Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Selasa, 01 November 2011

29 Okt



"Barangsiapa meninggikan diri  ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri  ia akan ditinggikan"
(Rm 11:1-2a.11-12.25-29; Luk 14:1.7-11)
" Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin dari orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama…. Karena Yesus melihat, bahwa tamu-tamu berusaha menduduki tempat-tempat kehormatan, Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: "Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat dari padamu, supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah. Tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di depan. Dan dengan demikian engkau akan menerima hormat di depan mata semua tamu yang lain. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan." (Luk 14:1.7-11), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Kerendahan hati merupakan keutamaan utama dan pertama, kebalikan dari sombong. Sebagai orang beriman atau beragama kita semua dipanggil untuk hidup dan bertindak dengan rendah hati kapanpun dan dimanapun. "Rendah hati adalah sikap dan perilaku yang tidak suka menonjolkan dan menomor-satukan diri, yaitu dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun dalam kenyataannya lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan dirinya" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Menenggang perasaan orang lain atau menahan diri untuk tidak menonjolkan dirinya kiranya sungguh merupakan pengorbanan atau penderitaan. Maka wujud konkret rendah hati pada masa kini hemat kami adalah tidak mengeluh ketika harus berkorban atau menderita, ketika menghadapi tugas atau pekerja berat yang sarat dengan tantangan, hambatan atau masalah. Mengeluh merupakan tindakan lembut dari marah, yang berarti mengehendaki apa yang menyebabkan saya mengeluh atau marah jangan ada; dengan kata lain mengeluh merupakan salah satu wujud 'budaya kematian', tindakan atau perilaku yang mematikan. Maka kami mengajak segenap umat beriman atau beragama yang setia pada iman atau agamanya: hendaknya tidak mengeluh ketika menghadapi tantangan, hambatan atau masalah karena kesetiaan pada iman atau ajaran agama. Kami berharap kepada kita semua: hendaknya semakin tambah usia dan berpengalaman berarti semakin rendah hati, ingat pepatah "bulir/batang padi semakin berisi semakin menunduk".   
·   "Maka aku bertanya: Adakah Allah mungkin telah menolak umat-Nya? Sekali-kali tidak! Karena aku sendiri pun orang Israel, dari keturunan Abraham, dari suku Benyamin. Allah tidak menolak umat-Nya (Rm 11:1-2a). Allah adalah Mahakasih, maka kita sebagai umatNya dalam keadaan atau situasi apapun senantiasa akan diterima olehNya ketika kita menghadapNya dengan rendah hati. Maka ketika kita berdosa hendaknya dengan jujur mengaku dosa kepada Allah serta mohon kasih pengampunanNya, dan secara konkret juga minta kasih pengampunan dari mereka yang telah kita salahi atau sakiti karena kata-kata atau tindakan kita yang tak bermoral atau tak berbudipekerti luhur. Selanjutnya ketika kita telah menerima kasih pengampunan hendaknya juga menjadi saksi kasih pengampunan, artinya senantiasa rela dan besar mengampuni siapapun yang menyalahi atau menyakiti kita. Dengan kata lain sebagai umat Allah, entah agama atau keyakinannya apapun, kita diharapkan saling terbuka satu sama lain tanpa malu dan ragu-ragu. Maka dengan ini kami mengingatkan dan mengajak kita semua: hendaknya saling terbuka satu sama lain sungguh terjadi di dalam keluarga atau komunitas sebagai umat basis. Maka para orangtua atau bapak-ibu kami harapkan dapat menjadi teladan bagi anak-anaknya dalam saling terbuka satu sama lain. Maaf jika agak porno: para bapak-ibu, sebagai suami-isteri hendaknya tidak hanya terbuka satu sama lain secara phisik saja alias saling telanjang satu sama lain seperti saat berhubungan seksual, tetapi juga tebuka satu sama lain apa yang ada di dalam pikiran, hati maupun jiwa. Marilah kita sadari dan hayati kemurahan hati Allah dan kemudian kita salurkan kemurahan hati Allah kepada saudara-saudari kita dengan bermurah hati kepada mereka, artinya memberi perhatian kepada siapapun, terutama mereka yang kurang diperhatikan.
"Berbahagialah orang yang Kauhajar, ya TUHAN, dan yang Kauajari dari Taurat-Mu, untuk menenangkan dia terhadap hari-hari malapetaka. Sebab TUHAN tidak akan membuang umat-Nya, dan milik-Nya sendiri tidak akan ditinggalkan-Nya; sebab hukum akan kembali kepada keadilan, dan akan diikuti oleh semua orang yang tulus hati." (Mzm 94: 12-13a.14-15)
Ign 29 Oktober 2011

Rabu, 26 Oktober 2011

28 Okt


"Ia memilih dari antara mereka dua belas orang  yang disebutNya rasul"

(Ef 2:19-22; Luk 6:12-19)

"Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul: Simon yang juga diberi-Nya nama Petrus, dan Andreas saudara Simon, Yakobus dan Yohanes, Filipus dan Bartolomeus, Matius dan Tomas, Yakobus anak Alfeus, dan Simon yang disebut orang Zelot, Yudas anak Yakobus, dan Yudas Iskariot yang kemudian menjadi pengkhianat. Lalu Ia turun dengan mereka dan berhenti pada suatu tempat yang datar: di situ berkumpul sejumlah besar dari murid-murid-Nya dan banyak orang lain yang datang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem dan dari daerah pantai Tirus dan Sidon. Mereka datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka; juga mereka yang dirasuk oleh roh-roh jahat beroleh kesembuhan. Dan semua orang banyak itu berusaha menjamah Dia, karena ada kuasa yang keluar dari pada-Nya dan semua orang itu disembuhkan-Nya" (Luk 6:12-19), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berreflkesi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Simon dan St.Yudas, rasul, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   "Dipilih, dikumpulkan dan kemudian disebar", itulah jatidiri para rasul. Dikumpulkan untuk dibina dan dibekali aneka macam pengetahuan dan keterampilan yang terkait dengan Kabar Gembira serta kemudian ditugaskan untuk mewartakan Kabar Gembira yang telah diterimanya, entah sendirian atau bersama-sama. Sebagai orang beriman atau beragama kita memiliki dimensi rasuli yang harus kita hayati, maka marilah kita mawas diri sejauh mana cara hidup dan cara bertindak kita berjiwa rasuli. Salah satu bentuk kerasulan yang utama dan pertama-tama serta dapat dilakukan oleh semua orang ialah kesaksian atau keteladanan: saksi atau teladan Kabar Baik, artinya cara hidup dan cara bertindaknya senantiasa baik, membahagiakan dan menyelamatkan kapanpun dan dimanapun. Semoga pribadi kita seperti atau mendekati Yesus, dimana "semua orang banyak itu berusaha menjamah Dia, karena ada kuasa yang keluar dari padaNya dan semua orang itu disembuhkanNya". Siapapun yang melihat, mendekati dan bersama kita sebagai orang beriman atau beragama disembuhkan dari aneka penyakit, entah sakit hati, sakit jiwa, sakit akal budi atau sakit tubuhnya. Pada masa kini kiranya cukup banyak orang yang sakit hati atau sakit jiwa (mungkin belum seratus persen sakit), yang membutuhkan penyembuhan, maka marilah kita datangi mereka dengan dan dalam rendah hati serta cintakasih. Pendekatan dan kehadiran yang dijiwai oleh rendah hati dan cintakasih pasti akan menjadi warta gembira, dan mereka yang menderita sakit akan tergerak untuk sembuh. Perkenankan secara khusus kami mengingatkan para dokter dan perawat: hendaknya melaksanakan tugasnya dengan rendah hati dan cintakasih dalam rangka memeriksa dan merawat pasien.

·   "Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan" (Ef 2: 19-21). Kebetulan hari ini tanggal 28 Oktober adalah Hari Sumpah Pemuda, hari untuk mengenangkan para pemuda yang beraneka ragam suku dan bahasa menyatakan kesatuannya: satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa. Kita semua umat beriman adalah 'anggota-anggota keluarga Allah', kebersamaan hidup yang dijiwai dan dihidupi oleh Allah. Maka baiklah pada hari ini kami mengajak anda sekalian untuk mawas diri perihal wawasan kebangsaan atau kesatuan dalam keragaman atau keragaman yang bersatu, bhineka tunggal ika. Hidup bersama pada masa kini sedang dirongrong oleh kelompok radikal dengan dan melalui aneka perusakan dan kerusuhan. Kami harapkan dalam tingkat basis, paguyuban hidup bersama dalam satu desa, kampung atau rukun warga yang kiranya terdiri dari aneka macam orang, sungguh terjadi persaudaraan atau persahabatan sejati. Jika pada tingkat basis persaudaraan atau persahabatan sungguh kuat dan handal, maka dapat mengantisipasi aneka usaha yang merusak hidup bersama, yang dilakukan oleh kelompok radikal maupun orang-orang egois. "Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh", demikian kata sebuah pepatah, dan kiranya kita semua mendambakan kesatuan sejati. Kesatuan, persaudaraan atau persahabatan hidup bersama sendiri sudah bersifat rasuli, karena persaudaraan atau persahabatan sungguh memikat dan mempesona, sehingga siapapun yang melihat persaudaraan atau persahabatan hidup bersama akan tergerak untuk bersaudara atau bersahabat juga.

"Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam. Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar; tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi. Ia memasang kemah di langit untuk matahari,"

 (Mzm 19:2-5)

Ign 28 Oktober 2011


27 Okt


"Hari ini dan besok dan lusa Aku harus meneruskan perjalananKu"
(Rm 8:31b-39; Luk 13:31-35)
" Pada waktu itu datanglah beberapa orang Farisi dan berkata kepada Yesus: "Pergilah, tinggalkanlah tempat ini, karena Herodes hendak membunuh Engkau."  Jawab Yesus kepada mereka: "Pergilah dan katakanlah kepada si serigala itu: Aku mengusir setan dan menyembuhkan orang, pada hari ini dan besok, dan pada hari yang ketiga Aku akan selesai.  Tetapi hari ini dan besok dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, sebab tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak di Yerusalem.  Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti  induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi  kamu tidak mau.  Sesungguhnya rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kamu tidak akan melihat Aku lagi hingga pada saat kamu berkata:  Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!" (Luk 13:31-35), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Seorang utusan yang baik senantiasa maju terus melaksanakan tugas pengutusan atau pekerjaannya, meskipun harus menghadapi aneka ancaman, tantangan dan hambatan serta masalah. Ada rumor "maju kena mundur kena" , kiranya orang  baik dan setia pada tugas pengutusan akan memilih untuk maju terus, tidak akan menyerah dalam menghadapi ancaman, tantangan dan hambatan. Maka kami berharap kepada segenap umat beriman atau beragama untuk tetap setia melaksanakan tugas pengutusan, antara lain yang utama dan pertama-tama adalah tugas untuk menyebarluaskan apa yang baik, yang menyelamatkan dan membahagiakan, terutama keselamatan atau kebahagaian jiwa manusia. Kiranya kedatangan atau kehadiran kita dimanapun dan kapanpu hendaknya akan memperoleh komentar dari banyak orang, sebagaimana disabdakan oleh Yesus " Diberkatilah yang datang dalam nama Tuhan". Kedatangan atau kehadiran kita dimanapun dan kapanpun hendaknya 'dalam nama Tuhan', sehingga kita sungguh hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan. Hendaknya tidak hidup dan bertindak hanya mengikuti kemauan atau keinginan pribadi alias seenaknya sendiri. Ketika menghadapi ancaman, hambatan atau masalah hadapi dan sikapi 'dalam nama Tuhan' artinya bersama dengan Tuhan, maka kita akan mampu mengatasi atau menyelesaikannya. Marilah kita bangun dan perdalam keutamaan tangguh dalam diri kita. "Tangguh adalah sikap dan perilaku yang sukar dikalahkan dan tidak mudah menyerah dalam mewujudkan suatu tujuan atau cita-cita tertentu" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 27).
·   "Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia? Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka" (Rm 8:31b-33). Kita semua adalah orang yang terpilih. Ingat dan sadari bahwa masing-masing dari kita merupakan buah persatuan satu sel sperma dan satu sel telur, dimana ada jutaan sel sperma merebut satu sel telor dan kemudian bersatu, tumbuh berkembang menjadi manusia. Siapakah manusia itu? Tidak lain adalah kita semua. Dengan kata lain kita semua adalah pemenang, yang telah mengalahkan jutaan lawan lainnya, yang berarti 'Allah di pihak kita'. Jika Allah ada di pihak kita, maka kita akan mampu mengalahkan aneka ancaman, hambatan dan masalah. Aneka ancaman, hambatan atau masalah ada kemungkinan bersumber dari setan alias mengandalkan kekuatan setan, dan setan dengan mudah dikalahkan oleh Allah, maka bersama dan bersatu dengan Allah kita akan mampu melakukan apapun demi keselamatan dan kebahagiaan jiwa manusia. Bersama dan bersatu dengan Tuhan berarti senantiasa melaksanakan kehendak dan perintah Tuhan, yang antara lain tertulis di dalam Kitab Suci. Maka dengan ini kami mengajak anda sekalian untuk rajin membaca dan merenungkan apa yang tertulis di dalam Kitab Suci serta kemudian menghayatinya di dalam cara hidup dan cara bertindak setiap hari. Atau dengan rendah hati saya merelakan jika apa yang saya coba kutip dan tulis setiap hari dibaca dan diperdalam kembali atau disebarluaskan kepada teman-teman anda. Jika apa yang saya coba refleksikan baik, silahkan sebarluaskan kepada teman-teman anda.
"Tetapi Engkau, ya ALLAH, Tuhanku, bertindaklah kepadaku oleh karena nama-Mu, lepaskanlah aku oleh sebab kasih setia-Mu yang baik! Sebab sengsara dan miskin aku, dan hatiku terluka dalam diriku; Tolonglah aku, ya TUHAN, Allahku, selamatkanlah aku sesuai dengan kasih setia-Mu, supaya mereka tahu, bahwa tangan-Mulah ini, bahwa Engkaulah, ya TUHAN, yang telah melakukannya"
 (Mzm 109:21-22.26-27)
Ign 27 Oktober 2011