Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Selasa, 28 Desember 2010

29des - 1Yoh 2:3-11; Luk 2:22-35

"Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang"

(1Yoh 2:3-11; Luk 2:22-35)


"Ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: "Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah", dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati. Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya: "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel." Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia. Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan -- dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri --, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang." (Luk 2:22-35), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.


Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Anak adalah anugerah Tuhan, maka selayaknya kemudian dipersembahkan kepada Tuhan sepenuhnya. Cara mempersembahkan anak kepada Tuhan antara lain adalah mendidik dan membina mereka sesuai dengan kehendak Tuhan. Maka dengan rendah hati disini saya angkat motto pendidikan di sekolah-sekolah yang dikelola oleh para Yesuit, yang hemat saya dapat dihayati dalam proses pendidikan dan pembinaan dimanapun, yaitu Competence, Conscience,Compassion (kepandaian, hati nurani, kepedulian). Anak-anak selama masa usia balita hemat kami harus menerima pendampingan atau pendidikan ketiga unsur tersebut di dalam keluarga. Apa yang diterima dan dialami anak-anak pada masa usia balita sungguh dapat berpengaruh di kemudian hari dan dapat dikembangkan dan diperdalam dalam proses pendidikan lebih lanjut di sekolah-sekolah. Hendaknya sebagai orangtua, guru atau orang dewasa menghayati motto ini: "Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang". Memang untuk menghayati motto ini kita harus bekerja keras seraya mengandalkan diri pada rahmat Tuhan. Kepandaian pada umumnya sudah menjadi perhatian banyak orang, sedangkan hati nurani dan kepedulian kurang memperoleh perhatian. Semoga kita memberi perhatian pada hati nurani dan kepedulian dalam proses pendidikan atau pembinaan dimanapun dan kapanpun.   


·   "Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan. Tetapi barangsiapa membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan. Ia tidak tahu ke mana ia pergi, karena kegelapan itu telah membutakan matanya" (1Yoh 2:10-11). Sebagaimana diwartakan di dalam Injil, marilah saudara di sini lebih kita fahami sebagai orang-orang yang sungguh membutuhkan bantuan dan pertolongan kita, uluran kasih kita, yaitu mereka yang miskin dan berkekurangan atau menjadi korban dari aneka kekerasan maupun bencana alam. Pada masa kini kiranya cukup banyak dari saudara-saudari kita yang miskin dan berkekurangan, lebih-lebih karena cuaca ekstrim yang masih berlangsung atau hujan deras yang menggelontorkan lahar dingin di lereng gunung Merapi dst… Memberi sebagai perwujudan kasih sejati adalah memberi dari kekurangan, sedangkan memberi dari kelimpahan berarti membuang sampah dan dengan demikian menjadikan si penerima sebagai tempat sampah. Maka kami berharap meskipun kita merasa kurang hendaknya dengan besar hati dan rela berkorban untuk memberi sesuatu kepada saudara-saudari kita yang lebih membutuhkan, entah itu berupa tenaga, harta/uang dst..  Maklum hal ini kami angkat mengingat dan memperhatikan sering terjadi orang memberi dari kelimpahan, antara lain berupa pakaian bekas guna membersihkan 'gudang'nya. Akhir kata saya toh juga mengingatkan dan mengajak kita semua: hendaknya dengan saudara-saudari sekandung kita sungguh saling mengasihi, jauhkan aneka macam bentuk irihati atau kebencian. Tentu saja kasih itu sungguh sejati, artinya bersama-sama sebagai kakak-adik dalam cara hidup dan cara bertindak tidak menindas atau memeras orang lain.

 

"Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, menyanyilah bagi TUHAN, hai segenap bumi! Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari. Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di antara segala suku bangsa." (Mzm 96:1-3)

Jakarta, 29 Desember 2010


28des - 1Yoh 1:5-2:2; Mat 2:13-18

"Ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya"

(1Yoh 1:5-2:2; Mat 2:13-18)

 

"Setelah orang-orang majus itu berangkat, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: "Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia." Maka Yusuf pun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir, dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: "Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku." Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diperdayakan oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu. Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia: "Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi." (Mat 2:13-18), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta Kanak-Kanak suci, martir, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:


·   Anak-anak adalah masa depan kita, masa depan bangsa, Negara maupun Gereja, maka selayaknya kita mendampingi dan mendidik mereka agar kelak mampu berfungsi dengan baik dalam hidup berbangsa, bernegara, bermasyakat maupun beriman atau menggereja. Maka hendaknya jangan bersikap seperti Herodes yang gila akan kekuasaan dan kehormatan dunia, dimana ketika mendengar akan muncul seorang raja ia kemudian membunuh semua anak berusia dua tahun ke bawah. Tidak menyayangi atau mencintai anak-anak berarti bunuh diri pelan-pelan perihal masa depan. Dalam penghayatan hidup beriman hemat saya anak-anak lebih suci daripada orang dewasa atau orangtua, maka selayaknya anak-anak dihormati dan dijunjung tinggi. Secara konkret kami berharap agar anak-anak dapat memperoleh pendidikan atau pendampingan yang baik dan memadai, maka hendaknya dialokasikan dana dan tenaga yang memadai bagi pendidikan atau pembinaan anak-anak. Tanda bahwa orangtua atau orang dewasa sungguh mendidik dan membina anak-anak adalah kelak kemudian hari ketika tumbuh berkembang menjadi dewasa anak-anak lebih dewasa, pandai, cerdas, terampil daripada orangtua atau orang dewasa saat ini. Sejauh pengamatan dan penglihatan kami rasanya hal itu lebih banyak terjadi di desa-desa atau pelosok-pelosok daripada di kota-kota (besar). Marilah kita didik dan bina sungguh-sungguh anak-anak kita agar kelak dia dapat 'mikul dhuwur lan mendhem jero wong tuwo' (= memuliakan orangtua).


·   "Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil. Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia." (1Yoh 2:1-2). Jika kita jujur mawas diri kiranya kita semua akan mengakui dan menghayati diri sebagai orang berdosa: tambah usia, tambah pengalaman berarti juga tambah dosanya. Kita baru saja merayakan Kelahiran Raja Damai, Pembawa Perdamaian, maka baiklah kita bersembah-sujud kepadaNya, yang saat ini 'masih terbaring di palungan', seraya mohon dengan rendah hati agar kita diperdamaikan dengan Allah maupun sesama atau saudara-saudari kita. Memang untuk itu kita juga harus dengan sungguh-sungguh mengusahakan damai dalam kehidupan, sepak terjang dan pelayanan kita dimanapun dan kapanpun, pertama-tama dan terutama di dalam keluarga atau komunitas kita masing-masing. Jika di dalam keluarga kita masing-masing sungguh terjadi perdamaian sejati rasanya seluruh dunia ini akan damai sejahtera dan aman sentosa. Baiklah sekali lagi kami ingatkan bahwa keluarga dibangun dan dibentuk dalam dan oleh cintakasih, maka seluruh anggota keluarga  dapat tumbuh berkembang dengan baik hanya oleh dan dalam cintakasih. Hemat saya aneka macam bentuk kebejatan moral anak-anak terjadi karena kurang cintakasih alias di dalam keluarga kurang menerima cintakasih dari orangtua maupun kakak-adiknya. Hendaknya di dalam keluarga sering terjadi 'curhat' antar anggota keluarga, dan untuk itu harus sungguh menyediakan waktu dan tenaga yang memadai. Jika kita dapat saling mengasihi dengan mereka yang paling dekat dengan kita dalam hidup sehari-hari, maka dengan mudah kita mengasihi orang lain dimanapun dan kapanpun.

 

"Jikalau bukan TUHAN yang memihak kepada kita, ketika manusia bangkit melawan kita, maka mereka telah menelan kita hidup-hidup, ketika amarah mereka menyala-nyala terhadap kita; maka air telah menghanyutkan kita, dan sungai telah mengalir melingkupi diri kita, maka telah mengalir melingkupi diri kita air yang meluap-luap itu" (Mzm 124:2-5)

Jakarta, 28 Desember 2010         


Minggu, 26 Desember 2010

27 des - 1Yoh 1:1-4; Yoh 20:2-8

"Masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya"

(1Yoh 1:1-4; Yoh 20:2-8)


"Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka: "Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan." Maka berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur. Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat dari pada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur. Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kapan terletak di tanah; akan tetapi ia tidak masuk ke dalam. Maka datanglah Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kapan terletak di tanah, sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kapan itu, tetapi agak di samping di tempat yang lain dan sudah tergulung. Maka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya" (Yoh 20:2-8), demikian kutipan Warta Gembira hari ini..

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Yohanes, rasul dan pengarang Injil, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:


·   Cintakasih memang sungguh menggairahkan dan menggerakkan, membuat orang yang saling mengasihi gembira dan dinami dalam kehidupan bersama. Yohanes dikenal sebagai murid terkasih dari Yesus, maka sebagai murid terkasih ia merasa harus cepat-cepat mencari tahu apa yang terjadi ketika mendengar ada sesuatu pada Dia yang mengasihinya. Yohanes lebih cepat datang ke makam Yesus daripada Petrus, dan ketika ia melihat apa yang terjadi kemudian ia pun percaya: percaya bahwa Yesus telah bangkit dari mati dan kini hidup dan berkarya  melalui RohNya tanpa terbatas oleh ruang dan waktu. Maka bercermin dari murid yang terkasih ini kami mengajak kita semua untuk mawas diri: apakah kita hidup dan bertindak dijiwai oleh cintakasih dalam sepak terjang dan pelayanan kita sehari-hari. Ingat dan hayati bahwa masing-masing dari kita adalah 'buah kasih' atau 'yang terkasih', dapat hidup, tumbuh dan berkembang seperti apa adanya saat ini karena dan oleh cintakasih. Kami berharap kepada para bapak-ibu atau suami-isteri untuk sungguh menjadi teladan hidup saling mengasihi bagi anak-anak yang dianugerahkan Tuhan kepada mereka. Salah satu bentuk penghayatan cintakasih adalah peka terhadap kebutuhan orang lain, lebih-lebih dan terutama mereka yang miskin dan berkekurangan. Cintakasih pertama-tama dan terutama untuk dihayati bukan diomongkan atau didiskusikan, maka marilah kita wujudkan cintakasih kita kepada mereka yang  miskin dan berkekurangan. Marilah kita saling berlomba dalam saling mengasihi dalam hidup sehari-hari.


·   "Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus. Dan semuanya ini kami tuliskan kepada kamu, supaya sukacita kami menjadi sempurna" (1Yoh 1:3-4). Apa yang dikatakan oleh Yohanes dalam suratnya ini kiranya baik menjadi refleksi atau permenungan kita bersama. Marilah kita lihat penghayatan kasih dalam diri kita sendiri maupun orang lain atau sesama kita, dan kemudian apa yang  kita lihat kita beritakan kemana-mana dan kepada siapa saja. Kami percaya masing-masing dari kita berkehendak untuk mengasihi  orang lain, namun karena keterbatasan dan kelemahan kita sering perwujudan kasih itu berbeda satu sama lain atau kurang sempurna. Maka baiklah kita saling memahami dan menghayati kelemahan dan kekurangan kita masing-masing dan dalam kelemahan dan kekurangan kita saling membuka diri dengan rendah hati untuk saling mendengarkan, agar terjadilah kesatuan atau persahabatan  sejati dalam kehidupan bersama kita dimanapun dan kapanpun. Kami percaya masing-masing dari kita mendambakan sukacita sempurna, hidup dalam damai sejahtera dan selamat baik jiwa maupun raga. Maka kami berharap kita saling melihat dan mengimani kasih yang dihayati, dengan kata lain marilah kita lihat buah-buah Roh Kudus dalam diri kita sendiri maupun saudara-saudari kita, yaitu "sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri" (Gal 5:22-23). Untuk itu kita harus senantiasa berpikiran positif baik terhadap diri kita sendiri maupun orang lain, yang berarti hidup dan bertindak dijiwai oleh Roh Kudus. Semoga kita saling melihat apa yang baik dalam diri kita masing-masing dan dengan demikian kita saling percaya satu sama lain.

 

"TUHAN adalah Raja! Biarlah bumi bersorak-sorak, biarlah banyak pulau bersukacita! Awan dan kekelaman ada sekeliling Dia, keadilan dan hukum adalah tumpuan takhta-Nya. Gunung-gunung luluh seperti lilin di hadapan TUHAN, di hadapan Tuhan seluruh bumi. Langit memberitakan keadilan-Nya, dan segala bangsa melihat kemuliaan-Nya" (Mzm 97:1-2.5-6)

 

Jakarta, 27 Desember 2010