Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Minggu, 04 Juli 2010

5 Juli - Hos 2:13.14b-15.18-19; Mat 9:18-26

"Imanmu telah menyelamatkan engkau"

(Hos 2:13.14b-15.18-19;  Mat 9:18-26)

 

"Sementara Yesus berbicara demikian kepada mereka, datanglah seorang kepala rumah ibadat, lalu menyembah Dia dan berkata: "Anakku perempuan baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup." Lalu Yesus pun bangunlah dan mengikuti orang itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya.. Pada waktu itu seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya. Karena katanya dalam hatinya: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh." Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata: "Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau." Maka sejak saat itu sembuhlah perempuan itu. Ketika Yesus tiba di rumah kepala rumah ibadat itu dan melihat peniup-peniup seruling dan orang banyak ribut, berkatalah Ia: "Pergilah, karena anak ini tidak mati, tetapi tidur." Tetapi mereka menertawakan Dia. Setelah orang banyak itu diusir, Yesus masuk dan memegang tangan anak itu, lalu bangkitlah anak itu. Maka tersiarlah kabar tentang hal itu ke seluruh daerah itu" (Mat 9:18-26), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Kita semua mengakui diri sebagai orang beriman, namun apakah kita semua sungguh menghayati atau mewujudkan iman kita ke dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari mungkin boleh dipertanyakan. Dalam Warta Gembira ini dikisahkan iman seorang kepala rumah ibadat dan seorang perempuan yang sudah dua belas tahun menderita pendarahan, dimana apa yang mereka imani menjadi kenyataan atau terwujud. Permohonan mereka yang penuh iman dikabulkan oleh Tuhan, maka marilah kita meneladan dua pribadi tersebut, lebih-lebih bagi mereka yang sedang, lesu, frustrasi, putus asa, dst..Marilah dengan rendah hati kita buka dan persembahkan sepenuhnya kepada Tuhan apa yang sedang kita rasakanm takuti atau khawatiirkan atau yang menjadi beban hidup kita. Kita renungkan dan imani sabda Yesus  "Teguhkanlah hatimu, imanmu menyelamatkan engkau". Kegiatan dan kesibukan kita setiap hari antara lain: makan, minum, istirahat/tidur, bekerja/belajar, dst…, maka jika kita mendambakan hidup selamat, damai sejahtera, sehat wal'afiat dan bahagia, marilah aneka kegiatan dan kesibukan tersebut kita jiwai dengan iman. Makan dan minum dalam atau dengan semangat iman berarti mengkonsumsi makanan dan minuman yang sehat, tidak membahayakan kesehatan tubuh, maka juga tidak mengikuti selera pribadi. Bekerja atau belajar dengan atau dalam semangat iman kiranya identik dengan menghayati tugas belajar maupun bekerja bagaikan sedang beribadah, sehingga buah-buah pembelajaran maupun pekerjaan semakin menyucikan diri kita sendiri maupun mereka yang kena dampak buah pembelajaran atau pekerjaan kita.

·   "Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku untuk selama-lamanya dan Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam keadilan dan kebenaran, dalam kasih setia dan kasih sayang. Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam kesetiaan, sehingga engkau akan mengenal TUHAN" (Hos 2:18-19). Kutipan ini merupakan penghayatan iman nabi Hosea yang begitu mesra bersatu dengan Tuhan, sehingga menggambarkan relasinya dengan Tuhan bagaikan relasi suami-isteri yang saling mengasihi dengan penuh mesra dan kehangatan.. Sebagai orang beriman kita semua dipanggil untuk meneladan penghayatan nabi Hosea tersebut diatas, berrelasi atau berkomunikasi dengan Tuhan dengan mesra dan hangat, dengan kata lain menghayati segala sesuatu dalam Tuhan atau menemukan Tuhan dalam segala sesuatu. Tentu saja kemesraan dan kehangatan pertama-tama dan terutama terjadi dalam relasi antar manusia sendiri, maka hemat saya kemesraan dan kehangatan kasih ini harus terjadi di dalam setiap keluarga maupun relasi suami-isteri yang dibangun dan didasari oleh kasih. Kami percaya ketika orang menerima pengalaman kasih mesra dan hangat di dalam keluarga, maka dengan mudah akan  tergerak untuk senantiasa berhubungan dengan mesra dan hangat dengan siapapun, tanpa pandang bulu, SARA, jabatan, kedudukan atau usia. Para bapak dan ibu, suami dan isteri kami harapkan menjadi teladan atau contoh hidup kasih mesra dan hangat bagi anak-anak yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada anda sekalian. Demikian juga kami berharap kepada rekan-rekan imam, biarawan maupun biarawati, untuk menjadi teladan dalam penghayatan perintah utama dan pertama dari Yesus, yaitu "saling mengasihi satu sama lain", dan dengan penuh kasih berdoa bagi mereka yang memusuhinya.

 

"Setiap hari aku hendak memuji Engkau, dan hendak memuliakan nama-Mu untuk seterusnya dan selamanya. Besarlah TUHAN dan sangat terpuji, dan kebesaran-Nya tidak terduga. Angkatan demi angkatan akan memegahkan pekerjaan-pekerjaan-Mu dan akan memberitakan keperkasaan-Mu. Semarak kemuliaan-Mu yang agung dan perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib akan kunyanyikan" (Mzm 145:2-5).

Jakarta, 5 Juli 2010


Jumat, 02 Juli 2010

MInggu Biasa XIV - Yes 66: 10-14; Gal 6:14-18; Luk 10:1-12.17-20

"Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu"

Mg Biasa XIV: Yes 66: 10-14; Gal 6:14-18; Luk 10:1-12.17-20


Akhir-akhir ini kasus pelecehan  seksual yang dilakukan oleh sementara imam/pastor diangkat alias menjadi wacana publik, sementara itu jumlah imam/pator yang mengundurkan diri terus berlangsung dan panggilan untuk menjadi imam merosot. Jumlah pekerja dalam Gereja, imam, bruder atau suster semakin merosot dan kebutuhn pelayanan umat semakin meningkat. Sering saya dengar keluh kesah umat betapa sulitnya minta bantuan imam untuk memimpin ibadat atau penerimaan sakramen, misalnya penerimaan sakramen minyak suci bagi mereka yang menderita sakit keras, perayaan ekaristi untuk pemakaman, dst.. Memang tantangan dan godaan menjadi imam, bruder atau suster maupun hidup berkeluarga pada masa kini sungguh berat dan banyak, maka baiklah kita tanggapi sabda Yesus hari ini, sebagaimana menjadi Warta Gembira hari ini.

 

"Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan" (Luk 10:2-4).  

 

Kita dipanggil oleh Yesus untuk mohon dengan rendah hati agar Tuhan mengirimkam pekerja-pekerja, imam, bruder atau suster yang siap sedia serta dengan belas kasih melayani umat Allah. Kami merasa dalam hal ini peran orangtua atau keluarga dominan alias penting sekali, antara lain suasana hidup berkeluarga atau di dalam keluarga. Hidup suami-isteri didasari dan dijiwai oleh cinta kasih dan ketika mengawali hidup baru sebagai suami-isteri saling berjanji untuk saling mengasihi baik dalam sehat maupun sakit, untung maupun malang sampai mati. Maka  suasana hidup berkeluarga hendaknya sungguh dijiwai oleh cintakasih, yang antara lain relasi antar anggota keluarga ditandai atau diwarnai oleh 'saling sabar, saling bermurah hati, saling tidak marah dan tidak menyimpan kesalahan, saling rendah hati, saling menghormati, saling percaya, saling peka akan kebutuhan yang lain lebih-lebih bagi yang sakit, sedih dan menderita, dst" (lih 1Kor 13:4-7),.

 

Dalam kebersamaan cintakasih hendaknya diusahakan setiap hari ada doa bersama, antara lain berdoa kepada Tuhan mohon agar Ia mengirimkan pekerja-pekerja dalam kebun anggur Tuhan. Kepada para orangtua kami ingatkan dan harapkan bahwa ketika salah seorang anaknya ada yang merasa tergerak dan terpanggil untuk menjadi imam, bruder dan suster hendaknya didukung, dan tidak dihalang-halangi melalui aneka cara. Yesus mengingatkan bahwa ada serigala-serigala yang siap menerkam dalam perjalanan hidup kita. Serigala-serigala itu ada kemungkinan ada di dalam hati kita masing-masing, yaitu berupa ketakutan atau kekhawatiran. Pada uumnya mereka yang khawatir adalah orang-orang kota yang kaya dan hanya memiiki dua atau tiga anak.

 

Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus kita juga diutus untuk mewartakan kabar baik, yaitu hidup dan bertindak sesuai dengan ajaran-ajaran atau sabda-sabdaNya dalam keadaan atau situasi apapun, kapanpun dan dimanapun. Kita diingatkan oleh Yesus bahwa kita 'seperti anak domba ke tengah serigala-seigala. Janganlah membawa pundit-undi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapapun selama dalam perjalanan".  Peringatan atau pesan Yesus ini kiranya dapat kita hayati dengan hidup dan bertindak sederhana atau.lebih mengandalkan diri pada manusia daripada aneka macam sarana-prasarana seperti uang, alat-alat, kendaraan dst.. Dengan kata lain hendaknya berpegang pada motto "the man behind the gun" (manusia yang berada dibalik senjata atau  aneka sarana-prasarana). Aneka sarana-prasarana memang dapat menjadi 'serigala-serigala'yang siap menerkam, melumpuhkan atau melemahkan serta membuat frustrasi manusianya. Kita juga diingatkan untuk 'tidak memberi salam kepada siapapun selama di perjalanan', artinya tidak menyeleweng atau mengerjakan pekerjaan sambilan.

 

"Aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia." (Gal 6:14)

Kebanyakan dari kita bermegah atas apa yang kita miliki atau kuasai saat ini, misalnya pangkat, kedudukan, harta benda/uang, kecantikan, ketampanan, kepandaian, dst.. alias bermegah atas halhal duniawi. Paulus memberi kesaksian bahwa ia hanya bermegah dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus "sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia".  Entah sudah berapa kali kita yang beriman kepada Yesus Kristas nenbuat tanda salib, kiranya tak ada seorangpun yang sempat menghitung atau nengingat-ingatnya. Dalam membuat tanda salib antara lain dengan telunjuk jari kita menunjuk atau  menepuk dahi, dada dan bahu, yang berarti otak/pikiran, hati/jantung dan kekuatan kita. Bukankah hal itu berarti kita menyalibkan atau mempersembahkan pikiran, perasaan dan kekuatan kita kepada Yang Tersalib?  

 

"Dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia"  berarti aku  harus bekerja keras menyelamatkan dunia seisinya dengan hidup mendunia, berpartisipasi dalam seluk-beluk atau hal ihkwal duniawi. Kita menycikan dunia dan dengan semakin mendunia kita semakin suci. Dengan kata lain mendunia, entah belajjar atau bekerja, entah sedang rekreasi, berjalan, dst.. bagaikan beribadat. Dalam bahasa /spiritualitas  Ignatian hal itu berarti menemukan Tuhan dalam segala sesuatu atau menghayati segala sesuatu di dalam Tuhan ('contemplativus in actione'). Dalam hal ini Romo JB Mangunwijaya pr alm. sering mengingatkan demikian dalam berbagai kesempatan "Jangan mencari kesucian di kapel, di gedung gereja, di tempat ziarah dst.., tetapi carilah kesucian di kamar mandi, di WC/toilet, di kamar makan, di dapur, di tempat tidur, di kantor, di jalanan dst."

 

"Bersukacitalah bersama-sama Yerusalem, dan bersorak-soraklah karenanya, hai semua orang yang mencintainya! Bergiranglah bersama-sama dia segirang-girangnya, hai semua orang yang berkabung karenanya" (Yes 66:10), demikian peringatan atau ajakan Yesaya. Yerusalem adalah kota suci, kota atau tempat idaman, sedangkan yang menjadi tempat idaman kita masa kini atau 'Yerusalem' kita adalah keluarga dan tempat kerja/belajar, dimana kita memoboroskan waktu dan tenaga kita setiap hari. Di dalam keluarga atau tempat kerja/belajar kita masing-masing kita diharapkan untuk senantiasa bersukacita, bergirang bersama segirang-girangnya. Maka marilah kita mawas diri apakah di dalam keluarga dan tempat kerja/belajar kita sungguh bersukacita meskipun harus menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan. Menghadapi tantangan, masalah dan hambatan dengan sukacita atau girang berarti akan mampu mengatasinya, tentu saja sukacita atau kegirangan dalam dan bersama dengan Tuhan, karena Tuhan senantiasa mendampingi perjalanan hidup dan pelaksanaa pekerjaan atau tugas. .   

 

" Bersorak-sorailah bagi Allah, hai seluruh bumi, mazmurkanlah kemuliaan nama-Nya, muliakanlah Dia dengan puji-pujian!....Seluruh bumi sujud menyembah kepada-Mu, dan bermazmur bagi-Mu, memazmurkan nama-Mu." Pergilah dan lihatlah pekerjaan-pekerjaan Allah; Ia dahsyat dalam perbuatan-Nya terhadap manusia: Ia mengubah laut menjadi tanah kering, dan orang-orang itu berjalan kaki menyeberangi sungai. Oleh sebab itu kita bersukacita karena Dia"

(Mzm 66:1-2.4-6)

Jakarta, 4 Juli 2010


3 Juli - Ef 2:19-22; Yoh 20:24-29

"Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya"

(Ef 2:19-22; Yoh 20:24-29)

 

"Tetapi Tomas, seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ. Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: "Kami telah melihat Tuhan!" Tetapi Tomas berkata kepada mereka: "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya." Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!" Kemudian Ia berkata kepada Tomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah." Tomas menjawab Dia: "Ya Tuhanku dan Allahku!" Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya."(Yoh 20:24-29), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Tomas, rasul, pada hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Kata 'melihat' dan 'percaya' merupakan salah satu cirikhas dari Injil Yohanes. Maka baiklah dalam rangka mengenangkan pesta St.Tomas hari ini saya mengajak anda sekalian berrefleksi perihal dua kata tersebut di dalam hidup kita sehari-hari. Sebagai orang beriman kita memiliki tugas rasuli (sebagai yang diutus), tugas untuk menjadi pewarta-pewarta kabar baik atau gembira. Menjadi pewarta kabar baik atau gembira berarti cara hidup dan cara bertindak kita dimanapun dan kapanpun senantiasa menggembirakan serta memotivasi mereka yang melihat untuk semakin percaya atau beriman kepada Tuhan, semakin suci, semakin berbakti kepada Tuhan melalui sesamanya. Orang melihat kita mungkin akan berseru "Kami telah melihat Tuhan", Tuhan yang hidup dan berkarya dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini. Pengalaman Tomas kiranya juga mengingatkan kita semua pentingnya 'perjumpaan umat beriman' secara periodik, untuk ber-curhat perihal pengalaman hidup beriman sehari-hari, sebagaimana terjadi di beberapa daerah: ada pertemuan mingguan antar umat satu lingkungan untuk berdoa dan bertukar pengalaman bersama, ada pertemuan setiap sore di dalam keluarga antara anggota keluarga untuk makan bersama dan berdoa serta curhat bersama, dst… Kami berharap di dalam keluarga-keluarga setiap hari dapat terjadi perjumpaan bersama antar anggota keluarga, dan jika tidak mungkin setiap hari kiranya dapat setiap minggu (week-end) dalam waktu yang lebih panjang atau longgar. Kebersamaan antar seluruh anggota keluarga dalam kasih merupakan salah satu bentuk kerasulan tersendiri pada masa kini.

·   "Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru" (Ef 2:19-20), demikian peringatan Paulus kepada umat di Efesus, kepada kita semua yang beriman kepada Yesus Kristus. Kita sama-sama anggota keluarga Allah, paguyuban umat yang beriman kepada Allah, tiada lagi orang asing atau pendatang, tetapi semuanya anggota. Karena kita dibangun di atas para rasul dan nabi, maka mau tak mau cara hidup dan cara bertindak kita memiliki sifat rasuli dan kenabian. Perihal rasuli sudah saya coba paparkan secara sederhana di atas, maka perkenankan di sini saya sampaikan perihal kenabian. Seorang nabi adalah yang diutus Allah untuk membawa kebenaran-kebenaran atau meneruskan kehendak Allah, maka menghayati panggilan kenabian kita diharapkan kita senantiasa membawa kebenaran-kebenaran dimanapun dan kapanpun. Apa yang disebut benar senantiasa berlaku secara universal atau umum, dimana saja dan kapan saja, tiada terikat oleh ruang dan waktu. Apa yang benar dan baik antara lain adalah keselamatan jiwa, maka menghayati panggilan kenabian berarti senantiasa mengusahakan keselamatan jiwa dalam cara hidup dan cara bertindak. Demi keselamatan jiwa ada kemungkinan orang harus menderita secara phisik, dibenci orang lain, khususnya oleh mereka yang kurang beriman. Panggilan kenabian pada masa kini sungguh mendesak untuk kita hayati bersama-sama, mengingat dan memperhatikan masih maraknya kebohongan-kebohongan di sana-sini dalam hidup sehari-hari. Sekali lagi kami berharap hendaknya anak-anak di dalam keluarga senantiasa dilatih dan dibiasakan untuk melakukan apa yang benar dan baik, jauhkan aneka bentuk kebohongan-kebohongan.

 

"Pujilah TUHAN, hai segala bangsa, megahkanlah Dia, hai segala suku bangsa! Sebab kasih-Nya hebat atas kita, dan kesetiaan TUHAN untuk selama-lamanya. Haleluya!" (Mzm 117)

 

Jakarta, 3 Juli 2010     .