Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Kamis, 18 November 2010

20 Nov - Why 11:4-12; Luk 20:27-40

"Di hadapan Dia semua orang hidup."

(Why 11:4-12; Luk 20:27-40)


"Maka datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang tidak mengakui adanya kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya: "Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati sedang isterinya masih ada, tetapi ia tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu. Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan lalu mati dengan tidak meninggalkan anak. Lalu perempuan itu dikawini oleh yang kedua, dan oleh yang ketiga dan demikianlah berturut-turut oleh ketujuh saudara itu, mereka semuanya mati dengan tidak meninggalkan anak. Akhirnya perempuan itu pun mati. Bagaimana sekarang dengan perempuan itu, siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia." Jawab Yesus kepada mereka: "Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan. Sebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan. Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam nas tentang semak duri, di mana Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup." Mendengar itu beberapa ahli Taurat berkata: "Guru, jawab-Mu itu tepat sekali."Sebab mereka tidak berani lagi menanyakan apa-apa kepada Yesus." (Luk 20:27-40), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Aneh dan nyata bahwa orang-orang Saduki tidak percaya akan kebangkitan orang mati bertanya kepada Yesus perihal kebangkitan orang mati. Orang-orang Saduki lebih bersikap mental materialistis, dengan kata lain hidup dan bertindak dengan mengandalkan yang materialistis saja atau harta benda duniawi, yang dipikirkan dan diperjuangkan hal-hal duniawi atau harta benda. Tanggapan Yesus atas pertanyaan orang-orang Saduki mengingatkan dan mengajak kita semua umat beriman untuk sungguh menghayati iman dalam hidup sehari-hari. Beriman antara lain berarti percaya pada Penyelenggaraan Ilahi, Allah yang hidup dan berkarya terus menerus tanpa kenal batas ruang dan waktu, dengan kata lain dimanapun dan kapanpun senantiasa berada 'di hadirat Allah'. Berada 'di hadirat Allah' pasti akan dikuasai atau dirajai oleh Allah, sehingga dalam situasi dan kondisi apapun senantiasa tetap bergairah dan dinamis, bergembira-ria. Berbagai macam tantangan, hambatan dan masalah kehidupan membangkitan gairah dan semangat hidup, dan dapat mengatasinya dengan baik, itulah salah satu cirikhas orang beriman. Sebagai suami-isteri beriman berarti dalam kondisi atau situasi apapun tetap saling mengasihi, sebagai anggota lembaga hidup bakti tetap membaktikan diri sepenuhnya kepada Allah dan sebagai imam tetap menjadi penyalur rahmat/berkat Allah bagi manusia serta doa/dambaan umat manusia kepada Allah.


·   "Tiga setengah hari kemudian masuklah roh kehidupan dari Allah ke dalam mereka, sehingga mereka bangkit dan semua orang yang melihat mereka menjadi sangat takut"(Why 11:11 ). Kutipan dari Kitab Wahyu ini mengingatkan dan mengajak kita umat beriman untuk percaya akan kebangkitan orang mati. Bagi orang yang sungguh beriman hidup di dunia ini hanya sementara saja, dan hidup mulia di sorga bersama Allah setelah meninggal dunia akan berlangsung selamanya. Pepatah Jawa mengatakan 'Urip ing donya  iku koyo wong mampir ngombe' = 'Hidup di dunia itu bagaikan singgah minum sejenak'. Orang singgah untuk minum di perjalanan pada umumnya 'to the point', apa adanya, tidak aneh-aneh. Dengan kata lain selama hidup di dunia ini kita diharapkan tidak aneh-aneh, biasa saja, alias hidup sederhana atau bersahaja, tidak berfoya-foya. Maka dengan ini kami mengingatkan mereka yang sering suka berfoya-foya untuk bertobat, kembali ke hidup sederhana atau bersahaja. Tinggalkan keserakahan hidup anda, yang menyebabkan banyak orang menderita. Saya yakin jika kita hidup sederhana pasti tidak akan berbuat jahat, dan dengan demikian senantiasa berbuat baik dan berbudi pekerti luhur. Beriman memang juga berarti hidup baik dan berbudi pekerti luhur, sehingga setelah dipanggil Tuhan alias meninggal dunia akan hidup mulia selamanya bersama Allah di sorga. Hidup beriman berarti 'roh kehidupan dari Allah' menjiwai cara hidup dan cara bertindak, dan dengan demikian menghasilkan buah-buah roh seperti "kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri" (Gal 5:22 -23); ia semakin dikasihi oleh Allah dan sesama manusia selama hidup di dunia ini.

 

"Terpujilah TUHAN, gunung batuku, yang mengajar tanganku untuk bertempur, dan jari-jariku untuk berperang; yang menjadi tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, kota bentengku dan penyelamatku, perisaiku dan tempat aku berlindung, yang menundukkan bangsa-bangsa ke bawah kuasaku!"(Mzm 144:1-2)

 

Jakarta, 20 November 201

Rabu, 17 November 2010

19 Nov - Why 10:8-11; Luk 19:45-48

"Seluruh rakyat terpikat kepadaNya dan ingin mendengarkan Dia"

(Why 10:8-11; Luk 19:45-48)

 

"Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ, kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun." Tiap-tiap hari Ia mengajar di dalam Bait Allah. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka dari bangsa Israel berusaha untuk membinasakan Dia, tetapi mereka tidak tahu, bagaimana harus melakukannya, sebab seluruh rakyat terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia" (Luk 19:45-48), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Kehadiran dan karya Yesus, Penyelamat dunia, antara lain menyingkapkan apa yang tersembunyi dalam kedalamam lubuk hati manusia: mereka yang percaya kepadaNya semakin terpikat dan senang mendengarkan ajaran-ajaranNya, sedangkan mereka yang tak percaya kepadaNya semakin tergerak untuk memusnahkanNya. Memang itulah yang juga masih terjadi pada masa kini: orang-orang baik, benar dan jujur yang berani membongkar aneka kejahatan dalam hidup dan kerja bersama, terutama yang dilakukan oleh para pejabat dan penguasa, maka mereka dengan segala upaya disingkirkan oleh para penguasa atau pejabat, yang merasa terganggu dengan sepak terjang maupun suara orang-orang benar tersebut. Namun karena mereka takut terhadap rakyat, maka cara menyingkirkan nampak begitu halus dan konstitusional. Sebagai contoh yang terjadi di Indonesia antara lain kaus 'Bank Century'. Meskipun harus menghadapi aneka ancaman atau terror dari mereka yang berkuasa, kami berharap kepada para pejuang kebenaran dan  kejujuran jalan terus dan tetaplah tegar serta jangan takut, dan percayalah bahwa 'rakyat terpikat pada cara hidup dan cara kerja serta perjuangan anda'. Dengan ini kami juga berharap kepada para penguasa dan pejabat untuk dengan rendah hati mendengarkan suara dan dambaan rakyat serta menanggapinya dengan sungguh-sungguh: bekerjalah sedemikian rupa sehingga rakyat terpikat pada anda serta senang mendengarkan arahan atau omongan anda. Kasus penyelamatan 33 orang pegawai tambang di Chile yang terjebak selama 69 hari dalam kedalaman lebih dari 600 m bulan lalu sungguh menjadi inspirasi luar biasa bagi para penguasa maupun pejabat. Semoga apa yang dilakukan oleh presiden Chile menjadi teladan dan dicontoh oleh para pemimpin Negara di dunia ini.

·   "Engkau harus bernubuat lagi kepada banyak bangsa dan kaum dan bahasa dan raja." (Why 10:11), demikian kata malaikat kepada seseorang yang telah 'makan gulungan kitab kehidupan'. Saya merasa apa yang dilakukan oleh presiden Chile sesuai dengan apa yang dikatakan oleh malaikat tersebut: ia telah makan gulungan kitab kehidupan, sehingga berani mengorbankan milyardan rupiah demi 33 warganya yang harus diselamatkan, dan apa yang dilakukan sungguh menjadi nubuat bagi seluruh bangsa dan pemimpin dunia, sehingga para pemimpin dunia berterima kasih dan bersyukur kepada presiden Chile maupun rakyatnya. Banyak bangsa dan pemimpin yang baik dan berbudi pekerti luhur terkesima menyaksikan peristiwa penyelamatan tersebut dan tergerak untuk melakukan apa yang sama di negaranya. Pada hari-hari terakhir tahun Liturgy ini kita memang diingatkan pentingnya memperhatikan keselamatan jiwa manusia, maka hendaknya keselamatan jiwa manusia senantiasa menjadi barometer atau ukuran keberhasilan usaha dan pelayanan, bukan harta benda atau uang. Ada motto 'vox populi, vox Dei' = suara rakyat/bangsa, suara Tuhan. Motto ini kiranya mengingatkan dan mengajak para pemimpin dunia atau Negara dimanapun untuk senantiasa mendengarkan dambaan rakyat serta melayaninya demi kesejahteraan dan keselamatan mereka. Tanda keberhasilan utama dan pertama-tama pelayanan seorang pemimpin adalah rakyatnya atau yang ia pimpin hidup dalam damai sejahtera baik lahir maupun batin, phisik maupun spiritual. Kami berharap kepada para bupati/walikota, gubernur, presiden beserta para menteri atau pembantunya di negeri Indonesia tercinta ini sungguh berpihak para rakyat, melayani, membahagiakan dan mensejahterakan rakyat, bukan untuk memperkaya diri, keluarga maupun kerabat-kerabatnya. Semoga pemberitaan di berbagai mass media, entah cetak maupun elektorik tentang penyelamatan 33 pegawai tambang di Chile menjadi contoh yang inspiratif dan selanjutnya juga diusahakan di seluruh dunia.

 

"Atas petunjuk peringatan-peringatan-Mu aku bergembira, seperti atas segala harta Ya, peringatan-peringatan-Mu menjadi kegemaranku, menjadi penasihat-penasihatku Taurat yang Kausampaikan adalah baik bagiku, lebih dari pada ribuan keping emas dan perak. Betapa manisnya janji-Mu itu bagi langit-langitku, lebih dari pada madu bagi mulutku." (Mzm 119:14.24.72.103)

  

Jakarta, 19 November 2010

    


18 Nov - Why 5:1-10; Luk 19:41-44

"Engkau tidak mengetahui saat, bilamana Allah melawat engkau."

(Why 5:1-10; Luk 19:41-44)

 

"Dan ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, Ia menangisinya, kata-Nya: "Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu. Sebab akan datang harinya, bahwa musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan, dan mereka akan membinasakan engkau beserta dengan pendudukmu dan pada tembokmu mereka tidak akan membiarkan satu batu pun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat, bilamana Allah melawat engkau."(Luk 19:41-44), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Sabda hari ini kiranya mengingatkan kita semua bahwa masing-masing dari kita tidak tahu kapan dipanggil Allah atau meninggal dunia; kita dapat dipanggil Allah setiap saat, kapan saja dan dimana saja. Jika kita dipanggil Allah kiranya kita mendambakan kemudian hidup damai sejahtera dan mulia selama-lamanya di sorga bersama Allah yang telah menciptakan kita. Karena kita tidak tahu kapan meninggal dunia, maka hendaknya kita senantiasa siap sedia, tahu dan menghayati apa yang perlu untuk hidup damai sejahtera baik lahir maupun batin, phisik maupun spiritual. Dengan kata lain hendaknya kita senantiasa hidup baik dan berbudi pekerti luhur kapanpun dan dimanapun. Kami berharap masing-masing dari kita secara pribadi dengan bersungguh-sungguh berusaha hidup baik dan berbudi pekerti luhur, namun karena keterbatasan kita masing-masing baik kita bekerjasama, terutama dan saudara-saudari atau mereka yang hidup dan bekerja dekat dengan kita setiap hari, misalnya dengan segenap anggota keluarga atau rekan kerja/belajar. Di dalam keluarga hendaknya orangtua dapat menjadi teladan hidup baik dan berbudi pekerti luhur, sehingga dapat mendampingi anak-anak yang dianugerahkan Tuhan. Anak-anak adalah anugerah Tuhan maka selayaknya dididik dan didampingi sesuai dengan kehendak Tuhan. Pengalaman hidup baik dan berbudi pekerti luhur di dalam keluarga kemudian dapat dikembangkan dan diperdalam baik di sekolah maupun tempat kerja. Jika kita sungguh dalam keadaan siap sedia sewaktu-waktu dipanggil Allah alias meninggal dunia, maka pada detik-detik terakhir hidup kita, kita akan berdoa seperti penjahat yang disalibkan bersama Yesus:"Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja."(Luk 23:42), dan menerima jawaban "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus."(Luk 23-43)

·   "Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya; karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa. Dan Engkau telah membuat mereka menjadi suatu kerajaan, dan menjadi imam-imam bagi Allah kita, dan mereka akan memerintah sebagai raja di bumi."(Why 5:9-10), demikian nyanyian baru bagi mereka yang telah hidup mulai kembali di sorga, setelah meninggal dunia. Nyanyian ini kiranya juga menjadi nyata atau terwujud dalam diri orang yang sungguh baik dan berbudi pekerti luhur selama hidup dunia ini. Orang baik dan berbudi pekerti luhur 'telah dibeli bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa' alias hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak dan perintah Allah bukan tradisi-tradisi atau kebiasaan-kebiasaan suku maupun bangsa yang tidak baik. Orang-orang baik dan berbudi pekerti luhur juga 'menjadi imam-imam bagi Allah dan akan memerintah sebagai raja di bumi', dengan kata lain ia dapat menjadi penyalur rahmat, anugerah dan kasih karunia Allah kepada sesama manusia dimanapun dan kapanpun. Maka marilah dengan rendah hati dan bantuan rahmat Allah kita hayati panggilan imamat umum kaum beriman, sehingga cara hidup dan cara bertindak kita dimanapun dan kapanpun dapat menjadi berkat atau rahmat bagi sesama, dan kita sendiri semakin dikasihi oleh Allah dan sesama manusia. Orang baik dan berbudi pekerti luhur dengan enak dan gembira dapat membuka 'gulungan kitab', artinya dengan enak dan gembira melakukan apa yang baik dan berbudi pekerti luhur. Kehadiran, sepak terjangnya dimanapun dan kapanpun senantiasa menarik, mempesona dan memikat, sehingga banyak orang tergerak untuk mendekat dan bersahabat. Marilah kita hidup dan bertindak dalam dambaan hidup damai sejahtera, sehat wal'afiat baik seeara phisik maupun spiritual.

 

"Haleluya! Nyanyikanlah bagi TUHAN nyanyian baru! Pujilah Dia dalam jemaah orang-orang saleh. Biarlah Israel bersukacita atas Yang menjadikannya, biarlah bani Sion bersorak-sorak atas raja mereka! Biarlah mereka memuji-muji nama-Nya dengan tari-tarian, biarlah mereka bermazmur kepada-Nya dengan rebana dan kecapi! Sebab TUHAN berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan." (Mzm 149:1-4)

   

Jakarta, 18 November 2010