 2012


Senin, 02 Juli 2012

3 Juli


"Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya."

(Ef 2:19-22; Yoh 20:24-29)

"Tomas, seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ. Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: "Kami telah melihat Tuhan!" Tetapi Tomas berkata kepada mereka: "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya."Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!" Kemudian Ia berkata kepada Tomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah." Tomas menjawab Dia: "Ya Tuhanku dan Allahku!" Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya."(Yoh 20:24-29), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Thomas, rasul, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sbb.:

·   Percaya atau beriman berarti mempersembahkan diri pada sesuatu yang tak kelihatan dengan jelas oleh indera mata fisik kita, namun mata hati melihatnya dengan jelas. Kita semua kiranya memiliki pengalaman konkret dalam hal percaya ini, yaitu dalam hal makan dan minum, yang disediakan bagi kita dan kemudian kita santap. Bukankah sebelum menikmati makanan atau minuman kita percaya bahwa kita tidak diracuni alias makanan dan minuman tersebut baik adanya, meskipun kita belum pernah menyelidikinya? Maka dalam rangka mengenangkan St.Thomas, rasul, hari ini saya mengajak anda sekalian untuk mawas diri perihal penghayatan iman atau kepercayaan kita dalam hidup sehari-hari. Orang yang tak menghayati iman atau kepercayaannya dengan baik dan benar pada umumnya akan membuat saudara-saudarinya tidak tenang atau gusar dan dengan demikian kehidupan bersama terganggu. Makan, minum, bekerja, belajar, bergaul atau bertindak apapun dengan dan dalam iman itulah panggilan kita semua segenap kaum beriman. Memang pertama-tama dan terutama sebagai sesama umat beriman kita harus saling percaya satu sama lain dan tidak saling curiga, maka masing-masing dari kita memang harus layak untuk dapat dipercaya. Salah satu cara untuk menjadikan diri pribadi sebagai orang yang dapat dipercaya tidak lain adalah kita senantiasa berkehendak baik serta berusaha untuk melakukan apa yang baik, menyelamatkan dan membahagiakan, terutama keselamatan atau kebahagiaan jiwa. Marilah kita renungkan dan hayati bersama sabda Yesus:"Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.".

·   "Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru" (Ef 2:19-20). Sebagai orang beriman kita tak pernah terlepas dari Allah yang menganugerahkan iman, dan dengan demikian semua umat beriman menjadi 'anggota-anggota keluarga Allah', orang-orang yang cara hidup dan cara bertindaknya sesuai dengan kehendak dan perintah Allah. Maka baiklah sebagai sesama anggota keluarga Allah atau umat beriman kita saling membantu dan mendukung dalam kehidupan kita bersama-sama; ketika ada salah seorang anggota atau rekan beriman hidup tidak baik dan tidak benar, hendaknya segera kita tegor dan ingatkan, karena jika ada salah satu orang anggota rusak atau tidak baik hidupnya berarti seluruh keluarga akan menderita. Kami berharap kesadaran dan penghayatan sebagai sesama anggota keluarga Allah ini dapat dihayati dalam komunitas yang terkecil dan dasar, yaitu di dalam keluarga-keluarga, antara suami dan isteri, orangtua dan anak-anak serta seluruh anggota keluarga. Keluarga damai, bahagia dan sejahtera baik secara fisik maupun spiritual itulah damban semua umat beriman. Jika kita semua di dalam keluarga kita masing-masing memiliki pengalaman mendalam perihal penghayatan iman, maka dengan mudah kita dapat menghayati iman di dalam komunitas yang lebih luas.  Kesaksian atau penghayatan iman dalam hidup sehari-hari meruapakan bentuk penghayatan tugas rasuli atau missioner yang paling utama dan terutama dan tak mungkin dapat digantikan oleh cara apapun. Semoga para pemuka agama lebih mengutamakan penghayatan iman dalam hidup sehari-hari dalam membina dan mengarahkan umatnya, tidak hanya sebatas pengetahuan agama saja.

"Pujilah TUHAN, hai segala bangsa, megahkanlah Dia, hai segala suku bangsa! Sebab kasih-Nya hebat atas kita, dan kesetiaan TUHAN untuk selama-lamanya. Haleluya!" (Mzm 117)

Ign 3 Juli 2012


Minggu, 01 Juli 2012

2 Juli


"Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya."

(Am 2:6-10.13-16; Mat 8:18-22)

"Ketika Yesus melihat orang banyak mengelilingi-Nya, Ia menyuruh bertolak ke seberang. Lalu datanglah seorang ahli Taurat dan berkata kepada-Nya: "Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi." Yesus berkata kepadanya: "Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya." Seorang lain, yaitu salah seorang murid-Nya, berkata kepada-Nya: "Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku." Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka." (Mat 8:18-22), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berreflkesi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Yesus adalah Penyelamat Dunia dan memiliki tugas pengutusan untuk menyelamatkan seluruh dunia. Ia memang telah berusaha keras untuk berkeliling kemana-mana, namun Ia juga membutuhkan tenaga atau bantuan orang lain untuk meneruskan dan menyebarluaskan tugas pengutusanNya, dengan kata lain Ia membutuhkan orang-orang yang bersedia untuk menjadi pengikut atau muridNya. Pengajaran maupun kepribadianNya menyentuh dan mempesona banyak orang, maka cukup banyak orang akhirnya menjadi pengikutNya. Untuk menjadi pengikut Yesus harus dengan besar hati dan sukarela meninggalkan segala sesuatu atau segala yang dimilikiNya serta siap sedia untuk diutus kemanapun tanpa syarat. Dalam kisah hari ini ada seseorang ingin mengikuti Yesus, namun ketika menerima jawaban Yesus bahwa Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya, ia pun mengundurkan diri karena kelekatannya pada sesuatu yang tak dapat ditinggalkan. Alasan 'menguburkan ayah' atau melayat merupakan sesuatu yang tak mungkin dibantah, dengan kata lain merupakan alasan yang tak mungkin dapat dibicarakan atau didiskusikan. Itulah yang sering disebut sebagai kelekatan tak teratur. Maka dengan ini kami mendambakan anda sekalian yang menjadi pengikut Yesus Kristus untuk sungguh melepaskan diri dari aneka kelekatan yang tak teratur, entah itu berupa harta benda atau sifat pribadi atau kenikmatan-kenikmatan tertentu yang berlawanan dengan kehendak Allah. Menjadi pengikut Yesus Kristus harus bebas merdeka secara total.

·   "Karena TUHANlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian. Ia menyediakan pertolongan bagi orang yang jujur, menjadi perisai bagi orang yang tidak bercela lakunya, sambil menjaga jalan keadilan, dan memelihara jalan orang-orang-Nya yang setia. Maka engkau akan mengerti tentang kebenaran, keadilan, dan kejujuran, bahkan setiap jalan yang baik. Karena hikmat akan masuk ke dalam hatimu dan pengetahuan akan menyenangkan jiwamu;" (Ams 2:6-10). Jika kita sungguh secara total meninggalkan kelekatan-kelekatan tak teratur, maka kita akan mampu menerima anugerah Tuhan, yaitu "mengerti tentang kebenaran, keadilan dan kejujuran, bahkan setiap jalan yang baik". Kami percaya bahwa kita semua mendambakan untuk tumbuh berkembang menjadi pribadi yang baik dan kami berharap para orangtua maupun para pengelola dan pelaksana karya pendidikan/sekolah lebih mengutamakan agar anak-anak atau para peserta didiknya lebih tumbuh berkembang menjadi pribadi yang baik daripada pandai, cerdas secara spiritual daripada cerdas secara intelektual. Memang mendidik anak-anak atau peserta didik untuk tumbuh berkembang menjadi pribadi yang baik lebih sulit daripada mendidik agar lebih pandai. Jika orang sungguh memiliki kecerdasan spiritual alias baik, hemat saya kecerdasan-kecerdasan lainnya seperti kecerdasan intelektual, sosial, emosional, fisik dapat diusahakan dengan mudah. Kecerdasan spiritual merupakan landasan atau dasar kecerdasan-kecerdasan lainnya. Apa yang disebut dalam kutipan diatas, yaitu kebenaran, keadilan dan kejujuran hemat saya sungguh penting dan mendesak untuk kita hayati dan sebarluaskan pada masa kini, mengingat kebohongan, ketidak-adilan dan korupsi masih merebak di sana-sini dan lebih sungguh memprihatinkan bahwa hal itu terjadi dalam diri para tokoh atau pemuka hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di negeri kita tercinta ini. Sekali lagi saya angkat salah satu usaha yang  hendaknya dikerjakan bersama-sama adalah peraturan dilarang menyontek di sekolah-sekolah, karena membiarkan para peserta untuk menyontek berarti mempersiapkan mereka untuk menjadi pembohong-pembohong dan koruptor-koruptor.

"Apakah urusanmu menyelidiki ketetapan-Ku, dan menyebut-nyebut perjanjian-Ku dengan mulutmu, padahal engkaulah yang membenci teguran, dan mengesampingkan firman-Ku? Jika engkau melihat pencuri, maka engkau berkawan dengan dia, dan bergaul dengan orang berzinah. Mulutmu kaubiarkan mengucapkan yang jahat, dan pada lidahmu melekat tipu daya. Engkau duduk, dan mengata-ngatai saudaramu, memfitnah anak ibumu.Itulah yang engkau lakukan, tetapi Aku berdiam diri; engkau menyangka, bahwa Aku ini sederajat dengan engkau. Aku akan menghukum engkau dan membawa perkara ini ke hadapanmu" (Mzm 50:16-21)

Ign 2 Juli 2012