Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Senin, 12 Juli 2010

13 Juli - es 7:1-9; Mat 11:20-24

"Tanggungan negeri Sodom akan lebih ringan dari pada tanggunganmu."

(Yes 7:1-9; Mat 11:20-24)

 

"Lalu Yesus mulai mengecam kota-kota yang tidak bertobat, sekalipun di situ Ia paling banyak melakukan mujizat-mujizat-Nya: "Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan dari pada tanggunganmu. Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati! Karena jika di Sodom terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, kota itu tentu masih berdiri sampai hari ini. Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan negeri Sodom akan lebih ringan dari pada tanggunganmu." (Mat 11:20-24), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Pertumbuhan dan perkembangan kota-kota pada umumnya diwarnai atau ditandai juga oleh aneka masalah sosial serta munculnya berbagai jenis kejahatan. Demikian juga dengan Negara, jika warganya kurang bermoral maka ketika Negara makin makmur dan sejahtera secara ekonomis berbagai bentuk kejahatan juga makin marak, misalnya judi, pelacuran, korupsi, dst.. Kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Medan, Semarang, Surabaya, Denpasar dst.. semakin menghadapi banyak masalah sosial dan moral. Warta Gembira hari ini mengingatkan dan mengajak seluruh warga kota-kota besar untuk mawas diri: apakah sebagai warga kota kita semakin beriman, berbakti kepada Tuhan, semakin dikasihi oleh Tuhan dan sesama manusia atau sebaliknya, semakin tak beriman, tak bermoral, bermusuhan, egois, dst..??  Di kota-kota besar apa-apa ada, yang baik dan yang jahat, yang mulia dan yang remeh, yang suci dan berdosa, yang kaya dan miskin, yang pandai dan bodoh, dst.. Sebagai warga kota kita semua diharapkan semakin bermoral, baik, dan berbudi pekerti luhur jika kita semua mendambakan hidup selamat, damai sejahtera, aman sentosa lahir maupun  batin, jasmani maupun rohani. Kota-kota yang dikutuk oleh Yesus memang menjadi kenyataan: pada masa itu adalah kota besar dan saat ini tinggal puing-puing bangunan berserakan. Kota-kota dimana kita tinggal pada saat ini pada suatu saat juga tinggal puing-puing bangunan jika kita tidak bertobat, memperbaharui diri terus menerus sehingga semakin beriman, dikasihi oleh Tuhan dan sesama manusia. Marilah kita tinggalkan warisan kepada anak-cucu kita sesuatu yang indah, baik, luhur dan mulia.

·   "Teguhkanlah hatimu dan tinggallah tenang, janganlah takut dan janganlah hatimu kecut karena kedua puntung kayu api yang berasap ini, yaitu kepanasan amarah Rezin dengan Aram dan anak Remalya" (Yes 7:: 4), demikian firman Tuhan kepada raja Ahas melalui nabi Yesaya.  Keteguhan dan ketenangan hati memang dibutuhkan dalam menghadapi aneka masalah, tantangan dan hambatan. Kutipan di atas kiranya layak menjadi permenungan atau refleksi bagi para pemimpin atau kepala dalam bidang pelayanan atau pekerjaan apapun: apakah anda memiliki hati yang teguh dan tenang? Keteguhan hati dibutuhkan dalam rangka mempertahankan apa yang baik, luhur, mulia dan indah, sedangkan ketenangan hati dibutuhkan dalam menghadapi aneka tantangan, bambatan, ancaman maupun masalah. Orang yang berhati teguh dan tenang pada umumnya akan bersikap mendengarkan dan kemudian berreaksi atas apa yang didengarkan sesuai dengan kehendak Tuhan, dengan kata lain reaksinya berbuah kebaikan-kebaikan. Memang tidak hanya mendengarkan saja, tetapi ketika berreaksi mengambil keputusan atau kebijakan sungguh tegas dan meyakinkan. Untuk mengusahakan hati teguh dan tenang antara lain orang harus setia pada imannya yang berarti tidak melupakan hidup doa, berrelasi dengan Tuhan. Ketika orang terbiasa berdoa atau berrelasi dengan Tuhan dengan baik dan benar maka yang bersangkutan senantiasa merasa bersama dan bersatu dengan Tuhan, dan dengan demikian memiliki keyakinan bahwa ia selalu mampu mengatasi aneka macam tantangan, hambatan dan masalah. "Tuhan memanggil, Tuhan mengutus, Tuhan membekali" itulah keyakinan iman orang yang senantiasa bersama dan bersatu dengan Tuhan atau memiliki hati yang teguh dan tenang.  Kami berharap para orangtua dapat menjadi contoh atau teladan dalam hal keteguhan dan ketenangan hati bagi anak-anaknya.

 

"Besarlah TUHAN dan sangat terpuji di kota Allah kita! Gunung-Nya yang kudus, yang menjulang permai, adalah kegirangan bagi seluruh bumi; gunung Sion itu, jauh di sebelah utara, kota Raja Besar. Dalam puri-purinya Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai benteng. Sebab lihat, raja-raja datang berkumpul, mereka bersama-sama berjalan maju; demi mereka melihatnya, mereka tercengang-cengang, terkejut, lalu lari kebingungan." (Mzm 48:2-6)

       

Jakarta, 13 Juli 2010


Minggu, 11 Juli 2010

12 Juli - Yes 1:11-17; Mat 10:34-11:1

"Barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku ia akan memperolehnya"

(Yes 1:11-17; Mat 10:34-11:1)

"Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya. Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku. Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar. Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya." Setelah Yesus selesai berpesan kepada kedua belas murid-Nya, pergilah Ia dari sana untuk mengajar dan memberitakan Injil di dalam kota-kota mereka." (Mat 10:34-11:1), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Nyawa adalah yang membuat tubuh hidup dan dinamis serta bergairah, maka nyawa juga berarti cita-cita, dambaan, harapan dan impian. Kehilangan nyawa berarti tidak mengikuti cita-cita, dambaan, harapan dan impian pribadi melainkan mengikuti kehendak dan perintah Tuhan. Apa yang menjadi cita-cita, dambaan, harapan dan impian kita integrasikan pada kehendak dan perintah Tuhan, dan karena Tuhan maha segalanya, maka mau tidak mau kita harus mentaati dan melaksanakan kehendak dan perintahNya. Kehendak dan perintah Tuhan antara lain dapat kita temukan dalam aneka tatanan dan aturan yang terkait dengan panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing serta panggilan untuk senantiasa memperhatikan dan mengasihi mereka yang kecil, miskin dan berkekurangan. Maka marilah kita taati dan laksanakan dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan aturan dan tatanan yang terkait dengan panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing. Memperhatikan dan mengasihi mereka yang kecil, miskin dan berkekurangan hemat saya juga tidak mungkin kita hanya mengikuti kemauan dan keinginan diri kita sendiri. Pertama-tama dan terutama kita harus hidup dan bersama dengan mereka yang kecil, miskin dan berkekurangan, dan kemudian bersama-sama dengan mereka bangkit untuk mengentaskan diri dari kekecilan, kemiskinan dan kekurangan. Memperhatikan dan mengasihi yang kecil, miskin dan berkekurangan harus bersikap mental inkarnasi, yaitu meneladan Allah yang melepaskah ke Allah-anNya dan menjadi manusia seperti kita, sama dengan manusia kecuali dalam hal dosa.

·   "Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!" (Yes 1:16-17). "Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik", perintah inilah yang kiranya pertama-tama kita laksanakan atau hayati bersama-sama. Kepada anak-anak sedini mungkin hendaknya dibiasakan untuk belajar berbuat baik dan melawan aneka ajakan untuk berbuat jahat, dan tentu saja dengan teladan konkret dari para orangtua. Di sekolah-sekolah hendaknya ditegakkan kejujuran dalam proses belajar-mengajar; jauhkan kemungkinan  para peserta untuk menyontek, karena membiarkan peserta didik untuk menyontek dalam ulangan atau ujian hemat saya sama dengan menebar benih-benih kejahatan. Anak-anak yatim dan janda-janda sering menjadi bahan pergunjingan atau pelecehan di masyarakat dengan tuduhan atau kecurigaan-kecurigaan tertentu. Sebagai contoh: seorang janda kurang bergaul dengan temannya dapat dicurigai menjadi wanita simpanan bagi orang lain, bergaul dekat dengan laki-laki dicurigai mengganggu suami orang, bergaul dengan dengan rekan perempuan dicurigai lesbian, dst.. Apa bentuk konkret memperjuangkan perkara janda-janda? Secara pasif berarti tidak curiga dan berpikiran negatif terhadap para janda, sedangkan secara aktif kiranya dapat kita lakukan dengan memperlakukan mereka biasa-biasa saja, tanpa kekecualian atau keistimewaan apapun. Kepada para janda sendiri kami harapkan untuk hidup wajar-wajar saja, dan tetap tegarlah dalam hidup dan kerja. Kita semua dipanggil untuk membersihkan diri dari aneka bentuk kejahatan yang telah kita lakukan dan ketika sudah bersih tidak melakukan kejahatan apapun lagi.

 

"Apakah urusanmu menyelidiki ketetapan-Ku, dan menyebut-nyebut perjanjian-Ku dengan mulutmu, padahal engkaulah yang membenci teguran, dan mengesampingkan firman-Ku? Itulah yang engkau lakukan, tetapi Aku berdiam diri; engkau menyangka, bahwa Aku ini sederajat dengan engkau. Aku akan menghukum engkau dan membawa perkara ini ke hadapanmu. Siapa yang mempersembahkan syukur sebagai korban, ia memuliakan Aku; siapa yang jujur jalannya, keselamatan yang dari Allah akan Kuperlihatkan kepadanya." (Mzm 50:16b-17.21.23) Jakarta, 12 Juli 2010


11 Jul - Ul.30:10-14; Kol 1:15-20; Luk 10:25-37

"Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."

Mg Biasa XV: Ul.30:10-14; Kol 1:15-20; Luk 10:25-37

 

"Kemiskinan terburuk di dunia saat ini adalah kesepian dan merasa tidak dicintai", demikian kata Ibu Teresa dari Calcuta, India. Ibu Teresa mengatakan hal itu sudah lama, lebih dari 15 tahun lalu, namun kiranya apa yang dikatakan tersebut masih tetap bermakna dan berlaku pada masa kini. Derap langkah perkembangan dan kemajuan aneka macam sarana dan alat tehnologi yang begitu cepat telah mempengaruhi sikap mental kebanyakan orang. Memang ada kebutuhan konkret yaitu hidup sejahtera secara ekonomi, apalagi bagi mereka yang tinggal di kota-kota besar. Tuntutan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga membuat orangtua, suami dan isteri, harus bekerja keras siang malam, sehingga tiada waktu dan tenaga yang memadai bagi anak-anak yang dianugerahkan Tuhan kepada mereka. Anak-anak adalah buah cintakasih suam-isteri, orangtua, maka mereka hanya dapat tumbuh berkembang menjadi pribadi baik dan berbudi pekerti luhur dalam dan oleh cintakasih. Salah satu bentuk cintakasih yang utama adalah 'pemborosan waktu dan tenaga bagi yang terkasih', sebagai perwujudan  mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap kekuatan dan segenap akal budi. Dalam kenyataan memang cukup banyak orang pelit akan tenaga dan waktu bagi yang terkasih karena berbagai alasan yang nampak rasional.

 

"Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri" (Luk 10: 27b)

 

Mengasihi Tuhan dan sesama manusia memang tak dapat dipisahkan dan mungkin hanya dapat dibedakan, bagaikan mata uang bermuka dua, sebagaimana dikatakan oleh Yakobus bahwa "Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati" (Yak 2:17). Maka hemat kami dalam mengasihi sesama manusia harus dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap kekuatan, segenap akal budi, sebagaimana dilakukan oleh orang Samaria yang menolong orang Yahudi yang menjadi korban perampokan dan kekerasan, menderita sakit. Kasih sejati memang tidak kenal SARA, senang atau tidak senang, selera atau tidak selera, dan yang penting adalah selamat, damai sejahtera dan sehat wal'afiat. Orang Samaria dan orang Yahudi pada umumnya kurang dapat hidup bersaudara atau berdamai, sebagaimana terjadi di Indonesia dimana beberapa suku masih saling bermusuhan satu sama lain, antar desa atau kampung saling bermusuhan, dst.. Marilah kita meneladan orang Samaria, "orang yang telah menunjukkan belas kasihan"  kepada yang menderita, sakit dan sengsara, tanpa pandang bulu, SARA, dst..

 

Mengasihi berarti memberi, tindakan dari yang mempunyai ke yang tak mempunyai, dari yang kaya ke yang miskin, dari yang pandai ke yang bodoh, dari atas ke bawah, dst.. Kasih dapat diwujudkan dengan hati, jiwa, akal budi atau kekuatan (tubuh, harta benda/uang),  dan dalam kenyataan hemat saya hati, jiwa, akal budi dan kekuatan tak dapat dipisahkan, karena ketika terpisahkan berarti kasih tak sempurna. Sementara orangtua sering hanya memberi harta benda dan uang kepada anak-anaknya, sehingga anak-anak sungguh merasa kesepian dan merasa tak dikasihi oleh orangtuanya. Maka dengan ini kami mengingatkan dan mengharapkan para orangtua untuk sungguh mengasihi anak-anaknya dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan, antara lain dengan memboroskan waktu dan tenaga bagi anak-anak, lebih-lebih ketika anak-anak masih dalam masa balita dan remaja. Kami percaya ketika anak-anak merasa dikasihi oleh orantuanya, maka kelak kemudian hari mereka akan senantiasa tergerak untuk mengasihi sesamanya tanpa pandang bulu serta berbelas-kasih kepada mereka yang miskin, menderita, sakit, kurang beruntung, dst.. 

 

Belas kasih rasanya juga perlu diperdalam di sekolah-sekolah bagi para peserta didik. Kepedulian kepada mereka yang miskin, kecil, menderita dan sakit perlu ditanamkan dan diperdalam dalam diri para peserta didik. Salah satu cara untuk itu antara lain 'live in' , dimana para peserta didik diajak untuk tinggal bersama-sama mereka yang miskin dan berkekurangan untuk beberapa waktu/hari: bekerja bersama mereka, makan bersama mereka, bermain bersama mereka, dst… Mereka yang miskin dan berkekurangan ada dimana-mana, ada di kota-kota besar maupun pedesaan. Pengalaman menunjukkan bahwa tinggal bersama dengan mereka yang miskin dan berkekurangan, tidak hanya memberi melainkan menerima sesuatu yang sangat berharga dan tak terlupakan, yaitu nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan kehidupan.

 

"Seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia, dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus" (Kol 1:19-20).

 

Salib Kristus adalah persembahan Diri total Yesus, Penyelamat Dunia, kepada Allah dan dunia, demi keselamatan dan kebahagiaan dunia seisinya. Salib ada di ketinggian, bagian paling tinggi dari bangunan atau lahan tanah, menggambarkan bahwa Yang Tersalib adalah Imam Agung, penyalur rahmat Allah bagi dunia/manusia dan doa, dambaan, kerinduan, harapan dunia/manusia bagi Allah, penghubung langit dan bumi, sorga dan dunia, Allah dan umat manusia. Salib adalah pendamaian, maka jika anda mendambakan hidup damai sejahtera silahkan hidup dan bertindak dijiwai oleh Yang Tersalib. Sebagai contoh sederhana: anda mau marah terhadap sesama, silahkan marah dan mulailah dengan membuat tanda salib lebih dahulu agar marah dalam Tuhan.

 

Salib juga dapat menjadi symbol atau inspirasi penghayatan tiga keutamaan utama: iman, harapan dan cinta kasih maupun trikaul -> keperawanan, ketaatan dan kemiskinan, yang semuanya ditandai dengan persembahan atau pembaktian diri total kepada yang lain, entah Tuhan maupun sesama manusia, pekerjaan, tugas dan panggilan. Entah berapa kali kita telah membuat tanda salib, ada berapa salib yang terpasang di rumah anda atau kantor anda, dst.., namun apakah salib tersebut telah menjiwai cara hidup dan cara bertindak anda rasanya boleh dipertanyakan. Maka dengan ini kami mengaharapkan ketika membuat tanda salib hendaknya sungguh dihayati dengan sepenuh hati.

 

Penulis kitab Ulangan mengingatkan kita bahwa "firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan." (Ul 30:14). Dengan kata lain kita semua dipanggil untuk mendengarkan suara hati kita masing-masing serta melakukan apa yang diperintahkannya. Memang agar suara hati senantiasa dalam keadaan baik dan benar perlu dilatih terus menerus dengan berbuat baik dan benar kepada sesama dimanapun dan kapanpun. Suara hati perlu dididik dan dibina dengan perbuatan-perbuatan baik dan benar terus menerus, mentaati dan melaksanakan aneka tatanan dan aturan yang terkait dengan hidup dan panggilann Maka kami mengingatkan dan mengajak para orangtua untuk senantiasa membiasakan anak-anaknya berbuat baik dan benar dimanapun dan kapanpun dan tentu saja dengan teladan konkret dari para orangtua sendiri, agar suara hati mereka tetap baik dan jernih.     

       

"Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman. Titah TUHAN itu tepat, menyukakan hati; perintah TUHAN itu murni, membuat mata bercahaya. Takut akan TUHAN itu suci, tetap ada untuk selamanya; hukum-hukum TUHAN itu benar, adil semuanya, lebih indah dari pada emas, bahkan dari pada banyak emas tua; dan lebih manis dari pada madu, bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah"

(Mzm 19:8-11)

Jakarta, 11 Juli 2010