Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Selasa, 08 Juni 2010

9 Juni - 1Raj 18: 20-39; Mat 5:17-19

Aku datang bukan untuk meniadakannya melainkan untuk menggenapinya."

(1Raj 18: 20-39; Mat 5:17-19)

 

"Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga" (Mat 5:17-19), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Keunggulan hidup beriman atau beragama adalah dalam pelaksanaan atau penghayatan, bukan dalam teori, aturan atau omongan, sebagaimana disabdakan dan dihayati oleh Yesus bahwa "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya". Maka marilah kita lebih mengutamakan menjadi pelaksana-pelaksana atau penghayat aneka aturan dan tatanan hidup daripada membicarakan atau mendiskusikannya. Kita mulai dulu dengan melaksanakan aturan sebagaimana tertulis di dalam aneka macam bentuk kemasan barang, makanan, minuman, obat, dst..yang menjadi kebutuhan kita setiap hari. Jika dalam hal-hal kecil dan sederhana, yang juga menjadi kebutuhan hidup kita sehari-hari, kita dapat melaksanakan dengan baik, maka kiranya dengan mudah kita melaksanakan aturan atau tatanan hidup yang lebih sulit dan berat. Saya pribadi juga prihatin dengan terjadinya penghayatan atau pelaksanaan aturan liturgy, entah yang terjadi dalam ibadat sabda maupun Perayaan Ekaristi, misalnya dalam pemilihan lagu maupun urutan upacara.; saya juga sangat prihatin dengan masih terjadinya aneka pelanggaran aturan berlalu lintas sehingga menimbulkan banyak korban. Kami juga mendambakan agar memfungsikan aneka aturan, tatanan hidup, undang-undang dst. sebagai sarana untuk semakin beriman atau mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan melalui saudara-saudari kita, bukan untuk bersilat lidah atau saling menjatuhkan. Kami juga sangat berharap agar di sekolah-sekolah , sedini mungkin anak-anak dibiasakan untuk mentaati dan melaksanakan aneka aturan dan tatanan yang terkait dengan hidup dan tugasnya, dan tentu saja dengan teladan para guru atau pendidik; demikian juga anak-anak di dalam keluarga dengan teladan para orangtua.

·   "Berapa lama lagi kamu berlaku timpang dan bercabang hati? Kalau TUHAN itu Allah, ikutilah Dia, dan kalau Baal, ikutilah dia." (1Raj 18:22), demikian kata nabi Elia kepada seluruh rakyat yang sedang berkumpul.. Elia mengingatkan rakyat yang bercabang hati, hatinya tidak dipersembahkan seutuhnya kepada Allah. Apa yang diingatkan Elia tersebut rasanya masih up to date bagi kita semua pada saat ini. Sadar atau tidak sadar kebanyakan dari kita perlahan-lahan terbawa ke perhatian terhadap aneka macam jenis harta benda atau kenikmatan duniawi, sehingga kurang atau tidak memperhatikan Allah lagi. Dengan kata lain ada kecenderungan dalam diri kita untuk bersikap mental materialistis yang sering membawa orang untuk bercabang hati maupun tertekan atau stress. Sebagai orang beriman kita dipanggil untuk senantiasa memperhatikan dan mengikuti kehendak Allah, melaksanakan kehendak Allah di dalam hidup sehari-hari. Dengan kata lain kita dipanggil untuk setia dan taat kepada kehendak Allah. "Setia adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan keterikatan dan kepedulian atas perjanjian yang telah dibuat" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Kepada yang berkeluarga kami harapkan untuk setia pada pasangan masing-masing, tidak berselingkuh atau menyeleweng, kepada yang terpanggil untuk menjadi imam, bruder atau suster untuk setia pada panggilannya dan tidak hidup mendua atau 'double life'. Kami juga berharap kepada kita semua: marilah kita nikmati apa yang sedang kita kerjakan, yang menjadi tugas kita masing-masing, dengan kata lain ketika di kantor hendaknya mengerjakan tugas kantor bukan tugas pribadi dan sebaliknya.

 

"Jagalah aku, ya Allah, sebab pada-Mu aku berlindung. Aku berkata kepada TUHAN: "Engkaulah Tuhanku, tidak ada yang baik bagiku selain Engkau!" (Mzm 16:1-2)

 

Jakarta, 9 Juni 2010


Senin, 07 Juni 2010

8 Juni 1Raj 17:7-16; Mat 5:13-16

"Kamu adalah garam dunia"

(1Raj 17:7-16; Mat 5:13-16)

 

"Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." (Mat 5:13-16), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Garam kiranya merupakan salah satu kebutuhan vital bagi umat manusia dan harganya sangat murah. Fungsi garam adalah membuat makanan nikmat untuk disantap, dan memang pemakaian garam harus tepat, tidak lebih dan tidak kurang. Yesus mengingatkan dan memanggil kita semua yang beriman kepadaNya untuk menjadi 'garam dan terang dunia', maka marilah dengan rendah hati dan bantuan rahmat Tuhan kita berusaha untuk menjadi 'garam dan terang dunia'. Kehadiran, sepak terjang dan perilaku kita dimanapun dan kapanpun diharapkan membuat lingkungan hidup enak dan nikmat didiami, saudara-saudari kita semakin mesra dan bersahabat dengan kita. Mungkin apa yang kita lakukan adalah hal-hal atau perkara-perkara kecil dan sederhana, sebagaimana garam adanya, namun sungguh merupakan bagian dari kebutuhan pokok sehari-hari. Panggilan untuk menjadi 'garam dan terang dunia' berarti panggilan untuk tidak takut dan gentar menghayati iman maupun menyatakan jati diri sebagai yang beriman kepada Yesus Kristus dalam hidup sehari-hari dimanapun dan kapanpun, meskipun sendirian. Maka dengan ini kami berharap kepada rekan-rekan, entah yang berkarya di perusahaan, kantor pemerintahan,  lembaga-lembaga Negara, yang pada umumnya merasa sendirian atau kecil, hendaknya tetap tegar dan ceria menjadi 'garam dan terang lingkungan hidup dan kerja atau pelayanan anda'. Garam di dalam makanan juga tak kelihatan namun fungsional membahagiakan, maka baiklah kita juga tidak perlu menjadi orang nomor satu dalam hidup dan kerja bersama dan mungkin menjadi orang kedua, ketiga dst.., tetapi cara hidup dan cara kerja kita sungguh menjiwai kebersamaan hidup maupun kerja rekan-rekan yang lain.

·    "Janganlah takut, pulanglah, buatlah seperti yang kaukatakan, tetapi buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar kecil dari padanya, dan bawalah kepadaku, kemudian barulah kaubuat bagimu dan bagi anakmu" (1 Raj 17: 13), demikian kata nabi Elia kepada seorang perempuan miskin. Sang perempuan hanya memiliki segenggam tepung dan sedikit minyak untuk membuat roti guna makan bersama anaknya, dan setelah itu merasa akan mati karena tiada yang dapat dimakan lagi, namun demikian akhirnya ia melakukan apa yang diminta oleh Elia. Muzijat pun terjadi yaitu tepung tidak pernah habis, sehingga sang perempuan bersama anak-anaknya dapat makan kenyang, hidup sehat. Memberi dari kekurangan akhirnya kembali berlebihan, itulah yang terjadi, orang miskin pada umumnya lebih sosial daripada orang kaya itulah realitas kehidupan bersama kita, sebagaimana dapat dilihat di kota-kota besar serta pedesaan. Bercermin dari pengalaman sang perempuan yang mentaati dan melaksanakan saran dan perintah seorang nabi, kami mengajak anda sekalian untuk mengusahakan diri sendiri agar tumbuh berkembang menjadi 'man or woman with/for others'. Untuk itu kita senantiasa harus membuka diri terhadap ajakan, sentuhan dan sapaan orang lain, terutama dari mereka yang berkehendak baik. Maka hendaknya kita juga saling membuka diri satu sama lain dengan jujur dan rendah hati, saling berbagi pengalaman, kekayaan/harta benda/uang, keterampilan, dst.. Kami berharap kita tidak menjadi orang  yang egois dan pelit, melainkan menjadi orang yang bermurah hati. Ingatlah dan hayati bahwa hidup kita serta segala sesuatu yang menyertai kita, yang kita miliki, kuasai dan nikmati sampai saat ini adalah angerah Allah, yang kita terima melalui mereka yang telah berbuat baik kepada kita, dimanapun dan kapanpun.

 

"Apabila aku berseru, jawablah aku, ya Allah, yang membenarkan aku. Di dalam kesesakan Engkau memberi kelegaan kepadaku. Kasihanilah aku dan dengarkanlah doaku! Hai orang-orang, berapa lama lagi kemuliaanku dinodai, berapa lama lagi kamu mencintai yang sia-sia dan mencari kebohongan?  Ketahuilah, bahwa TUHAN telah memilih bagi-Nya seorang yang dikasihi-Nya; TUHAN mendengarkan, apabila aku berseru kepada-Nya. Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa; berkata-katalah dalam hatimu di tempat tidurmu, tetapi tetaplah diam" (Mzm 4:2-5)

 

Jakarta, 8 Juni 2010


Minggu, 06 Juni 2010

7 Juni - 1Raj 17:1-6; Mat 5:1-12

"Berbahagialah orang yang suci hatinya"

(1Raj 17:1-6; Mat 5:1-12)

 

"Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Maka Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." (Mat 5:1-12), demikian kutipan Warta Gembira  hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Ajaran atau sabda bahagia Yesus sebagaimana kami kutipkan di atas ini merupakan garis besar haluan hidup beriman atau beragama, yang memang tak mungkin kita hayati sendirian dan sesaat saja. Masing-masing dari kita kiranya dapat memilih sabda bahagia mana yang sesuai dengan hidup, panggilan, tugas pengutusan dan lingkungan hidup kita. Perkenankan saya memilih "Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah", sebagai permenungan kita bersama, dan mungkin juga sesuai dengan dambaan dan kerinduan kita semua. Suci berarti bersih, tiada cacat cela atau noda apapun, putih bersih bagaikan salju. Orang suci pada umumnya menarik, memikat, mempesona dan menggairahkan bagi orang lain, sehingga banyak orang tergerak untuk mendekat dan bersahabat. Orang suci senantiasa lebih melihat dan menghayati karya Allah dalam seluruh ciptaanNya, lebih-lebih dalam diri sesama manusia, yang diciptakan sebagai gambar atau citra Allah. Anak atau bayi yang baru saja dilahirkan pada umumnya suci, menarik, mempesona dan menggairahkan, dengan kata lain anak-anak lebih suci daripada orangtuanya, generasi muda lebih suci daripada generasi tua, maka kami berharap kepada kita semua untuk bersembah sujud pada anak-anak alias membaktikan hidup sepenuhnya demi kebahagiaan dan kesejahteraan anak-anak. Sikap terhadap anak-anak tidak lain adalah mengasihi: mendekati dan menyapa atau memperlakukan anak-anak tanpa kasih pasti gagal. Marilah kita hidup dan bertindak saling mengasihi satu sama lain, agar kita boleh hidup suci dan saling melihat Allah yang hidup dan berkarya di dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini.

·   "Pergilah dari sini, berjalanlah ke timur dan bersembunyilah di tepi sungai Kerit di sebelah timur sungai Yordan. Engkau dapat minum dari sungai itu, dan burung-burung gagak telah Kuperintahkan untuk memberi makan engkau di sana" (1Raj 17:3-4), demikian firman Tuhan kepada Ahab. Ahab pun melaksanakan firman Tuhan tersebut dan apa yang difirmankan oleh Tuhan terlaksana. Orang suci adalah orang yang melaksanakan firman atau sabda Tuhan setiap hari dalam kesibukan atau pelayanan apapun dan dimanapun. Maka orang suci dimanapun dan kapanpun senantiasa dengan rendah hati mendengarkan firman Tuhan, yang disampaikan antara lain melalui sesama beriman atau mereka yang berkehendak baik. Kami percaya babwa di dunia ini atau di masyarakat kita orang yang berkehendak baik lebih banyak daripada yang berkehendak jahat, demikian juga kehendak baik dalam diri seseorang lebih banyak daripada kehendak jahatnya. Sikapi dan perlakukan orang lain dalam kasih yang rendah hati; dengan sentuhan kasih yang rendah hati siapapun pasti akan terkesan dan terharu. Ahab dapat minum dan diharapkan minum air sungai Yordan agar hidup dan selamat. Air Yordan adalah symbol air pembaptisan, maka baiklah firman Tuhan kepada Ahab untuk minum air Yordan kita hayati sebagai firman Tuhan kepada kita untuk mengusahakan kelegaan dari rahmat baptisan atau janji baptis, yaitu 'hanya mau mengabdi Tuhan saja serta menolak semua godaan setan'. Jika kita mendambakan hidup bahagia, selamat, damai sejahtera, hendaknya kita setia pada janji baptis tersebut, senantiasa mengabdi Tuhan yang hidup dan berkarya dalam diri saudara-saudari kita serta menolak aneka rayuan dan godaan setan yang menggejala dalam aneka tawaran kenikmatan duniawi.

 

"Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku? Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi. Ia takkan membiarkan kakimu goyah, Penjagamu tidak akan terlelap" (Mzm 121:1-3).

. Jakarta, 7 Juni 2010