Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Minggu, 13 Mei 2012

14 Mei


"Aku telah menetapkan kamu supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap"

(Kis 1:15-17.20-26; Yoh 15:9-17)

 "Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh. Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain." (Yoh 15:9-17), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Matias, rasul, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Terpanggil menjadi rasul berarti diutus untuk 'pergi' ke suatu tempat atau tujuan sesuai dengan yang mengutusnya. Sebagai umat beriman kita semua memiliki panggilan untuk diutus, yaitu diutus untuk mewartakan apa-apa yang baik dan menyelamatkan, terutama keselamatan jiwa manusia, atau cara hidup dan cara bertindaknya senantiasa menarik, memikat dan mempesona bagi orang untuk semakin membaktikan diri seutuhnya kepada Tuhan, semakin suci, semakin hidup baik dan berbudi pekerti luhur. "Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergia dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap", demikian sabda Yesus. Yang dimaksudkan dengan buah di sini adalah keselamatan atau kesejahteraan jiwa manusia. Kami percaya bahwa kita semua setiap hari bepergian, entah dalam jarak jauh atau jarak dekat untuk melaksanakan tugas pekerjaan atau menghayati panggilan, maka hendaknya dimana pun kita berada atau kemana pun kita pergi senantiasa menjadi pewarta apa-apa yang baik dan menyelamatkan atau menjadi saksi kesatuan dengan Tuhan. Sebagai yang diutus kita juga dipanggil "Kasihilah seorang akan yang lain", dengan kata lain dimana pun berada atau kemana pun kita pergi diharapkan hidup dan bertindak saling mengasihi satu sama lain tanpa pandang bulu. Kami berharap kepada mereka yang berpengaruh dalam kehidupan bersama dapat menjadi teladan dalam hidup dan bertindak saling mengasihi, dan tentu saja secara khusus kami berharap kepada para orangtua dapat menjadi teladan saling mengasihi bagi anak-anaknya, sehingga anak-anak kelak tumbuh berkembang sebagai pribadi yang saling mengasihi dengan sesamanya.

·   "Mereka semua berdoa dan berkata: "Ya Tuhan, Engkaulah yang mengenal hati semua orang, tunjukkanlah kiranya siapa yang Engkau pilih dari kedua orang ini, untuk menerima jabatan pelayanan, yaitu kerasulan yang ditinggalkan Yudas yang telah jatuh ke tempat yang wajar baginya." (Kis 1:24-25), demikian berita perihal pemilihan Matias, yang terpilih untuk melengkapi dua belas rasul. Fungsi jabatan rasul macam ini pada masa kini diemban oleh para uskup, maka ketika di suatu keuskupan terjadi lowongan uskup atau tahta uskup kosong umat di wilayah keuskupan yang bersangkutan dimohon untuk berdoa bersama mohon siapa yang layak diangkat menjadi uskup. Pemilihan uskup jarang terjadi, namun kita senantiasa diminta untuk mendoakan para uskup. Bukankah ketika kita merayakan atau berpartisipasi dalam Perayaan Ekaristi senantiasa mendoakan para uskup, yaitu dalam Doa Syukur Agung? Memang umat tidak mendoakannya, melainkan imam yang mempersembahkan Ekaristi, namun demikian kami berharap umat juga di dalam hati berdoa bersama dengan imam yang sedang mendoakannya. Para uskup atau gembala kita butuh kita doakan, karena tugas dan panggilannya berat dan mulia: melayani umat Allah yang beraneka ragam serta menghadapi berbagai masalah pastoral, kemasyarakatan maupun kebangsaan. Selain mendoakan para uskup kiranya kita juga dapat berparitisipi mendukung pelayanan pastoral para uskup, antara lain dengan mempersembahkan sebagian harta benda atau kekayaan kita guna mendukung aneka karya pastoral di wilayah keuskupan, antara lain pendidikan calon imam di seminari, perhatian bagi mereka yang miskin dan berkekurangan, pembangunan sarana-prasarana ibadat maupun kerasulan dst..

"Haleluya! Pujilah, hai hamba-hamba TUHAN, pujilah nama TUHAN! Kiranya nama TUHAN dimasyhurkan, sekarang ini dan selama-lamanya.Dari terbitnya sampai kepada terbenamnya matahari terpujilah nama TUHAN. TUHAN tinggi mengatasi segala bangsa, kemuliaan-Nya mengatasi langit. Siapakah seperti TUHAN, Allah kita, yang diam di tempat yang tinggi,yang merendahkan diri untuk melihat ke langit dan ke bumi?" (Mzm 113:1-6)

Ign 14 Mei 2012


Minggu Paskah VI


Mg Paskah VI :

Kis 10:25-26.34-35.44-48; 1Yoh 4:7-10; Yoh 15:9-17

" Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu"

Hidup dalam persaudaraan atau persahabatan sejati pada masa kini sungguh mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan, mengingat dan memperhatikan aneka kerusuhan, kebencian dan permusuhan masih marak di sana-sini. Antar anggota keluarga pun dapat saling membenci dan bermusuhan, karena rebutan warisan, demikian juga antar umat seagama juga dapat bermusuhan dan saling membenci karena merasa kurang dihargai atau diejek. Antar suku juga sering terjadi permusuhan, dst.. Semuanya itu kiranya disebabkan oleh sikap mental egois, dimana orang hanya mencari keenakan atau kepentingan pribadi tanpa memperhatikan kepentingan orang lain atau kepentingan umum/bersama. Sikap mental egois pada umumnya juga masih marak dalam diri orang-orang kota besar/metropolitan, seperti Jakarta, dimana dalam kenyataan memang merasa dirinya terancam atau kurang aman dan kemudian mengamankan diri dengan melindungi diri atau menyendiri, menutup diri. Maka baiklah saya mengajak anda sekalian untuk merenungkan dan menghayati sabda Yesus hari ini.

"Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu" (Yoh 15:12-14)

Ajaran untuk hidup dan bertindak saling mengasihi hemat saya disampaikan oleh semua agama, tidak ada agama yang mengajarkan kebencian atau mengobarkan permusuhan. Jika ada permusuhan atau kebencian antar umat beragama hemat saya hal itu terjadi karena keterbatasan pemahaman orang yang bersangkutan dalam memahami ajaran agamanya. Bahkan ada aliran agama atau sekolompok orang yang ekstrim serta mengaku beragama yang mengobarkan permusuhan atau pengrusakan. Mereka yang bertindak demikian ini kiranya tidak mampu menyadari dan menghayati diri sebagai 'yang terkasih', orang yang diciptakan, dilahirkan dan dibesarkan dalam dan oleh kasih; mereka tidak menyadari dan menghayati diri sebagai orang yang telah menerima kasih melimpah ruah dari Tuhan melalui sesamanya, terutama melalui orangtuanya.

Hidup dan bertindak saling mengasihi hemat saya mudah dilakukan atau dihayati jika kita menyadari dan menghayati diri sebagai 'yang terkasih'. Marilah kita sadari dan hayati bahwa masing-masing dari kita adalah 'buah kasih', buah atau hasil tindakan cintakasih bapak-ibu kita masing-masing, dan selama kurang lebih selama sembilan bulan kita dengan penuh kasih dan kerahiman hidup dan tumbuh-berkembang dalam rahim ibu kita masing-masing. Ketika kita baru saja dilahirkan dan masih bayi sangat dikasihi orang orangtua kita masing-masing, terutama ibu kita, sehingga ada lagu "Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia".

Panggilan saling mengasihi pada masa kini hemat saya yang lebih sulit adalah dikasihi. Ingat dan sadari bahwa orangtua atau guru-guru kita dalam mengasihi kita antara lain memberi ajaran, tuntunan, tegoran, kritikan, nasihat, petuah dst.., yang mungkin bagi kita terasa sakit atau tidak enak. Kita juga sering dimarahi oleh orangtua atau guru-guru kita, bukan berarti mereka membenci kita tetapi karena mengasihi kita. Siap dikasihi berarti senantiasa menyikapi dan menerima aneka sapaan, sentuhan, nasihat, kritikan, ejekan dst.. dari orang lain sebagai kasih. Sadari dan hayati bahwa orang tidak akan menegor, mengritik atau memarahi kita jika mereka tidak mengasihi kita, namun karena mengasihi kita ketika kita tidak baik dalam cara hidup dan cara bertindak, maka mereka menegor atau memarahi kita.

Hidup dan bertindak dalam kasih juga berarti senantiasa mentaati dan melaksanakan aneka tata tertib yang berlalu di dalam hidup dan kerja kita masing-masing setiap hari. Ada tata tertib atau aturan yang tertulis, tetapi juga ada yang tak tertulis, tetapi tersirat. Yang tersirat misalnya: tempat tidur adalah untuk tidur, maka makan-makan atau rekreasi ditempat tidur berarti melanggar kasih, tempat ibadat adalah untuk berdoa, maka ramai-ramai atau bermain atau bersendau-gurau di tempat ibadat berarti melanggar kasih, dst.. Bacalah dan laksanakan juga aneka aturan yang tertulis dalam aneka kemasan makanan, minuman atau obat maupun buku petunjuk pemakaian kendaraan.

"Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya. Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita" (1Yoh 4:7-10)

"Kasih itu berasal dari Allah", inilah yang kiranya baik untuk kita renungkan, refleksikan dan hayati bersama-sama melalui cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari. Kata-kata ini kiranya juga sering dihayati oleh mereka yang saling mengasihi, terutama yang akan dan sedang saling berjanji untuk saling mengasihi sampai mati sebagai suami-isteri, dimana masing-masing menyadari dan menghayati pasangan hidupnya sebagai anugerah atau kado dari Allah. Dengan kata lain Allah-lah yang telah mempertemukan dan menyatukan mereka sebagai suami-isteri. Kami berharap para suami dan isteri menghayati pasangan hidupnya sebagai anugerah Allah, sehingga memperlakukan pasangan hidupnya sesuai dengan kehendak dan perintah Allah.

Jika kita hidup dan bertindak saling mengasihi hemat saya hal ini merupakan wujud syukur dan terima kasih kita kepada Allah yang telah lebih dahulu mengasihi kita secara melimpah ruah. Dengan kata lain kasih kita merupakan syukur dan terima kasih. Orang yang sedang bersyukur dan berterima kasih pada umumnya damai, bahagia, tenang, bangga dan bersahabat. Hidup dan bertindak dalam kasih berarti senantiasa berusaha mendamaikan mereka yang bermusuhan serta membangun dan memperdalam persaudaraan atau persahabatan.

"Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa mana pun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya"(Kis 10:34-35), demikian kata Petrus kepada para pendengarnya atau pengikutnya. Apa yang dikatakan oleh Petrus ini hemat saya merupakan kebenaran yang hakiki, yang selayaknya "Allah tidak membedakan orang", inilah yang kiranya baik kita renungkan atau hayati dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimana pun dan kapan pun. Penghayatan dari sabda ini tidak lain adalah agar kita bersaudara dan bersahabat dengan siapapun tanpa pandang bulu, kita dipanggil untuk membangun dan memperdalam persaudaraan atau persahabatan sejati. Maka baiklah untuk itu kita hayati secara mendalam apa yang sama di antara kita, antara lain sama-sama ciptaan Allah, sama-sama manusia, sama-sama beriman, sama-sama warganegara dst.. Jika apa yang sama di antara kita dihayati secara mendalam, maka apa yang berbeda antar kita akan fungsional memperdalam dan memperteguh persaudaraan atau persahabatan.

"Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, sebab Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan kepada-Nya oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus. TUHAN telah memperkenalkan keselamatan yang dari pada-Nya, telah menyatakan keadilan-Nya di depan mata bangsa-bangsa.Ia mengingat kasih setia dan kesetiaan-Nya terhadap kaum Israel, segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang dari pada Allah kita. Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi, bergembiralah, bersorak-sorailah dan bermazmurlah!" (Mzm 98:1-4)

Ign 13 Mei 2012

 


Jumat, 11 Mei 2012

12 Mei


 "Ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu"

(Kis 16:1-10; Yoh 15:18-21)

"Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu. Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu; jikalau mereka telah menuruti firman-Ku, mereka juga akan menuruti perkataanmu. Tetapi semuanya itu akan mereka lakukan terhadap kamu karena nama-Ku, sebab mereka tidak mengenal Dia, yang telah mengutus Aku" (Yoh 15:18-21), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Ketika saya masih belajar di sekolah rakyat/dasar di Sekolah Rakyat/Dasar Kanisius desa Murukan, Wedi-Klaten, setiap hari saya berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki sendirian. Jaraknya sekitar 3 km dari desa saya ke sekolah dan hampir setiap hari berpapasan atau bersamaan dengan anak-anak yang sedang belajar di Sekolah Rakyat Muhamadiyah/Islam; mereka ini tinggal di desa dimana setiap hari saya harus melintasinya. Ketika berpapasan dengan mereka saya sering diejek, karena mereka tahu saya belajar di sekolah katolik, antara dengan kata-kata sebagai berikut :"Katolik, katol cilik, yen mati dadi babi dll." (=Katolik, kecil sekali, kalau mati jadi babi). Tentu saya sebagai anak kecil dan sendirian saya tak berani menanggapi apalagi melawan, melainkan dalam hati berdoa semoga mereka tidak menyakiti saya secara fisik. Sedangkan ketika mengikuti pelajaran agama/katekese di desa pada Sabtu sore/malam Minggu kami senantiasa menerima terror dari teman-teman simpatisan PKI. Saya angkat pengalaman saya ini setelah membaca dan merenungkan sabda Yesus hari ini, dimana Ia bersabda "Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu". Menjadi murid atau pengikut setia Yesus Kristus memang sering harus menghadapi aneka tantangan atau masalah, bahkan kebencian dari mereka yang tidak senang pada kita, sebagaimana sering dilakukan oleh kelompok ekstrim yang menamakan diri "FPI".  Baiklah jika anda setia pada iman dan agama anda harus menghadapi kebencian dan ancaman, hendaknya diamkan saja seraya berdoa kepada Tuhan. Pengalaman saya di atas sampai kini masih mengesan dan membekas di hati saya sehingga saya tidak mudah takut menghadapi aneka masalah, tantangan dan hambatan dalam penghayatan iman maupun pelaksanan tugas panggilan.

·   "Pada malam harinya tampaklah oleh Paulus suatu penglihatan: ada seorang Makedonia berdiri di situ dan berseru kepadanya, katanya: "Menyeberanglah ke mari dan tolonglah kami!" Setelah Paulus melihat penglihatan itu, segeralah kami mencari kesempatan untuk berangkat ke Makedonia, karena dari penglihatan itu kami menarik kesimpulan, bahwa Allah telah memanggil kami untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di sana" (Kis 16:9-10). Inilah awal karya missioner atau pewartaan Injil di wilayah Eropa, yang dilakukan oleh Paulus karena perintah Tuhan melalui penampakan. Tanpa takut dan gentar Paulus berusaha mencari kesempatan untuk menyeberang dari wilayah Asia ke wilayah Eropa melalui laut. Tuhan memanggil pasti akan menganugerahi bekal dan menunjukkan jalan, itulah keyakinan iman kita. Panggilan Tuhan dapat berupa permohonan atau ajakan untuk berbuat baik kepada orang lain, maka hendaknya tidak takut untuk berbuat baik kepada siapapun, meskipun kita belum mengenal mereka. Percayalah bahwa Tuhan pasti menyertai perjalanan kita, melindungi dan menguatkan kita sehingga kita mampu menanggapi secara positif ajakan atau permohonan untuk melakukan apa yang baik, meskipun harus menghadapi aneka tantangan, masalah dan ancaman. Carilah kesempatan dengan tenang dalam Tuhan untuk mengatasi aneka tantangan, masalah dan ancaman, kerena dengan demikian Tuhan pasti menganugerahi jalan atau cara yang baik, memadai dan menyelamatkan. Jika anda menerima pengalaman sebagaimana dialami oleh Paulus, yaitu penampakan Tuhan yang memanggil dan mengutus, hendaknya segera ditanggapi, tanpa ditunda-tunda.

"Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi! Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai! Ketahuilah, bahwa TUHANlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya. Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun"

(Mzm 100:1-3.5)

Ign 12 Mei 2012