Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Selasa, 12 April 2011

13 April - Dan 3:14-20.24-25.28; Yoh 8:31-42

"Bapa kami ialah Abraham."

(Dan 3:14-20.24-25.28; Yoh 8:31-42)


"Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." Jawab mereka: "Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapa pun. Bagaimana Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?" Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah. Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka."."Aku tahu, bahwa kamu adalah keturunan Abraham, tetapi kamu berusaha untuk membunuh Aku karena firman-Ku tidak beroleh tempat di dalam kamu. Apa yang Kulihat pada Bapa, itulah yang Kukatakan, dan demikian juga kamu perbuat tentang apa yang kamu dengar dari bapamu." Jawab mereka kepada-Nya: "Bapa kami ialah Abraham." Kata Yesus kepada mereka: "Jikalau sekiranya kamu anak-anak Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham. Tetapi yang kamu kerjakan ialah berusaha membunuh Aku; Aku, seorang yang mengatakan kebenaran kepadamu, yaitu kebenaran yang Kudengar dari Allah; pekerjaan yang demikian tidak dikerjakan oleh Abraham. Kamu mengerjakan pekerjaan bapamu sendiri." Jawab mereka: "Kami tidak dilahirkan dari zinah. Bapa kami satu, yaitu Allah." Kata Yesus kepada mereka: "Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku" (Yoh 8:31-42),demikian kutipan Warta Gembira hari ini. .

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:


·   Ketegangan antara Yesus dengan orang-orang Yahudi yang tidak percaya kepadaNya semakin meruncing. Dalam kisah hari ini terjadi ketegangan perihal 'keturunan Abraham' yang berarti sungguh beriman dan tidak pernah berdosa alias bebas merdeka, tidak tertindas oleh setan. Abraham dikenal sebagai bapa umat beriman yang setia dan taat kepada kehendak Tuhan sepenuhnya, maka siapapun yang mengaku sebagai keturunan Abraham hendaknya setia kepada kehendak Tuhan, yang secara konkret berarti setia pada panggilan dan tugas pengutusan. Maka dengan ini kami mengajak anda sekalian untuk mawas diri: apakah setelah mengarungi kegiatan Prapaskah sampai kini kita semakin setia sebagaimana Yesus setia pada tugas pengutusanNya atau kurang setia/beriman seperti orang-orang Yahudi. Baiklah jika kita kurang atau tidak setia dalam panggilan, tugas pengutusan atau beriman, dengan rendah hati mohon kasih pengampunan Tuhan, antara lain memanfaat-kan kesempatan untuk mengaku dosa di gereja atau kapel. Apakah kita juga hanya secara formalitas atau liturgis saja menghayati iman atau agama kita masing-masing, misalnya mengaku Kristen atau Katolik, tetapi tidak setia apa ajaran-ajaran Yesus atau kehendak Tuhan dalam hidup sehari-hari, yang menjadi nyata dalam cara hidup dan cara bertindak? Apakah kita setia pada janji baptis kita: hanya mau mengabdi Tuhan Allah saja serta menolak semua godaan setan? Apakah kita semakin bersahabat atau bersitegang dengan saudara-saudari kita dst..?


·   "Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu."(Dan 3:17-18), demikian jawaban Sadrakh, Mesakh dan Abednego terhadap raja Nebukadnezar  Mereka akhirnya memang dicampakkan ke dalam api, yang diharapkan membakar mereka sampai jadi abu. Namun karena mereka orang benar Tuhan melindungi mereka melalui malaikatNya, sehingga mereka tak terbakar, terlepas dari api yang membara. Maka baiklah kami mengingatkan dan mengajak kita semua umat beriman, hendaknya tidak takut menghadapi aneka ancaman yang ingin merongrong iman kita dan percayalah bersama dan bersatu dengan Tuhan kita pasti akan mampu mengatasi aneka ancaman. Sebaliknya jika ada berbakti kepada berhala-berhala atau ciptaan Tuhan maupun karya manusia di bumi ini, maka anda dengan mudah dihancurkan atau jatuh ke dalam penderitaan yang tak kunjung henti. Hendaknya kita tidak perlu takut dan gentar menghadapi aneka gertakan dari mereka yang berkuasa. Kita semakin mendekati Minggu Suci, minggu untuk mengenangkan persembahan diri total Yesus demi kebahagiaan kita semua, maka baiklah kita juga mempersiapkan diri memasuki minggu suci yang akan datang dengan mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan melalui pelayanan kita kepada sesama atau saudara-saudari kita.

 

"Terpujilah Engkau, Tuhan, Allah nenek moyang kami, yang patut dihormati dan ditinggikan selama-lamanya. terpujilah nama-Mu yang mulia dan kudus, yang patut dihormat dan ditinggikan selama-lamanya. Terpujilah Engkau dalam Bait-Mu yang mulia dan kudus, Engkau patut dinyanyikan dan dimuliakan selama-lamanya. Terpujilah Engkau di atas takhta kerajaan-Mu, Engkau patut dinyanyikan dan ditinggikan selama-lamanya. Terpujilah Engkau yang mendugai samudera raya dan bersemayam di atas kerub-kerub, Engkau patut dihormat dan ditinggikan selama-lamanya.Terpujilah Engkau di bentangan langit, Engkau patut dinyanyikan dan dimuliakan selama-lamanya" (Dan 3:52-56)

 

Jakarta, 13 April 2011


Senin, 11 April 2011

12 April - Bil 21:4-9; Yoh 8:21-30

"Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepadaNya."

(Bil 21:4-9; Yoh 8:21-30)

 

"Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak: "Aku akan pergi dan kamu akan mencari Aku tetapi kamu akan mati dalam dosamu. Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang." Maka kata orang-orang Yahudi itu: "Apakah Ia mau bunuh diri dan karena itu dikatakan-Nya: Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang?" Lalu Ia berkata kepada mereka: "Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini. Karena itu tadi Aku berkata kepadamu, bahwa kamu akan mati dalam dosamu; sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu." Maka kata mereka kepada-Nya: "Siapakah Engkau?" Jawab Yesus kepada mereka: "Apakah gunanya lagi Aku berbicara dengan kamu? Banyak yang harus Kukatakan dan Kuhakimi tentang kamu; akan tetapi Dia, yang mengutus Aku, adalah benar, dan apa yang Kudengar dari pada-Nya, itu yang Kukatakan kepada dunia." Mereka tidak mengerti, bahwa Ia berbicara kepada mereka tentang Bapa. Maka kata Yesus: "Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu, bahwa Akulah Dia, dan bahwa Aku tidak berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri, tetapi Aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepada-Ku. Dan Ia, yang telah mengutus Aku, Ia menyertai Aku. Ia tidak membiarkan Aku sendiri, sebab Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepada-Nya." Setelah Yesus mengatakan semuanya itu, banyak orang percaya kepada-Nya" (Yoh 8:21-30), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Orang yang tidak percaya memang sulit atau tak mungkin dapat memahami kata-kata orang lain yang kepadanya mereka tidak percaya. Itulah yang terjadi di antara orang-orang Yahudi ketika Yesus berkata "Aku akan pergi dan kamu akan mencari Aku tetapi kamu akan mati dalam dosamu. Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang".  Orang-orang Yahudi mengira Yesus mau bunuh diri setelah menghadapi aneka jebakan dari para ahli Taurat dan orang Farisi untuk dibunuh. Yesus akan pergi untuk menuntaskan tugas pengutusanNya dengan mempersembahkan diri wafat di kayu salib, sesuai dengan kehendak Dia yang mengutusNya. "Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu, bahwa Akulah Dia, dan bahwa Aku tidak berbuat apa-apa dari diriKu sendiri, tetapi Aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepadaKu. Dan Ia yang telah mengutus Aku, Ia menyertai Aku, Ia tidak membiarkan Aku sendiri ,sebab Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepadaNya", demikian penjelasan Yesus kepada mereka. Kami mengajak dan mengingatkan anda sekalian untuk meneladan Yesus, yaitu 'pergi' untuk melaksanakan tugas pengutusan yang diserahkan kepada kita masing-masing, artinya dengan sepenuh hati menghayati panggilan atau mengerjakan aneka tugas dan kewajiban, siap sedia untuk mengorbankan diri demi keselamatan atau kebahagiaan umum/bersama.

·   "Buatlah ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup."(Bil 21:8), demikian perintah Allah kepada Musa demi keselamatan bangsanya yang sedang dalam perjalanan menuju Tanah Terjanji. "Ular tedung"  tidak lain adalah menunjuk pada Yesus yang tergantung di kayu salib, maka baiklah kita semua yang sedang dalam perjalanan menghayati panggilan atau melaksanakan tugas pengutusan ketika merasa lelah, putus asa dst.. hendaknya memandang Dia yang tergantung di kayu salib alias tatap dan pandanglah dengan sepenuh hati salib yang ada di depan anda. Ingatlah dan sadari bahwa pengorbanan dan penderitaan yang anda alami selama ini tidak sebanding atau tak seberapa jika dibandingkan dengan pengorbanan Yesus di kayu salib. Percayalah jika anda berani memandang Yang Tersalib dengan sepenuh hati pasti akan bergairah kembali dalam menghayati panggilan atau melaksanakan aneka tugas pengutusan. Dengan kata lain ketika mengawali panggilan atau melaksanakan tugas pengutusan buatlah tanda salib sambil berkata "Dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus'. Hayati panggilan dan laksanakan aneka tugas pengutusan dalam nama Tuhan, dan dengan demikian anda pasti akan tetap bergairah dan dinamis ketika harus menghadapi aneka tantangan, masalah atau hambatan dalam rangka setia pada panggilan dan tugas pengutusan. Untuk itu ada kemungkinan akan hancur untuk sementara, tetapi akan mujur untuk selamanya. Mengimani Yang Tersalib berarti mati dalam hal dosa dan hidup dalam Tuhan, dalam kesetiaan melaksanakan aneka tata tertib yang terkait dengan panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing.

 

"Maka bangsa-bangsa menjadi takut akan nama TUHAN, dan semua raja bumi akan kemuliaan-Mu, bila TUHAN sudah membangun Sion, sudah menampakkan diri dalam kemuliaan-Nya, sudah berpaling mendengarkan doa orang-orang yang bulus, dan tidak memandang hina doa mereka. Biarlah hal ini dituliskan bagi angkatan yang kemudian, dan bangsa yang diciptakan nanti akan memuji-muji TUHAN, sebab Ia telah memandang dari ketinggian-Nya yang kudus, TUHAN memandang dari sorga ke bumi"

 (Mzm 102:16-20)

 

Jakarta, 12 April 2011


Minggu, 10 April 2011

11 April - Dan 13:41c-62; Yoh 8:1-11

"Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu."

(Dan 13:41c-62; Yoh 8:1-11)

"Yesus pergi ke bukit Zaitun. Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka. Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?" Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah. Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah. Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?" Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang."(Yoh 8:1-11), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Pagi-pagi di Bait Allah alias di tempat beribadat ingin menjebak Yesus, itulah yang dilakukan para ahli Taurat dan orang Fairisi dengan berkata kepada Yesus:"Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?".  Yesus sungguh cerdas menanggapi jebakan tersebut dan Ia menjawab mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu". Mendengar jawaban tersebut mereka berreaksi dengan pergi, meninggalkan Yesus dan  perempuan tersebut, mulai dari yang tertua. Jawaban Yesus menyadarkan mereka bahwa mereka juga orang berdosa, dan semakin tua atau tambah usia berarti semakin tambah dosa dan kekurangannya. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan kita semua untuk tidak dengan mudah menyalahkan atau  melecehkan orang lain, serta secara khusus mengajak dan mengingatkan mereka yang sudah tua atau lebih tua untuk dengan rendah hati menyadari dan mengakui dosa-dosanya. Sabda hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua untuk lebih menghormati dan menghargai mereka yang lebih muda dari kita, antara lain lebih memberi kesempatan dan kemungkinan untuk tumbuh berkembang atau memberi fungsi dalam kehidupan bersama. Mereka yang lebih tua atau lanjut usia hendaknya rela mengundurkan diri dan memberi kesempatan yang lebih muda untuk menggantinya.


·   "Sesuai dengan Taurat Musa kedua orang itu dibunuh. Demikian pada hari itu diselamatkan darah yang tak bersalah" (Dan 13:62), demikian kesimpulan sekitar masalah Susana yang dituduh berselingkuh, padahal ia tidak melakukannya. Senjata makan tuan, itulah yang terjadi dengan dua lelaki tua yang mengajukan tuduhan palsu kepada Susana. Kisah ini kiranya baik menjadi bahan permenungan bagi para lelaki, yang juga dengan mudah sering menuduh rekan-rekan perempuan sebagai sumber dosa, padahal sang lelaki sendiri yang tak mungkin mengendalikan nafsu bejatnya. Dengan kata lain kami berharap rekan-rekan laki-laki untuk menghormati dan menjunjung tinggi rekan-rekan perempuan; ingatlah dan sadari bahwa kita semua pernah dikandung, dilahrkan dan dibina dengan penuh cintakasih oleh seorang perempuan, yaitu ibu kita masing-masing, maka menuduh atau melecehkan perempuan berarti melecehkan ibu kita masing-masing. Para lelaki ketika melihat perempuan cantik dan mempesona, hendaknya tergerak untuk memuji dan memuliakan Tuhan, bukan membiarkan nafsu untuk memperkosanya atau melecehkannya. Hendaknya juga disadari dan dihayati bahwa rekan-rekan perempuan terpaksa harus melacurkan diri alias menjadi wanita simpanan karena kebejatan kaum laki-laki; mereka menjadi korban nafsu seksual laki-laki yang tak bertanggungjawab -> memandang dan menyikapi rekan perempuan sebagai pemuas nafsu seksual belaka, bukan sebagai citra atau gambar Tuhan. Dengan ini juga kami mengingatkan para orangtua untuk sungguh memperhatikan anak-anaknya jangan sampai terjebak pada pemuasan nafsu seksual belaka. Kepada kita semua kami ajak dan ingatkan untuk menyadari diri sebagai yang berdosa yang telah menerima kasih pengampunan Tuhan secara melimpah ruah. 

 

"TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah" (Mzm 23:1-5).

Jakarta, 11 April 2011