Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Rabu, 28 Desember 2011

28 des


"Ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya"

(1Yoh 1:5-2:2; Mat 2:13-18)

"Setelah orang-orang majus itu berangkat, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: "Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia." Maka Yusuf pun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir, dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: "Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku." Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diperdayakan oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu. Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia: "Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi." (Mat 2:13-18), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan Pesta Kanak-Kanak Suci, martir, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Pejabat atau pemimpin yang gila akan kuasa, harta benda dan kehormatan duniawi pada umumnya tidak mau turun jabatan sebelum mati, atau bahkan ia mendewakan dirinya, memandang dirinya sebagai titisan dewa. Maka ketika mendengar katanya akan muncul tokoh baru yang akan menyingkirkannya, ia segera berusaha menghabisinya. Itulah yang terjadi dalam diri Herodes, yang 'menyuruh membunuh semua anak di Betlekem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah', ketika mendengar bahwa di Betlekem telah lahir 'Seorang Anak' yang diberitakan sebagai Mesias, Sang Raja yang akan lebih berkuasa daripadanya. Kebrutalan Herodes merajalela: semua anak usia dibawah dua tahun menjadi korban kerakusan dan keserakahannya. Anak-anak kecil yang tak berdosa telah menjadi saksi Penyelamat Dunia, itulah yang akhirnya terjadi. Maka baiklah dalam rangka mengenangkan kanak-kanak suci, para martir, hari ini saya mengajak anda sekalian untuk lebih menghormati, menjunjung tinggi dan mengasihi anak-anak kecil. Ingatlah dan sadari bahwa anak-anak kecil lebih suci daripada kita, orang-orang dewasa/tua, dan dalam rangka hidup beriman atau menggereja yang lebih sucilah yang hendaknya lebih dihormati, dijunjung tinggi dan dilayani. Hendaknya kita dengan rendah hati dan kerelaan serta ketulusan hati berani memboroskan waktu dan tenaga bagi anak-anak sebagai bukti kasih dan perhatian kita kepada mereka. Wujud kasih yang paling utama adalah pemborosan waktu dan tenaga bagi yang terkasih, maka para orangtua maupun orang dewasa kami harapkan berani berkorban bagi anak-anak.

·   "Jika kita katakan, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran. Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa." (1Yoh 1:6-7). Kita baru saja merayakan kelahiran Yesus bersama-sama, maka kiranya kita semua "hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang". Marilah kita hayati dan wujudkan bahwa kita hidup di dalam terang, yang berarti kita senantiasa dalam keadaan baik serta berusaha menyucikan diri terus-menerus alias lebih baik dari saat ini. Dengan kata lain hendaknya kita memiliki semangat 'magis', yaitu semangat untuk senantiasa mengatasi atau mengungguli diri sendiri, mengalahkan diri terus-menerus, sehingga kita sungguh dalam terang Tuhan, senantiasa bersama dan bersatu dengan Tuhan. Kita diharapkan senantiasa melakukan apa yang baik dan benar; apa yang disebut dan benar senantiasa berlaku secara universal, kapan saja dan dimana saja. Hidup di dalam terang juga berarti senantiasa terbuka pada yang lain, tiada sesuatu pun yang ditutupi dari diri kita, dengan kata lain kita siap sedia untuk menelanjangi diri. Ingat bahwa suami dan isteri yang saling mengasihi berarti hidup dalam terang, ndsehingga mereka berani saling telanjang satu sama lain tanpa malu sedikitpun. Semoga pengalaman saling terbuka satu sama lain dalam ketelanjangan ketika sedang memadu kasih juga dihayati dalam cara hidup dan cara bertindak lainnya, tentu saja tidak telanjang secara phisik, melainkan telanjang secara social dan spiritual. Marilah kita saling jujur, terbuka satu sama lain, sehingga terjadilah persekutuan atau persaudaraan sejati antar kita didalam kehidupan bersama.

"Jikalau bukan TUHAN yang memihak kepada kita, ketika manusia bangkit melawan kita, maka mereka telah menelan kita hidup-hidup, ketika amarah mereka menyala-nyala terhadap kita; maka air telah menghanyutkan kita, dan sungai telah mengalir melingkupi diri kita, maka telah mengalir melingkupi diri kita air yang meluap-luap itu" (Mzm 124:2-5)

Ign 28 Desember 2011


Minggu, 25 Desember 2011

27 des


"Murid yang lain itu berlari lebih cepat dari pada Petrus "

(1Yoh 1:1-4; Yoh 20:2-8)

" Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka: "Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan." Maka berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur. Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat dari pada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur. Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kapan terletak di tanah; akan tetapi ia tidak masuk ke dalam. Maka datanglah Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kapan terletak di tanah, sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kapan itu, tetapi agak di samping di tempat yang lain dan sudah tergulung. Maka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya." (Yoh 20:2-8), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Yohanes, rasul dan pengarang Injil, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Setelah St.Stefanus, martir pertama, hari ini kita diajak untuk mengenangkan St.Yohanes, rasul dan pengarang Injil serta juga dikenal sebagai murid terkasih Yesus. Sebagai murid terkasih berarti telah menerima kasih lebih besar daripada para rasul/murid lainnya, dengan kata lain Yohanes sungguh berlimpah akan kasih. Kasih merupakan kekuatan luar biasa dalam perjalanan hidup dan panggilan kita. Orang yang sungguh merasa dikasihi pada umumnya akan hidup dengan penuh syukur dan terima kasih, serta kemudian akan lebih tanggap dan cekatan dalam menghadapi aneka masalah atau tantangan, seperti Yohanes yang berlari lebih cepat daripada Petrus menuju ke kubur, tempat dimana Yesus dimakamkan, ketika mereka mendengar bahwa Yesus tidak ada lagi di tempat/makam. Maka dengan ini kami mengajak kita semua untuk mawas diri: bukankah kita telah menerima kasih dari Allah secara melimpah ruah melalui saudara-saudari kita, entah itu berupa perhatian, sapaan, sentuhan, saran, nasihat, kritik, harta benda/uang dst..yang kiranya juga masih kita terima sampai kini? Marilah kita menyadari dan menghayati diri sebagai 'yang terkasih', agar kita pun juga cekatan dan sigap dalam menanggapi apa yang terjadi di lingkungan hidup kita. Dari Yohanes dan  injilnya kita kenal kata-kata yang sering muncul yaitu "melihat dan kemudian percaya". Marilah kita melihat dengan cermat dan teliti apa yang terjadi di lingkungan hidup kita, dan kemudian menjadi 'percaya', artinya membaktikan diri sepenuhnya demi keselamatan dan kebahagiaan lingkungan hidup di sekitar kita.

·   "Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus.Dan semuanya ini kami tuliskan kepada kamu, supaya sukacita kami menjadi sempurna." (1Yoh 1:3-4). "Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga", kata-kata inilah yang kiranya baik untuk kita renungkan atau refleksikan. Sebagai yang terkasih kiranya kita tidak akan tutup mulut terhadap apa yang kita lihat dan dengar dalam lingkungan hidup kita masing-masing. Tentu saja ketika kita melihat dan mendengar apa yang baik kemudian memuji atas apa yang  terjadi, sedangkan ketika melihat dan mendengar apa yang tidak baik segera tergerak untuk memperbaiki dan ketika tak mampu memperbaiki sendiri kemudian minta bantuan orang lain. Dengan kata lain apa yang kita lihat dan dengar merupakan wahana untuk membangun dan memperdalam persekutuan hidup bersama yang dijiwai oleh cintakasih. Kami berharap keutamaan melihat dan mendengarkan serta kemudian mewartakan kndepada orang lain apa yang dilihat dan didengan tersebut sedini mungkin dididikkan atau dibiasakan pada anak-anak di dalam keluarga dengan teladan para orangtua. Semoga segenap anggota keluarga membangun dan memperdalam persekutuan sejati, mengingat dan memperhatikan bahwa keluarga dibentuk dan dibangun oleh dan berdasarkan cintakasih. Demikian juga kami berharap kepada komunitas imam, bruder dan suster agar dapat menjadi teladan persekutuan sejati bagi komunitas-komunitas lainnya. Persekutuan atau persahabatan sejati pada masa kini mendesak dan up to date untuk dihayati dan disebarluaskan, lebih-lebih di kota-kota besar seperti Jakarta yang masih marak dengan tawuran antar pelajar, yang menandakan kegagalan orangtua dalam mendidik dan mendampingi anak-anaknya.

"TUHAN adalah Raja! Biarlah bumi bersorak-sorak, biarlah banyak pulau bersukacita! Awan dan kekelaman ada sekeliling Dia, keadilan dan hukum adalah tumpuan takhta-Nya. Gunung-gunung luluh seperti lilin di hadapan TUHAN, di hadapan Tuhan seluruh bumi. Langit memberitakan keadilan-Nya, dan segala bangsa melihat kemuliaan-Nya." (Mzm 97:1-2.5-6)

 Ign 27 Desember 2011


26 Des


"Kamu akan dibenci semua orang oleh karena namaKu"

(Kis 6:8-10; 7:54-59; Mat 10:17-22)

"Waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan menyesah kamu di rumah ibadatnya. Dan karena Aku, kamu akan digiring ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah. Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu. Orang akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah akan anaknya. Dan anak-anak akan memberontak terhadap orang tuanya dan akan membunuh mereka. Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat" (Mat 10:17-22), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St Stefanus, martir pertama, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Secara manusiawi kiranya kita boleh berkata bahwa kelahiran Penyelamat Dunia merupakan tanda atau petunjuk bahwa setia kepada panggilan atau tugas pengutusan memang tak akan terlepas dari aneka macam penderitaan dan ancaman (Ia dilahirkan dalam kekelaman dan kesepian serta kurang diperhatikan oleh saudara-saudariNya). Hari pertama setelah Natal kita kenangkan St Stefanus, martir pertama, yang 'dibenci semua orang oleh karena namaKu'. Stefanus karena bersama dan bersatu dengan Penyelamat Dunia alias menjadi sahabat Penyelamat Dunia harus menghadapi ancaman dan akhirnya memang dibunuh karena imannya. Kami percaya setelah hari Natal ini kiranya cukup banyak dari antara kita yang merayakan Natal dalam lingkungan keluarga, maka kami berharap dalam perjumpaan dengan anggota keluarga tidak hanya makan dan minum serta bercanda-ria saja, tetapi hendaknya  juga saling curhat dalam hal iman/pengalaman iman sesuai dengan pekerjaan maupun tempat tinggal masing-masing. Sebagai bantuan curhat saya ajukan pertanyaan: Masihkah kami setia pada nasihat, saran, petuah dan pesan orangtua sebelum kami 'disebarkan untuk bekerja dan berkeluarga'? Apakah kami semakin beriman, berbakti kepada Tuhan dengan berpartisipasi dalam menyelamatkan lingkungan hidup dan kerja kita? Bagi yang sedang atau masih belajar: apakah kami setia dalam tugas belajar dan dengan demikian semakin terampil dalam belajar?  Penghayatan rahmat kemartiran masa kini antara lain dapat kita wujudkan dalam kesetiaan pada panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing.

·   "Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku." (Kis 7:59), demikian doa Stefanus ketika dilempari batu serta dicemooh oleh musuh-musuhnya, menjelang kematiannya. Stefanus tidak mengeluh kesakitan, apalagi marah terhadap mereka yang membencinya, melainkan mempersembahkan diri kepada Yesus, sahabatnya. Karena kesetiaan pada iman, panggilan dan tugas pengutusan, yang mungkin pada masa kini berarti hidup dan bertindak jujur, ada kemungkinan akan mengalami kehancuran untuk sementara. Bukankah ada rumor "jujur akan hancur", tetapi hemat saya memang akan hancur untuk sementara namun akan mulia selamanya. Semakin jujur pada masa kini rasanya memang semakin hancur secara phisik, tetapi semakin tangguh dan handal secara spiritual karena aneka macam ancaman, hambatan, pelecehan dst.. dihayati sebagai wahana pendewasaan diri terus-menerus. Doa Stefanus di atas juga mengingatkan kita semua akan pentingnya pembinaan iman, moral atau spiritual bagi kita semua, maka kami berharap anak-anak sedini mungkin dididik dalam hal iman, moral dan spiritual alias agar tumbuh berkembang menjadi pribadi yang baik dan berbudi pekerti luhur. Hendaknya di sekolah-sekolah juga lebih diutamakan tujuan atau cita-cita agar para peserta didik tumbuh berkembang menjadi pribadi yang baik dan berbudi pekerti luhur. Kami percaya jika kita semua memiliki bekal atau kekuatan iman atau spiritual yang kuat, tangguh dan handal, maka kita tak akan mudah jatuh ke dalam dosa atau tindakan-tindakan amoral. Roh adalah jiwa, semangat, cita-cita atau harapan, maka apakah jiwa, semangat, cita-cita atau harapan kita sesuai dengan kehendak Tuhan.

"Sendengkanlah telinga-Mu kepadaku, bersegeralah melepaskan aku! Jadilah bagiku gunung batu tempat perlindungan, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku! Sebab Engkau bukit batuku dan pertahananku, dan oleh karena nama-Mu Engkau akan menuntun dan membimbing aku. Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku; Engkau membebaskan aku, ya TUHAN, Allah yang setia."

(Mzm 31:3-4.6)

Ign 26 Desember 2011