Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Senin, 08 Agustus 2011

10 Agustus


"Barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal"

(2Kor 9:6-10; Yoh 12:24-26)

" Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal. Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa" (Yoh 12:24-26), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Laurensius, diakon dan martir, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Tugas pekerjaan diakon pada awal Gereja Purba antara lain mengurus atau mengelola harta benda atau uang Gereja/Umat Allah guna menunjang pelayanan Gereja, entah yang bersifat 'kedalam' maupun 'keluar'; sedangkan martir adalah orang yang sungguh siap sedia untuk berkorban dan berjuang demi kebenaran atau siap mati sebagai saksi iman. Mengurus dan mengelola harta benda atau uang berarti hidup mendunia, berpartisipasi dalam seluk beluk dunia, serta dimana ada bagian dunia yang tidak selamat ke situlah pengurus atau pengelola dipanggil dan diutus untuk menyelamatkannya. Mayoritas waktu dan tenaga kita kiranya untuk mendunia, dan sebagai orang beriman kita dipanggil untuk menjadi saksi iman di dalam mendunia. Hemat saya menjadi saksi iman dalam mengurus dan mengelola harta benda atau uang dengan baik, benar, jujur dan disiplin pada masa kini merupakan salah satu bentuk penghayatan kemartiran. Semua orang kiranya senang akan harta benda atau uang, namun apakah dapat mengurus atau mengelola dengan baik, benar, jujur dan disiplin kiranya boleh dipertanyakan. "Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal", demikian sabda Yesus. Nyawa berarti yang menghidupkan dan menggairahkan. Harta benda atau uang merupakan salah satu hal yang menghidupkan dan menggairahkan; marilah kita persembahkan harta benda atau uang kita kepada Tuhan melalui sesama kita, dengan memfungsikannya demi keselamatan jiwa kita sendiri maupun jiwa sesama kita, yang hidup dan bekerja bersama kita atau yang kita layani. Mungkin ada sesuatu atau hal lain yang menghidupkan atau menggairahkan anda, baiklah hal itu juga kita persembahkan kepada Tuhan melalui pelayanan kita kepada sesama kita dimanapun dan kapanpun. Apa yang menghidupkan dan menggairahkan hendaknya dipersembahkan kepada Tuhan!

·   "Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita" (2Kor 9:6-7). Apa yang dikatakan oleh Paulus kepada umat di Korintus di atas ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita dalam menghayati iman dalam hidup sehari-hari.  Hidup, iman dan segala sesuatu yang menyertai kita atau kita miliki dan kuasai pada saat ini adalah anugerah Tuhan, yang kita terima melalui aneka bentuk kebaikan saudara-saudari kita, yang mengasihi dan memperhatikan kita. Masing-masing dari kita telah menerima anugerah Tuhan melimpah ruah, kepada kita telah ditaburkan aneka bentuk kasih dan perhatian, sehingga kita dapat hidup sebagaimana adanya pada saat ini. Marilah semuanya itu kita syukuri dengan tindakan konkret, yaitu kita fungsikan demi keselamatan jiwa kita dan jiwa saudara-saudari kita dengan menggunakan segala milik atau anugerah untuk melayani orang lain. Marilah kita berlomba dalam berbuat baik kepada orang lain. Ingat dan sadari semakin banyak kita berbuat baik kepada orang lain kita sendiri akan semakin berbagia, ceria daan damai sejahtera, karena semakin dikasihi oleh Tuhan dan sesama manusia  Kami berharap masing-masing dari kita siap sedia untuk memberi dengan kerelaan hati, sebagai perwujudan syukur dan terima kasih kita kepada Tuhan yang telah menganugerahi kita aneka macam yang kita butuhkan untuk hidup dan kerja. Memberi dengan rela hati berarti siap berkorban bagi orang lain, sebagai wujud iman kepada Yesus yang telah memberikan DiriNya dengan wafat di kayu salib. Rela hati juga berarti hatinya direlakan kepada orang lain alias senantiasa memperhatikan orang lain, terutama mereka yang miskin dan berkekurangan.

"Mujur orang yang menaruh belas kasihan dan yang memberi pinjaman, yang melakukan urusannya dengan sewajarnya. Sebab ia takkan goyah untuk selama-lamanya; orang benar itu akan diingat selama-lamanya. Ia tidak takut kepada kabar celaka, hatinya tetap, penuh kepercayaan kepada TUHAN. Hatinya teguh, ia tidak takut, sehingga ia memandang rendah para lawannya. Ia membagi-bagikan, ia memberikan kepada orang miskin; kebajikannya tetap untuk selama-lamanya, tanduknya meninggi dalam kemuliaan" (Mzm 112:5-9)

Ign 10 Agustus 2011


9 Agustus


"Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?"

(Ul 31:1-8; Mat 18:1-5.10.12-14)

" Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: "Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?" Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka.  lalu berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku." Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga. "Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? Dan Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu dari pada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang." (Mat 18:1-5.10.12-14), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Yang terbesar dalam Kerajaan Sorga alias hidup beriman dan beragama hemat saya adalah yang tersuci. Tanpa bermaksud merendahkan mereka yang memang suci atau tersuci serta terpilih menjadi gembala atau teladan umat Allah, perkenankan saya mengingatkan bahwa anak-anak kecil tentu lebih suci daripada orang-orang dewasa atau orangtuanya; dengan kata lain secara umum boleh dikatakan yang lebih muda lebih suci. Mengapa? Karena tambah usia dan pengalaman pada umumnya orang juga bertambah dosa dan kekurangan, itulah kenyataan yang terjadi. "Barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga", demikian sabda Yesus. Sifat atau cirikhas anak kecil antara lain: ceria, gembira, dinamis, terbuka, menyerahkan diri kepada orang lain lebih-lebih yang mengasihi alias rendah hati, dst.. Dari sifat atau cirikhas anak kecil ini kiranya yang baik kita hayati adalah rendah hati. "Rendah hati adalah sikap dan perilaku yang tidak suka menonjolkan dan menomorsatukan diri, yaitu dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun pada kenyataannya lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan dirinya" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Kerendahan hati adalah keutamaan yang paling utama dan dasar, maka jika kita ingin menjadi besar dan terhormat hendaknya hidup dan bertindak dengan rendah hati kapanpun dan dimanapun. Marilah kita meneladan serta mendukung para gembala kita, para uskup dan paus, yang senantiasa berusaha untuk rendah hati dalam melaksanakan tugas pengutusan dan menghayati panggilannya. Kami berharap kepada para orangtua untuk sedini mungkin mendidik anak-anaknya untuk rendah hati, dan jika perlu sebenarnya orangtua dapat 'belajar dari' anak-anak, yang rendah hati serta tidak pernah marah alias melecehkan orang lain.

·   "Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkau akan masuk bersama-sama dengan bangsa ini ke negeri yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyang mereka untuk memberikannya kepada mereka, dan engkau akan memimpin mereka sampai mereka memilikinya. Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati."(Ul 31:7-8), demikian kata Musa, yang telah lansia dan tidak lama lagi dipanggil Tuhan, kepada Yosua, yang harus melanjutkan tugas Musa dalam memimpin bangsanya menuju 'tanah terjanji'. Kutipan ini hendaknya juga menjadi kata-kata orangtua atau generasi tua kepada anak-anaknya atau generasi muda. Dengan kata lain 'regenerasi' hendaknya diperhatikan dalam perjalanan hidup dan tugas. Secara khusus kami ingatkan kepada kita semua: marilah ketika kita menerima tugas pindah tugas atau pension dari pembesar segera kita laksanakan. Kepada orangtua atau generasi tua hendaknya jangan segan-segan memberi kesempatan kepada anak-anak atau generasi muda tugas-tugas yang diembannya untuk diteruskan. Saya prribadi merasa bersyukur dan berterima kasih sebagai imam Yesuit sejak ditahbiskan diberi kesempatan untuk belajar melayani dengan rendah hati, baik sebagai Direktur Perkumpulan Strada di Jakarta maupun Ekonom Keuskupan Agung Semarang. Kepada rekan-rekan generasi muda kami harapkan dengan rendah hati, terbuka dan siap sedia ketika diberi tugas penting oleh pembesar; hayati tugas tersebut sebagai pembelajaran: jiwailah kerja dan usaha anda dengan semangat belajar terus menerus.

"Ingatlah kepada zaman dahulu kala, perhatikanlah tahun-tahun keturunan yang lalu, tanyakanlah kepada ayahmu, maka ia memberitahukannya kepadamu, kepada para tua-tuamu, maka mereka mengatakannya kepadamu. Ketika Sang Mahatinggi membagi-bagikan milik pusaka kepada bangsa-bangsa, ketika Ia memisah-misah anak-anak manusia, maka Ia menetapkan wilayah bangsa-bangsa menurut bilangan anak-anak Israel. Tetapi bagian TUHAN ialah umat-Nya, Yakub ialah milik yang ditetapkan bagi-Nya" (Ul 32:7-9)

Ign 9 Agustus 2011


Minggu, 07 Agustus 2011

8 Agustus


"Jangan kita menjadi batu sandungan bagi mereka"

(Ul 10:12-22; Mat 17:22-27)

" Pada waktu Yesus dan murid-murid-Nya bersama-sama di Galilea, Ia berkata kepada mereka: "Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan." Maka hati murid-murid-Nya itu pun sedih sekali. Ketika Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Kapernaum datanglah pemungut bea Bait Allah kepada Petrus dan berkata: "Apakah gurumu tidak membayar bea dua dirham itu?" Jawabnya: "Memang membayar." Dan ketika Petrus masuk rumah, Yesus mendahuluinya dengan pertanyaan: "Apakah pendapatmu, Simon? Dari siapakah raja-raja dunia ini memungut bea dan pajak? Dari rakyatnya atau dari orang asing?" Jawab Petrus: "Dari orang asing!" Maka kata Yesus kepadanya: "Jadi bebaslah rakyatnya. Tetapi supaya jangan kita menjadi batu sandungan bagi mereka, pergilah memancing ke danau. Dan ikan pertama yang kaupancing, tangkaplah dan bukalah mulutnya, maka engkau akan menemukan mata uang empat dirham di dalamnya. Ambillah itu dan bayarkanlah kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu juga."(Mat 17:22-27), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Dominikus, imam, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   St.Dominikus dikenal sebagai pengkotbah ulung dalam mewartarkan kabar baik atau ajaran-ajaran Yesus. Ia tidak takut terhadap ancaman dan terror pembunuhan, yang diarahkan kepadanya. Dalam hidup dan kerja bersama kita memiliki aneka tata tertib atau aturan yang harus ditaati atau dilaksanakan agar hidup dan kerja bersama berjalan baik, sebagaimana dikehendaki oleh Tuhan, misalnya dalam membayar pajak maupun mengelola atau mengurus pajak. Para pengelola atau pengurus maupun pembayar pajak yang benar pada masa kini sering menerima ancaman atau terror untuk disingkirkan. Para pengelola atau pengurus pajak kebanyakan tidak jujur alias korupsi dan dengan demikian menjadi batu sandungan bagi warga masyarakat untuk membayar pajak dengan jujur. Kami berharap para pejabat atau petugas pemerintahan atau hidup bersama dimanapun dan kapanpan, yang berpengaruh dalam hidup bersama tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain untuk berbuat jahat atau melakukan yang tidak baik dan tidak benar. "Jangan kita menjadi batu sandungan bagi mereka", demikian sabda Yesus kepada para rasul. Semoga segenap umat Katolik atau Kristen yang beriman kepada Yesus Kristus tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain, sehingga mereka berbuat jahat, melainkan hendaknya menjadi teladan dalam melaksanakan tata tertib hidup bersama seperti membayar pajak. Ingatlah dan sadari bahwa hidup bersama di negara manapun tergantung dari pajak; semakin tertib, jujur, disiplin dalam pengelolaan dan pembayaran pajak akan semakin damai dan sejahtera warga negara yang bersangkutan. Kami berharap kepada mereka yang kaya akan harta benda atau uang menyadari bahwa kekayaan atau uangnya berasal dari rakyat, maka hendaknya juga dikembalikan kepada rakyat antara lain dengan tertib, disiplin dan jujur membayar pajak , tentu saja hal ini juga harus didukung oleh para pengelola atau pengurus pajak, yang mewakili rakyat.

·   "Apakah yang dimintakan dari padamu oleh TUHAN, Allahmu, selain dari takut akan TUHAN, Allahmu, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, mengasihi Dia, beribadah kepada TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, berpegang pada perintah dan ketetapan TUHAN yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, supaya baik keadaanmu" (Ul 10:12-13). Sebagai orang beriman kita semua dipanggil untuk "takut akan Tuhan, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkanNya, mengasihi Dia, beribadah kepada Tuhan dengan segenap hati dan segenap jiwa, berpegang pada perintah dan ketetapan Tuhan' , agar keadaan kita senantiasa baik adanya. Saya kira tak seorang pun dari kita yang tidak menghendaki keadaan diri kita baik, kita semuanya mendambakan diri kita senantiasa baik adanya. Maka marilah kita menuntut diri kita masing-masing untuk senantiasa mentaati dan melaksanakan perintah dan ketetapan Tuhan, yang antara lain diterjemahkan kedalam aneka tata tertib yang terkait dengan hidup , panggilan dan tugas pekerjaan kita masing-masing. Melaksanakan atau menghayati tata tertib dengan segenap hati dan segenap jiwa berarti kita sungguh-sungguh menghayati alias tidak bersandiwara, hanya menghayati ketika dilihat orang lain untuk dipuji. Tuhan Maha Tahu dan tak dapat ditipu, maka sebagai orang yang beriman kepada Tuhan hendaknya senantiasa menghayati aneka tata tertib dengan jujur, disiplin dan benar, meskipun tidak dilihat oleh orang lain. Orang yang hanya mencari pujian orang lain berarti orang murahan, tak berkwalitas. Entah dilihat atau tidak dilihat orang lain hendaknya kita tetap jujur, disiplin dan benar dalam melaksanakan atau menghayati tata tertib, jika kita mendambakan diri sebagai orang yang cerdas secara spiritual maupun baik adanya kapanpun dan dimanapun. Jangan cari muka atau bersandiwara dalam mentaati dan melaksanakan aneka tata tertib.

"Megahkanlah TUHAN, hai Yerusalem, pujilah Allahmu, hai Sion! Sebab Ia meneguhkan palang pintu gerbangmu, dan memberkati anak-anakmu di antaramu. Ia memberikan kesejahteraan kepada daerahmu dan mengenyangkan engkau dengan gandum yang terbaik. Ia menyampaikan perintah-Nya ke bumi; dengan segera firman-Nya berlari"

(Mzm 147:12-15)

Ign 8 Agustus 2011