Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Rabu, 25 April 2012

25 April

"Beritakanlah Injil kepada segala makhluk"

(1Pet 5:5b-14; Mrk 16:15-20)

" Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh." Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. Mereka pun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya" (Mrk 16:15-20), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Markus, pengarang Injil, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Sebagai murid atau pengikut Yesus Kristus, Kabar Gembira dari Allah, kita semua dipanggil untuk menjadi pewarta kabar gembira juga dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimana pun dan kapan pun. Kabar gembira yang diharapkan antara lain: mengusir setan, menyembuhkan orang sakit, berbahasa baru, yaitu bahasa spiritual. Setan menggejala dalam aneka bentuk kejahatan atau tindakan amoral yang dilakukan orang, sedangkan orang yang menderita sakit ada dimana-mana, tentu saja tidak hanya sakit tubuh, tetapi juga sakit hati, sakit jiwa, atau sakit akal budi. Marilah kita berantas dan lawan aneka macam bentuk kejahatan dan perilaku amoral di lingkungan hidup dan kerja kita. Mereka yang sakit hati hendaknya didatangi dan dengan rendah hati serta lemah lembut diajak untuk tidak sakit hati lagi. Orang sakit hati pada umumnya karena disakiti oleh orang lain, maka ajaklah mereka untuk mengampuninya. Sedangkan sakit jiwa berarti orang-orang yang kurang menerima perhatian atau kurang menghayati kasih dan perhatian yang telah diterima secara melimpah ruah, maka sadarkan mereka bahwa mereka telah menerima perhatian dan kasih melimpah ruah dari Allah melalui sesamanya. Mereka yang sakit akal budi berarti bodoh secara intelektual hendaknya didampingi dalam dan dengan kasih kasih serta kebebasan Injili, agar tumbuh berkembang sebagai orang yang cerdas atau pintar. Berbahasa spiritual yang kami maksudkan adalah hidup dan bertindak tidak hanya sampai pada tatanan manusiawi, melainkan sampai tingkat spiritual. Kemana pun kita pergi dan dimana pun kita berada, marilah kita wartakan apa yang baik dan menyelamatkan, tanpa takut dan gentar dalam menghadapi aneka macam tantangan, masalah dan hambatan.

·   "Berilah salam seorang kepada yang lain dengan cium yang kudus. Damai sejahtera menyertai kamu sekalian yang berada dalam Kristus" (1Pet 5:14), demikian nasehat Petrus. Nasehat Petrus ini kiranya merupakan salah satu wujud atau bentuk cara memberitakan kabar baik atau kabar gembira kepada orang lain. Kita diajak dan diingatkan untuk saling memberi salam dengan cium yang kudus. Saya percaya ciuman merupakan salah satu bentuk yang handal dan disenangi banyak orang dalam rangka memberi salam. Mungkin bagi kita orang Timur atau kuno hal itu belum terbiasa, tetapi bagi orang Barat/'modern' hal itu sudah merupakan kebiasaan. Anda yang sedang saling berpacaran atau bertunangan kiranya sungguh menghayati ciuman sebagai ciuman kudus, karena dengan saling ciuman berarti anda semakin saling mengasihi dan kasih sejati berasal dari Allah. Sedangkan para suami-isteri kiranya telah terbiasa untuk saling berciuman mesra sebagai wujud saling mengasihi. Dalam hidup sehari-hari kita sering saling memberi salam, yang berarti saling mengharapkan untuk senantiasa hidup selamat dan damai sejahtera. Semoga harapan tersebut tidak hanya manis di mulut saja, melainkan juga menjadi manis dan nikmat dalam tindakan atau perilaku, yang berarti hidup saling mengasihi dengan lemah lembut dan rendah hati dimana pun dan kapan pun. Ciuman berarti mulut bertemu dengan mulut atau lidah bertemu dengan lidah. Mulut atau lidah merupakan salah satu anggota tubuh kita yang penting dan utama. Ingat dan sadari bahwa cara hidup dan cara bertindak kita sungguh dibina dan dididik oleh apa yang kita makan dan minum dengan atau melalui mulut dan lidah. Biasakan makan dan minum apa yang sehat, bukan apa yang enak, agar kelak kemudian anda sendiri akan sehat dan bergembira selalu serta kemudian dengan senang hati memberitakan apa yang baik dan menyelamatkan kepada orang lain, dimana pun dan kapan pun.

" Aku hendak menyanyikan kasih setia TUHAN selama-lamanya, hendak memperkenalkan kesetiaan-Mu dengan mulutku turun-temurun. Sebab kasih setia-Mu dibangun untuk selama-lamanya; kesetiaan-Mu tegak seperti langit. Sebab itu langit bersyukur karena keajaiban-keajaiban-Mu, ya TUHAN, bahkan karena kesetiaan-Mu di antara jemaah orang-orang kudus.Sebab siapakah di awan-awan yang sejajar dengan TUHAN, yang sama seperti TUHAN di antara penghuni sorgawi?" (Mzm 89:2-3.6-7)

Ign 25 April 2012


Minggu, 22 April 2012

24 April

"Barangsiapa datang kepadaKu ia tidak akan lapar lagi"

(Kis 7:51-8:1a; Yoh 6:30-35)

" Maka kata mereka kepada-Nya: "Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu? Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan? Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari sorga." Maka kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari sorga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari sorga. Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia."Maka kata mereka kepada-Nya: "Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa." Kata Yesus kepada mereka: "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi" (Yoh 6:30-35), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Ada orang-orang tertentu yang melaksanakan latutapa berhari-hari, tanpa makan dan minum, dan tinggal sendirian di tempat sepi atau hening. Mereka melakukan hal itu dengan tujuan utama agar senantiasa dekat dengan Tuhan atau Yang Ilahi, maka meskipun tanpa makan dan minum berhari-hari mereka merasa tak pernah kelaparan atau kehausan serta tak pernah mengeluh atau menggerutu. "Barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepadaKu, ia tidak akan haus lagi", demikian sabda Yesus, yang hendaknya kita renungkan dan hayati. Kenyang dan nikmat dalam Tuhan, itulah yang kiranya kita usahakan bersama-sama sebagai umat beriman atau beragama. Memang rasanya tak mungkin bagi kita semua untuk tanpa makan dan tanpa minum berhari-hari, maka baiklah saya mengajak anda sekalian untuk menghayati sabda Yesus di atas dengan senantiasa hidup dan bertindak dalam Tuhan. Jika kita senantiasa hidup dan bertindak dalam Tuhan, maka apapun yang harus kita lakukan, apa yang harus kita makan dan minum, akan enak dan nikmat adanya. Dalam hal makan dan minum, misalnya, hendaknya makan dan minum dalam dan dengan iman, sehingga dalam hal makan dan minum berpedoman pada sehat dan tidak sehat, bukan enak/nikmat dan tidak enak/nikmat. Apa yang enak dan nikmat pada umumnya kurang atau tidak sehat, tidak menjamin kesehatan dan kehandalan tubuh, sehingga orang yang bersangkutan mudah jatuh sakit, tidak memiliki daya tahun tubuh yang handal dalam menghadapi dan mengerjakan aneka tugas dan pekerjaan berat.

·    "Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!" (Kis 7:60), demikian kata terakhir Stefanus, sebelum meninggal dunia karena dirajam oleh musuh-musuhnya. Kata-kata ini keluar dari Stefanus, karena ia sungguh kenyang dalam Tuhan, hidup dan bertindak dalam Tuhan kapan pun dan dimana pun. Meskipun ia dirajam dengan batu, dilempari dengan batu sampai mati, ia tidak mengeluh dan menggerutu, tidak membenci dan balas dendam terhadap musuh-musuhnya, tetapi mengampuni dan mendoakannya. Kiranya Stefanus meneladan Yesus yang tergantung di puncak kayu salib, dalam puncak penderitaanNya, sehingga ia juga diangkat sebagai martir pertama di dalam Gereja. Kami percaya bahwa kita semua sering mengalami ancaman atau disakiti oleh orang lain, dan pada umumnya secara otomatis kita mudah marah dan membenci mereka yang mengancam dan menyakiti kita. Sebagai umat beriman kami ajak anda sekalian: marilah meneladan Stefanus, sebagai tanda atau bukti bahwa kita sungguh membaktikan diri seutuhnya kepada Tuhan. Hendaknya jangan marah, mengeluh atau menggerutu ketika menghadapi aneka tantangan, masalah, atau hambatan, entah itu karena kesetiaan iman kita maupun kesambalewaan kita dalam menghayati iman. "Gagal atau sukses, hendaknya selalu bersyukur", demikian salah satu isi motto Bapak Andrie Wongso, promotor Indonesia. Saya percaya kepada anda sekalian, para orangtua, pasti memiliki pengalaman sebagaimana dialami oleh Stefanus, misalnya ketika anak-anak mengganggu anda, anda tidak marah, mengeluh atau menggerutu, lebih-lebih ketika anak-anak masih kecil atau bayi. Hendaknya pengalaman tersebut terus diperkembangkan dan diperdalam serta disebarluaskan dalam hidup sehari-hari dimana pun dan kapan pun. Didik dan dampingi anak-anak anda dalam hal ini, terutama dengan teladan atau kesaksian hidup anda.

"Jadilah bagiku gunung batu tempat perlindungan, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku! Sebab Engkau bukit batuku dan pertahananku, dan oleh karena nama-Mu Engkau akan menuntun dan membimbing aku" (Mzm 31:3c-4)

Ign 24 April 2012


23 April


"Apakah yang harus kami perbuat  supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?" (Kis 6:8-15; Yoh 6:22-29)

" Pada keesokan harinya orang banyak, yang masih tinggal di seberang, melihat bahwa di situ tidak ada perahu selain dari pada yang satu tadi dan bahwa Yesus tidak turut naik ke perahu itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya, dan bahwa murid-murid-Nya saja yang berangkat. Tetapi sementara itu beberapa perahu lain datang dari Tiberias dekat ke tempat mereka makan roti, sesudah Tuhan mengucapkan syukur atasnya. Ketika orang banyak melihat, bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus. Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya: "Rabi, bilamana Engkau tiba di sini?" Yesus menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya." Lalu kata mereka kepada-Nya: "Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?" Jawab Yesus kepada mereka: "Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah." (Yoh 6:22-29), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Orang setelah ditraktir makan pada umumnya terkesan kepada yang mentraktir, sehingga ia rindu untuk bertemu dengannya. Demikianlah yang terjadi dengan orang banyak setelah dikenyangkan dengan roti, yang telah digandakan oleh Yesus, mereka berusaha untuk mencari Yesus. Namun Yesus meningkatkan kerinduan mereka, yaitu tidak berhenti pada roti atau  hal-hal phisik, melainkan hal-hal spiritual atau rohani, yaitu kehendak Allah. "Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah", demikian sabda Yesus kepada orang banyak yang mencariNya. "Dia yang telah diutus Allah" tidak lain adalah Yesus, maka marilah kita percaya sepenuhnya kepada Yesus, yang berarti senantiasa melaksanakan sabda-sabdaNya maupun meneladan cara hidup dan cara bertindakNya. "Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal", demikian sabda Yesus, yang hendaknya kita renungkan dan hayati dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimana pun dan kapan pun. Makanan yang tidak dapat binasa tidak lain adalah keutamaan-keutamaan atau nilai-nilai kehidupan, dan kiranya sejak kecil di dalam keluarga kita telah diberi makanan-makanan tersebut, maka marilah kita kenangkan, perdalam dan perkembangkan aneka keutamaan atau nilai kehidupan yang telah kita terima melalui orangtua maupun para guru di sekolah-sekolah. Saya pribadi sangat terkesan dengan tegoran atau nasihat bapak saya almarlum yang saya terima ketika saya masih kecil, yaitu "Barang katon wae ora biso nggarap, ojo maneh sing ora katon" (=Apa yang kelihatan saja tidak dapat mengerjakan, apalagi yang tidak kelihatan).

·   "Stefanus, yang penuh dengan karunia dan kuasa, mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara orang banyak. Tetapi tampillah beberapa orang dari jemaat Yahudi yang disebut jemaat orang Libertini -- anggota-anggota jemaat itu adalah orang-orang dari Kirene dan dari Aleksandria -- bersama dengan beberapa orang Yahudi dari Kilikia dan dari Asia. Orang-orang itu bersoal jawab dengan Stefanus, tetapi mereka tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh yang mendorong dia berbicara." (Kis 6:8-10), demikian berita perihal Stefanus yang hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak dan dorongan Roh Kudus, bukan mengikuti kehendak dan keinginan pribadi. Jika kita hidup dan bertindak dalam dan atas nama Tuhan atau Roh Kudus, maka tak seorangpun dapat melawan atau mengalahkan kita. Marilah kita meneladan Stefanus, "yang penuh dengan karunia dan kuasa", anugerah Tuhan. Karunia dan kuasa yang dianugerahkan oleh Tuhan tidak lain adalah aneka macam  budi pekerti luhur atau keutamaan-keutamaan iman, harapan dan kasih. Kita semua adalah orang beriman, maka marilah kita hayati iman kita dengan penuh harapan, artinya dengan bergairah, dinamis serta tidak kenal lelah hidup dan bertindak berdasarkan iman, yang menjadi nyata dalam cara hidup dan cara bertindak saling mengasihi. Percayalah jika kita hidup dan bertindak dalam dan oleh kasih, maka tak seorangpun mampu menghalangi dan melawan cara hidup dan cara bertindak kita. Setiap manusia diciptakan dan dibesarkan dalam dan oleh kasih, maka ketika didekati dan disikapi dalam dan dengan kasih, mereka pasti akan takluk kepada kita. Ingatlah dan sadari binatang sebuas apapun ketika didekati dan disikapi dalam dan dengan kasih dapat ditaklukkan dan kemudian menjadi sahabat, apalagi manusia.

"Sekalipun pemuka-pemuka duduk bersepakat melawan aku, hamba-Mu ini merenungkan ketetapan-ketetapan-Mu.Ya, peringatan-peringatan-Mu menjadi kegemaranku, menjadi penasihat-penasihatku. Jalan-jalan hidupku telah aku ceritakan dan Engkau menjawab aku -- ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku. Buatlah aku mengerti petunjuk titah-titah-Mu, supaya aku merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib." (Mzm 119:23-24.26-27)

Ign 23 April 2012