Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Selasa, 30 Maret 2010

31 Mar - Yes 50:4-9ac; Mat 26:14-25

"Apa yang hendak kamu berikan kepadaku supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?"

(Yes 50:4-9ac; Mat 26:14-25)

"Kemudian pergilah seorang dari kedua belas murid itu, yang bernama Yudas Iskariot, kepada imam-imam kepala. Ia berkata: "Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?" Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya. Dan mulai saat itu ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus. Pada hari pertama dari hari raya Roti Tidak Beragi datanglah murid-murid Yesus kepada-Nya dan berkata: "Di mana Engkau kehendaki kami mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?" Jawab Yesus: "Pergilah ke kota kepada si Anu dan katakan kepadanya: Pesan Guru: waktu-Ku hampir tiba; di dalam rumahmulah Aku mau merayakan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku." Lalu murid-murid-Nya melakukan seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka dan mempersiapkan Paskah. Setelah hari malam, Yesus duduk makan bersama-sama dengan kedua belas murid itu.Dan ketika mereka sedang makan, Ia berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku." Dan dengan hati yang sangat sedih berkatalah mereka seorang demi seorang kepada-Nya: "Bukan aku, ya Tuhan?" Ia menjawab: "Dia yang bersama-sama dengan Aku mencelupkan tangannya ke dalam pinggan ini, dialah yang akan menyerahkan Aku. Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan."Yudas, yang hendak menyerahkan Dia itu menjawab, katanya: "Bukan aku, ya Rabi?" Kata Yesus kepadanya: "Engkau telah mengatakannya." (Mat 26:14-25), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Secara manusiawi Yudas Iskariot sungguh mengkhianati Yesus dengan 'menyerahkan Yesus kepada para imam', namun secara spiritual atau rencana Ilahi kiranya apa yang akan dilakukan oleh Yudas Iskariot harus terjadi, sebagaimana disabdakan oleh Yesus:"Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan". Hari ini hari terakhir sebelum kita memasuki Trihari Suci; sebelum 'pergi' alias wafat di kayu salib Yesus mengadakan jamuan bersama dengan para murid, jamuan perpisahan. Maka mungkin baik kalau hari ini kita mawas diri perihal kesiap-sediaan kita untuk sewaktu-waktu 'pergi' alias meninggal dunia: baiklah kita senantiasa membangun persaudaraan atau persahabatan dengan mereka yang hidup dan bekerja bersama dengan kita, agar sewaktu-waktu kita merasa akan dipanggil Tuhan memperoleh dukungan dari saudara-saudari kita. Sebaliknya apa yang akan dilakukan oleh Yudas Iskariot kiranya juga dapat menjadi permenungan atau refleksi kita: jangan-jangan cara hidup dan cara bertindak kita tanpa kita sadari mencelakakan orang lain atau membuat orang lain menderita sengsara. Yudas Iskariot boleh dikatakan bersikap mental materialistis, dan hemat saya siapapun yang bersikap mental materialistis dengan mudah mencelakakan orang lain, maka marilah kita jauhi sikap materialistis dalam diri kita masing-masing.

·   "Tuhan ALLAH telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang. Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi" (Yes 50:5-6), demikian sharing iman nabi Yesaya. Nabi adalah pembawa dan pewarta kebenaran, dan sebagai orang beriman kita semua juga memiliki tugas kenabian alias mewartakan kebenaran melaui cara hidup dan bertindak kita dimanapun dan kapanpun. Di tengah-tengah kehidupan bersama yang masih diwarnai atau dijiwai aneka bentuk kebohongan, kepalsuan, manipulasi dst.. masa kini kiranya untuk menjadi pembawa atau pewarta kebenaran pasti harus menghadapi aneka tantangan, cemoohan, ejekan, caci maki, pelecehan dst..  Baiklah ketika kita diperlakukan demikian tidak perlu memberontak, melawan atau balas dendam, melainkan pasrah dan menyerah saja. Percayalah dan imanilah jika kita tidak melawan, memberontak atau balas dendam, maka mereka pasti akan berhenti sendiri dan pada suatu saat menyesali diri. Marilah bersikap ksatria, maju terus pantang mundur dalam menghadapi aneka macam tantangan, hambatan dan masalah. Berbagai macam tantangan, hambatan dan masalah hemat saya merupakan wahana untuk semakin memurnikan dan memperteguh iman kita atau mendewasakan iman kita. Sebagaimana untuk mendapatkan logam emas murni harus dibakar dan digembleng, demikian juga agar iman kita semakin bersih dan kuat harus berani menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan, yang muncul atau lahir dari kesetiaan dan ketaatan kita kepada kehendak Tuhan.

 

"Aku akan memuji-muji nama Allah dengan nyanyian, mengagungkan Dia dengan nyanyian syukur;Lihatlah, hai orang-orang yang rendah hati, dan bersukacitalah; kamu yang mencari Allah, biarlah hatimu hidup kembali! Sebab TUHAN mendengarkan orang-orang miskin, dan tidak memandang hina orang-orang-Nya dalam tahanan." (Mzm 69:31.33-34)

Jakarta, 31 Maret 2010


Senin, 29 Maret 2010

30 Mar - Yes 49:1-6; Yoh 13:21-33.36-38

"Tuhan mengapa aku tidak dapat mengikuti Engkau sekarang?"

(Yes 49:1-6; Yoh 13:21-33.36-38)

 

"Simon Petrus berkata kepada Yesus: "Tuhan, ke manakah Engkau pergi?" Jawab Yesus: "Ke tempat Aku pergi, engkau tidak dapat mengikuti Aku sekarang, tetapi kelak engkau akan mengikuti Aku." Kata Petrus kepada-Nya: "Tuhan, mengapa aku tidak dapat mengikuti Engkau sekarang? Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu!" Jawab Yesus: "Nyawamu akan kauberikan bagi-Ku? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali."(Yoh 13:36-38), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Pada hari ini ditampilkan dua rasul: Yudas Iskariot  dan Petrus yang akan mengkhianati Yesus. Meskipun mereka telah kurang lebih tiga tahun dibina oleh Yesus, hidup bersama dengan Yesus, ternyata dapat jatuh juga alias mengingkari Yesus. Mungkinkah kita juga berkhianat seperti mereka? Mungkin kita tidak seperti Yudas Iskariot, tetapi seperti Petrus, maka marilah kita mawas diri. Hendaknya kita tidak sombong seperti Petrus, yang berkata "Aku akan memberikan nyawaku bagiMu". Memberikan nyawa bagi Yesus berarti siap sedia untuk mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan dalam situasi dan kondisi apapun, kapanpun dan dimanapun. Marilah kita renungkan sabda Yesus kepada  Petrus :"Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali". Sebelum ayam berkokok berarti pagi-pagi buta, dimana kebanyakan orang masih tidur nyenyak. Di daerah kita, di Indonesia, pagi-pagi buta, sebelum ayam berkokok, kita dengar suara 'adzan' dari masjid, surau atau langgar, ajakan untuk berdoa dan memuliakan Tuhan. Di antara kita kiranya ada yang merasa terganggu dan terbangun dari tidur serta kemudian mengeluh, menggerutu atau marah-marah. Jika kita berbuat demikian, hemat saya kita sama seperti Petrus. Maka dengan ini kami mengajak anda sekalian untuk menyadari dan menghayati kelemahan dan kerapuhan masing-masing. Secara khusus kami mengingatkan dan mengajak kita semua, jika di pagi hari mendengar suara 'adzan', marilah dengan rendah hati kita menyatukan diri dengan saudara-saudari kita, umat Islam, berdoa pagi bersama-sama.  Lebih baik pagi hari itu bersyukur dan berdoa daripada mengeluh, marah-marah atau menggerutu.

·   "Dengarkanlah aku, hai pulau-pulau, perhatikanlah, hai bangsa-bangsa yang jauh! TUHAN telah memanggil aku sejak dari kandungan telah menyebut namaku sejak dari perut ibuku. Ia telah membuat mulutku sebagai pedang yang tajam dan membuat aku berlindung dalam naungan tangan-Nya. Ia telah membuat aku menjadi anak panah yang runcing dan menyembunyikan aku dalam tabung panah-Nya."(Yes 49:1-2). Seruan Yesaya ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita bersama. Sejak dalam kandungan ibu kita masing-masing kita diharapkan menjadi pribadi manusia yang baik dan berbudi pekerti luhur, sehingga "mulutku sebagai pedang yang tajam serta diri kita menjadi anak panah yang runcing". Mulut bagaikan pedang yang tajam tidak berarti setiap berkata senantiasa menyakiti atau melukai yang mendengarkan, melainkan membuka atau menyingkapkan kebenaran-kebenaran atau kebaikan-kebaikan. Hal ini mengandaikan hati kita suci, bersih dan jernih. Sedangkan diri kita bagaikan anak panah yang runcing berarti kehadiran dan sepak terjang kita dimanapun dan kapanpun senantiasa efisien, efektif dan afektif, artinya tidak sia-sia atau tanpa arti sedikitpun. Maka marilah kita mawas diri: sejauh maka kata-kata atau omongan kita senantiasa menyingkapkan kebenaran dan kebaikan, dan kehadiran dan sepak terjang kita senantiasa membuat hidup bersama sejuk, nyaman dan enak. Seruan Yesaya ini kiranya juga mengingatkan kita semua bahwa anak-anak lebih suci dan bersih daripada orangtua, yang muda lebih suci dan berbudi pekerti luhur daripada yang tua, maka baiklah kita tidak melecehkan atau merendahkan anak-anak atau mereka yang lebih muda daripada kita. Seruan Yesaya ini juga mengingatkan kita semua untuk saling menyebut nama kita masing-masing, nama yang akrab dan mesra yang senantiasa digunakan dalam pergaulan biasa. Dengan menyebut nama berarti kenal dan mengasihi. Hendaknya masing-masing dari kita juga mawas diri perihal nama yang dianugerahkan kepada kita oleh orangtua kita masing-masing maupun nama baptis yang dikenakan pada diri kita.

 

"Pada-Mu, ya TUHAN, aku berlindung, janganlah sekali-kali aku mendapat malu. Lepaskanlah aku dan luputkanlah aku oleh karena keadilan-Mu, sendengkanlah telinga-Mu kepadaku dan selamatkanlah aku! Jadilah bagiku gunung batu, tempat berteduh, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku; sebab Engkaulah bukit batuku dan pertahananku. Ya Allahku, luputkanlah aku dari tangan orang fasik, dari cengkeraman orang-orang lalim dan kejam." (Mzm 71:1-4)

 

Jakarta, 30 Maret 2010


Minggu, 28 Maret 2010

29 Mar - Yes 42:1-7: Yoh 12:1-11

"Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburanKu."

(Yes 42:1-7: Yoh 12:1-11)

"Enam hari sebelum Paskah Yesus datang ke Betania, tempat tinggal Lazarus yang dibangkitkan Yesus dari antara orang mati. Di situ diadakan perjamuan untuk Dia dan Marta melayani, sedang salah seorang yang turut makan dengan Yesus adalah Lazarus. Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu. Tetapi Yudas Iskariot, seorang dari murid-murid Yesus, yang akan segera menyerahkan Dia, berkata: "Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?" Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya. Maka kata Yesus: "Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku. Karena orang-orang miskin selalu ada pada kamu, tetapi Aku tidak akan selalu ada pada kamu." Sejumlah besar orang Yahudi mendengar, bahwa Yesus ada di sana dan mereka datang bukan hanya karena Yesus, melainkan juga untuk melihat Lazarus, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati. Lalu imam-imam kepala bermupakat untuk membunuh Lazarus juga, sebab karena dia banyak orang Yahudi meninggalkan mereka dan percaya kepada Yesus." (Yoh 12:1-11), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Ketika ada orang akan meninggal dunia, atau gejala-gejala hendak dipanggil Tuhan, pada umumnya mereka yang merasa dekat atau dikasihi oleh yang bersangkutan akan melakukan 'pemborosan waktu dan tenaga serta dana' bagi yang akan dipanggil Tuhan tersebut, sebagai wujud terima kasih. Begitulah yang dilakukan oleh Maria yang "mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu". Sementara itu Yudas Eskariot menegornya dan mengatakan bahwa lebih baik uang yang senilai untuk pembelian minyak tersebut diberikan kepada orang-orang miskin. Kasih memang sering tidak masuk akal sehat atau sebenarnya mengatasi akal sehat. Maka marilah kita mawas diri: sejauh mana kita hidup saling mengasihi satu sama lain, saling memboroskan waktu dan tenaga serta harta benda bagi yang terkasih. Setelah mawas diri selama kurang lebih empat puluh hari kiranya kita tergerak untuk semakin berterima kasih dan bersyukur kepada Tuhan serta tergerak untuk membalas kasihNya yang melimpah ruah. Baiklah jika hal itu juga kita wujudkan secara konkret dengan mengasihi mereka yang dekat dengan kita, yang setiap hari saling memboroskan waktu dan tenaga, entah di dalam keluarga/rumah maupun tempat kerja dan masyarakat. Jauhkan semangat mental materialistis atau bisnis terhadap sesama dan saudara-saudari kita.

·   "Aku ini, TUHAN, telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan, telah memegang tanganmu; Aku telah membentuk engkau dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa, untuk membuka mata yang buta, untuk mengeluarkan orang hukuman dari tempat tahanan dan mengeluarkan orang-orang yang duduk dalam gelap dari rumah penjara" (Yes 42 :6-7). Kita semua, orang beriman, dipanggil untuk maksud penyelamatan, antara lain menjadi terang untuk bangsa-bangsa, atau secara konkret "membuka mata orang buta, mengeluarkan orang dari hukuman dan yang duduk dalam gelap dari penjara." Cara hidup dan cara bertindak kita dimanapun dan kapanpun atau sepak terjang kita hendaknya senantiasa dapat menjadi terang, fasilitator atau berita baik bagi siapapun. Marilah kita tidak menyia-nyiakan aneka usaha, pengorbanan dan perjuangan dari orangtua, pendidik/guru,dst..yang telah membentuk atau membina kita sehingga kita menjadi manusia sebagaimana adanya pada saat ini. Hendaknya cara hidup atau cara bertindak kita tidak membuat malu atau kecewa pada mereka itu semua, melainkan kegembiraan dan kebanggaan karena kita telah mampu menjadi 'terang bagi bangsa-bangsa'. Memang untuk menjadi 'terang' di tengah-tengah hidup bersama pada masa kini sungguh berat dan mulia,  harus menghadapi aneka tantangan, hambatan dan godaan. Kita berada dalam Pekan Suci, maka baiklah kita sungguh menyucikan diri artinya mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan melalui cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari. Kita persembahkan apa yang terbaik, termulai, paling bernilai dst. yang ada pada kita atau kita miliki bagi saudara-saudari kita; hendaknya jangan menjadikan orang lain 'tempat sampah' alias tempat membuang sisa-sisa atau kelebihan.

 

"TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?Ketika penjahat-penjahat menyerang aku untuk memakan dagingku, yakni semua lawanku dan musuhku, mereka sendirilah yang tergelincir dan jatuh. Sekalipun tentara berkemah mengepung aku, tidak takut hatiku; sekalipun timbul peperangan melawan aku, dalam hal itu pun aku tetap percaya." (Mzm 27:1-3)

Jakarta, 29 Maret 2010