Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Selasa, 17 Januari 2012

18 Jan


"Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat?"

(1Sam 17:32-33.37.40-51; Mrk 3:1-6)

" Kemudian Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang mati sebelah tangannya. Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia.Kata Yesus kepada orang yang mati sebelah tangannya itu: "Mari, berdirilah di tengah!" Kemudian kata-Nya kepada mereka: "Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?" Tetapi mereka itu diam saja. Ia berdukacita karena kedegilan mereka dan dengan marah Ia memandang sekeliling-Nya kepada mereka lalu Ia berkata kepada orang itu: "Ulurkanlah tanganmu!" Dan ia mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu. Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera bersekongkol dengan orang-orang Herodian untuk membunuh Dia." (Mrk 3:1-6), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Hari 'Sabat' dalam tradisi Yahudi adalah hari istirahat dan dipersembahkan kepada Allah. Pada hari Sabat , yang berarti hari Sabtu,  ini masa kini di daerah Yahudi memang kegiatan kantor dan sekolah-sekolah libur dan masyarakat menikmati hari itu untuk berrekreasi dengan seluruh anggota keluarga. Mereka memang tidak boleh bekerja pada hari Sabat, maka ketika Yesus menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat orang-orang Yahudi mempersalahkanNya. Menanggapi sikap orang-orang Farisi tersebut Yesus bersabda;" Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?". Orang yang waras dan berbudi pekerti luhur atau bermoral kiranya akan memilih untuk berbuat baik dan menyelamatkan nyawa. Perbuatan baik dan penyelamatan nyawa atau jiwa mengatasi aneka tata tertib atau kebiasaan-kebiasaan hidup. Hemat saya aneka tata tertib dan kebiasaan hidup pada umumnya bertujuan untuk melakukan apa yang baik, dan memang ada keterbatasan apa yang terjadi dalam kata-kata atau rumus-rumus tata tertib. Untuk berani mengatasi atau 'melanggar' tata tertib memang mengandaikan pengetahuan dan pemahaman tata tertib dengan baik dan benar serta berwawasan luas. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan agar anak-anak kita sedini mungkin untuk melakukan apa yang baik seraya diberitahukan aneka tata tertib yang berlaku maupun aneka pengetahuan yang perlu untuk hidup bersama. Keselamatan jiwa hendaknya menjadi barometer atau tolok ukur dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimana pun dan kapan pun.

·    "Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu. Hari ini juga TUHAN akan menyerahkan engkau ke dalam tanganku dan aku akan mengalahkan engkau dan memenggal kepalamu dari tubuhmu; hari ini juga aku akan memberikan mayatmu dan mayat tentara orang Filistin kepada burung-burung di udara dan kepada binatang-binatang liar, supaya seluruh bumi tahu, bahwa Israel mempunyai Allah, dan supaya segenap jemaah ini tahu, bahwa TUHAN menyelamatkan bukan dengan pedang dan bukan dengan lembing. Sebab di tangan TUHANlah pertempuran dan Ia pun menyerahkan kamu ke dalam tangan kami." (1Sam 17:45-47), demikian kata Daud kepada orang-orang Filistin. Berperang dalam nama Tuhan semesta alam itulah yang dihayati oleh Daud, bukan 'dengan pedang dan tombak dan lembing'. Kita semua dalam hidup sehari-hari juga dipanggil untuk berperang, tetapi berperang melawan kejahatan-kejahatan. Dalam hal ini saya teringat apa yang terjadi di Filipina dalam revolusi rakyat untuk menggulingkan presiden Marcos. Tank-tank dan persenjataan lengkap dan mutakhir yang dipakai oleh tentara-tentara yang gagah dan kekar dihadapi oleh para wanita, ibu-ibu dan anak-anak dengan memegang rosario seraya berdoa rosario. Pasukan tentara utusan Marcos pun akhirnya bertekuk lutut di hadapan para ibu, wanita dan anak-anak tersebut. Bukankah hal ini menunjukkan bahwa dalam tiap pribadi orang ada kerinduan dan dambaan mendalam akan Tuhan di dalam hatinya?  Maka hendaknya menyikapi dan menghadapi siapapun, termasuk para penjahat, senantiasa di dalam dan bersama dengan Tuhan, artinya hadapi dan sikapi dalam dan dengan cintakasih. Setiap orang yang hidup serta masih hidup sampai saat ini hanya karena cintakasih, tanpa cintakasih mereka tak dapat hidup sebagaimana adanya pada saat ini. Mereka menjadi jahat dan berbuat jahat, hemat  kurang menyadari dan menghayati cintakasih yang telah diterimanya, maka marilah kita tolong untuk menyadari dan menghayati cintakasih dengan kita kasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tubuh atau tenaga. Dalam dan dengan cintakasih Tuhan kita akan mampu menghadapi dan mengatasi aneka kejahatan yang ada di sekitar kita.

"Engkau yang memberikan kemenangan kepada raja-raja, dan yang membebaskan Daud, hamba-Mu! Bebaskanlah aku dari pada pedang celaka dan lepaskanlah aku dari tangan orang-orang asing, yang mulutnya mengucapkan tipu, dan yang tangan kanannya adalah tangan kanan dusta." (Mzm 144:10-11)

Ign 18 Januari 2012. Note: mulai hari ini kita diajak untuk berdoa bagi kesatuan umat Kristen/pengikut Yesus Kristus s/d tgl 25 Januari, Pesta Bertobatnya St.Paulus.


Senin, 16 Januari 2012

17 Jan

"Perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"

(Ef 6:10-13.18; Mat 19:16-21)

"Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: "Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Jawab Yesus: "Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah." Kata orang itu kepada-Nya: "Perintah yang mana?" Kata Yesus: "Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Kata orang muda itu kepada-Nya: "Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?" Kata Yesus kepadanya: "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." (Mat 19:16-21), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Antonius, Abas, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana  sebagai berikut:

·   Semua orang kiranya mendambakan hidup kekal, bahagia selamanya di sorga bersama Tuhan, setelah meninggal dunia atau dipanggil Tuhan, sebagaimana didambakan dan ditanyakan oleh seseorang kepada Yesus dalam Warta Gembira hari ini. Jika kita sungguh mendambakan hidup kekal marilah kita hayati atau laksanakan sabda Yesus "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutilah Aku". Sabda ini kiranya telah dihayati atau dilaksanakan oleh St.Antonius, Abas, serta para pengikutnya. Sabda tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi Antonius dan para pengikutnya, tetapi juga bagi kita semua yang beriman kepada Yesus Kristus. Maka marilah kita yang beriman kepada Yesus Kristus bekerjasama dan saling membantu untuk menghayati atau melaksanakan sabda tersebut. Memang tak mungkin bagi kita semua untuk menghayati sabda tersebut apa adanya, maka baiklah saya ajukan kurang lebih apa yang dimaksudkan bagi kita semua. Sabda tersebut terkait dengan masalah harta benda atau uang: hendaknya memfungsikan aneka jenis harta benda serta uang sedemikian rupa sehingga semakin dikasihi oleh Tuhan dan sesama manusia alias juga semakin memiliki banyak sahabat. Kita juga diharapkan dan dipanggil untuk membantu mereka yang miskin atau melarat, entah karena kesalahan pribadi atau kesalahan orang lain. Prinsip hidup "preferential option for/with the poor"=keberpihakan bagi dan bersama yang miskin/melarat, hendaknya dihayati dalam cara hidup dan cara bertindak setiap hari.

·   "Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu" (Ef 6:10-13), demikian nasehat Paulus kepada umat di Efesus, kepada kita semua umat beriman. Mengenakan senjata Allah berarti tidak bersikap materialistis sebagaimana dihayati oleh mayoritas manusia di bumi masa kini. Derap langkah pertumbuhan dan perkembangan teknologi dengan aneka macam produksinya telah mempengaruhi banyak orang bersikap mental materialistis, dan sikap mental ini juga merasuki umat beragama, termasuk para pemimpin agama (dalam Gereja Katolik: pastor, bruder dan suster). Kami berharap agar anak-anak sedini mungkin dididik dan dibina untuk tidak bersikap materialistis di dalam keluarga dengan teladan atau inspirasi dari para orangtua.  Mengenakan senjata Allah secara positif berarti memiliki kecerdasan spiritual, yang cirikkasnya, sebagaimana diketengahkan oleh Danah Zohar dan Ian Marshall dalam bukunya "SQ" , adalah "mampu bersikap fleksibel(adaptif secara spontan dan aktif), memiliki tingkat kesadaran diri yang tinggi, mampu untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaan, mampu menghadapi dan mengatasi rasa sakit, memiliki kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai-nilai, enggan untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu, cenderung untuk melihat keterkaitan antara berbagai hal (berpandangan 'holistik'),cenderung untuk bertanya 'mengapa' atau 'bagaimana jika' untuk mencari jawaban-jawaban yang mendasar, memiliki kemudahan untuk bekerja melawan konvensi" (lih Danah Zohar dan Ian Marshall: SQ, Penerbit Mizan, Bandung 2000, hal 14). Marilah kita berusaha bersama-sama menghayati apa yang menjadi cirikhas kecerdasan spiritual di atas ini.

"Pernah Engkau berbicara dalam penglihatan kepada orang-orang yang Kaukasihi, kata-Mu: "Telah Kutaruh mahkota di atas kepala seorang pahlawan, telah Kutinggikan seorang pilihan dari antara bangsa itu. Aku telah mendapat Daud, hamba-Ku; Aku telah mengurapinya dengan minyak-Ku yang kudus, maka tangan-Ku tetap dengan dia, bahkan lengan-Ku meneguhkan dia"

(Mzm 89:20-22)

Ign 17 Januari 2012


Minggu, 15 Januari 2012

16 Jan

"Anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula."
(1Sam 15:16-23; Mrk  2:18-22)
" Pada suatu kali ketika murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi sedang berpuasa, datanglah orang-orang dan mengatakan kepada Yesus: "Mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?" Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sedang mempelai itu bersama mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa. Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabiknya, yang baru mencabik yang tua, lalu makin besarlah koyaknya. Demikian juga tidak seorang pun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula." (Mrk 2:18-22), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Di dunia ini setiap hari ada yang baru dan pada umumnya orang senang dengan yang baru, berbahagia dengan yang baru. Apa yang baru itu? Misalnya; baju baru, teman baru, keluarga baru, imam/bruder/ suster baru, rumah baru, pekerjaan/tugas/jabatan, baru, baptisan baru dst.. Ketika memasuki atau memakai apa yang baru tersebut pada umumnya orang juga memiliki semangat baru yang menjanjikan masa depan yang cerah dan membahagiakan, apalagi untuk mencapai yang baru tersebut orang harus berjanji, misalnya janji baptis, janji perkawinan, janji imamat, kaul, sumpah jabatan dst.. "Anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula", demikian sabda Yesus. Marilah kita renungkan dan hayati sabda ini. Sekali lagi saya tak henti-hentinya mengajak dan mengingatkan anda sekalian untuk setia pada janji yang telah kita ikrarkan ketika memasuki hidup baru maupun tugas/ jabatan baru, sebagai agar kita sungguh menyimpan"anggur yang baru dalam kantong yang baru pula". Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus dan telah dibaptis kami ajak untuk setia menghayati janji baptis, karena jika setia pada janji baptis dengan mudah kita akan setia pada panggilan, tugas pengutusan atau kewajiban yang baru atau 'hidup baru' di rumah yang baru dengan teman yang baru dst.. Sebaliknya jika kita kurang atau tidak setia pada janji-janji yang telah kita ikrarkan, marilah kita melakukan lakutapa atau matiraga. Matiraga berarti mengendalikan seluruh anggota raga atau tubuh sehingga berfungsi untuk mengabdi, melayani, memuji dan menghormati Tuhan maupun saudara-saudari kita yang hidup dan bekerja bersama dengan kita.
·   "TUHAN telah menyuruh engkau pergi, dengan pesan: Pergilah, tumpaslah orang-orang berdosa itu, yakni orang Amalek, berperanglah melawan mereka sampai engkau membinasakan mereka. Mengapa engkau tidak mendengarkan suara TUHAN? Mengapa engkau mengambil jarahan dan melakukan apa yang jahat di mata TUHAN?"(1Sam 15:18-19), demikian kata nabi Samuel kepada raja Saul. Apa yang dilakukan oleh Saul ini kiranya juga sering dilakukan oleh para pemimpin atau raja di tingkat apapun atau dalam kehidupan bersama apapun. Menyeleweng atau berselingkuh dalam tugas dan pekerjaan itulah yang sering dilakukan. Sebagai contoh orang diberi tugas ke luar kota untuk beberapa hari karena kesepian lalu berselingkuh pergi ke tempat pelacuran. Tegoran Samuel di atas mengajak dan mengingatkan kita semua untuk 'berujud lurus' atau dalam hal penggunaan harta benda atau uang sesuai dengan motto 'intentio dantis' (=maksud pemberi). Ingatlah dan sadarilah jika kita menyeleweng atau berselingkuh mungkin untuk sementara tak ketahuan orang lain, tetapi Tuhan tahu, dan akhirnya penyelewengan atau perselingkuhan anda pada suatu saat akan ketahuan juga dan andapun akan malu serta kena hukuman yang memadai sesuai dengan penyelewengan atau kejahatan atau perselingkuhan anda. "Sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya jatuh juga", demikian kata sebuah pepatah. Serapi-rapi dan seketat apapun anda menyembunyikan penyelewengan, perselingkuhan atau kejahatan anda akhirnya ketahuan juga. Hendaknya kita jujur dalam dan selama melaksanakan tugas pengutusan atau mengemban fungsi atau jabatan tertentu. Kejujuran pada masa kini sungguh dibutuhkan. "Jujur adalah sikap dan perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat curang, berkata-kata benar apa adanya dan berani mengakui kesalahan, serta rela berkorban untuk kebenaran" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 17)
"Apakah urusanmu menyelidiki ketetapan-Ku, dan menyebut-nyebut perjanjian-Ku dengan mulutmu, padahal engkaulah yang membenci teguran, dan mengesampingkan firman-Ku? Itulah yang engkau lakukan, tetapi Aku berdiam diri; engkau menyangka, bahwa Aku ini sederajat dengan engkau. Aku akan menghukum engkau dan membawa perkara ini ke hadapanmu.Siapa yang mempersembahkan syukur sebagai korban, ia memuliakan Aku; siapa yang jujur jalannya, keselamatan yang dari Allah akan Kuperlihatkan kepadanya."
(Mzm 50:16b-17.21.23)
Ign 16 Januari 2012