Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Kamis, 01 Juli 2010

2 Juli - Am 8:4-6.9-12; Mat 9:9-13

"Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan"

(Am 8:4-6.9-12; Mat 9:9-13)

 

"Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: "Ikutlah Aku." Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus: "Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?" Yesus mendengarnya dan berkata: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa." (Mat 9:9-13), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Bernardino Realino dkk, para imam Yesuit, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Orang-orang Farisi memang begitu menekankan peraturan sebagaimana tertulis dan kurang menghayati jiwa atau tujuan sejati dari peraturan. Hemat saya semua peraturan dibuat dan diundangkan berdasarkan kasih dan bertujuan mewujudkan kasih juga, dengan kata lain yang utama dan pertama-tama adalah kasih atau belas kasih bukan peraturan, formalitas, liturgy, dst.. Maka cukup menarik tanggapan Yesus atas kata-kata orang Farisi kepada para murid Yesus: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa".  Kita semua yang beriman pada Yesus Kristus, dan kiranya secara khusus para imam/pastor, dipanggil untuk menjadi saksi dan teladan belas kasihan dalam hidup, kerja dan pelayanan kita dimanapun dan kapanpun. Memang yang lebih membutuhkan belas kasihan adalah mereka yang sakit atau berdosa, maka pertama-tama saya mengingatkan dan mengajak mereka yang berkarya bagi orang sakit, entah dokter, perawat dan petugas lainnya, untuk sungguh berbelas kasih kepada para pasien: melayani, merawat, memperlakukan para pasien dengan rendah hati, lemah lembut, penuh senyum, murah hati, dst…  Para imam atau pastor kami dambakan juga menjadi teladan dan saksi dalam hal belas kasihan kepada umat yang dipercayakan untuk dilayani atau digembalakan: salurkan kasih pengampunan kepada mereka yang berdosa atau bersalah.

·   "Terimalah didikanku, lebih dari pada perak, dan pengetahuan lebih dari pada emas pilihan. Karena hikmat lebih berharga dari pada permata, apa pun yang diinginkan orang, tidak dapat menyamainya." (Am 8:10-11).  Kutipan ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita bersama. "Hikmat lebih berharga dari pada permata", inilah yang selayaknya menjadi pedoman atau tuntunan cara hidup dan cara bertindak kita dimanapun dan kapanpun. Pertama-tama kami ingatkan para orangtua yang memiliki anak-anak: hendaknya pendidikan anak-anak lebih diutamakan daripada kebutuhan yang lain. Pengalaman menunjukkan ketika orangtua memperhatikan pendidikan anak-anaknya maka berbahagia dan sejahtera masa depan anak-anak maupun orangtua sendiri. Wariskan kepada anak-anak nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan kehidupan bukan uang, emas, permata atau berlian. Kepada para pengambil kebijakan atau keputusan dalam hidup bersama, misalnya para anggota DPR dan  kepala daerah maupun presiden,  kami harapkan memberi anggaran yang memadai bagi program pendidikan anak-anak; tekankan lebih ke 'spiritual dan human investment daripada material invesment'. Jangan bangga dengan bangunan gedung tinggi, ber-AC, dst.. sementara itu rakyatnya kurang terdidik, miskin dan amoral.  Permata, uang, harta benda, dst.. dapat hilang dan musnah dalam waktu sesaat, tetapi dididikan nilai, keutamaan dan budi pekerti hemat saya akan abadi sampai mati. Secara umum kami berharap agar anak-anak dan generasi muda sungguh memperoleh kesempatan untuk tumbuh dan berkembang yang memadai sesuai dengan tuntutan zaman. Maka kami berharap kepada orangtua, orang dewasa serta yang berkuasa, untuk memberi kemungkinan dan kesempatan tersebut; tidak memperhatikan pendidikan dan pembinaan anak-anak serta generasi muda berarti mau bunuh diri pelan-pelan alias masa depan suram.

 

"Aku akan berpegang pada ketetapan-ketetapan-Mu, janganlah tinggalkan aku sama sekali. Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu. Dengan segenap hatiku aku mencari Engkau, janganlah biarkan aku menyimpang dari perintah-perintah-Mu"

 (Mzm. 119:8-10)

     

Jakarta, 2 Juli 2010


Rabu, 30 Juni 2010

1Juli - Am 7:10-17; Mat 9:1-4

"Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu?"

(Am 7:10-17; Mat 9:1-4)

 

"Sesudah itu naiklah Yesus ke dalam perahu lalu menyeberang. Kemudian sampailah Ia ke kota-Nya sendiri. Maka dibawa oranglah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: "Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni." Maka berkatalah beberapa orang ahli Taurat dalam hatinya: "Ia menghujat Allah." Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata: "Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu?" (Mat 9:1-4), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Orang-orang ahli Taurat pada masa kini antara lain para ahli kitab suci, ahli hukum/aturan, dst… lebih-lebih para ahli hukum. Mengapa? Perhatikan saja dalam berbagai macam persidangan atau rapat dimana para ahli hukum senantiasa berusaha melihat dan mengangkat kekurangan, kejahatan dan kelemahan orang lain guna menjatuhkan orang lain dan memenangkan dirinya sendiri. Apalagi ahli hukum yang telah memperoleh pesan sponsor alias diberi uang pelicin atau sogokan pasti berusaha mati-matian, bekerja keras untuk berpikiran jahat terhadap yang lain. Apa yang terjadi di dalam persidangan memang saling menyalahkan, dan dengan demikian memang sungguh melelahkan serta memboroskan waktu, tenaga dan dana/uang. Kami harapkan di dalam hidup sehari-hari gaya hidup dan kerja di persidangan tersebut tidak terjadi, dimana orang senantiasa berpikiran jahat di dalam hatinya. Sabda Yesus hari ini kiranya baik kita renungkan dan refleksikan secara mendalam, artinya kita tanggapi dengan sepenuh hati. Marilah kita buang pikiran jahat di dalam hati kita masing-masing serta senantiasa berusaha berpikiran baik di dalam hati kita masing-masing. Orang yang berpikiran jahat berarti hidup bersama setan atau roh jahat, dan dengan demikian memang menjadi ahli kejahatan, sedangkan orang yang berpikiran baik berarti hidup bersama dengan Roh Kudus atau Tuhan, dan dengan demikian menjadi ahli atau pakar kebaikan, senang berbuat baik kepada sesamanya. Sebagai orang beriman kita semua dipanggil untuk senantiasa saling berbuat baik satu sama lain, dan hal itu antara lain dapat dimulai dan didasari oleh hati yang senantiasa berpikiran baik. Kami percaya di dalam diri kita masing-masing lebih banyak apa yang baik daripada yang jahat, maka marilah kita saling mengangkat dan mewujudkan apa yang baik di dalam diri kita masing-masing.

·   "Aku harus mempersembahkan korban keselamatan, dan pada hari ini telah kubayar nazarku itu. Itulah sebabnya aku keluar menyongsong engkau, untuk mencari engkau dan sekarang kudapatkan engkau. Telah kubentangkan permadani di atas tempat tidurku, kain lenan beraneka warna dari Mesir. Pembaringanku telah kutaburi dengan mur, gaharu dan kayu manis" (Am 7:14-17), demikian ungkapan seorang perempuan sundal alias pelacur. Saya kira seorang pelacur yang baik senantiasa berusaha dengan keras membahagiakan dan menyenangkan tamu-tamunya atau mereka yang mendatanginya; ia akan memberi pelayanan dalam bentuk apapun kepada para tamunya. Maka dalam sebuah seminar yang saya hadiri ada seorang pembicara (ibu) yang dalam ceramahnya ada selingan dan saran :"Para ibu atau isteri hendaknya belajar dari para pelacur bagaimana cara membahagiakan dan menyenangkan suaminya". Tentu saja bukan saran atau nasihat bagi para ibu untuk melacurkan diri, melainkan gaya dan sikap hidup membahagiakan dan menyenangkan orang lain. Rasanya kita semua mendambakan dan merindukan hidup bahagia dan senang, maka marilah kita dengan segala upaya serta bantuan rahmat Tuhan berusaha saling membahagiakan dan menyenangkan satu sama lain dimanapun dan kapanpun serta dalam kondisi dan situasi apapun. Ingat bagi kita yang beriman kepada Yesus Kristus, Warta Gembira dan Pewarta Gembira, berarti kita dipanggil untuk meneladanNya dengan menjadi pawarta gembira. Kehadiran  dan sepak terjang kita dimanapun dan kapanpun hendaknya menggembirakan dan menyenangkan, sehingga memberdayakan orang lain untuk semakin beriman, mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan atau Penyelenggaraan Ilahi. Tidak ada alasan untuk tidak gembira bagi yang beriman kepada Tuhan.

 

"Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman. Titah TUHAN itu tepat, menyukakan hati; perintah TUHAN itu murni, membuat mata bercahaya. Takut akan TUHAN itu suci, tetap ada untuk selamanya; hukum-hukum TUHAN itu benar, adil semuanya, lebih indah dari pada emas, bahkan dari pada banyak emas tua; dan lebih manis dari pada madu, bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah" (Mzm 19:8-11)..

       

Jakarta, 1 Juli 2010


Senin, 28 Juni 2010

30 Juni - Am 5:14-15.21-24; Mat 8:28-34

"Suruhlah kami pindah ke dalam kawanan babi itu."

(Am 5:14-15.21-24; Mat 8:28-34)

 

"Setibanya di seberang, yaitu di daerah orang Gadara, datanglah dari pekuburan dua orang yang kerasukan setan menemui Yesus. Mereka sangat berbahaya, sehingga tidak seorang pun yang berani melalui jalan itu. Dan mereka itu pun berteriak, katanya: "Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah? Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?" Tidak jauh dari mereka itu sejumlah besar babi sedang mencari makan. Maka setan-setan itu meminta kepada-Nya, katanya: "Jika Engkau mengusir kami, suruhlah kami pindah ke dalam kawanan babi itu." Yesus berkata kepada mereka: "Pergilah!" Lalu keluarlah mereka dan masuk ke dalam babi-babi itu. Maka terjunlah seluruh kawanan babi itu dari tepi jurang ke dalam danau dan mati di dalam air. Maka larilah penjaga-penjaga babi itu dan setibanya di kota, diceriterakannyalah segala sesuatu, juga tentang orang-orang yang kerasukan setan itu. Maka keluarlah seluruh kota mendapatkan Yesus dan setelah mereka berjumpa dengan Dia, mereka pun mendesak, supaya Ia meninggalkan daerah mereka" (Mat 8:28-34), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Para penjahat pada umumnya ketakutan ketika berjumpa dengan para petugas keamanan, maka sering terjadi perubahan ruman muka atau gerak-gerik, bahkan ketika terjebak mereka sering berteriak lebih dulu dengan gertakan keras guna membela diri. Begitulah juga yang terjadi dengan setan yang bertemu dengan Yesus dan berteriak "Apa urusanMu dengan kami, hai Anak Allah? Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?...Jika Engkau mengusir kami, suruhlah kami pindah ke dalam kawanan babi itu". Apa yang diminta dikabulkan oleh Yesus dan setan-setan itupun masuk ke dalam babi-babi. Dua hal kiranya dapat saya angkat dari kisah ini. Pertama-tama adalah bahwa siapapun yang sedang berbuat jahat pada umumnya merasa diri tidak aman dan terancam terus menerus, serta senantiasa berusaha melindungi diri melalui berbagai cara. Semakin melindungi diri berarti semakin menyendiri dan juga semakin terancam, maka kepada para penjahat kami harapkan bertobat. Kedua perihal babi: rasanya jika rekan-rekan umat Islam menyikapi babi sebagai yang haram dan dengan demikian tidak boleh dikomsumsi merupakan kebiasaan yang sudah lama terjadi di Timur Tengah, sehingga para penginjil pun menggunakan 'babi' sebagai tempat berlindung setan. Mungkin karena babi mengandung lemak yang tinggi dan dengan demikian berbahaya untuk kesehatan tubuh (tentu saja jika mengkonsumsi berlebihan), maka diperlakukan sebagai tempat setan. Bercermin dari ini saya ingatkan: marilah kita mengkonsumsi aneka makanan dan minuman yang membuat tubuh kita sehat dan segar bugar.

·   "Segala jalan orang terbuka di depan mata TUHAN, dan segala langkah orang diawasi-Nya. Orang fasik tertangkap dalam kejahatannya, dan terjerat dalam tali dosanya sendiri. Ia mati, karena tidak menerima didikan dan karena kebodohannya yang besar ia tersesat" (Am 5:21-23). Apa yang kita lakukan atau katakan, bahkan yang sedang kita pikirkan dan dambakan diketahui oleh Tuhan, tiada yang tersembunyi sedikitpun perihal diri kita di 'mata Tuhan'. Maka sebagai orang beriman kami mengajak anda sekalian untuk senantiasa jujur terhadap diri sendiri. Jika kita dapat setia jujur terhadap diri sendiri dalam kondisi dan situasi apapun dan dimanapun, maka dengan mudah kita bertindak jujur terhadap orang lain, sesama dan lingkungan hidup kita. "Jujur adalah sikap dan perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat curang, berkata-kata benar apa adanya dan berani mengakui kesalahan, serta rela berkorban untuk kebenaran" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 17). Didik dan biasakan anak-anak anda di dalam keluarga perihal kejujuran ini sedini mungkin serta jauhkan aneka macam bentuk kebohongan dan kecurangan; orangtua hendaknya menjadi teladan dalam hal kejujuran. Kami berharap juga kepada para pemimpin, atasan, pejabat dan petinggi di tingkat dan bidang kehidupan bersama dimanapun untuk menjadi teladan dalam hal kejujuran. Semoga para penegak hukum seperti polisi, hakim, jaksa, dll..juga dapat menjadi teladan dalam hal kejujuran; demikian juga para anggota DPR, entah di tingkat pusat maupun daerah. Hidup dan bertindak jujur di Negara kita masa kini sungguh up to date dan mendesak untuk dihayati dan disebarluaskan mengingat dan memperhatikan aneka kebohongan dan korupsi masih marak di sana-sini, di berbagai bidang kehidupan bersama.

 

"Dengarlah, hai umat-Ku, Aku hendak berfirman, hai Israel, Aku hendak bersaksi terhadap kamu: Akulah Allah, Allahmu! Bukan karena korban sembelihanmu Aku menghukum engkau; bukankah korban bakaranmu tetap ada di hadapan-Ku? Tidak usah Aku mengambil lembu dari rumahmu atau kambing jantan dari kandangmu, sebab punya-Kulah segala binatang hutan, dan beribu-ribu hewan di gunung. Aku kenal segala burung di udara, dan apa yang bergerak di padang adalah dalam kuasa-Ku" (Mzm 50: 7-11).

           

Jakarta, 30 Juni 2010