Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Minggu, 02 Januari 2011

4Jan - 1Yoh 4:7-10; Mrk 6:34-44

"Mereka semuanya makan sampai kenyang."

(1Yoh 4:7-10; Mrk 6:34-44)

 

"Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka. Pada waktu hari sudah mulai malam, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya dan berkata: "Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah mereka pergi, supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa dan di kampung-kampung di sekitar ini." Tetapi jawab-Nya: "Kamu harus memberi mereka makan!" Kata mereka kepada-Nya: "Jadi haruskah kami membeli roti seharga dua ratus dinar untuk memberi mereka makan?" Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!" Sesudah memeriksanya mereka berkata: "Lima roti dan dua ikan." Lalu Ia menyuruh orang-orang itu, supaya semua duduk berkelompok-kelompok di atas rumput hijau. Maka duduklah mereka berkelompok-kelompok, ada yang seratus, ada yang lima puluh orang. Dan setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, supaya dibagi-bagikan kepada orang-orang itu; begitu juga kedua ikan itu dibagi-bagikan-Nya kepada semua mereka. Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti dua belas bakul penuh, selain dari pada sisa-sisa ikan.Yang ikut makan roti itu ada lima ribu orang laki-laki." (Mrk 6:34-44), demikian kutipan Warta Gembira hari ini


Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya  sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Peristiwa penggandaan roti dan ikan dalam warta gembira hari ini melambangkan 'tubuh dan darah Kristus' atau komuni kudus yang kita terima setiap kali kita berpartipasi dalam Perayaan Ekaristi. Dengan menerima komuni kudus tersebut berarti kita disatukan dengan Yesus Kristus dan dengan demikian kita juga dipanggil untuk meneladan cara hidup dan cara bertindakNya, antara lain membagikan sebagian harta benda atau kekayaan kita kepada saudara-saudari kita, terutama bagi mereka yang miskin dan berkekurangan alias sungguh membutuhkan. Dengan kata lain kita dipanggil untuk hidup sosial, dan sebagai warga Negara Indonesia menghayati dan menyebarluaskan sila kelima dari Pancasila, yaitu 'Keadilan sosial bagi seluruh bangsa'. Maka dengan ini kami berharap terutama kepada para pejabat atau petinggi pemerintahan untuk sungguh memperhatikan kesejahteraan warganya. Tanda keberhasilan seorang pemimpin atau atasan antara lain warganya atau anggotanya hidup damai sejahtera, tidak ada yang berkekurangan lagi, maka selama masih ada warga atau anggota yang berkekurangan berarti sang pemimpin atau atasan kurang menghayati fungsinya dengan baik. Tentu saja kami juga berharap kepada kita semua untuk mengorbankan sebagian kekayaan atau harta benda kita kepada mereka yang menderita, miskin dan berkekurangan atau saudara-saudari kita yang menjadi korban bencana alam.


·   "Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih." (1Yoh 4:7-8). Masing-masing dari kita adalah buah kasih atau yang terkasih, dapat hidup, tumbuh dan berkembang sebagaimana adanya ini karena kasih Allah yang telah kita terima melalui saudara-saudari kita yang telah berbuat baik kepada kita, yang hidup atau bekerja bersama dengan kita. Semua yang kita miliki, kuasai dan nikmati sampai saat ini adalah kasih karunia Allah, maka baiklah kita hayati peringatan atau ajakan Yohanes di atas "marilah kita saling mengasihi". Sekali lagi kami berharap kepada para bapak-ibu atau suami-isteri dapat menjadi teladan hidup saling mengasihi, sebagaimana telah dijanjikan ketika mengawali hidup sebagai suami-isteri untuk saling mengasihi baik dalam untung maupun malang, sehat maupun sakit sampai mati. Kita hayati atau wujudkan iman kita kepada Allah dengan hidup saling mengasihi dimanapun dan kapanpun. Setiap dari kita adalah kasih maka bertemu dengan siapapun berarti kasih bertemu dengan kasih, maka secara otomatis selayaknya saling mengasihi. Barangsiapa tidak mengasihi tidak mengenal Allah, demikian peringatan Yohanes. Proses pendidikan atau pendampingan dimanapun dan kapanpun, entah formal atau informal, hendaknya dijiwai oleh kasih. Kasih itu bebas artinya tanpa batas, sedangkan kebebasan dibatasi oleh kasih. Dengan kata lain kita dapat berbuat apapun asal tidak melecehkan harkat martabat manusia. Dimana ada pelecehan harkat martabat manusia berarti tidak ada kasih.

 

"Kiranya ia mengadili umat-Mu dengan keadilan dan orang-orang-Mu yang tertindas dengan hukum! Kiranya gunung-gunung membawa damai sejahtera bagi bangsa, dan bukit-bukit membawa kebenaran! Kiranya ia memberi keadilan kepada orang-orang yang tertindas dari bangsa itu, menolong orang-orang miskin,"

(Mzm 72:2-3.4ab)

 

Jakarta, 4 Januari 2011


3 jan - 1Yoh 3:23-4:6; Mat 4:12-17.23-25

"Ia melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu"

(1Yoh 3:23-4:6; Mat 4:12-17.23-25)


"Waktu Yesus mendengar, bahwa Yohanes telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea. Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: "Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, -- bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang." Sejak waktu itulah Yesus memberitakan: "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!  Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu. Maka tersiarlah berita tentang Dia di seluruh Siria dan dibawalah kepada-Nya semua orang yang buruk keadaannya, yang menderita pelbagai penyakit dan sengsara, yang kerasukan, yang sakit ayan dan yang lumpuh, lalu Yesus menyembuhkan mereka. Maka orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Mereka datang dari Galilea dan dari Dekapolis, dari Yerusalem dan dari Yudea dan dari seberang Yordan" (Mat 4:12-17-23-25), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Karya penyelenggaraan Ilahi atau rahmat Allah antara lain terwujud dalam berbagai bentuk penyembuhan segala penyakit dan kelemahan manusia: yang sakit disembuhkan dan yang lemah dikuatkan. Maka baiklah kita imani dan hayati bahwa kita dapat sehat wal'afiat, segar bugar dan kuat/tahan terhadap aneka macam tantangan, hambatan atau masalah merupakan rahmat Allah yang dianugerahkan kepada kita. Dengan kata lain marilah sebagai orang beriman kita hayati rahmat Allah tersebut, sehingga mau tak mau kita juga dipanggil untuk melenyapkan segala penyakit dan kelemahan saudara-saudari kita di dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimanapun dan kapanpun. Marilah kita lihat, perhatikan dan sembuhkan saudara-saudari kita yang sedang menderita sakit, entah sakit hati, sakit jiwa, sakit akal budi maupun sakit phisik/tubuh. Demikian juga mereka yang lemah entah secara spiritual, material, sosial, emosional maupun intelektual hendaknya kita kuatkan. Memang untuk itu kita harus berani berkorban dan berjuang, antara lain dengan 'berjalan berkeliling di lingkungan hidup atau tempat kerja' kita, sebagaimana dilakukan oleh Yesus, dan ketika menjumpai mereka yang sakit atau lemah segera kita sembuhkan atau kuatkan. Selain berkorban tenaga maupun waktu, kita hendaknya juga berani berkorban harta benda atau uang. Memang salah satu bentuk utama dari perwujudan cintakasih adalah boros waktu dan tenaga bagi yang terkasih, maka mengasihi yang sakit dan lemah berarti berani memboroskan waktu dan tenaga bagi mereka.


·   "Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia. Mereka berasal dari dunia; sebab itu mereka berbicara tentang hal-hal duniawi dan dunia mendengarkan mereka." (1Yoh 4:4-5) . Marilah kita sadari dan hayati bahwa kita sebagai orang beriman berasal dari Allah, diciptakan oleh Allah dan hanya dapat tumbuh berkembang sebagaimana adanya saat ini karena dan oleh Allah. Memang kita hidup di dunia dan berpartisipasi dalam seluk-beluk atau hal ihwal duniawi setiap hari, namun demikian kita diharapkan tidak bersikap mental materialistis atau duniawi. Marilah kita fungsikan aneka macam harta duniawi sebagai sarana untuk memuji, menghormati, memuliakan dan mengabdi Allah di dalam hidup sehari-hari; kita hayati kesibukan duniawi kita bagaikan sedang beribadat kepada Allah. Dengan rendah hati kita dengarkan harapan, dambaan atau suka-duka saudara-saudari kita sebagai bisikan kehendak Allah untuk kita tanggapi; kita imani  berbagai pertumbuhan dan perkembangan aneka ciptaan Allah merupakan karya Allah atau penyelenggaraan Ilahi. Roh Allah hidup dan berkarya dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini, maka mau tak mau kita harus hidup dan bertindak sesuai dengan dorongan Roh Allah, yang menghendaki kita untuk pergi dan menghasilkan buah-buah Roh seperti "kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri" (Gal 5:22-23). Biarlah karya Allah atau penyelenggaraan Ilahi menjadi nyata atau terwujud dalam aneka keutamaan sebagai buah-buah Roh dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini. Jika kita sungguh hidup dan bertindak karena atau oleh Roh Allah, maka banyak orang akan tergerak mendatangi kita untuk untuk minta aneka bantuan guna 'melenyapkan aneka penyakit dan kelemahan' yang sedang mereka derita atau alami.

 

"Aku mau menceritakan tentang ketetapan TUHAN; Ia berkata kepadaku: "Anak-Ku engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini. Mintalah kepada-Ku, maka bangsa-bangsa akan Kuberikan kepadamu menjadi milik pusakamu, dan ujung bumi menjadi kepunyaanmu. Oleh sebab itu, hai raja-raja, bertindaklah bijaksana, terimalah pengajaran, hai para hakim dunia! Beribadahlah kepada TUHAN dengan takut dan ciumlah kaki-Nya dengan gemetar " (Mzm 2:7-8.10-11)

Jakarta, 3 Januari 2011


Sabtu, 01 Januari 2011

Hari Raya Penampakan Tuhan - Yes 60:1-6; Ef 3:2-3a.5-6; Mat 2:1-12

"Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur"

HR PENAMPAKAN TUHAN: Yes 60:1-6; Ef 3:2-3a.5-6; Mat 2:1-12


Aneka macam peristiwa atau kejadian pada masa kini dengan cepat dapat tersebar ke segala penjuru dunia karena jasa aneka sarana komunikasi yang canggih, seperti internet, satelit, televisi, HP dst… Pada umumnya yang dengan mudah dan cepat tersebar adalah kejadian-kejadian yang tidak baik seperti kejahatan, musibah, bencana alam, perang dst.., sedangkan kejadian atau peristiwa yang baik kurang tersebar dengan cepat. Rasanya hanya mereka yang baik dan berbudi pekerti luhur peka akan aneka perisitiwa atau kejadian baik. Almasih, Penyelamat Dunia, kegembiraan besar telah datang ke dunia, namun mereka yang tinggal dekat dengan tempat kelahiran Penyelamat Dunia tidak tahu akan kedatanganNya, sementara lain 3 (tiga) orang majus atau raja dari jauh telah mendengarNya dan berusaha untuk datang bersembah-sujud kepadaNya, itulah Warta Gembira hari ini. Maka kami mengajak anda sekalian untuk bercermin pada tiga orang majus atau raja tersebut.

 

"Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur" (Mat 2:11)

 

Emas adalah lambang kekayaan, kemenyan lambang keimanan/ibadat, sedangkan mur adalah lambing kebesaran, pangkat atau kedudukan. Orang-orang majus atau tiga raja menghayati atau memfungsikan aneka kekayaan, bentuk peribadatan serta jabatan, pangkat atau kedudukan sebagai anugerah Tuhan, dan dengan demikian mereka senantiasa mendambakan atau merindukan kebersamaan dengan Tuhan setiap hari.  Maka mereka peka terhadap aneka gejala atau tanda yang ada di alam raya ini, sehingga pada suatu saat mereka melihat sebuah bintang khusus, yang menandakan bahwa Penyelamat Dunia, Almasih, telah datang/lahir di dunia ini. Mereka pun tergerak untuk mengikuti gerak bintang tersebut, yang menunjukkan tempat Almasih atau Penyelamat Dunia yang baru saja lahir berada. Baiklah bercermin dari pengalaman tiga orang majus atau raja tersebut, saya mengajak anda sekalian untuk mawas diri sebagai berikut:


1). Sebagai orang beriman, secara khusus yang beriman kepada Yesus Kristus, kita dipanggil untuk menjadi 'bintang-bintang', yaitu penunjuk jalan bagi orang lain untuk bersembah-sujud kepada Tuhan atau semakin beriman. Cara hidup atau cara bertindak kita dimanapun dan kapanpun hendaknya menjadi daya tarik atau daya pikat bagi orang lain untuk semakin beriman, bersembah sujud kepada Tuhan dengan memfungsikan aneka macam kekayaan yang dimiliki sesuai dengan kehendak Tuhan, sehingga mereka semakin dikasihi oleh Tuhan maupun sesamanya. Maka hendaknya cara hidup dan cara bertindak kita sungguh baik dan berbudi pekerti luhur, tidak pernah mengecewakan atau mencelakakan orang lain. Hendaknya kita bagaikan 'orang gila' yang senantiasa menarik dan membuat orang lain senang serta tidak pernah menyakiti orang lain, tentu saja kegilaan kita karena Tuhan beserta kita dan dengan demikian kita senantiasa dalam keadaan gembira, ceria dan dinamis.


2). Kita dapat meneladan tiga orang majus atau raja tersebut, yaitu dengan segala upaya, rendah hati serta bantuan rahmat Tuhan senantiasa berusaha untuk menjadi peka terhadap Penyelenggaraan Ilahi/ Tuhan dalam hidup sehari-hari. Tuhan hadir dan berkarya terus menerus dalam seluruh ciptaan-ciptaanNya, antara lain menganugerahkan pertumbuhan dan perkembangan, daya rasa dan pikiran untuk mencinta, dst… Peka akan tanda-tanda zaman atau aneka perubahan dan perkembangan yang sedang terjadi, itulah panggilan kita semua. Untuk itu memang kita harus menjadi peka terhadap karya Tuhan dalam tubuh kita masing-masing, entah yang terkait dengan nafsu seksual yang dianugerahkan oleh Tuhan guna berpartisipasi dalam karya penciptaanNya atau gerak dan dorongan untuk berbicara dan bertindak. Hendaknya diikuti tanda-tanda atau gejala-gejala yang mengarah ke keselamatan jiwa serta menjauhkan diri dari aneka desakan dan dorongan untuk berbuat jahat atau hanya mencari keuntungan serta kenikmatan diri sendiri. Segala sesuatu yang kita miliki, kuasai dan nikmati sampai saat ini marilah kita fungsikan sedemikian rupa, sehingga kita semakin beriman, semakin mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan.

 

"Memang kamu telah mendengar tentang tugas penyelenggaraan kasih karunia Allah, yang dipercayakan kepadaku karena kamu, yaitu bagaimana rahasianya dinyatakan kepadaku dengan wahyu, .. yang pada zaman angkatan-angkatan dahulu tidak diberitakan kepada anak-anak manusia, tetapi yang sekarang dinyatakan di dalam Roh kepada rasul-rasul dan nabi-nabi-Nya yang kudus, yaitu bahwa orang-orang bukan Yahudi, karena Berita Injil, turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus"(Ef 3:2-3a.5-6)         

 

Kasih karunia Allah dianugerahkan kepada siapapun dan dimanapun, tanpa pandang bulu atau SARA, dan kasih karuniNya antara lain telah menjadi nyata dengan kelahiran Yesus, Penyelamat Dunia, yang datang untuk menyelamatkan dunia seisinya. Ia adalah Penyelamat Dunia, bukan Penyelamat orang-orang yang mengaku beragama Kristen atau Katolik saja, termasuk para tokoh atau pemuka-pemukanya. Maka dengan tegas para gembala Gereja Katolik yang berkumpul dalam Konsili Vatikan II, antara lain menyatakan bahwa "mereka yang tanpa bersalah tidak mengenal Injil Kristus serta Gereja-Nya, tetapi dengan hati tulus mencari Allah, dan berkat pengaruh rahmat berusaha melaksanakan kehendakNya yang mereka kenal melalui suara hati dengan perbuatan nyata, dapat memperoleh keselamatan kekal" (Vat II: LG no 16)  

 

Kami berharap kepada semua umat beragama, entah agamanya apa, untuk senantiasa dengan rendah hati mengusahakan dan memperdalam persaudaraan atau persahabatan sejati dengan semua umat beragama. Hendaknya dijauhkan aneka bentuk fanatik sempit, yang hanya membenarkan diri/agama sendiri serta menyalahkan orang/agama lain. Maka kami juga berharap agar pembangunan tempat-tempat beribadat maupun pelaksanaan beribadat dari agama apapun tidak dihambat atau diganggu. Memang aneh dan nyata: perizinan untuk membangun ruko atau losmen atau motel begitu mudah, termasuk acara hura-hura di tempat umum, dst.., sementara itu izin pembangunan tempat ibadat dipersulit atau dihambat, padahal dalam kenyataan cukup banyak ruko atau motel akhirnya menjadi tempat maksiat, yaitu untuk pelacuran atau panti pijat.

 

Kita semua adalah ahli waris janji Allah untuk hidup mulia, bahagia dan damai sejahtera saat ini sampai selama-lamanya. Maka sebagai sesama ahli waris marilah kita tidak saling gontok-gontokan atau iri hati, mengingat dan memperhatikan aneka perbedaan yang ada antara lain. Jutaan atau milyard-an manusia di bumi ini tidak ada yang sama atau identik, saling berbeda satu sama lain; laki-laki dan perempuan berbeda satu sama lain tetapi saling tertarik untuk mendekat, bersahabat dan bersatu menjadi satu. Maka hendaknya aneka macam bentuk perbedaan antara kita dijadikan daya tarik atau daya pikat untuk saling mengenal, mendekat dan bersahabat atau bersaudara serta saling mengasihi. Hendaknya menyikapi aneka bentuk sapaan, sentuhan, kritik, saran, ejekan, pujian dst,..dari orang lain dihayati sebagai kasih.

 

"Kiranya raja-raja dari Tarsis dan pulau-pulau membawa persembahan-persembahan; kiranya raja-raja dari Syeba dan Seba menyampaikan upeti! Kiranya semua raja sujud menyembah kepadanya, dan segala bangsa menjadi hambanya! Sebab ia akan melepaskan orang miskin yang berteriak minta tolong, orang yang tertindas, dan orang yang tidak punya penolong; ia akan sayang kepada orang lemah dan orang miskin, ia akan menyelamatkan nyawa orang miskin" (Mzm 72:10-13)     .

 

Jakarta, 2 Januari 2011