Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Selasa, 16 Maret 2010

17 Mar - Yes 49:8-15; Yoh 5:17-30

"Apa yang dikerjakan Bapa itu juga yang dikerjakan Anak"

(Yes 49:8-15; Yoh 5:17-30)

 

"Ia berkata kepada mereka: "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga." Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah. Maka Yesus menjawab mereka, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak. Sebab Bapa mengasihi Anak dan Ia menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya sendiri, bahkan Ia akan menunjukkan kepada-Nya pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar lagi dari pada pekerjaan-pekerjaan itu, sehingga kamu menjadi heran. Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki-Nya. Bapa tidak menghakimi siapa pun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak, supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus Dia." (Yoh 5:17-23), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Dua orang atau kelompok yang saling tidak percaya dan curiga, ketika salah satu pihak membuka jati diri yang sebenarnya pada umumnya relasi keduanya semakin tegang dan runcing. Demikianlah yang terjadi dengan Yesus dan orang-orang Yahudi, yang tidak percaya bahwa Yesus adalah Mesias, Penyelamat Dunia, yang telah dijanjikan bagi mereka. Setelah Yesus menyatakan bahwa DiriNya adalah Anak Allah, maka orang-orang Yahudi semakin tergerak untuk menyingkirkan Yesus. Apa yang terjadi antara Yesus dan orang-orang Yahudi ini rasanya dapat terjadi dalam hidup terpanggil, entah menjadi imam, bruder dan suster(setelah kaul akhir) atau suami-isteri/ berkeluarga. Masa lima tahun pertama setelah tahbisan imam, kaul akhir membiara atau hidup berkeluarga, adalah masa-masa dimana masing-masing mulai membuka diri dengan jujur, entah sadar atau tidak sadar, atau dikenali kelemahan dan kekurangannya. Ada kecenderungan pada masa lima tahun pertama tersebut orang hidup dan bertindak seenaknya sendiri, tiada sandiwara kehidupan lagi. Masa lima tahun pertama memang boleh dikatakan masa krisis, maka siapa dapat melewati krisis tersebut dengan baik ia akan semakin mantap dan setia menghayati panggilan hidupnya, sebaliknya ketika mereka tak mampu melewati krisis pada umumnya akan terjadi perceraian atau pengunduran diri dari panggilan. Maka kami berharap pada masa lima tahun pertama menelusuri hidup terpanggil tersebut hendaknya tidak melupakan peran dan karya Tuhan; dengan kata lain jangan melupakan hidup doa, rohani atau spiritual, dan jangan sampai mabuk kerja, dst…

·   "Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau" (Yes 49:15). Kutipan ini menggambarkan kesetiaan Tuhan kepada umatNya. Perempuan atau ibu yang baik kiranya senantiasa menyayangi anak kandungnya dalam keadaan atau situasi dan kondisi apapun. Kasih sayang ibu terhadap anak kandungnya hemat saya tidak hanya terbatas pada makanan, minuman, uang, pakaian dst.. melainkan lebih-lebih dan terutama kebersamaan hidup maupun pendampingan pada saat-saat penting. Memang tidak berarti memanjakan, melainkan dapat berpedoman pada motto bapak pendidikan kita Ki Hajar Dewantoro, yaitu "ing arso asung tulodho, ing madyo ambangun karso, tut wuri handayani" (keteladanan, pemberdayaan dan motivasi). Yang mungkin baik saya angkat atau ingatkan adalah keteladanan dan pemberdayaan, karena hal ini berarti ada komunikasi atau relasi yang baik dan memadai, terjadi pemborosan waktu dan tenaga bagi yang terkasih. Hendaknya anak-anak jangan merasa kurang kasih sayang dari orangtuanya, maka dengan ini kami berharap para ibu sungguh memperhatikan anak-anak kandungnya pada masa/usia balita, memboroskan waktu dan tenaga bagi anak-anak kandung yang masih berumur di bawah lima tahun. Kecenderungan keluarga-keluarga atau ibu-ibu muda masa kini dengan mudah meninggalkan anak balitanya demi karier atau gengsi, bahkan tidak menyusui anaknya secara memadai. Jika terjadi demikian ada kemungkinan anak-anak merasa dilupakan, kurang disayangi oleh ibunya, namun Tuhan tidak akan melupakannya, tetap menyayangi melalui orang-orang yang baik hati dan penuh pengorbanan menyayangi anak-anak yang kurang kasih sayang.

 

"TUHAN itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya. TUHAN itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya. TUHAN itu adil dalam segala jalan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya. TUHAN dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan." (Mzm 145:8-9.17-18)

 

Jakarta, 17 Maret 2010    .        


Senin, 15 Maret 2010

16 Mar - Yeh 47:1-9.12; Yoh 5:1-16

"Jangan berbuat dosa lagi supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk."

(Yeh 47:1-9.12; Yoh 5:1-16)


"Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit. Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: "Maukah engkau sembuh?"Jawab orang sakit itu kepada-Nya: "Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku." Kata Yesus kepadanya: "Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah." Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan. Tetapi hari itu hari Sabat.Karena itu orang-orang Yahudi berkata kepada orang yang baru sembuh itu: "Hari ini hari Sabat dan tidak boleh engkau memikul tilammu." Akan tetapi ia menjawab mereka: "Orang yang telah menyembuhkan aku, dia yang mengatakan kepadaku: Angkatlah tilammu dan berjalanlah."Mereka bertanya kepadanya: "Siapakah orang itu yang berkata kepadamu: Angkatlah tilammu dan berjalanlah?" Tetapi orang yang baru sembuh itu tidak tahu siapa orang itu, sebab Yesus telah menghilang ke tengah-tengah orang banyak di tempat itu. Kemudian Yesus bertemu dengan dia dalam Bait Allah lalu berkata kepadanya: "Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk." Orang itu keluar, lalu menceriterakan kepada orang-orang Yahudi, bahwa Yesuslah yang telah menyembuhkan dia.Dan karena itu orang-orang Yahudi berusaha menganiaya Yesus, karena Ia melakukan hal-hal itu pada hari Sabat."(Yoh 5:5-16), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Menderita sakit lumpuh selama tiga puluh delapan tahun kiranya sungguh sangat menderita. Pada hari Sabat Yesus menyembuhkan orang tersebut dan menimbulkan kemarahan orang-orang Yahudi, karena Yesus maupun orang yang disembuhkan tersebut dinilai melanggar peraturan. Kasih memang mengatasi atau mendasari aneka macam peraturan, maka yang terutama dan utama adalah kasih bukan peraturan. Pelaksanaan peraturan yang begitu disiplin dan ketat memang sering melupakan atau mengesampingkan kasih. Hukum rimba pada umumnya menyingkirkan atau mengabaikan yang sakit dan lemah, dan hanya yang kuat memiliki kemungkinan untuk beruntung. Bertindak dalam dan oleh kasih sering harus berani melawan arus dengan resiko dibenci dan diancam oleh orang-orang tertentu yang bermental legalistis. Namun kasih sungguh dapat menyembuhkan, dan hal itulah yang dilakukan oleh Yesus ketika Ia menyembuhkan orang yang lumpuh, dan kepada orang yang telah disembuhkan Ia berpesan : "Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk". Pesan Yesus ini mungkin juga terarah kepada kita semua, yang telah disembuhkan dari aneka macam bentuk penyakit, maka marilah jika kita telah sembuh dari penyakit kemudian hidup baik dan berbudi pekerti luhur, hidup yang dijiwai dan didasari oleh kasih. Percayalah bahwa jika hidup saling mengasihi, maka tidak akan terjadi sesuatu yang buruk dalam kehidupan bersama kita.

·   "Ke mana saja sungai itu mengalir, segala makhluk hidup yang berkeriapan di sana akan hidup. Ikan-ikan akan menjadi sangat banyak, sebab ke mana saja air itu sampai, air laut di situ menjadi tawar dan ke mana saja sungai itu mengalir, semuanya di sana hidup" (Yeh 47:9). Air memang menjadi sumber kehidupan bagi seluruh ciptaan Tuhan: manusia, binatang dan tanaman atau tumbuh-tumbuhan. Dalam berbagai agama air juga menjadi symbol untuk penyucian atau pembersihan diri, sehingga orang yang telah disucikan, diberkati dengan air suci, menjadi bergairah dan gembira. Karena keserakahan dan kesombongan sementara orang, di beberapa tempat di dunia ini mengalami kesulitan air bersih. Apa yang dikatakan oleh Yeheskiel, sebagaimana saya kutipkan di atas, kiranya mengajak kita semua untuk menjaga dan merawat sumber-sumber air bersih, antara lain menjaga dan merawat aneka jenis tanaman, entah di pegunungan atau dataran rendah. Marilah kita tingkatkan dan perluas gerakan penghijauan lahan, tanah-tanah kering dan bukit-bukit gundul. Kami juga menyayangkan terjadinya komersialisasi air tanah atau sumber air bersih di beberapa tempat di Indonesia masa kini, sehingga terjadi kekeringan di beberapa tempat, yang semua menerima aliran air secara gratis atau cuma-cuma. Komersialisasi air dalam kemasan botol plastik yang marak saat ini hemat saya telah mencemari lingkungan, antara lain dengan memonopoli sumber air dengan uangnya sehingga menimbulkan debu beterbangan di sana-sini, dan sampah plastik (botol) yang merusak tanah. Dengan kata lain boleh dikatakan bahwa komersialisasi air rasanya membuat orang semakin menderita. Moga-moga air sebagai anugerah Tuhan tidak dikomersielkan dengan serakah tanpa perhitungan. Keserakahan mengkomsumsi air masa kini berarti berdosa terhadap anak-cucu atau generasi penerus.

 

"Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut; Kota Allah, kediaman Yang Mahatinggi, disukakan oleh aliran-aliran sebuah sungai. Allah ada di dalamnya, kota itu tidak akan goncang; Allah akan menolongnya menjelang pagi" (Mzm 46:2-3.5-6)

 

Jakarta, 16 Maret 2010

     

     


Minggu, 14 Maret 2010

15 Mar - Yes 65:17-21; Yoh 4:43-54

"Pergilah, anakmu hidup!"

(Yes 65:17-21; Yoh 4:43-54)

 

"Dan setelah dua hari itu Yesus berangkat dari sana ke Galilea, sebab Yesus sendiri telah bersaksi, bahwa seorang nabi tidak dihormati di negerinya sendiri. Maka setelah Ia tiba di Galilea, orang-orang Galilea pun menyambut Dia, karena mereka telah melihat segala sesuatu yang dikerjakan-Nya di Yerusalem pada pesta itu, sebab mereka sendiri pun turut ke pesta itu. Maka Yesus kembali lagi ke Kana di Galilea, di mana Ia membuat air menjadi anggur. Dan di Kapernaum ada seorang pegawai istana, anaknya sedang sakit. Ketika ia mendengar, bahwa Yesus telah datang dari Yudea ke Galilea, pergilah ia kepada-Nya lalu meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan anaknya, sebab anaknya itu hampir mati. Maka kata Yesus kepadanya: "Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya." Pegawai istana itu berkata kepada-Nya: "Tuhan, datanglah sebelum anakku mati." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, anakmu hidup!" Orang itu percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi. Ketika ia masih di tengah jalan hamba-hambanya telah datang kepadanya dengan kabar, bahwa anaknya hidup. Ia bertanya kepada mereka pukul berapa anak itu mulai sembuh. Jawab mereka: "Kemarin siang pukul satu demamnya hilang." Maka teringatlah ayah itu, bahwa pada saat itulah Yesus berkata kepadanya: "Anakmu hidup." Lalu ia pun percaya, ia dan seluruh keluarganya. Dan itulah tanda kedua yang dibuat Yesus ketika Ia pulang dari Yudea ke Galilea" (Yoh 4:43-54), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Sehat dan sakit erat kaitannya dengan beriman dan kurang/tidak beriman.  Beriman berarti mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, sehingga cara hidup dan cara bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan, mentaati dan melaksanakan aneka tatanan dan aturan yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusannya. Maka pegawai istana menghadap Yesus, Tuhan, mohon penyembuhan bagi anaknya yang sakit, hampir mati, dan Yesus pun menanggapi "Pergilah, anakmu hidup". Pegawai istana 'pergi' kepada Tuhan dan kemudian diminta 'pergi' kepada anaknya, apa artinya semua ini? Hal itu berarti hidup doa/rohani tak terpisahkan dari hidup sehari-sehari yang mengerahkan tenaga dan waktu. "Ora et labora", berdoa dan bekerja, bagaikan mata uang bermuka dua, dapat dibedakan tetapi tak dapat dipisahkan. Dengan ini kami mengajak dan mengingatkan kita semua: apakah kita sedang sakit, dalam keadaan sakit (sakit hati, sakit jiwa, sakit akal budi, sakit tubuh?), jika memang sedang sakit marilah kita berobat atau bertobat. Dengan jujur kiranya kita semua harus mengakui dan menghayati diri sebagai yang sedang sakit, mungkin tidak 100 % sakit, maka marilah kita bersama-sama dan saling membantu untuk meningkatkan dan memperdalam integrasi hidup rohani/doa dan kerja atau kesibukan kita. Dengan kata lain dalam masa Prapaskah ini kami mengajak kita semua untuk semakin tekun dan rajin serta setia baik dalam berdoa maupun bekerja alias melaksanakan tugas pekerjaan sehari-hari.

·   "Sebab sesungguhnya, Aku menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru; hal-hal yang dahulu tidak akan diingat lagi, dan tidak akan timbul lagi dalam hati" (Yes 65:17). Tuhan tidak akan mengingat-ingat lagi kesalahan dan dosa-dosa kita masa lalu, maka sebagai orang beriman kita dipanggil juga untuk tidak mengingat-ingat kesalahan, dosa dan kekurangan orang lain maupun diri kita sendiri, dengan kata lain di dalam hidup sehari-hari hendaknya kita senantiasa berpedoman pada 'positive thinking', berpikiran positif. Dengan dan dalam berpikiran positif kita berarti senantiasa melihat dan mengimani apa yang baik, indah, mulia dan luhur baik dalam diri kita masing-masing maupun sesama atau saudara-saudari kita. Dengan demikian kita akan  hidup sehat, segar bugar, panjang usia, sebagaimana tertulis dalam kitab Yesaya "Di situ tidak akan ada lagi bayi yang hanya hidup beberapa hari atau orang tua yang tidak mencapai umur suntuk, sebab siapa yang mati pada umur seratus tahun masih akan dianggap muda" (Yes 65:20). Memang hal ini tidak hanya karena usaha dan jerih payah kita saja, melainkan juga karena anugerah dan rahmat Tuhan. Sebagai usaha dan jerih payah kita antara lain dapat berupa usaha untuk hidup sehat dengan mengkonsumsi makanan sesuai pedoman 'empat sehat lima sempurna', berolahraga dan beristirahat secara teratur. Maka kami berharap kepada para orangtua yang memiliki anak-anak balita atau remaja untuk memperhatikan hal tersebut, dan tentu saja dengan teladan konkret dari para orangtua sendiri. Biasakan makan dan minum sesuai pedoman kesehatan, berolahraga yang murah dan dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja, antara lain berjalan kaki cepat atau lari-lari.

 

"Aku akan memuji Engkau, ya TUHAN, sebab Engkau telah menarik aku ke atas, dan tidak memberi musuh-musuhku bersukacita atas aku. TUHAN, Engkau mengangkat aku dari dunia orang mati, Engkau menghidupkan aku di antara mereka yang turun ke liang kubur. Nyanyikanlah mazmur bagi TUHAN, hai orang-orang yang dikasihi-Nya, dan persembahkanlah syukur kepada nama-Nya yang kudus Sebab sesaat saja Ia murka, tetapi seumur hidup Ia murah hati; sepanjang malam ada tangisan, menjelang pagi terdengar sorak-sorai"

 (Mzm 30:2.4-6)

Jakarta, 15 Maret 2010