Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Senin, 28 Juni 2010

30 Juni - Am 5:14-15.21-24; Mat 8:28-34

"Suruhlah kami pindah ke dalam kawanan babi itu."

(Am 5:14-15.21-24; Mat 8:28-34)

 

"Setibanya di seberang, yaitu di daerah orang Gadara, datanglah dari pekuburan dua orang yang kerasukan setan menemui Yesus. Mereka sangat berbahaya, sehingga tidak seorang pun yang berani melalui jalan itu. Dan mereka itu pun berteriak, katanya: "Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah? Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?" Tidak jauh dari mereka itu sejumlah besar babi sedang mencari makan. Maka setan-setan itu meminta kepada-Nya, katanya: "Jika Engkau mengusir kami, suruhlah kami pindah ke dalam kawanan babi itu." Yesus berkata kepada mereka: "Pergilah!" Lalu keluarlah mereka dan masuk ke dalam babi-babi itu. Maka terjunlah seluruh kawanan babi itu dari tepi jurang ke dalam danau dan mati di dalam air. Maka larilah penjaga-penjaga babi itu dan setibanya di kota, diceriterakannyalah segala sesuatu, juga tentang orang-orang yang kerasukan setan itu. Maka keluarlah seluruh kota mendapatkan Yesus dan setelah mereka berjumpa dengan Dia, mereka pun mendesak, supaya Ia meninggalkan daerah mereka" (Mat 8:28-34), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Para penjahat pada umumnya ketakutan ketika berjumpa dengan para petugas keamanan, maka sering terjadi perubahan ruman muka atau gerak-gerik, bahkan ketika terjebak mereka sering berteriak lebih dulu dengan gertakan keras guna membela diri. Begitulah juga yang terjadi dengan setan yang bertemu dengan Yesus dan berteriak "Apa urusanMu dengan kami, hai Anak Allah? Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?...Jika Engkau mengusir kami, suruhlah kami pindah ke dalam kawanan babi itu". Apa yang diminta dikabulkan oleh Yesus dan setan-setan itupun masuk ke dalam babi-babi. Dua hal kiranya dapat saya angkat dari kisah ini. Pertama-tama adalah bahwa siapapun yang sedang berbuat jahat pada umumnya merasa diri tidak aman dan terancam terus menerus, serta senantiasa berusaha melindungi diri melalui berbagai cara. Semakin melindungi diri berarti semakin menyendiri dan juga semakin terancam, maka kepada para penjahat kami harapkan bertobat. Kedua perihal babi: rasanya jika rekan-rekan umat Islam menyikapi babi sebagai yang haram dan dengan demikian tidak boleh dikomsumsi merupakan kebiasaan yang sudah lama terjadi di Timur Tengah, sehingga para penginjil pun menggunakan 'babi' sebagai tempat berlindung setan. Mungkin karena babi mengandung lemak yang tinggi dan dengan demikian berbahaya untuk kesehatan tubuh (tentu saja jika mengkonsumsi berlebihan), maka diperlakukan sebagai tempat setan. Bercermin dari ini saya ingatkan: marilah kita mengkonsumsi aneka makanan dan minuman yang membuat tubuh kita sehat dan segar bugar.

·   "Segala jalan orang terbuka di depan mata TUHAN, dan segala langkah orang diawasi-Nya. Orang fasik tertangkap dalam kejahatannya, dan terjerat dalam tali dosanya sendiri. Ia mati, karena tidak menerima didikan dan karena kebodohannya yang besar ia tersesat" (Am 5:21-23). Apa yang kita lakukan atau katakan, bahkan yang sedang kita pikirkan dan dambakan diketahui oleh Tuhan, tiada yang tersembunyi sedikitpun perihal diri kita di 'mata Tuhan'. Maka sebagai orang beriman kami mengajak anda sekalian untuk senantiasa jujur terhadap diri sendiri. Jika kita dapat setia jujur terhadap diri sendiri dalam kondisi dan situasi apapun dan dimanapun, maka dengan mudah kita bertindak jujur terhadap orang lain, sesama dan lingkungan hidup kita. "Jujur adalah sikap dan perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat curang, berkata-kata benar apa adanya dan berani mengakui kesalahan, serta rela berkorban untuk kebenaran" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 17). Didik dan biasakan anak-anak anda di dalam keluarga perihal kejujuran ini sedini mungkin serta jauhkan aneka macam bentuk kebohongan dan kecurangan; orangtua hendaknya menjadi teladan dalam hal kejujuran. Kami berharap juga kepada para pemimpin, atasan, pejabat dan petinggi di tingkat dan bidang kehidupan bersama dimanapun untuk menjadi teladan dalam hal kejujuran. Semoga para penegak hukum seperti polisi, hakim, jaksa, dll..juga dapat menjadi teladan dalam hal kejujuran; demikian juga para anggota DPR, entah di tingkat pusat maupun daerah. Hidup dan bertindak jujur di Negara kita masa kini sungguh up to date dan mendesak untuk dihayati dan disebarluaskan mengingat dan memperhatikan aneka kebohongan dan korupsi masih marak di sana-sini, di berbagai bidang kehidupan bersama.

 

"Dengarlah, hai umat-Ku, Aku hendak berfirman, hai Israel, Aku hendak bersaksi terhadap kamu: Akulah Allah, Allahmu! Bukan karena korban sembelihanmu Aku menghukum engkau; bukankah korban bakaranmu tetap ada di hadapan-Ku? Tidak usah Aku mengambil lembu dari rumahmu atau kambing jantan dari kandangmu, sebab punya-Kulah segala binatang hutan, dan beribu-ribu hewan di gunung. Aku kenal segala burung di udara, dan apa yang bergerak di padang adalah dalam kuasa-Ku" (Mzm 50: 7-11).

           

Jakarta, 30 Juni 2010


29 Juni - Kis 12:1-11; 2Tim 4:6-8.17-18; Mat 16:13-19

"Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya"

HR St Petrus dan St Paulus : Kis 12:1-11; 2Tim 4:6-8.17-18; Mat 16:13-19


 

"Uskup Gereja Roma, yang mewarisi secara tetap  tugas yang secara istimewa diberikan kepada Petrus, yang pertama di antara para rasul, dan harus diteruskan kepada para penggantinya, adalah kepala Dewan Para Uskup, Wakil Kristus dan Gembala Gereja universal di dunia ini, yang karenanya berdasarkan tugasnya mempunyai kuasa jabatan, tertinggi, penuh, langsung dan universal dalam Gereja yang selalu dapat dijalankannya dengan bebas" (KHK kan 331)

"Hidup yang dibaktikan dengan pengikraran nasihat-nasihat injili adalah bentuk kehidupan tetap di mana orang beriman, dengan mengikuti Kristus secara lebih dekat atas dorongan Roh Kudus, dipersembahkan secara utuh kepada Allah yang paling dicintai, agara demi kehormatan bagiNya dan demi pembangunan Gereja serta keselamatan dunia mereka dilengkapi alasan baru dan khusus, mengejar kesempurnaan cintakasih dalam pelayanan Kerajaan Allah, dan sebagai tanda unggul dalam Gereja mewartakan kemuliaan surgawi" (KHK kan 573 $ 1).

Kutipan dari Kitab Hukum Kanonik di atas ini kiranya dapat menjadi inspirasi dalam rangka merayakan St.Petrus dan St.Paulus, paus pertama dan rasul agung/ulung: Petrus yang duduk di tahta kepausan dan Paulus yang berkeliling dunia untuk mewartakan kabar baik kepada segala bangsa.

 

"Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga."(Mat 16:19)

Kutipan di atas ini adalah sabda Yesus kepada Petrus, paus pertama. Paus sebagai "Wakil Kristus dan Gembala Gereja universal di dunia ini" mengemban 'kunci Kerajaan Sorga', maka sungguh memiliki tugas mahaberat dan mulia. Meskipun Paus mempunyai kuasa jabatan tertinggi, Yang Mulia senantiasa menyatakan diri sebagai 'servus servorum' (hamba dari para hamba). Kepemimpinan di dalam Gereja memang kepemimpinan partisipatif, dimana sang pemimpin senantiasa mendengarkan yang dipimpin dengan rendah hati dan sepenuh hati agar pelayanannya sesuai kebutuhan yang dipimpin dalam rangka mengusahakan keselamatan jiwa. Maka meskipun memiliki kebebasan penuh, Paus tak pernah menggunakan kebebasan seenaknya, menurut keinginan pribadi, apalagi Paus adalah 'kepala Dewan para Uskup', yang berarti harus menghayati jabatan atau fungsinya dalam kolegialitas. Para Uskup juga memiliki kuasa tertinggi di wilayah keuskupannya, maka para Uskup mengambil bagian dalam jabatan kepemimpinan Paus, penerus.tahta St.Petrus. 

 

"Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku, supaya dengan perantaraanku Injil diberitakan dengan sepenuhnya dan semua orang bukan Yahudi mendengarkannya"

(2Tim 4:17)      

 

Kutipan di atas ini adalah pengalaman atau kesaksian Paulus yang disampaikan kepada Timotius dan kita semua. Paulus tergerak untuk meneladan Yesus 'yang berkeliling dari desa ke desa, kota ke kota' untuk mewartakan Injil atau Warta Gembira. Paulus tanpa kenal lelah mewartakan Warta Gembira ke seluruh dunia, tanpa takut dan gentar menghadapi aneka tantangan, masalah, ancaman serta kesulitan. Paulus percaya sepenuhnya bahwa "Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku", maka bersama dan bersatu dengan Tuhan tiada ketakutan dan kegentaran sedikitpun. Apa yang dikerjakan oleh Paulus ini dalam perjalanan sejarah Gereja sampai kini dilakukan oleh aneka lembaga hidup bakti, biarawan-biarawati, sesuai dengan charisma atau spiritualitas pendiri mereka masing-masing. Maka terjadilah keaneka-ragaman pelayanan pastoral di dalam mewartakan Warta Gembira.

 

Konggregasi Suci untuk Lembaga Hidup Bakti dan Institut Sekuler bersama dengan Konggregasi Suci untuk Para Uskup : "DIRECTIVES FOR THE MUTUAL RELATIONS BETWEEN BISHOPS AND RELIGIOUS IN THE CHURCH" (1978)

 

Di dalam sejarah Gereja pernah terjadi ketegangan antara uskup dan pemimpin lembaga hidup bakti setempat atau pastor paroki dan paguyuban gerejani seperti  Gerakan Kharismatik, Legio Mariae, Pemuda Katolik, PMKRI, dll.. Konggregasi Suci untuk Lembaga Hidup Bakti bersama Konggregasi Suci untuk Para Uskup pada tahun 1978 menerbitkan Arahan untuk Hubungan Timbal Balik ("Mutuae Relationis") antara para uskup dan lembaga hidup bakti. Isi  dokumen 'Mutuae Relationis' ini kiranya baik sekali kita hayati dalam rangka merayakan pesta St.Petrus dan St.Paulus, dua pribadi yang berbeda satu sama lain namun bekerjasama dengan baik.

 

Kerjasama kiranya merupakan keutamaan yang mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan pada masa kini, mengingat dan memperhatikan semakin maraknya permusuhan, pertentangan, cekcok dst.. dalam kehidupan dan kerja bersama. Bekerjasama berarti saling memberi dan menerima, melayani, mendengarkan, memperhatikan, mengasihi dst.. , sebagaimana terjadi dalam umat Gereja Purba, dimana "semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah."(Kis 2:44-47)     

 

Cara hidup umat Gereja Purba tersebut kiranya dapat menjadi inspirasi atau teladan bagi kita semua pada masa kini dalam rangka memperkuat dan mengusahakan kerjasama baik dalam hidup bersama maupun kerja. Sikap mental kerjasama hemat saya sedini mungkin hendaknya dibiasakan atau dididikkan pada anak-anak di dalam keluarga serta kemudian diperdalam dan diperkembangkan di sekolah-sekolah. Kerjasama di tingkat paroki maupun keuskupan hendaknya juga diperkuat dan diperdalam terus menerus. Salah satu usaha memperkuat dan membangun kerjama antara lain dimulai dengan menghayati apa yang sama di antara kita secara mendalam bersama-sama, sehingga apa yang berbeda di antara kita akan fungsional memperteguh atau memperkuat kerjasama. Dengan kata lain hendaknya jangan membesar-besarkan perbedaan yang ada. Perbedaan yang ada di antara kita bersifat fungsional agar pelayanan pastoral Gereja dapat menjangkau semua kalangan atau tingkat kehidupan yang ada.  Marilah kita belajar bekerjasama dari anggota-anggota tubuh kita, yang bekerjasama dengan baik, dimana masing-masing anggota di tempat masing-masing dan fungsional sepenuhnya bagi kebutuhan seluruh tubuh. Tidak ada iri hati di antara anggota tubuh kita.

 

"Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku. Karena TUHAN jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita.Muliakanlah TUHAN bersama-sama dengan aku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya!Aku telah mencari TUHAN, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku.Tujukanlah pandanganmu kepada-Nya, maka mukamu akan berseri-seri, dan tidak akan malu tersipu-sipu. Orang yang tertindas ini berseru, dan TUHAN mendengar; Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya." (Mzm 34:2-7)

 

Jakarta, 29 Juni 2010


Minggu, 27 Juni 2010

28 Juni - Am 2:6-10.13-16; Mat 8:18-22

"Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka"

(Am 2:6-10.13-16; Mat 8:18-22)

 

"Ketika Yesus melihat orang banyak mengelilingi-Nya, Ia menyuruh bertolak ke seberang. Lalu datanglah seorang ahli Taurat dan berkata kepada-Nya: "Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi." Yesus berkata kepadanya: "Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya." Seorang lain, yaitu salah seorang murid-Nya, berkata kepada-Nya: "Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku." Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka."(Mat 8:18-22), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Mengikuti Tuhan atau beriman memang harus total tanpa syarat atau catatan kaki sedikitpun, tidak ada tawar menawar. "Ikutilah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka", demikian jawaban Yesus atas orang yang mau mengikuti Dia dengan minta izin dahulu untuk menguburkan ayahnya, yang sebenarnya hanya mau mengundurkan diri saja. Orang mati di sini kiranya juga menggambarkan orang yang tidak hidup bergairah, tidak ingin tumbuh berkembang lebih lanjut, maju terus mengikuti perkembangan dan tuntutan zaman alias 'berhenti di tempat'/'mandheg'. Mengikuti Tuhan atau hidup beriman berarti harus siap berubah dan berkembang. Ingatlah dan hayatilah bahwa yang abadi di dunia ini adalah perubahan dan perkembangan, maka siapapun yang tak bersedia berubah atau berkembang pasti akan segera mati, terlindas arus perkembangan dan perubahan. Sel-sel anggota tubuh kita sendiri terus tumbuh berkembang dan berubah, maka tidak siap sedia tumbuh dan berubah berarti mengingkari diri sendiri. Memang kita diharapkan tidak asal tumbuh berkembang dan berubah, melainkan tumbuh berkembang dan berubah ke arah persahabatan mesra dengan Tuhan maupun sesama manusia, sehingga semakin dikasihi oleh Tuhan dan sesama manusia. Untuk itu kita memang harus berani meninggalkan kehendak dan keinginan diri pribadi dan hanya mau mengikuti kehendak dan perintah Tuhan, yang antara lain dapat kita temukan dalam diri sesama yang berkehendak baik. Maka marilah kita dengarkan dan ikuti kehendak baik saudara-saudari kita, dengan kata lain marilah kita saling membagikan dan menerima kehendak baik  serta kemudian kita sinerjikan untuk tumbuh berkembang dan berubah bersama-sama.

·   "Karena TUHANlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian.Ia menyediakan pertolongan bagi orang yang jujur, menjadi perisai bagi orang yang tidak bercela lakunya, sambil menjaga jalan keadilan, dan memelihara jalan orang-orang-Nya yang setia" (Am 2:6-8).  Jujur, tak bercela, adil dan setia itulah keutamaan-keutamaan yang harus kita hayati dan sebarluaskan. "Jujur adalah sikap dan perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat curang, berkata-kata benar apa adanya dan berani mengakui kesalahan, serta rela berkorban untuk kebenaran…adil adalah sikap dan perilaku yang tidak berat sebelah dalam mempertimbangkan keputusan, tidak memihak dan menggunakan standar yang sama bagi semua pihak…setia adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan keterikatan dan kepedulian atas perjanjian yang telah dibuat" (lihat: Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 17, 24, 25). Siapapun yang bersikap dan berperilaku jujur, adil dan setia pasti akan memperoleh pertolongan dari Tuhan melalui orang-orang yang baik di sekitarnya, dan dengan demikian ia pasti tetap jujur, adil dan setia dalam hal apapun, kapanpun dan dimanapun. Kami harapkan anak-anak sedini mungkin dibiasakan atau dididik dalam hal jujur, adil dan setia di dalam keluarga dan tentu saja dengan teladan konkret dari para orangtua, serta kemudian ditindak-lanjuti di sekolah-sekolah sebagai bantuan bagi para orangtua dalam mendidik anak-anak mereka. Hendaknya ada kerjasama antara orangtua dan sekolah di dalam mendidik dan membina anak-anak, maka baiklah secara periodik sering diselenggarakan pertemuan dan dialog antar para orangtua dan staf kependidikan di sekolah dalam pendampingan dan pendidikan anak-anak. Ingatlah dan hayatilah bahwa anak-anak adalah buah atau korban kerjasama, dan hanya dapat tumbuh berkembang atau berubah ke arah yang baik dalam kerjasama atau kebersamaan juga.

 

"Perhatikanlah ini, hai kamu yang melupakan Allah; supaya jangan Aku menerkam, dan tidak ada yang melepaskan. Siapa yang mempersembahkan syukur sebagai korban, ia memuliakan Aku; siapa yang jujur jalannya, keselamatan yang dari Allah akan Kuperlihatkan kepadanya."

(Mzm 50:22-23)

Jakarta, 28 Juni 2010