Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Rabu, 11 April 2012

12 April

"Kamu adalah saksi dari semuanya ini"

(Kis 3:11-26; Luk 24:35-48)

"Lalu kedua orang itu pun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti. Dan sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka: "Damai sejahtera bagi kamu!" Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu. Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu? Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku." Sambil berkata demikian, Ia memperlihatkan tangan dan kaki-Nya kepada mereka. Dan ketika mereka belum percaya karena girangnya dan masih heran, berkatalah Ia kepada mereka: "Adakah padamu makanan di sini?" Lalu mereka memberikan kepada-Nya sepotong ikan goreng. Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka. Ia berkata kepada mereka: "Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur." Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci. Kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kamu adalah saksi dari semuanya ini" (Luk 24:35-48), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Bercakap-cakap atau sharing perihal pengalaman akan penampaikan Yesus yang telah dibangkitkan dari mati, itulah yang sedang terjadi di antara para murid. Di tengah-tengah percakapan tersebut tiba-tiba Yesus menampakkan Diri serta memberi salam kepada mereka "Damai sejahtera bagi kamu". Untuk memperkuat iman mereka maka Yesus pun makan bersama dengan mereka dengan makanan apa adanya, dan mereka pun kemudian "dibuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci". Ia kemudian juga memberi perintah kepada mereka agar mereka menjadi saksi atas semua yang telah terjadi dan mereka alami. Pada masa sekarang ini kiranya yang cukup mendesak dan up to date ialah menjadi saksi damai sejahtera, sebagaimana juga disampaikan oleh Yesus kepada para murid. Untuk itu kiranya diri kita sendiri hendaknya senantiasa dalam keadaan damai sejahtera, baik lahir maupun batin, karena kita telah dikuatkan dengan 'wafat dan kebangkitan Yesus dari mati', yang berarti kita telah bersama dan bersatu denganNya. Damai sejahtera itu antara lain juga dapat kita wujudkan dengan memberitakan pertobatan dan pengampunan dosa dalam namaNya. Ingatlah, sadari dan hayati bahwa setiap hari kita mendoakan doa Bapa Kami, yang antara lain berdoa "ampunilah kesalahan kami, seperti kamipun mengampuni yang bersalah  kepada kami". Kasih pengampunan merupakan dasar atau landasan damai sejahtera, maka semoga apa yang kita doakan tidak hanya manis di mulut tetapi juga nikmat dalam tindakan dan perilaku, karena kita senantiasa mengampun siapapun yang bersalah kepada kita atau yang menyakiti dan mempersulit hidup kita. Salah satu wujud konkret hidup bersama dalam damai sejahtera adalah 'makan bersama' apa adanya dengan penuh ceria dan bahagia.

·   "Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan, agar Tuhan mendatangkan waktu kelegaan, dan mengutus Yesus, yang dari semula diuntukkan bagimu sebagai Kristus" (Kis 3:19-20), demikian kutipan dari kotbah Petrus. Kiranya sebagai murid-murid Yesus atau orang yang percaya kepada Yesus Kristus kita juga diundang atau dipanggil untuk meneladan Petrus: mengajak siapapun juga untuk menyadari kelemahan dan dosa-dosanya serta kemudian bertobat atau memperbaharui diri. Menyadari kelemahan, keterbatasan dan dosa-dosa merupakan langkah awal yang meyakinkan untuk bertobat dan memperbaharui diri terus-menerus, karena dengan demikian yang bersangkutan pada umumnya juga memiliki keterbukaan diri untuk tumbuh dan berkembang alias diperbaharui terus-menerus alias bersikap mental belajar. Belajar tidak hanya terjadi ketika berada atau masih di dalam sekolah atau pendidikan formal, melainkan juga selama bekerja atau hidup dimanapan orang dapat belajar. Hidup, bertindak dan bekerja dengan semangat belajar akan mendatangkan kelegaan hati yang luar biasa.  Bersikap mental atau bersemangat belajar memang dijiwai oleh keutamaan kerendahan hati atau orang yang rendah hati senantiasa bersikap mental belajar terus menerus, tiada henti sampai mati. Kami berharap para orangtua atau pemimpin dapat menjadi teladan dalam hal kerendahan hati dan sikap mental belajar  bagi anak-anak atau anggotanya.

"Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya. Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya: kambing domba dan lembu sapi sekalian, juga binatang-binatang di padang; burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut, dan apa yang melintasi arus lautan" (Mzm 8:5 -9)

Ign 12 April 2012

Selasa, 10 April 2012

11 April 2012

"Hai kamu orang bodoh betapa lambannya hatimu"
(Kis 3:1-10; Luk 24:13-35)

"Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem, dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia. Yesus berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?" Maka berhentilah mereka dengan muka muram. Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya: "Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?" Kata-Nya kepada mereka: "Apakah itu?" Jawab mereka: "Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami. Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi. Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita, bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat, yang mengatakan, bahwa Ia hidup. Dan beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati, bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat." Lalu Ia berkata kepada mereka: "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?" (Luk 24:13-26), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Ada pepatah "Dalamnya laut dapat diduga, dalamnya hati siapa tahu". Orang yang tahu dalamnya atau isi hati diri sendiri maupun orang lain adalah orang yang sungguh memiliki hati, karena dengan demikian yang bersangkutan senantiasa memperhatikan orang lain maupun diri sendiri. Memperhatikan berarti memboroskan waktu dan tenaga bagi yang diperhatikan. Kerajaan Allah atau hidup beriman adalah masalah hati atau kerajaan hati. Maka cukup menarik bahwa Yesus, yang telah bangkit dari mati menampakkan Diri kepada dua murid dari Emaus yang sedang frustrasi, berkata "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi". Namun demikian masih menguntungkan bahwa dalam keadaan frustrasi mereka masih bcrcakap-cakap perihal apa yang terjadi alias bercurhat perihal apa yang tertulis di dalam Kitab Suci. Dengan kata lain dibalik frustrasi mereka ada kerinduan dari hati yang terdalam akan apa makna yang tertulis di dalam Kitab Suci maupun segala sesuatu yang sedang terjadi. Kisah penampakan Yesus yang bangkit dari mati kepada dua murid dari Emaus ini kiranya merupakan sesuatu yang indah untuk kita jadikan bahan refleksi atau permenungan. Jika anda sedang frustrasi, hendaknya tidak langsung menyendiri atau bahkan bunuh diri, melainkan silahkan membaca Kitab Suci atau bercakap-cakap dengan orang lain perihal apa yang membuat anda frrustrasi. Percayalah dengan demikian anda akan menerima pencerahan, sehingga anda sembuh dari frustrasi. Kisah ini juga mengingatkan kita semua akan pentingnya pemeriksaan batin, refleksi atau mawas diri, yang hendaknya dilakukan setiap hari sehingga orang terampil dalam pembedaan roh atau spiritual discernment alias memiliki hati yang cerdas.
·   "Petrus berkata: "Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!" Lalu ia memegang tangan kanan orang itu dan membantu dia berdiri. Seketika itu juga kuatlah kaki dan mata kaki orang itu" (Kis 3:6-7), demikian berita perihal muzijat yang terjadi dalam pelayanan Petrus. Demi atau dalam nama Yesus Kristus Petrus mampu menyembuhkan orang lumpuh sehingga dapat berdiri dan berjalan. Mungkin di lingkungan hidup atau kerja kita juga ada orang-orang yang lumpuh, tentu saja tidak secara phisik melainkan secara spiritual, sehingga mereka 'mandeg'/berhenti di tempat, tidak tumbuh dan berkembang sebagaimana diharapkan atau dicita-citakan. Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus kita dipanggil untuk menyembuhkan mereka, maka marilah kita datangi dan perlakukan mereka dalam nama Yesus Kristus. Dalam nama Yesus Kristus berarti sesuai dengan kehendak dan dorongan Roh Kudus,. Roh Kudus memang menggairahkan, memberdayakan dan menghidupkan mereka yang 'lumpuh', maka hendaknya kita senantiasa hidup dalam dan oleh Roh Kudus dalam mendekati dan memperlakukan mereka yang sedang 'lumpuh'.
"Bersyukurlah kepada TUHAN, serukanlah nama-Nya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa! Bernyanyilah bagi-Nya, bermazmurlah bagi-Nya, percakapkanlah segala perbuatan-Nya yang ajaib! Bermegahlah di dalam nama-Nya yang kudus, biarlah bersukahati orang-orang yang mencari TUHAN! Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu!" (Mzm 105:1-4)
Ign 11 April 2012

Minggu, 08 April 2012

Hari Raya Paska

Hari Raya PASKA

Kis 10; 34a.37-45; Kol 3:1-4; Yoh 20:1-9

"Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat dari pada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur."

Cintakasih memang merupakan keutamaan yang utama dari ketiga keutamaan: iman, harapan dan cintakasih. Kita, manusia di bumi ini, serta segala sesuatu yang ada di dunia atau dipermukaan bumi ini diciptakan Allah dalam cintakasih. Demikian pula kita dapat tumbuh berkembang sebagaimana adanya pada saat ini juga karena cintakasih Allah yang telah kita terima melalui sekian banyak orang yang telah memperhatikan dan mengasihi kita melalui aneka cara dan kesempatan, Dalam warta gembira Paska hari ini adalah orang-orang yang merasa atau mengalami kasih lebih besar dari Allah yang dengan cepat mengimaninya, sebagaimana dikisahkan bahwa Yohanes 'berlari lebih cepat dari pada Petrus' dalam rangka menuju ke makam Yesus, setelah menerima berita dari para wanita. Memang Yesus yang telah bangkit dari mati sungguh membuat orang yang beriman kepadaNya akan hidup dan bertindak dengan cepat dan bergairah dalam menanggapi aneka ajakan atau sapaan dan sentuhan. Maka marilah dalam rangka merayakan Pesta Paska kita mawas diri: sejauh mana kita sungguh beriman kepada Yesus yang telah menderita, wafat di kayu salib dan dibangkitkan dari mati.

"Maka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya. Sebab selama itu mereka belum mengerti isi Kitab Suci yang mengatakan, bahwa Ia harus bangkit dari antara orang mati." (Yoh 20:8-9).

Berlari lebih cepat, serta kemudian juga sampai di tempat lebih cepat dan melihat lebih cepat, maka iapun juga percaya lebih cepat, itulah yang terjadi dalam murid yang terkasih, Yohanes. "Melihat dan percaya" memang merupakan salah satu cirikhas orang yang sungguh hidup dalam saling mengasihi dan beriman. Melihat dalam hal ini kiranya tidak cukup hanya dengan mata phisik saja, melainkan juga dengan mata hati dan mata jiwa. Bahasa Latin dari kata melihat adalah video (videre) yang memiliki beberapa arti, yaitu melihat, mengerti, mengetahui, mengalami, memandang, menelaah, meninjau, memeriksa, mempertimbangkan. Beberapa arti melihat macam itulah kiranya yang kami maksudkan dengan melihat dengan mata hati dan mata iman, dimana secara cepat dan tepat orang dapat menelaah dan mempertimbangkan apa yang dilihatnya serta kemudian dengan cepat dan tepat juga mengambil sikap atau kebijakan, antara lain percaya atau tidak percaya .

Kami percaya pada Malam Paska atau Hari Raya Paska ini telah melihat sesuatu yang indah, menarik dan mempesona selama berpartisipasi dalam ibadat, serta kami yakin atau percaya semuanya itu menggerakkan atau memotivasi anda untuk semakin percaya kepada Tuhan dan secara khusus percaya kepada Yesus yang telah dibangkitkan dari mati. Jika kita percaya kepada Yesus yang telah bangkit dari mati, maka kita senantiasa hidup baik, bersemangat atau bergairah dan dinamis, cara hidup dan cara bertindak kita menggairahkan dan membangkitkan mereka yang lesu atau putus asa. Dengan percaya kepada Yesus yang telah bangkit dari mati kita juga akan mampu memahami dan menghayati apa yang tertulis di dalam Kitab Suci, karena kitab suci yang kita miliki saat ini merupakan refleksi iman atas Yesus yang menderita, wafat di kayu salib dan dibangkitkan dari mati. 

Kami berharap setelah mawas diri sejak Rabu Abu sampai Hari Raya Paska ini kita semua sungguh menyadari dan menghayati diri sebagai orang yang terkasih dari Allah, sehingga dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari senantiasa bersemangat. "Bersemangat adalah sikap dan perilaku yang selalu dapat bertahan dan bergairah dalam melakukan sesuatu. Ini diwujudkan dalam perilaku yang menggebu-gebu dan bergelora. Perilaku ini diwujudkan dalam hubungannya dengan diri sendiri" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit.: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 13). Orang yang bergairah dan bergelora dalam kondisi dan situasi apapun pada umumnya menarik, mempesona dan memikat orang lain, lebih-lebih ketika menghadapi masalah, tantangan atau hambatan tetap bergairah dan bergelora. Orang yang selalu bergairah dan bergelora hemat juga memiliki ketahanan dan kekebalan diri, phisik maupun spiritual) yang handal, tak mudah jatuh sakit, entah sakit hati, sakit jiwa, sakit akal budi maupun sakit phisik. Selanjutnya marilah kita renungkan dan hayati ajakan atau peringatan Paulus dibawah ini.

"Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamu pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan" (Kol 3:1-4).

Sebagai orang yang beriman kepada Yesus yang telah dibangkitkan dari mati kita diajak untuk senantiasa "memikirkan perkara yang di atas, bukan yang di bumi", dengan kata lain tidak bersikap mental materialistis sebagaimana dihayati oleh kebanyakan orang masa kini. Maklum sikap mental materialistis sejauh saya dengar dan cermati telah merasuki para tokoh umat beragama maupun pendidikan (ingat dan sadari bahwa korupsi terbesar di negeri kita ini terjadi dalam dua departemen yang membina manusia, yaitu departemen pendidikan dan departemen agama). Cukup memprihatinkan juga bahwa ada pastor, bruder atau suster yang berlomba dalam hal kesuksesan materi, entah itu secara pribadi atau orgaanisatoris, artinya dalam posisinya sebagai pemimpin atau pengelola karya. Harga dirinya terletak pada membeli dan memiliki, yang dikejar adalah kesuksesan bukan kesetiaan. Kita semua dipanggil untuk mengusahakan kesempurnaan dalam hal kesetiaaan. Menanggapi ajakan atau peringatan Paulus, yaitu memikirkan perkara yang di atas berarti kita diajak untuk unggul dalam hal kesetiaan pada penghayatan charisma, spiritualitas atau visi, entah secara pribadi atau bersama-sama.

Kita semua baru saja memperbaharui janji kita: janji baptis maupun janji imamat serta hidup berkaul, maka marilah kita bersama-sama mengusahakan kesetiaan pada janji yang baru saja kita perbaharui. Tentu pertama-tama dan terutama adalah janji baptis yang mendasari diri kita sebagai anggota Umat Allah. Jika janji baptis kita hayati dengan setia maka janji-janji berikutnya dengan mudah kita hayati, entah itu janji perkawinan, janji imamat, kaul, janji pegawai, sumpah jabatan dst.. Dalam pembaptisan kita berjanji hanya mau mengabdi Tuhan Allah saja serta menolak semua godaan setan, maka marilah kita tolak dengan tegas segala rayuan atau godaan setan.

"Ketika Petrus sedang berkata demikian, turunlah Roh Kudus ke atas semua orang yang mendengarkan pemberitaan itu. Dan semua orang percaya dari golongan bersunat yang menyertai Petrus, tercengang-cengang, karena melihat, bahwa karunia Roh Kudus dicurahkan ke atas bangsa-bangsa lain juga, sebab mereka mendengar orang-orang itu berkata-kata dalam bahasa roh dan memuliakan Allah" (Kis 10:44-46). Yesus yang telah bangkit dari mati berkarya melalui RohNya, dan karyaNya tidak terikat oleh ruang dan waktu, SARA, usia dst.. Percaya kepada Dia yang telah dibangkitkan dari mati berarti berpartisipasi dalam tugas pengutusan menyelamatkan dunia seisinya, umat manusia diseluruh dunia beserta lingkungan hidupnya. Untuk itu kita diharapkan "berbahasa Roh", yaitu hidup dan bertindak dijiwai oleh keutamaan-keutamaan   "kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri" (Gal 5:22-23). Marilah kita bekerjasama dan berlomba dalam penghayatan keutamaan-keutamaan tersebut di atas.

"Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Biarlah Israel berkata: "Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!"

(Mzm 118:1-2)

"SELAMAT PASKA 2012. MARILAH BERGAIRAH DALAM HIDUP DAN BERTINDAK DIMANA PUN DAN KAPAN PUN"

Ign 8 April 2012