Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Jumat, 13 Agustus 2010

14 Agustus - Yeh 18:1-10.13b.30-32; Mat 19:13-15

"Orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga."

(Yeh 18:1-10.13b.30-32; Mat 19:13-15)

 

"Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Tetapi Yesus berkata: "Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga." Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan kemudian Ia berangkat dari situ" (Mat 19:13-15), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Maksimilianus Maria Kolbe, imam dan martir, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Anak-anak memang lebih suci daripada orangtuanya. Cirikhas seorang anak antara lain: terbuka dan siap sedia diperlakukan apa saja, yang menandakan keterbukaan terhadap kehendak Tuhan, maka Yesus bersabda "Biarkanlah anak-anak itu, jangan menghalangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga". St.Maksimilianus Maria Kolbe, yang kita rayakan hari ini berani mempersembahkan hidup kepada alias mati demi Tuhan karena anak-anak. Konon ada seorang bapak tahanan yang akan dihukum mati dan bapak tersebut memiliki banyak anak, maka Maria Kolbe, yang juga menjadi tahanan bersamanya, dengan rendah hati bersedia mengganti terhukum mati tersebut dan memang diizinkan; ia bersedia mati demi anak-anak yang membutuhkan cintakasih orangtuanya. Maka baiklah kami mengajak dan mengingatkan kita semua untuk senantiasa memperhatikan anak-anak secara memadai. Para orangtua maupun guru/pendidik hendaknya lebih takut jika anak-anak tidak tumbuh berkembang sebagai pribadi yang cerdas beriman daripada takut terhadap yang lain. Di dalam hidup beriman atau beragama yang dihormati, dilayani dan dimuliakan adalah mereka yang suci, maka karena anak-anak lebih suci daripada orangtua atau orang dewasa, kami berharap kepada orangtua atau orang dewasa untuk menghormati, melayani dan memuliakan anak-anak. Anak-anak, termasuk kita semua, ada dan dilahirkan serta dibesarkan dalam dan oleh 'cintkasih dan kebebasan Injili', maka hendaknya mereka juga dibesarkan dan dididik dalam semangat 'cintakasih dan kebebasan'. Cintakasih itu bebas alias tak terbatas oleh apapun, sedangkan kebebasan dibatasi oleh cintakasih. Dalam dan oleh cintakasih kita dapat berbuat apapun asal tidak melecehkan atau merendahkan harkat martabat manusia, yang diciptakan sesuai dengan gambar atau  citra Allah.

·   "Kalau seseorang adalah orang benar dan ia melakukan keadilan dan kebenaran, dan ia tidak makan daging persembahan di atas gunung atau tidak melihat kepada berhala-berhala kaum Israel, tidak mencemari isteri sesamanya dan tidak menghampiri perempuan waktu bercemar kain, tidak menindas orang lain, ia mengembalikan gadaian orang, tidak merampas apa-apa, memberi makan orang lapar, memberi pakaian kepada orang telanjang, tidak memungut bunga uang atau mengambil riba, menjauhkan diri dari kecurangan, melakukan hukum yang benar di antara manusia dengan manusia, hidup menurut ketetapan-Ku dan tetap mengikuti peraturan-Ku dengan berlaku setia -- ialah orang benar, dan ia pasti hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH" (Yeh 18:5-9). Kutipan dari Kitab Yeheskiel ini hemat saya cukup jelas sebagai ajakan atau perintah moral yang harus kita lakukan atau hayati dalam hidup sehari-hari. Maka marilah kita saling membantu atau bekerjasama dalam menghayati ajakan tersebut, antara lain jika ada saudara kita yang melanggar perintah tersebut hendaknya segera ditegor, diingatkan dan dibetulkan dengan rendah hati dan dalam cintakasih. Para orangtua kami harapkan dapat menjadi teladan penghayatan perintah tersebut bagi anak-anaknya di dalam keluarga, sehingga anak-anak sedini mungkin terbiasa untuk menjadi orang-orang benar, yang hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak atau perintah Allah. Ada aneka macam ketetapan dan peraturan Allah, yang kemudian diterjemahkan  kedalam aneka macam aturan dan tatanan hidup bersama, maka baiklah kita senantiasa berusaha dengan sungguh-sungguh melaksanakan aturan atau tatanan yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing. Sekali lagi secara khusus saya mengingatkan dan mengajak rekan-rekan suami-isteri untuk setia pada janji perkawinan, yaitu 'saling mengasihi baik dalam untung maupun malang, sehat maupun sakit sampai mati'.

 

"Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh! Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku! Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela! Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran, supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu" (Mzm 51:12-15)

Jakarta, 14 Agustus 2010


Kamis, 12 Agustus 2010

13 Agustus - Yeh 16:1-15.60.63; Mat 19:3-12

"Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?"

(Yeh 16:1-15.60.63; Mat 19:3-12)


"Maka datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: "Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?" Jawab Yesus: "Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." Kata mereka kepada-Nya: "Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?" Kata Yesus kepada mereka: "Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah." Murid-murid itu berkata kepada-Nya: "Jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin." Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja. Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti." (Mat 19:3-12), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:


·   Harian Suara Karya 15 Agustus 2009 antara lain memberitakan bahwa di Indonesia setiap tahun ada sekitar 2 juta pasangan menikah dan 200.000 perceraian, berarti 10% pernikahan bercerai.  Angka 10% kiranya cukup besar dalam hal ini, apalagi dampak yang akan terjadi dari perceraian. Yang sering menimbulkan perceraian antara lain adanya perbedaan, misalnya beda selera, beda pikiran, beda suku, dst.. Laki-laki dan perempuan berbeda satu sama lain tetapi saling tertarik, saling ingin mendekat dan bersahabat serta mengasihi, tergerak untuk saling melengkapi. Itulah misteri ilahi, yang hendaknya kita imani. Maka hendaknya aneka perbedaan menjadi daya tarik, daya pikat untuk saling mendekat dan mengasihi, jangan menjadi sumber permusuhan atau perpisahan. Ingat bahwa di dunia ini tidak ada yang sama persis alias identik: manusia kembar pun tidak identik, pasangan anggota tubuh kita yang nampak samapun tidak sama persis, misalnya dua buah dada, dua daun telinga, dua lobang hidung, dua buah pelir, dll.  Alasan perceraian adalah kedegilan hati, hati yang membatu dan tak mungkin ditembus dengan peluru. Memang setia pada janji perkawinan selain karena jerih payah atau usaha keras pasangan yang bersangkutan, juga dan terutama merupakan anugerah Tuhan, sebagaimana apa yang berbeda merupakan karya Tuhan. Kesetiaan antara suami-isteri dalam saling mengasihi sampai mati merupakan dasar dan kekuatan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang damai sejahtera.


·   "Engkau mengandalkan kecantikanmu dan engkau seumpama bersundal dalam menganggarkan ketermasyhuranmu dan engkau menghamburkan persundalanmu kepada setiap orang yang lewat" (Yeh 16:15), demikian sindiran Tuhan kepada bangsa terpilih melalui nabi Yeheskiel. "Mengandalkan kecantikan untuk bersundal atau melacur' itulah sindirannya. Memang gadis cantik akan lebh mudah melacurkan diri dan pada umumnya akan cepat menjadi kaya raya akan uang dengan menjual dirinya alias melacur. Kecantikan merupakan anugerah Tuhan dan harus kita syukuri dan terima kasihi, jangan dikomersialkan entah dengan pelacuran atau iklan-iklan aneka macam produk. Kecantikan juga merupakan symbol apa yang baik indah, luhur dan mulia di dalam diri kita masing-masing, maka baiklah kecantikan hendaknya menjadi dorongan atau motivasi bagi kita semua, entah yang berssangkutan sendiri yang merasa cantik maupun orang lain, untuk semakin mendekatkan diri kita dengan Tuhan alias memuji dan memuliakan Tuhan. Dengan kata lain ketika melihat gadis atau perempuan cantik hendaknya dipuji seperlunya saja, tanpa dirayu atau disanjung-sanjung secara berlebihan. Kepada rekan-rekan gadis atau perempuan yang cantik dan pada umumnya menjadi perhatian banyak orang, kami harapkan menjadikan diri sebagai dorongan atau motivasi bagi mereka yang memperhatikan untuk semakin memuji, memuliakan, mengabdi dan menghormati Tuhan. Jauhkan atau hindari gaya atau cara hidup yang merangsang orang lain untuk berpikiran jahat atau berdosa; hendaknya kecantikan anda tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain untuk berdosa atau melakukan kejahatan. Jadikan kecantikan anda sebagai sarana atau wahana membangun, memperdalam dan memperkuat persaudaraan atau persahabatan sejati.

 

" Sungguh, Allah itu keselamatanku; aku percaya dengan tidak gementar, sebab TUHAN ALLAH itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku." Maka kamu akan menimba air dengan kegirangan dari mata air keselamatan.Pada waktu itu kamu akan berkata: "Bersyukurlah kepada TUHAN, panggillah nama-Nya, beritahukanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa, masyhurkanlah, bahwa nama-Nya tinggi luhur! Bermazmurlah bagi TUHAN, sebab perbuatan-Nya mulia; baiklah hal ini diketahui di seluruh bumi"

(Yes 12:2-5) Jakarta, 13 Agustus 2010


Rabu, 11 Agustus 2010

12 Agustus - Yeh 12:1-12; Mat 18:21-19:1

"Sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku ?"

(Yeh 12:1-12; Mat 18:21-19:1)

 

"Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali" (Mat 18:21-22), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.  .

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   "Ampunilah kami seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami", demikian kutipan dari doa Bapa kami, doa harian, doa yang mungkin lebih dari sekali kita doakan setiap hari. Pertanyaannya: "apakah doa tersebut meresapi dalam hati dan kemudian menjiwai cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari?". Sabda hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua untuk hidup saling mengampuni. Hendaknya kita saling mengampuni sampai tujuh puluh kali tujuh berarti suatu ajakan atau panggilan untuk selalu saling mengampuni. Kita semua dipanggil untuk senantiasa menyalurkan kasih pengampunan Allah yang telah kita terima secara melimpah ruah melalui saudara-saudari kita. Ingatlah dan hayatilah bahwa masing-masing dari kita sejak masih berada di dalam kandungan ibu kita masing-masing telah menerima kasih pengampunan sampai saat ini, lebih-lebih dari atau melalui ibu kita menerima kasih pengampunan, sebagaimana disenandungkan dalam sebuah lagu "Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali,  bagai sang surya menyinari dunia". Semoga para ibu dapat menjadi saksi atau teladan dalam pengampunan ini di dalam hidup sehari-hari. Salah satu cara agar kita dapat dengan mudah dan enak mengampuni orang yang telah bersalah kepada kita, antara lain hendaknya kita senantiasa menyadari dan menghayati diri sebagai yang berdosa serta dengan rendah hati senantiasa melihat apa yang baik dalam diri orang yang telah menyalahi kita tersebut. Ingat bahwa mereka yang menyalahi kita belum tentu salah, karena mungkin mereka tidak tahu bagaimana harus berbuat, dan orang yang tidak tahu berarti tidak salah.


·   "Hai anak manusia, engkau tinggal di tengah-tengah kaum pemberontak, yang mempunyai mata untuk melihat, tetapi tidak melihat dan mempunyai telinga untuk mendengar, tetapi tidak mendengar, sebab mereka adalah kaum pemberontak. Maka engkau, anak manusia, sediakanlah bagimu barang-barang seorang buangan dan berjalanlah seperti seorang buangan pada siang hari di hadapan mata mereka; pergilah dari tempatmu sekarang ke tempat yang lain seperti seorang buangan di hadapan mata mereka. Barangkali mereka akan insaf bahwa mereka adalah kaum pemberontak." (Yeh 12:2-3). Para pemberontak memang memiliki mata dan telinga, tetapi tidak melihat dan mendengarkan, dan pada umumnya hidup dan bertindak hanya mengikuti kemauan sendiri atau selera pribadi. Kita dipanggil untuk menyadarkan para pemberontak, entah dalam kehidupan bersama kita di tingkat apapun dan dimanapun, dan kiranya terutama yang ada di dalam keluarga atau komunitas kita masing-masing. Kami percaya diam-diam di antara anggota keluarga ada yang ingin memberontak atau sudah memberontak, misalnya tidak taat pada aturan atau kebijakan dalam keluarga atau pada orangtua. Kiranya cukup banyak anak-anak yang menjadi pemberontak alias melawan orangtuanya. Anak-anak yang demikian ini hemat saya mereka merasa kurang dikasihi, maka penyadaran bagi mereka berarti menyadarikan mereka sebagai yang dikasihi atau yang terkasih. Ingatkan dan ajaklah anak-anak untuk menyadari dan menghayati diri kembali ketika masih berada di dalam rahim ibu, masih bayi yang sering menangis dan mengganggu ibu, dst.. dan ibu tidak marah atau membenci melainkan tetap setia mengasihi. Jika mungkin anak-anak diminta membaca buku mungil yang berjudul 'Sembilan bulan dalam kandungan atau rahim ibu'. Dalam kutipan di atas diingatkan bahwa untuk menyadarkan pemberontak kita diharapkan menempatkan diri sebagai yang terbuang, alias menjadi korban pemberontakan. Kami percaya di dalam hati kecil pemberontak pasti masih ada kasih, dan ketika melihat orang terbuang dan menderita pasti tersentuh untuk melakukan sesuatu yang lebih baik.

 

"Tetapi mereka mencobai dan memberontak terhadap Allah, Yang Mahatinggi, dan tidak berpegang pada peringatan-peringatan-Nya; mereka murtad dan berkhianat seperti nenek moyang mereka, berubah seperti busur yang memperdaya; mereka menyakiti hati-Nya dengan bukit-bukit pengorbanan mereka, membuat Dia cemburu dengan patung-patung mereka" (Mzm 78:56-58)

 

Jakarta, 12 Agustus 2010