Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Rabu, 19 Januari 2011

19 Jan - Ibr 7:1-3.15-17; Mrk 3:1-6

"Berbuat baik atau berbuat jahat"

(Ibr 7:1-3.15-17; Mrk 3:1-6)

 

"Kemudian Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang mati sebelah tangannya. Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. Kata Yesus kepada orang yang mati sebelah tangannya itu: "Mari, berdirilah di tengah!" Kemudian kata-Nya kepada mereka: "Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?" Tetapi mereka itu diam saja. Ia berdukacita karena kedegilan mereka dan dengan marah Ia memandang sekeliling-Nya kepada mereka lalu Ia berkata kepada orang itu: "Ulurkanlah tanganmu!" Dan ia mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu. Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera bersekongkol dengan orang-orang Herodian untuk membunuh Dia."(Mrk 3:1-6), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Berbagai suku bangsa di dunia ini masih berpegang teguh pada suatu tradisi yang kuat, misalnya masalah hari baik dan hari buruk. Untuk melangsungkan pernikahan harus hari ini dan jam itu, dan tak mungkin dilangsung-kan pada hari lain, itulah salah satu contoh yang sering saya hadapi dan dengar. Begitulah yang mirip dialami oleh orang-orang Farisi, yang berpegang teguh pada hari Sabat, bahwa pada hari Sabat tidak boleh melakukan sesuatu termasuk membantu mereka yang sedang dalam penderitaan. Maka ketika Yesus menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat mereka berusaha menyalahkanNya, dan Ia berkata kepada mereka:"Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?". Semua yang diciptakan oleh Allah baik adanya, termasuk hari-hari  dan jam-jam yang kita arungi, maka baiklah asal kita berbuat baik hendaknya tidak takut terhadap aneka omongan, cemoohan atau ejekan dari orang-orang yang bersifat kolot atau irihati atas perbuatan baik kita. Kapanpun dan dimanapun kita dapat berbuat baik kepada saudara-saudari kita, demi keselamatan dan kebahagiaan jiwa mereka. Keselamatan atau kebahagiaan jiwa mengatasi aneka macam aturan, tata tertib maupun tradisi.   Dengan kata lain hendaknya keselamatan atau kebahagiaan jiwa manusia senantiasa menjadi barometer atau pedoman cara hidup dan cara bertindak kita. Kami sungguh prihatian dengan kasus organisasi sepakbola dimana PSSI mau memonopoli persebakbolaan di Indonesia dan tidak mendukung kelompok lain mengembangkan persebakbolaan. Hemat saya dibalik kebijakan tersebut ada kepentingan politik dari para tokoh politik dalam rangka mengantisipasi pemilu yang akan datang. Mereka bagaikan 'orang-orang Herodian dan Farisi' yang bersekongkol untuk membasmi perbuatan-perbuatan baik di negeri ini.

·   "Ia tidak berbapa, tidak beribu, tidak bersilsilah, harinya tidak berawal dan hidupnya tidak berkesudahan, dan karena ia dijadikan sama dengan Anak Allah, ia tetap menjadi imam sampai selama-lamanya"(Ibr 7:3), demikian sedikit keterangan perihal Melkisedek, imam agung Allah.  Seorang imam adalah "penyalur" rahmat atau berkat Allah kepada sesamanya dan dan dambaan atau kerinduan sesamanya kepada Allah; tanpa pandang bulu ia melayani umat Allah, orang-orang yang beriman kepada Allah. Hidup dan bertindak berdasarkan iman mengatasi aneka aturan, tata tertib atau kebijakan yang dibuat oleh manusia. Panggilan imamat di dalam Gereja Katolik juga berlangsung sampai selama-lamanya, artinya sampai imam yang bersangkutan mati atau meninggal dunia. Memang para imam masa kini tidak dijadikan sama dengan Anak Allah, namun demikian diharapkan dengan segala kerendahan hati serta bantuan rahmat Allah berusaha untuk senantiasa hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Allah, sehingga layak disebut sebagai penyalur rahmat atau berkat Allah maupun doa, dambaan dan kerinduan umat kepada Allah. Dengan kata lain tugas panggilan seorang imam memang berat dan mulia, maka dengan ini kami mendambakan anda semua untuk mendukung dan mendoakannya agar para imam setia pada panggilannya sampai dipanggil Tuhan. Kepada rekan-rekan imam kami harapkan untuk senantiasa berbuat baik kepada siapapun dan dimanapun, tanpa pandang bulu atau SARA. Dan marilah kita hayati imamat ini sungguh sebagai panggilan, sehingga bagaikan wanita panggilan yang senantiasa berusaha membahagiakan yang memanggil, demikian halnya sebagai imam dipanggil untuk senantiasa membahagiakan umat yang harus dilayani. Imam berasal dari umat dan kembali kepada umat. Marilah pada pekan dosa sedunia untuk persatuan umat Kristen ini kita saling mendoakan agar kita setia pada panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing.

 

"Demikianlah firman TUHAN kepada tuanku: "Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu." Tongkat kekuatanmu akan diulurkan TUHAN dari Sion: memerintahlah di antara musuhmu! Pada hari tentaramu bangsamu merelakan diri untuk maju dengan berhiaskan kekudusan; dari kandungan fajar tampil bagimu keremajaanmu seperti embun."(Mzm 110:1-3)

Jakarta, 19 Januari 2011     


Senin, 17 Januari 2011

18 Jan - Ibr 6:10-20; Mrk 2:23-28

"Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat"

(Ibr 6:10-20; Mrk 2:23-28)


"Pada suatu kali, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum. Maka kata orang-orang Farisi kepada-Nya: "Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?" Jawab-Nya kepada mereka: "Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu -- yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam -- dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya?" Lalu kata Yesus kepada mereka: "Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat."(Mrk 2:23-28), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Entah ada berapa ribu aturan atau tata tertib yang diundangkan atau diberlakan di Negara kita, kiranya tak ada seorangpun yang hafal. Sampai saat ini lembaga yang bertugas membuat aturan atau tata tertib masih terus berjalan, entah membuat yang baru atau memperbaharui yang lama, padahal yang ada belum dilaksanakan sepenuhnya. Bahkan aneka aturan dan tata tertib difungsikan untuk menghancurkan orang lain dan mencari keuntungan diri sendiri atau kelompoknya, dengan kata lain manusia menjadi korban pelaksanaan tata tertib atau aturan yang tidak benar dan tidak adil. "Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat", demikian sabda peringatan Yesus. Peraturan atau tata tertib untuk manusia bukan manusia untuk tata tertib atau peraturan; hemat saya semakin banyak aturan atau tata tertib berarti manusia kurang dewasa kepribadiannya. Marilah kita sikapi aneka tata tertib dan peraturan untuk keselamatan dan kebahagiaan manusia, sehingga ketika kita mentaati atau melaksanakan aturan dan tata tertib bukan lagi beban melainkan kebutuhan dan lama-kelamaan aneka tata tertib dan aturan telah menyatu dalam diri kita, sehingga kita tidak merasa diatur lagi, melainkan mengatur diri. Dengan kata lain kami mengajak dan mengingatkan kita semua untuk membiasakan mengatur diri sebaik mungkin, karena ketika kita terbiasa mengatur diri dengan baik maka aneka aturan dan tata tertib bukan lagi menjadi beban, melainkan kebutuhan, aturan dan tata tertib sungguh untuk manusia. Salah satu contoh konkret yang perlu kita usahakan dan sebarluaskan pada masa kini adalah perihal 'sampah': hendaknya membuang sampah pada tempatnya, agar kita tidak menjadi korban sampah.


·   "Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir, di mana Yesus telah masuk sebagai Perintis bagi kita"(Ibr 6:19-20)  Pengharapan hendaknya menjiwai sikap kita terhadap aneka aturan dan tata tertib, yang terkait dengan hidup dan panggilan kita masing-masing. Dengan kata dengan bergairah dan dinamis kita mempelajari, menyikapi dan melaksanakan aneka aturan atau tata tertib. Ingat dan hayati bahwa cintakasih menjiwai aneka aturan dan tata tertib, artinya aturan atau tata tertib diusahakan dalam cintakasih dengan tujuan mewujudkan dan memperdalam cintakasih. Maka cintakasih hendaknya menjadi barometer atau pedoman pelaksanaan aneka aturan dan tata tertib. Jika dalam dan dengan cintakasih kita menghayati aneka aturan dan tata tertib, maka berarti dengan bergairah kita melaksanakan aturan dan tata tertib serta kita semakin digairahkan dalam mencinta. Tanda orang berpengharapan memang gairah, yang juga menunjukkan bahwa jiwanya dalam keadaan sehat dan segar. Kepada para penegak dan pejuang pelaksanaan aneka aturan dan tata tertib kami harapkan tetap mengutamakan keselamatan jiwa manusia, maka para penegak hukum hendaknya berpedoman pada keadilan, dan keadilan yang paling menadasar adalah hormat terhadap harkat martabat manusia, yang diciptakan sesuai dengan gambar atau citra Tuhan. Ketidak-adilan dalam penegakan hukum di pengadilan dan pemerintahan telah menimbulkan ketidak-percayaan banyak orang pada aturan dan tata tertib, sehingga mereka melanggar aneka tata tertib dan aturan seenaknya tanpa memperhatikan keselamatan jiwa, entah jiwanya sendiri maupun jiwa orang lain. Semoga mereka yang berpengaruh dalam pelaksanaan aturan dan tata tertib sungguh berpedoman pada cintakasih dan keadilan; semoga tidak menjadikan manusia sebagai korban pelaksanaan hukum yang tidak adil. Ingat juga bahwa hari ini adalah 'Pembukaan Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan umat Kristiani", maka semoga umat Kristiani mengusahakan dan memperdalam kesatuan dalam pelaksanaan aneka aturan dan tata tertib.

 

"Haleluya! Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hati, dalam lingkungan orang-orang benar dan dalam jemaah. Besar perbuatan-perbuatan TUHAN, layak diselidiki oleh semua orang yang menyukainya. Perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib dijadikan-Nya peringatan; TUHAN itu pengasih dan penyayang. Diberikan-Nya rezeki kepada orang-orang yang takut akan Dia. Ia ingat untuk selama-lamanya akan perjanjian-Nya."(Mzm 111:1-2.4-5)

 

Jakarta, 18 Januari 2011

           


Minggu, 16 Januari 2011

17Jan - Ibr 5:1-10; Mrk 2:18-22

"Anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula."

(Ibr 5:1-10; Mrk 2:18-22)

 

"Pada suatu kali ketika murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi sedang berpuasa, datanglah orang-orang dan mengatakan kepada Yesus: "Mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?" Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sedang mempelai itu bersama mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa. Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabiknya, yang baru mencabik yang tua, lalu makin besarlah koyaknya. Demikian juga tidak seorang pun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula." (Mrk 2:18-22), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Antonius, Abas, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Ketika dibaptis pada umumnya orang mengenakan pakaian putih yang masih baru dan bersih, ketika memasuki hidup baru sebagai suami-isteri alias sedang melangsungkan upacara pernikahan pada umumnya sang penganten berpakaian baru, menarik dan menawan serta memikat, dst.. Pakaian-pakaian tersebut menjadi symbol atau tanda bahwa yang bersangkutan berkehendak untuk menempuh cara hidup baru sesuai dengan panggilannya. "Anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula", demikian pesan atau sabda Yesus. Sabda hari ini kiranya mengingatkan kita semua yang telah dibaptis agar setia dan taat menghayati janji baptis yang pernah kita ikhrarkan, dimana kita berjanji 'hanya mau mengabdi Tuhan Allah saja serta menolak semua godaan setan' alias hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan. Semua kehendak Tuhan kiranya dapat dipadatkan dalam perintah untuk hidup saling mengasihi satu sama lain, maka marilah kita senantiasa saling mengasihi kapanpun dan dimanapun serta dengan siapapun, tanpa pandang bulu atau SARA.  Jika kita tidak hidup saling mengasihi hendaknya 'berpuasa' alias matiraga, yaitu dengan rendah hati belajar mengendalikan raga atau anggota tubuh agar senantiasa bergerak untuk mengasihi. Contoh konkret antara lain mereka yang berada di penjara atau Lembaga Pemasyarakatan yang dibatasi geraknya. Dalam pembatasan gerak tersebut mereka dilatih untuk mengendalikan raga atau anggota tubuh agar bergerak mengasihi. Kami berharap para bapak-ibu atau orangtua dapat menjadi teladan dalam 'hidup baru', hidup saling mengasihi baik dalam untung maupun malang, sehat maupun sakit sampai mati.


·   "Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan."(Ibr  5:7), demikian info perihal hidup Imam Agung. Sebagai orang beriman kita memiliki panggilan imamat umum, maka marilah kutipan di atas ini kita renungkan. Dengan kesalehan kita dipanggil untuk senantiasa 'mempersembahkan doa dan permohonan bagi orang-orang berdosa atau jahat agar bertobat'. Jika kita jujur mawas diri kiranya kita semua juga mengakui diri sebagai yang berdosa atau jahat, maka baiklah jika kita saling mendoakan satu sama lain. Di dalam Perayaan Ekaristi atau Ibadat Sabda ada bagian doa umat, yang berisi emapt ujud yaitu : berdoa bagi para pemimpin bangsa atau Negara, berdoa bagi para pemimpin agama, berdoa bagi mereka yang miskin dan berkekurangan, berdoa bagi diri kita yang lemah dan rapuh ini. Maka berdoa juga berdimensi missioner, dimana kita mendoakan orang lain yang sungguh membutuhkan doa-doa kita. Para pemipin kita doakan agar mereka melayani rakyat atau anggotanya dengan baik, sehingga seluruh rakyat atau anggota hidup dalam damai sejahtera, sehat wal-afiat dan selamat baik lahir maupun batin. Mereka yang miskin dan berkekurangan kita doakan agar mereka menghayati kemiskinan dan kekurangannya dalam Tuhan alias membuka diri terhdap aneka bantuan atau pertolongan orang lain, dan tentu saja kita sekaligus berdoa agar banyak orang memperhatikan mereka yang miskin dan berkekurangan. Doa-berdoa hemat saya juga merupakan salah satu cara hidup baru, sebagai wujud bahwa kita percaya kepada Tuhan atau Penyelenggaraan Ilahi. Doa-berdoa kiranya juga merupakan cirikhas cara hidup para anggota lembaga hidup bakti kontemplatif, yang antara lain dimotori oleh St.Antonius, Abas, yang kita kenangkan hari ini.

 

"Demikianlah firman TUHAN kepada tuanku: "Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu." Tongkat kekuatanmu akan diulurkan TUHAN dari Sion: memerintahlah di antara musuhmu! Pada hari tentaramu bangsamu merelakan diri untuk maju dengan berhiaskan kekudusan; dari kandungan fajar tampil bagimu keremajaanmu seperti embun" (Mzm 110:1-3).

 

Jakarta, 17 Januari 2011