Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Selasa, 29 Mei 2012

30 mei

"Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani"

(1Pet 1:18-25; Mrk 10:32-45)

" Yesus dan murid-murid-Nya sedang dalam perjalanan ke Yerusalem dan Yesus berjalan di depan. Murid-murid merasa cemas dan juga orang-orang yang mengikuti Dia dari belakang merasa takut. Sekali lagi Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan Ia mulai mengatakan kepada mereka apa yang akan terjadi atas diri-Nya, kata-Nya: "Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, dan Ia akan diolok-olokkan, diludahi, disesah dan dibunuh, dan sesudah tiga hari Ia akan bangkit." Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya: "Guru, kami harap supaya Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan kami!" Jawab-Nya kepada mereka: "Apa yang kamu kehendaki Aku perbuat bagimu?" Lalu kata mereka: "Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan yang seorang di sebelah kiri-Mu." Tetapi kata Yesus kepada mereka: "Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum dan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima?" Jawab mereka: "Kami dapat." Yesus berkata kepada mereka: "Memang, kamu akan meminum cawan yang harus Kuminum dan akan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima. Tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa itu telah disediakan." Mendengar itu kesepuluh murid yang lain menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes. Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya.Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (Mrk 10:32-45), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus kita semua dipanggil untuk meneladan cara hidup dan cara bertindakNya, antara lain "datang tidak untuk dilayani, melainkan melayani".  Cirikhas seorang pelayan yang baik adalah dengan rendah hati dan kerja keras berusaha untuk membahagiakan dan menyelamatkan yang dilayani, maka marilah kita dengan rendah hati dan kerja keras berusaha saling membahagiakan dan melayani satu sama lain  dimana pun kita berada maupun kita pergi. Marilah kita saling mempersembahkan atau memberikan cita-cita, harapan dan dambaan kita alias bercurhat perihal cita-cita, harapan dan dambaan serta kemudian bersinerji atau bekerjasama untuk mewujudkannya. Marilah kita jauhkan aneka macam perilaku sombong maupun kekerasan dalam cara hidup dan cara bertindak kita. Perkenankan secara khusus kami mengajak dan mengingatkan para pemimpin atau atasan dalam kehidupan bersama dimana pun atau apapun untuk bersikap mental dan bertindak melayani dengan rendah hati: berusaha dengan keras dan rendah hati membahagiakan dan menyelamatkan mereka yang harus dipimpin atau dilayani. Tanda kesuksesan atau keberhasilan seorang pemimpin adalah mereka yang dipimpin bahagia, sealamat dan sejahtera baik secara fisik maupun spiritual, jasmani maupun rohani.

·    "Semua yang hidup adalah seperti rumput dan segala kemuliaannya seperti bunga rumput, rumput menjadi kering, dan bunga gugur, tetapi firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya." Inilah firman yang disampaikan Injil kepada kamu" (1Pet 1:24-25). Apa yang dikatakan oleh Petrus ini mengingatkan kita semua bahwa apa yang ada di dunia ini bersifat sementara, tidak abadi, termasuk diri kita sebagai manusia. Kita masing-masing berasal dari tanah dan akan kembali menjadi tanah ketika dipanggil Tuhan nanti. Dengan kata lain kita semua adalah orang-orang yang lemah, rapuh dan tak berdaya, dan jika ada apa yang baik, luhur, mulia, kuat, indah, menarik dan mempesona dalam diri kita sungguh merupakan anugerah atau rahmat Tuhan, bukan hasil kerja atau keringat kita. Yang abadi adalah firman atau sabda Tuhan, maka jika kita mendambakan hidup bahagia, selamat dan damai sejahtera, hendaknya kita setia melaksanakan sabda atau firman Tuhan, antara lain sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci. Marilah kita kenangkan bahwa para santo atau santa telah hidup dan bertindak sesuai dengan sabda Tuhan, sehingga nama mereka dikenang sampai kini, menjadi nama baptis kita masing-masing. Hal yang sama terjadi dalam diri para pahlawan, yang telah membaktikan diri sepenuhnya demi keselamatan seluruh bangsa dan rakyat, dimana namanya diabadikan dalam nama-nama jalan atau bangunan. Marilah kita baktikan hidup kita demi keselamatan atau kebahagiaan saudara-saudari kita.

" Megahkanlah TUHAN, hai Yerusalem, pujilah Allahmu, hai Sion! Sebab Ia meneguhkan palang pintu gerbangmu, dan memberkati anak-anakmu di antaramu. Ia memberikan kesejahteraan kepada daerahmu dan mengenyangkan engkau dengan gandum yang terbaik. Ia menyampaikan perintah-Nya ke bumi; dengan segera firman-Nya berlari." (Mzm 147:12-15)

Ign 30 Mei 2012

Note: Hari ini adalah HUT Seminari Menengah Mertoyudan ke 100, yang akan dirayakan besok  Sabtu tgl 2 Juni 2012, dengan acara pk 09.00 Perayaan Ekaristi dan Pagelaran Seni Daerah, pk 21.00 Pagelaran Wayang Kulit semalam suntuk, Datanglah dan hadirilah

 


29 Mei


"Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!"

(1Pet 1:10-16; Mrk 10:28-31)

" Berkatalah Petrus kepada Yesus: "Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!" Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal. Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu." (Mrk 10:28-31), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Kutipan Warta Gembira hari ini kiranya baik untuk dijadikan refleksi bagi mereka yang terpanggil untuk menjadi imam, bruder atau suster, maupun para orangtua yang anaknya tergerak atau memiliki keinginan untuk menjadi imam, bruder atau suster. Sering ada komentar atau keluh kesah ketika ada anak yang terpanggil menjadi imam, bruder atau suster, orangtua merasa kehilangan seorang anak. Terpanggil menjadi imam, bruder atau suster sekilas memang tidak ada lagi ikatan darah dengan orangtua maupun keluarganya, padahal dalam kenyataan relasi spiritual lebih handal dan kuat daripada relasi darah dan daging. Pengalaman saya pribadi sebagai seorang imam tidak pernah merasa jauh dari orangtua maupun keluarga, melainkan setiap hari berrelasi yaitu dengan mendoakannya. Secara social kami pun memiliki banyak sahabat dan rekan, yang tak terhitung jumlahnya. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan para imam, bruder atau suster untuk setiap hari mendoakan orangtua maupun kakak dan adiknya, sedangkan kepada para orangtua kami harapkan dengan penuh syukur berterima kasih kepada Tuhan ketika salah seorang anaknya terpanggil menjadi imam, bruder atau suster. Bahkan kami mengajak para orangtua untuk berpromosi panggilan menjadi imam, bruder atau suster, antara lain dengan membina dan mendidik anak-anak untuk peka akan orang lain alias memiliki kepedulian pada orang lain, terutama bagi mereka yang miskin dan berkekurangan.  "To be man or woman with/for others", itulah yang hendaknya menjadi acuan bagi para orangtua dalam mendidik dan mendampingi anak-anaknya.

·   "Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus" (1Pet 1:14-16). Marilah anak-anak kita didik dan dampingi untuk menjadi 'anak-anak yang taat dan tidak menuruti hawa nafsu', sehingga menjadi kudus atau suci. Kudus atau suci berarti dipersembahkan seutuhnya kepada Tuhan, karena anak juga merupakan anugerah Tuhan. Saya percaya ketika anak baru saja dilahirkan adalah kudus atau suci adanya, dan memang semakin tambah usia atau besar karena pengaruh lingkungan ternyata juga semakin tambah dosanya alias ada kecenderungan tidak suci lagi. Kami berharap agar lingkungan hidup keluarga dapat membantu dan memotivasi anak-anak untuk tumbuh berkembang menjadi pribadi yang kudus atau suci. Untuk itu orangtua atau bapak-ibu hendaknya dapat menjadi teladan hidup suci bagi anak-anaknya, setia hidup saling mengasihi sebagai suami-isteri sampai mati. Sebagai orang beriman dan beragama hendaknya didalam keluarga setiap hari diselenggarakan doa bersama, saling mendoakan satu sama lain, syukur juga dapat diadakan pendalaman iman atau kitab suci, saling berbagi pengalaman iman. Sebagai rector Seminari Menengah Mertoyudan saya sangat terkesan akan sharing seorang seminaris, dimana tiga bersaudara tergerak untuk menjadi imam dan suster: dua anak laki-laki yang satu telah menjadi frater SJ dan adiknya saat ini diterima sebagai novis SJ, sedangkan adiknya/si bungsu, perempuan juga akan menjadi suster. Semoga nafsu-nafsu duniawi seperti seks, narkoba, semangat materialistis tidak menjiwai seluruh anggota keluarga.

"Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, sebab Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan kepada-Nya oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus. TUHAN telah memperkenalkan keselamatan yang dari pada-Nya, telah menyatakan keadilan-Nya di depan mata bangsa-bangsa. Ia mengingat kasih setia dan kesetiaan-Nya terhadap kaum Israel, segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang dari pada Allah kita.Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi, bergembiralah, bersorak-sorailah dan bermazmurlah!" (Mzm 98:1-4)

Ign 29 Mei 2012


Minggu, 27 Mei 2012

28 Mei


"Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah."

(1Pet 1:3-9; Mrk 10:17-27)

" Pada waktu Yesus berangkat untuk meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya: "Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Jawab Yesus: "Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorang pun yang baik selain dari pada Allah saja. Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!" Lalu kata orang itu kepada-Nya: "Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku." Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: "Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya. Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka: "Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah." Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus menyambung lagi: "Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah." Mereka makin gempar dan berkata seorang kepada yang lain: "Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?" Yesus memandang mereka dan berkata: "Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah."(Mrk 10:17-27), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sbb.:

·   Mulai hari ini kita kembali memasuki masa Biasa dalam Kalendarium Tahun Liturgi, dan dalam kutipan Warta Gembira hari ini kita diingatkan bahwa dalam kehidupan biasa setiap hari kita harus tetap setia pada iman kita alias dirajai oleh Allah terus menerus alias tetap hidup baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur. Memang untuk hidup dan bertindak demikian tidak mudah alias sulit, bagaikan 'seekor unta melewati lobang jarum'. Dengan kata lain di dalam hidup sehari-hari, dalam berpartisipasi ke dalam seluk beluk duniawi atau mendunia kita akan menghadapi aneka macam masalah, tantangan dan hambatan. "Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu mungkin bagi Allah", demikian sabda Yesus yang hendaknya kita renungkan dan kita jadikan pegangan dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari, dalam menghadapi aneka masalah, tantangan dan hambatan. Allah hadir dan berkarya dimana-mana dan kapan saja, tidak terikat oleh ruang dan waktu, maka dengan ini kami mengajak segenap umat beriman untuk menjumpai atau menemukan Allah dalam segala sesuatu. Dengan kata lain dalam aneka masalah, tantangan dan hambatan, hendaknya dicari peluang dan kesempatan guna mengatasinya: menemukan dan mengimani aneka kehendak baik dalam masalah, hambatan dan tantangan yang ada. Marilah kita senantiasa berpikiran positif terhadap segala sesuatu agar kita dapat mengatasi aneka masalah, tantangan dan hambatan.

·   "Kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir. Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan"(1Pet 1:5-6), demikian nasihat Petrus kepada kita semua, umat beriman. Berbagai-bagai pencobaan menghadang kita dalam penghayatan iman, antara lain berupa rayuan atau godaan aneka kenikmatan seksual, fisik, emosi, makanan dan minuman atau harta benda alias aneka macam hedonism. Godaan atau rayuan yang umum kiranya adalah kenikmatan makanan dan minuman serta seksual. Dalam hal makan dan minum banyak orang berpedoman pada enak/nikmat dan tidak enak/nikmat, bukan sehat dan tidak sehat, dan orang lebih cenderung untuk menikmati yang enak dan nikmat tetapi tidak sehat. Jika dalam hal makan dan minum kita berpedoman pada enak, nikmat dan tidak sehat, maka dalam hal pergaulan, bekerja atau hidup bersama pada umumnya kita juga akan cari enak atau nikmat sendiri tanpa memperhatikan kepentingan orang lain. Demikian  juga orang yang dikuasai oleh kenikmatan seksual pada umumnya lalu cenderung berbuat jahat, entah pergi ke pelacuran atau melakukan korupsi, yang berarti merusak diri sendiri maupun orang lain. Marilah kita hidup dan bertindak berpedoman pada apa yang sehat meskipun tidak enak.

"Haleluya! Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hati, dalam lingkungan orang-orang benar dan dalam jemaah. Besar perbuatan-perbuatan TUHAN, layak diselidiki oleh semua orang yang menyukainya. Diberikan-Nya rezeki kepada orang-orang yang takut akan Dia. Ia ingat untuk selama-lamanya akan perjanjian-Nya.111:6 Kekuatan perbuatan-Nya diberitakan-Nya kepada umat-Nya, dengan memberikan kepada mereka milik pusaka bangsa-bangsa." (Mzm 111:1-2.5-6)

Ign 28 Mei 2012