Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Selasa, 15 Juni 2010

15 Juni - 1Raj 21:17-29; Mat 5:43-48

"Kamu haruslah sempurna  sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna."

(1Raj 21:17-29; Mat 5:43-48)

 

"Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna."

(Mat 5:43-48), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Ketika kita baru saja dilahirkan dari rahim ibu kita masing-masing kiranya kita dalam keadaan suci, bersih, sempurna, serta didambakan tumbuh berkembang dengan sempurna juga, sehingga ketika suatu saat dipanggil Tuhan atau meninggal dunia tetap dalam keadaan sempurna, suci dan kemudian hidup mulia kembali di sorga untuk selama-lamanya. Namun, karena kelemahan dan kerapuhan kita serta aneka macam rayuan dan godaan setan di dalam perjalanan hidup, apa yang menjadi dambaan atau cita-cita tersebut tidak menjadi kenyataan. Salah satu atau mungkin hambatan utama dalam perjalanan hidup adalah 'musuh'; yang kami maksudkan dengan  'musuh' adalah segala sesuatu yang tidak sesuai dengan selera atau keinginan pribadi, entah itu manusia, makanan atau minuman, suasana, tugas atau pekerjaan dst.. Warta Gembira hari ini mengingatkan kita semua: jika kita mendambakan sempurna hendaknya menghayati sabda Yesus ini, yaitu "Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu". Pertama-tama kami mengingatkan kita semua pentingnya 'mengasihi' makanan atau minuman yang sehat dan bergizi, meskipun tidak enak atau tidak nikmat. Hendaknya sedini mungkin anak-anak dibiasakan 'mengasihi' makanan dan minuman berpedoman pada kesehatan bukan pada 'suka dan tidak suka'. Nikmati makanan atau minuman yang sehat! Hemat saya ketika orang tidak ada masalah dalam hal makanan dan minuman yang sehat, maka yang bersangkutan juga tidak ada masalah dengan sesama manusia, lingkungan hidup maupun tugas atau pekerjaan apapun dan dimanapun, artinya ia tidak akan memusuhi mereka yang membuat dirinya tidak enak. Kita juga diingatkan pentingnya 'doa':: "Berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu", maka baiklah ketika kita masih merasa sulit bertatap muka dengan mereka yang menganiaya atau memusuhi kita, marilah kita berdoa, seperti doa Yesus di puncak kayu salib, :"Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat."(Luk 23:34) 

·   "Sudahkah kaulihat, bahwa Ahab merendahkan diri di hadapan-Ku? Oleh karena ia telah merendahkan diri di hadapan-Ku, maka Aku tidak akan mendatangkan malapetaka dalam zamannya; barulah dalam zaman anaknya Aku akan mendatangkan malapetaka atas keluarganya." (1Raj 21:29)., demikian firman Tuhan kepada Elia. Pengalaman Ahab ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita semua, lebih-lebih bagi kita yang telah memusuhi, merampas hak atau menindas orang lain dengan berbagai cara dan dalam berbagai kesempatan. Marilah merendahkan diri dihadapan Tuhan untuk mohon kasih pengampunan serta menerima penitensi atau hukuman yang pantas bagi kita. Tidak ada kata terlambat untuk bertobat atau memperbaharui diri sebelum mati atau dipanggil Tuhan. Secara liturgis pertobatan atau pembaharuan diri ini dapat kita lakukan dengan mengaku dosa secara pribadi kepada imam/pastor, sedang secara sosial atau konkret kita harus mengembalikan apa yang telah kita ambil atau rampas dari orang lain. Sekiranya secara phisik tidak mungkin mengembalikan apa yang telah kita ambil atau rampas, baiklah secara spiritual kita senantiasa mendoakan mereka yang telah kita sakiti atau celakakan. Tuhan adalah Maha Pengasih dan Maha Pengampun, maka hendaknya tidak takut dan tidak malu untuk mohon kasih pengampunan dari Tuhan maupun dari sesama yang telah kita sakiti atau celakakan. Marilah kita hidup saling mengampuni dan mengasihi agar kita terlepas dari aneka macam malapetaka.

 

"Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku! Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku. Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat" (Mzm 51:4-6a)

 

Jakarta, 15 Juni 2010


Sabtu, 12 Juni 2010

13 Juni - Yeh 34:11-16; Rm 5:5b-11; Luk 15:3-7


"Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan."

HR HATI YESUS YANG MAHAKUDUS:  Yeh 34:11-16; Rm 5:5b-11; Luk 15:3-7


Suatu pengalaman dan kenyataan yang sungguh konkret kita hayati atau alami setiap hari: ketika ada saudara atau saudari kita sedang sakit serta dirawat di rumah sakit pada umumnya kita sungguh memberi perhatian, apalagi ketika ada sahabat, kenalan atau saudara kita mati alias dipanggil Tuhan. Sebaliknya ketika mereka dalam keadaan baik alias biasa-biasa saja pada umumnya kita kurang memberi perhatian. Hal yang senada terjadi dalam diri kita, tubuh kita sendiri: ketika anggota tubuh kita sehat semuanya pada umumnya kita hidup seenaknya, sebaliknya ketika ada anggota tubuh kita atau bagian tubuh kita yang sakit kita akan memberi perhatian luar biasa; mau mandi diperhatikan, mau tidur diperhatikan, dst… Beaya perawatan yang sedang sakit untuk menjadi sembuh pada umumnya mahal, lebih mahal dari hidup biasa jika dihitung per hari, namun demikian dengan segala upaya dan daya, termasuk cari pinjaman jika perlu, kita akan menyediakan beaya perawatan tersebut. Kegembiraan luar biasa terjadi ketika yang sakit menjadi sembuh. Pengalaman manusiawi tersebut di atas kiranya baik sebagai jembatan untuk merenungkan Hati Yesus Yang Mahakudus, yang kita rayakan hari ini.

 

"Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan." (Luk 15:6-7).

 

Hati Yesus yang tergantung di kayu salib ditusuk tombak, dan dari HatiNya/lambungNya mengalirlah air dan darah segar, lambang sakramen-sakramen Gereja yang menyelamatkan. Hati yang terluka dan terbuka juga melambangkan penyerahan Diri Yesus secara total kepada kehendak Allah demi keselamatan seluruh dunia/umat manusia. Hati yang terbuka mengundang dan memanggil semua orang berdosa untuk masuk ke dalam HatiNya guna mohon kasih pengampunan, 'minum air dan darah segar', yang menghidupkan dan menyegarkan.

 

Jika kita jujur mawas diri, kami percaya kita semua adalah orang-orang berdosa yang membutuhkan kasih pengampunan atau pertobatan, maka marilah kita bersembah-sujud kepada Hati Yesus yang tergantung di kayu salib. Percayalah dengan sepenuh hati bahwa jika kita bersembah-sujud kepadaNya pasti akan menerima kasih pengampunan, dan dengan demikian kita sungguh hidup, segar bugar baik secara jasmani maupun rohani. Kita dikuasai atau dirajai oleh HatiNya Yang Mahakudus dan dengan demikian kita juga dipanggil untuk meneladan HatiNya, yang mengalirkan air dan darah segar. Meneladan Hati Yesus Yang Mahakudus berarti sepak terjang, perilaku, cara hidup dan cara bertindak kita dimanapun dan kapanpun menggairahkan dan menyegarkan orang lain; cara hidup dan cara bertindak kita mengundang dan memberdayakan orang lain untuk bertobat atau memperbaharui diri, semakin beriman, semakin mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan.

 

"Akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan". Sabda Yesus ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita semua, entah sebagai orang berdosa atau merasa diri sebagai orang baik. Yang merasa berdosa kami harapkan dengan rendah hati mohon kasih pengampunan Tuhan, sedangkan yang merasa diri baik hendaknya hidup penuh dengan syukur dan terima kasih seraya menghayati bahwa semua kebaikan yang ada adalah anugerah Tuhan. Berdevosi kepada Hati Yesus yang Mahakudus memanggil kita untuk hidup dan bertindak dengan rendah hati, penuh syukur dan terima kasih, karena perhatian Tuhan yang luar biasa kepada kita orang-orang yang lemah, rapuh dan berdosa ini.

"Waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah. Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar -- tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati" (Rm 5:6-7)

 

Yesus yang baik 'berani mati' bagi kita semua orang berdoa, demi keselamatan dan kebahagiaan kita semua, orang-orang durhaka dan berdosa. Ia datang ke dunia untuk menyelamatkan dunia dengan mempersembahkan diri seutuhnya, wafat di kayu salib; Ia menjadi pemenuhan ramalan para nabi, sebagaimana juga dikatakan oleh nabi Yeheskiel ini :"Yang hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa pulang, yang luka akan Kubalut, yang sakit akan Kukuatkan, serta yang gemuk dan yang kuat akan Kulindungi; Aku akan menggembalakan mereka sebagaimana seharusnya" (Yeh 34:16). Kita semua yang berbakti atau berdevosi kepada Hati Yesus Yang Mahakudus dipanggil untuk meneladan Dia, memenuhi ramalan atau apa yang dikatakan oleh nabi Yeheskiel tersebut, maka marilah apa yang dikatakan nabi Yeheskiel tersebut juga menjadi kata-kata kita serta kita wujudkan ke dalam tindakan konkret.

 

Marilah kita cari yang hilang, kita bawa pulang yang tersesat, kita balut yang luka, kita kuatkan atau sembuhkan yang sakit, kita lindungi yang gemuk dan kuat, dst..dengan kata lain kita gembalakan mereka semua, lebih-lebih mereka yang setiap hari hidup atau bekerja bersama dengan kita. Meneladan Hati Yesus yang Mahakudus antara berarti bersikap mental sorang gembala yang baik  Gembala baik pada umumnya berani mati bagi yang digembalakan, karena sangat mengasihi mereka yang harus digembalakan. Gembala baik mengasihi yang digembalakan dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan atau tubuh.

 

Para orangtua, guru/pendidik atau pemimpin kami harapkan bersikap mental gembala baik dalam rangka menghayati panggilan atau melaksanakan tugas kewajiban. Orangtua menjadi gembala bagi anak-anaknya, guru/pendidik menjadi gembala bagi para peserta didik, dan seorang pemimpin menjadi gembala bagi para anggotanya.  Sebagai gembala pertama-tama memang harus baik, dikasihi oleh Tuhan maupun sesamanya; kemanapun pergi dan dimanapun berada senantiasa mempesona, menarik dan memikat bagi yang lain untuk mendekat dan mengasihinya. Gembala yang baik mengenal yang digembalakan, menuntun keluar ke padang hijau domba-dombanya, dst.. Para orangtua hendaknya sungguh mengenal anak-anaknya dan kemudian mendidik dan mendampinginya menuju ke kedewasaan sejati, menjadi pribai yang cerdas spiritual. Para guru/pendidik hendaknya sungguh mengenal para peserta didik sehingga dapat mendampingi dengan baik, menolong mereka untuk menemukan jalan hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Sang pemimpin hendaknya mengenal semua anak buahnya dan kemudian mengusahakan kebersamaan hidup dan kerja sedemikian rupa sehingga semua orang merasa kerasan, bahagia dan nikmat tinggal dan bekerja di dalamnya.  Baik orangtua, guru/pendidik maupun pemimpin hendaknya juga bersikap mental untuk 'mencari yang hilang', alias memperhatikan mereka yang miskin dan berkekurangan, yang sakit dan menderita, yang lemah dan tak berdaya, dst…

 

"TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa." (Mzm 23)

         

Jakarta, 11 Juni 2010


Rabu, 09 Juni 2010

10 Juni - 1Raj 18:41-46; Mat 5:20-26

"Orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum"

(1Raj 18:41-46; Mat 5:20-26)


"Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas." (Mat 5:20-26), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 


Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Hampir semua (kalau tak boleh dikatakan semua) orang di dunia ini pernah marah. Marah berarti melecehkan atau merendahkan yang lain. Bentuk marah mulai dari yang paling halus s/d kasar adalah mengeluh -> menggerutu -> marah dengan kata-kata/ngrumpi -> menyakiti secara phisik -> membunuh. Dengan kata lain marah juga berarti menghendaki yang lain tidak ada. Orang marah memang puas dan nikmat sesaat, tetapi kemudian akan menderita cukup lama, maka bernarlah apa yang disabdakan oleh Yesus "Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir, harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil, harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala". Sebenarnya orang marah tidak perlu dihukum sudah terhukum dengan sendirinya, antara yang bersangkutan dijauhi teman-temannya, makan, minum atau tidur tidak akan nikmat, kehilangan enerji tiada guna, dst..  Maka dengan ini kami mengajak kita semua: marilah kita jauhkan aneka bentuk kemarahan, dan sekiranya anda tergerak ingin marah, marilah kita awali dengan tindakan sebagaimana dinasehatkan orang Jawa ini "Yen arep nesu ngombeo banyu nanging ojo diulu" (=kalau marah marah, silahkan minum air dahulu tetapi jangan ditelan). Apa yang terjadi ketika di mulut anda penuh dengan air, silahkan bercermin sendiri. Nasehat tersebut kiranya senada dengan nasehat ini "Jika anda ingin marah, silahkan membuat tanda salib dahulu".  Hemat saya lebih baik dan murah meriah hidup berdamai dengan siapapun dan apapun daripada 'marah'.


·   "Kuasa TUHAN berlaku atas Elia. Ia mengikat pinggangnya dan berlari mendahului Ahab sampai ke jalan yang menuju Yizreel" (1Raj 18: 46). Kuasa Tuhan memang lebih kuat, cepat dan hebat daripada aneka macam sarana-prasarana apapun. Kita semua mengaku diri sebagai orang beriman, maka marilah mawas diri apakah kuasa Tuhan sungguh berkarya dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini. Marilah kita hayati kuasa Tuhan dalam diri kita untuk mendahului berdamai dan bersahabat terhadap mereka yang tergerak untuk marah atau membenci kita. Kuasa Tuhan antara lain menggejala dalam kasih pengampunan yang telah kita nikmati atau terima secara melimpah ruah, maka hidup dalam kuasa Tuhan berarti senantiasa menyalurkan atau menyampaikan kasih pengampunan kepada orang lain dimanapun dan kapanpun. Ingat dan hayati bahwa kasih pengampunan dapat mengalahkan kebencian dan balas dendam, hidup berdamai dan bersaudara dapat menghancurkan aneka macam permusuhan.  Kita juga dapat meneladan Ahab yang taat kepada perintah nabi Elia di dalam hidup sehari-hari, artinya marilah kita dengarkan aneka macam ajakan dan kehendak baik dari saudara-saudari kita dimanapun dan kapanpun. Carilah dan lihat kehendak baik yang ada dalam diri saudara-saudari kita lebih dahulu. Jika kita mampu melihat dan mengakui kehendak baik orang lain, maka kita dengan mudah bersaudara dan bersahabat dengan siapapun, termasuk mereka yang membenci atau tidak senang terhadap kita  Kita sadari dan hayati bahwa Tuhan senantiasa hidup dan berkarya dalam ciptaan-ciptaanNya, antara lain menganugerahkan perkembangan dan pertumbuhan, daya hidup dan berkembang. Maka lihatlah daya hidup dan berkembang baik dalam diri kita maupun saudara-saudari kita, dan kemudian saling menghidupkan dan memperkembangkan.

 

"Engkau mengindahkan tanah itu, mengaruniainya kelimpahan, dan membuatnya sangat kaya. Batang air Allah penuh air; Engkau menyediakan gandum bagi mereka. Ya, demikianlah Engkau menyediakannya: Engkau mengairi alur bajaknya, Engkau membasahi gumpalan-gumpalan tanahnya, dengan dirus hujan Engkau menggemburkannya; Engkau memberkati tumbuh-tumbuhannya. Engkau memahkotai tahun dengan kebaikan-Mu, jejak-Mu mengeluarkan lemak; tanah-tanah padang gurun menitik, bukit-bukit berikatpinggangkan sorak-sorai" (Mzm 65:10-13)

Jakarta, 10 Juni 2010