Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Selasa, 16 November 2010

17 Nov - Why 4:1-11; Luk 19:11-28

"Setiap orang yang mempunyai kepadanya akan diberi tetapi siapa yang tidak mempunyai dari padanya akan diambil"

(Why 4:1-11; Luk 19:11-28)


"Untuk mereka yang mendengarkan Dia di situ, Yesus melanjutkan perkataan-Nya dengan suatu perumpamaan, sebab Ia sudah dekat Yerusalem dan mereka menyangka, bahwa Kerajaan Allah akan segera kelihatan……..Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ada padanya. Akan tetapi semua seteruku ini, yang tidak suka aku menjadi rajanya, bawalah mereka ke mari dan bunuhlah mereka di depan mataku." Dan setelah mengatakan semuanya itu Yesus mendahului mereka dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem."(Luk 19:11.26-28), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Elisabeth dari Hungaria, biarawati, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:


·   Perkembangan masing-masing dari kita setelah mengarungi perjalanan hidup dan tugas pengutusan sampai saat ini kiranya ada dua kemungkinan, yaitu semakin baik/suci/terampil/cerdas/rajin dst…atau semakin buruk/jahat/bodoh /malas dst.. Cukup menarik jika diperhatikan yaitu, sebagaimana disabdakan oleh Yesus hari ini, mereka yang baik/suci/terampil/cerdas/rajin dst. semakin baik/suci/terampil/cerdas/rajin, sedangkan mereka yang buruk/jahat/ bodoh/ malas dst..semakin buruk/jahat/bodoh/malas. Maka dengan ini saya mengajak kita semua untuk mawas diri: apa yang terjadi dalam diri kita masing-masing. Kami berharap, karena cara hidup dan cara bertindak, kita semua tumbuh berkembang semakin baik/suci/termpil/cerdas/rajin, dst.. Dengan kata lain kita semakin siap sewaktu-waktu dipanggil Tuhan, meninggal dunia, mendahului perjalanan untuk menghadap Bapa di sorga dan hidup selama-lamanya. Bukankah semakin tambah usia berarti juga semakin dekat kematian kita? Kami juga berharap kepada mereka yang mengalami kemandegan dalam hidup beriman untuk dengan rendah hati membuka diri, siap sedia untuk dirubah dan dikembangkan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Dengan kata lain mereka yang buruk kami harapkan memperbaiki diri, yang jahat bertobat, yang malas segera berlatih bekerja keras dan yang bodoh menyadari serta menghayati kebodohannya sambil siap sedia untuk diajar atau dibina. Dalam warta gembira hari ini Yesus mengumpamakan anugerah yang telah kita terima bagaikan mata uang: uang agar dapat bertambah harus 'berjalan-jalan' alias difungsikan, tidak disimpan di bawah bantal atau di brankas. 'Jalankan' anugerah Allah yang anda terima dalam hidup sehari-hari, apapun bentuk anugerah Allah tersebut!


·   "Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan" (Why 4:11). Doa ini kiranya baik sering kita doakan, renungkan dan hayati dalam hidup sehari-hari. Segala sesuatu yang ada di dunia, di bumi ini adalah ciptaan Allah, dapat tumbuh berkembang bersama Allah, tanpa Allah tidak dapat tumbuh berkembang sebagaimana diharapkan atau dicita-citakan. Sebagai ciptaan Allah kita diharapkan hidup dan bertindak dengan memuji, menghormati, memuliakan dan melayani Allah melalui ciptaan-ciptaanNya terutama melalui ciptaanNya yang terluhur di bumi ini, manusia. Dengan kata lain sebagai umat beriman kita dipanggil untuk saling memuji, menghormati, memuliakan dan melayani, saling melihat dan mengimani Allah yang hidup dan berkarya dalam diri manusia, yang diciptakan sebagai gambar atau citra Allah. Kebetulan hari ini kita merayakan St.Elisabet dari Hungaria, biarawati: salah satu cirikhas biarawati atau menggota lembaga hidup bakti adalah menjadi saksi hidup yang "sudah dikuduskan, yang harus mereka pelihara dengan doa dan tobat" (KHK kan 673). Maka kami berharap kepada para anggota lembaga hidup bakti, biarawan dan biarawati, dapat menjadi teladan dalam hal hidup yang telah dikuduskan, yang antara lain juga ditandai dengan saling memuji, menghormati, memuliakan dan melayani. Para anggota lembaga hidup bakti memiliki kebiasaan untuk mempersembahkan puji-pujian kepada Tuhan di dalam ibadat harian, semoga juga menjadi nyata dengan memberi pujian kepada sesama manusia. Semoga suatu saat ketika kita dipanggil Tuhan juga dapat menjadi pujian bagi Tuhan, artinya mereka yang melayat kita dengan rendah hati dan jujur memuji hidup kita selama ini, sehingga kita layak memasuki 'Yerusalem abadi', hidup mulia di sorga selama-lamanya.

 

"Haleluya! Pujilah Allah dalam tempat kudus-Nya! Pujilah Dia dalam cakrawala-Nya yang kuat! Pujilah Dia karena segala keperkasaan-Nya, pujilah Dia sesuai dengan kebesaran-Nya yang hebat! Pujilah Dia dengan tiupan sangkakala, pujilah Dia dengan gambus dan kecapi! Pujilah Dia dengan rebana dan tari-tarian, pujilah Dia dengan permainan kecapi dan seruling! Pujilah Dia dengan ceracap yang berdenting, pujilah Dia dengan ceracap yang berdentang! Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya!"

(Mzm 150)

Jakarta, 17 November 2010

  


16 Nov - Why 3:1-6.14-22; Luk 19:1-10

"Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang."

(Why 3:1-6.14-22; Luk 19:1-10)

 

"Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu. Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya. Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek. Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ. Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu." Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: "Ia menumpang di rumah orang berdosa." Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat." Kata Yesus kepadanya: "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang." (Luk 19:1-10), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Dalam kisah Warta Gembira hari ini ada dua tokoh yang kiranya baik menjadi bahan permenungan kita, yaitu 'Zakheus' dan 'orang kebanyakan': Zakheus yang tergerak untuk melihat dan bertemu dengan Yesus dan orang kebanyakan yang bersungut-sungut ketika melihat orang bertobat, tumbuh berkembang semakin baik, semakin beriman, semakin suci, semakin mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan. Menempatkan diri seperti Zakheus berarti kita diajak untuk menyadari dan menghayati bahwa segala harta benda atau kekayaan yang ada pada kita atau kita miliki dan kuasai sampai saat ini adalah anugerah Tuhan, yang telah kita terima melalui siapapun yang telah berbuat baik kepada kita atau membantu tugas dan pelayanan kita. Yang layak menempatkan diri seperti Zakheus kiranya adalah mereka yang kaya akan uang atau harta benda, seperti para pengusaha atau para koruptor: ingat dan sadari bahwa kekayaan anda tak pernah terlepas dari jasa dan jerih payah para buruh atau pekerja alias rakyat keci, maka sejahterakan mereka sesuai dengan kebutuhan atau tuntutan hidup sehari-hari yang layak. Ada kemungkinan kita menempatkan diri seperti orang banyak yang bersungut-sungut ketika melihat orang lain tumbuh berkembang menjadi baik, kaya atau sejahtera: kepada kita yang bersikap mental demikian saya ajak untuk bertobat dan merenungkan sabda Yesus, yaitu "Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang". Berarti kita termasuk orang yang hilang, maka baiklah dengan rendah hati kita berani menyadari dan mengakui kelemahan, dosa dan kerapuhan kita serta kemudian bertobat seperti Zakheus dengan siap sedia mengorbankan diri demi kebahagiaan atau keselamatan sesama.


·   "Barangsiapa menang, ia akan dikenakan pakaian putih yang demikian; Aku tidak akan menghapus namanya dari kitab kehidupan, melainkan Aku akan mengaku namanya di hadapan Bapa-Ku dan di hadapan para malaikat-Nya. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat." (Why 3:5-6). Kita akan menjadi pemenang yang unggul jika kita setia 'mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat'. Mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat berarti melihat, mengakui dan menghayati apa yang baik, indah, luhur dan mulia dalam diri sesama manusia, dan kemudian dengan rendah belajar  dari atau meneladan kebaikan, keindahan, keluhuran dan kemuliaannya. Dengan kata lain kita semua dipanggil untuk bersikap mental belajar sepanjang hayat, seumur hidup, sampai mati. Belajar tidak hanya di sekolah atau perguruan tinggi, tetapi kita juga dapat belajar dari kehidupan dan aneka peristiwa yang terjadi setiap hari di lingkungan hidup kita. Pengalaman menunjukkan bahwa mereka yang bersikap mental belajar terus-menerus sepanjang hayat sungguh unggul dan menjadi pemenang dalam panggilan maupun tugas pengutusannya, dalam karya atau usahanya. Maka dengan ini kami mengingatkan kita semua: hendaknya jangan bangga akan aneka gelar atau ijazah yang telah diperolehnya, namun tidak terampil dalam mengaplikasikan apa yang telah dipelajari dan diketahuinya. Dengan kata lain marilah kita bekerja keras dalam melaksanakan segala sesuatu yang menjadi tugas pekerjaan atau kewajiban kita. "Bekerja keras adalah sikap dan perilaku yang suka berbuat hal-hal yang positif dan tidak suka berpangku tangan serta selalu gigih dan sungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 10).

 

"Dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya, yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya, yang tidak berbuat jahat terhadap temannya dan yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya; yang memandang hina orang yang tersingkir, tetapi memuliakan orang yang takut akan TUHAN; yang berpegang pada sumpah, walaupun rugi; yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba dan tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah. Siapa yang berlaku demikian, tidak akan goyah selama-lamanya." (Mzm 15:2-5)

 

Jakarta, 16 November 2010             


Minggu, 14 November 2010

15 Nov - Why 1:1-4; 2:1-5a; Luk 18:35-43

"Melihatlah engkau!"

(Why 1:1-4; 2:1-5a; Luk 18:35-43)

 

"Waktu Yesus hampir tiba di Yerikho, ada seorang buta yang duduk di pinggir jalan dan mengemis. Waktu orang itu mendengar orang banyak lewat, ia bertanya: "Apa itu?" Kata orang kepadanya: "Yesus orang Nazaret lewat." Lalu ia berseru: "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!" Maka mereka, yang berjalan di depan, menegor dia supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: "Anak Daud, kasihanilah aku!" Lalu Yesus berhenti dan menyuruh membawa orang itu kepada-Nya. Dan ketika ia telah berada di dekat-Nya, Yesus bertanya kepadanya: "Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?" Jawab orang itu: "Tuhan, supaya aku dapat melihat!" Lalu kata Yesus kepadanya: "Melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau!" Dan seketika itu juga melihatlah ia, lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah. Seluruh rakyat melihat hal itu dan memuji-muji Allah." (Luk 18:35-43), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Dalam kisah Warta Gembira hari ini ada dua tokoh berdialog, yaitu Yesus dan seorang buta, maka sebagai refleksi kiranya kita dapat memilih seperti Yesus yang membuka mata orang buta sehingga dapat melihat atau sebagai orang buta yang telah disembuhkan. Bagi yang memilih seperti Yesus, saya ajak mawas diri: apakah cara hidup dan cara bertindak kita dapat  membuka mata hati, jiwa, akal budi dan tubuh orang untuk melihat siapa itu Tuhan dan sesama manusia dan apa itu harta benda, sebagaimana dikehendaki oleh Tuhan. Namun kiranya lebih mungkin dan lebih dekat jika kita menempatkan diri sebagai seorang buta, yang mendambakan penyembuhan agar dapat melihat segala sesuatu dengan benar, tepat dan jelas. Orang buta pada umumnya indera pendengarannya sangat peka, sehingga ia dapat mendengarkan segala sesuatu yang ada disekitarnya. Dengan kata lain apakah masing-masing dari kita memiliki indera pendengaran yang baik, atau kita semakin peka mendengarkan segala sesuatu yang ada di sekitar kita? Kami percaya jika kita dapat mendengarkan dengan baik apa yang ada disekitar hidup kita, maka kita pasti dirubah oleh apa yang kita dengarkan, dan saya percaya yang diperdengarkan di sekitar lebih banyak apa yang baik daripada apa yang buruk, maka berarti kita semakin baik, semakin dikasihi oleh Tuhan dan sesama manusia. Dengan kata lain kami percaya bahwa kita semua semakin hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan 'sambil memuliakan Allah' dalam berbagai kesibukan dan pelayanan kita setiap hari. Maka marilah kita semakin hidup dengan penuh syukur dan terima kasih, karena hal itu terjadi berkat kasih karunia Allah.


·   "Engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah. Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan"(Why 2:3-5a). Kutipan dari kitab Wahyu ini kiranya baik menjadi permenungan bagi kita semua. Di satu sisi mungkin kita sabar, dan di sisi lain 'meninggalkan kasih yang semula'. Apa yang dimaksudkan dengan kasih yang semula antara lain adalah panggilan utama/pokok atau tugas utama/pokok kita masing-masing. Dengan kata lain kita diingatkan untuk 'back to basic', kembali ke semangat semula, ketika baru mengawali jalan panggilan atau tugas pekerjaan. Bukankah sebagai imam baru, bruder atau suster baru, suami-isteri baru, pegawai baru, dst.. kita senantiasa dalam keadaan gembira, bergairah dan dinamis menghayati panggilan maupun melaksanakan tugas pengutusan kita masing-masing? Sebagai contoh konkret baik saya angkat hidup suami-isteri: apakah cara hidup suami-isteri saat ini masih dijiwai oleh semangat ketika masih dalam pacaran atau tunangan, atau bulan-bulan pertama sebagai pengantin/suami-isteri baru? Benarkah pada masa kini senantiasa masih saling mengasihi baik dalam untung maupun malang, sehat maupun sakit? Tanda bahwa anda sebagai suami-isteri yang setia saling mengasihi antara lain anda berdua semakin nampak bagaikan manusia kembar, semakin banyak kesamaaan yang ada dalam diri anda berdua (tidak sama jenis pakaian saja). Mengapa saya mengajak para suami-isteri untuk mawas diri, karena hidup berkeluarga merupakan dasar dan kekuatan hidup bersama yang lebih luas, dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Tentu saja bagi kita semua selayaknya mawas diri: apakah saya semakin suci, semakin mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, semakin dikasihi oleh Tuhan dan sesama manusia.

 

"Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil. Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiupkan angin"

(Mzm 1:1-4).

Jakarta, 15 November 2010