Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Rabu, 24 Februari 2010

25 Feb - Est 4:10a.10s-12.17-19; Mat 7:7-12

"Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepadaNya."

(Est 4:10a.10s-12.17-19; Mat 7:7-12)

 

"Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya." "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi" (Mat 7:7-12), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Selama masa Prapaskah atau Tobat kita diharapkan untuk mawas diri perihal hidup doa kita atau cara kita berdoa. Kebanyakan dari kita pada umumnya ketika berdoa berarti mengajukan permohonan-permohonan kepada Tuhan; memang ada permohonan yang bersifat egois sehingga tak dikabulkan dan orang yang bersangkutan kemudian putus asa tidak berdoa lagi. Dalam Warta Gembira hari ini kita diingatkan bahwa ketika kita mengajukan permohonan dalam doa kepada Tuhan hendaknya mohon apa yang baik, dan apa yang baik senantiasa berlaku secara universal atau umumnya, dimana saja dan kapan saja serta bagi siapapun juga. Apa yang baik antara lain adalah keselamatan jiwa atau hidup beriman sesuai dengan kehendak Tuhan alias setia dan taat melaksanakan perintah-perintah atau kehendak Tuhan, antara lain sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci. Ketika kita mengajukan pada umumnya juga disertai kesiap-sediaan untuk menerima apa yang dimohon, maka mohon setia dan taat pada kehendak Tuhan berarti serentak siap-sedia untuk melaksanakan kehendak Tuhan, dan dengan demikian permohonan segera menjadi kenyataan alias terkabul. Dalam Warta Gembira hari ini kiranya kita juga diingatkan dan diajak untuk senantiasa memberi apa yang baik kepada orang lain. Jika kita mawas diri secara jujur dan benar kiranya kita telah menerima apa yang baik secara melimpah ruah dari orang lain yang telah mengasihi kita, maka marilah kita teruskan atau salurkan apa yang baik yang telah kita terima tersebut kepada saudara-saudari kita. Dengan kata lain marilah kita saling berbuat baik, saling memperbaiki atau mempertobatkan dengan rendah hati dan penuh cintakasih.

·   "Pergilah Mordekhai dan diperbuatnyalah tepat seperti yang dipesankan Ester kepadanya"(Est 4:17). Pesan Ester kepada Morekhai adalah "Pergilah, kumpulkanlah semua orang Yahudi yang terdapat di Susan dan berpuasalah untuk aku; janganlah makan dan janganlah minum tiga hari lamanya, baik waktu malam, baik waktu siang. Aku serta dayang-dayangku pun akan berpuasa demikian, dan kemudian aku akan masuk menghadap raja, sungguhpun berlawanan dengan undang-undang; kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati."(Est 4:16). Berpuasa, bermatiraga atau lakutapa demi keselamatan jiwa, itulah yang diperbuat oleh Mordekhai. Marilah kita mawas diri dengan jujur dan benar: apakah jiwa saya selamat? Dengan jujur dan rendah hati kiranya kita semua harus mengakui dan menghayati bahwa jiwa kita belum selamat sebagaimana diharapkan, maka selayaknya kita berpuasa, matiraga atau lakutapa sesuai dengan situasi dan kemungkinan yang ada. Matiraga atau lakutapa antara lain berarti mengendalikan raga atau anggota-anggota tubuh sedemikian rupa sehingga bergerak atau berfungsi sesuai dengan kehendak Tuhan, yang berbuahkan apa yang baik dan menyelamatkan jiwa. Marilah kita mawas diri: anggota tubuh kita yang mana yang harus kita kendalikan dengan sungguh-sungguh, agar tidak mengganggu hidup keimanan kita!. Taat dan setia melaksanakan aneka macam aturan dan tatanan hidup bersama hemat kami juga membutuhkan matiraga atau lakutapa. Hidup teratur sesuai dengan tuntutan hidup sehat juga membutuhkan matiraga atau laku tapa, maka kami mengajak dan mengingatkan: siapapun yang pada saat ini merasa tidak sehat secara phisik berarti tidak teratur dalam hidup, antara lain kurang berolahraga/gerak badan, makan sesuai dengan pedoman 'empat sehat limpa sempurna', kurang istirahat dst.. Ingat ketika phisik atau tubuh sakit ada kecenderungan untuk mudah sakit hati atau sakit jiwa alias marah-marah pada sesamanya, dan dengan demikian melecehkan atau merendahkan yang lain.

 

"Aku hendak bersyukur kepada-Mu dengan segenap hatiku, di hadapan para allah aku akan bermazmur bagi-Mu. Aku hendak sujud ke arah bait-Mu yang kudus dan memuji nama-Mu, oleh karena kasih-Mu dan oleh karena setia-Mu; sebab Kaubuat nama-Mu dan janji-Mu melebihi segala sesuatu. Pada hari aku berseru, Engkau pun menjawab aku, Engkau menambahkan kekuatan dalam jiwaku."(Mzm 138:1-3)

 

Jakarta, 25 Februari 2010


Selasa, 23 Februari 2010

24 Feb - Yun 3:1-10; Luk 11:29-32

"Angkatan ini adalah angkatan yang jahat"

(Yun 3:1-10; Luk 11:29-32)

 

"Ketika orang banyak mengerumuni-Nya, berkatalah Yesus: "Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk angkatan ini. Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang dari angkatan ini dan ia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Salomo! Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus!"(Luk 11:29-32), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Tanda adalah sesuatu yang kelihatan dan menunjukkan maksud atau tujuan yang tak kelihatan, misalnya tanda 'lampu lalu lintas menyala merah' artinya perintah untuk berhenti, tanda 'panah' menunjuk arah tertentu yang harus diikuti, dst.. , untuk rekan perempuan kiranya juga mengenal tanda-tanda dalam tubuhnya ketika akan menstruasi atau mulai hamil. Barangsiapa peka dan memahami serta melaksanakan perintah terlubung dari tanda-tanda tersebut maka ia akan selamat. Yunus menjadi tanda kehadiran atau utusan Tuhan bagi orang Ninive, maka apa yang disuarakan atau disampaikan oleh Yunus ditangkap. difahami dan dilaksanakan oleh orang Ninive: orang-orang Ninive bertobat dan akhirnya selamat. Dalam masa Prapaskah ini kepada kita diajak untuk melihat, mencermati dan memahami aneka macam tanda, yang memberi petunjuk atau arah bagi kita untuk hidup lebih baik, lebih berbudi pekerti luhur, sehingga juga lebih ada kemungkinan dan harapan untuk selamat. Membaca tanda-tanda jaman itulah yang diharapkan dari kita dalam menelusuri kehidupan dan panggilan. Setiap saat kita dapat mendengarkan atau membaca aneka macam tanda, entah berupa gambar, omongan/kata-kata atau isyarat, dst.., yang dapat menjadi tuntunan bagi kita untuk terus tumbuh berkembang, memperbaharui diri atau bertobat. Aneka macam jenis media massa, entah cetak atau elekronik senantiasa memberitakan aneka macam peristiwa, maka marilah kita cermati pemberitaan tersebut, karena apa yang diberitakan menandakan sesuatu yang lebih besar dan selayaknya kita tanggapi dengan benar. Apa yang sempat diberitakan melalui media massa kiranya perlu dimengerti bagaikan 'gunung es', yang terberitakan hanya sebagian kecil dari kenyataan yang ada.

·   "Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Ia pun tidak jadi melakukannya" (Yun 3:10), demikian kutipan perihal apa yang terjadi di antara orang Ninive. Pertobatan atau pembaharuan hidup yang membawa ke keselamatan atau kebahagiaan sejati, itulah yang terjadi. Marilah kita bertobat atau memperbaharui diri terus menerus demi keselamatan dan kebahagiaan kita. "Ecclesia semper reformanda est" = Gereja harus terus menerus diperbaharui, demikian kata sebuah motto. Yang dimaksudkan dengan Gereja adalah mereka atau kita semua yang percaya kepada Yesus Kristus, maka kita yang percaya kepadaNya hendaknya senantiasa siap sedia untuk diperbaharui terus menerus alias berubah sesuai dengan kehendak Allah atau tuntutan perkembangan jaman. Ingatlah bahwa di dunia ini yang tahan lama atau abadi adalah 'perubahan', maka barangsiapa tidak siap berubah akan terlindas dan ketinggalan jaman. Tentu saja dari kita, orang beriman, diharapkan terjadi perubahan ke arah yang lebih positif, baik, luhur dan mulia alias lebih suci dan lebih beriman. Marilah kita mawas diri perihal tingkah laku atau cara bertindak kita, mana yang harus diperdalam dan diteguhkan dan mana yang harus ditinggalkan. Aneka macam buah hasil perkembamgan teknologi, yang tidak lain juga merupakan hasil karya manusia, mau tidak mau menuntut kita untuk berubah juga. Sadar atau tidak sarana komunikasi yang canggih seperti "HP" (hand phone) telah merubah cara hidup dan cara bertindak manusia; semoga perubahan yang terjadi baik dan menyelamatkan. Namun hendaknya sadar juga bahwa "HP" telah mempengaruhi kita menjadi kurang manusiawi atau bahkan kurang beriman.

 

"Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku! Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!  Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku" (Mzm 51:3-4.12-13).

 

Jakarta, 24 Februari 2010


Minggu, 21 Februari 2010

22 Feb - 1Ptr 5:1-4; Mat 16:13-19

"Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga"

(1Ptr 5:1-4; Mat 16:13-19)

 

"Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: "Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?" Jawab mereka: "Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi." Lalu Yesus bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" Kata Yesus kepadanya: "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga."(Mat 16:13-19), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka merayakan "Pesta Takhta St.Petrus" hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Takhta St.Petrus untuk masa kini diduduki atau dijabat oleh Paus, pemimpin tertinggi Gereja Katolik. Yang menjadi pemimpin tertinggi pada umumnya memiliki kecenderungan untuk bersikap diktator dan sombong. Pemimpin tertinggi Gereja Katolik atau Paus senantiasa berusaha rendah hati dan melayani, maka dalam doa-doanya Paus senantiasa menyatakan diri sebagai 'hamba dari para hamba' (=servus servorum), menghayati kepemimpinan partisipatif dengan mendengarkan mereka yang harus dilayani. Dengan mendengarkan yang dilayani dengan baik, diharapkan dapat melayani dengan baik juga. Bentuk pelayanan Paus antara lain berupa  pengarahan, kebijakan, surat pastoral, dekrit, dst..yang dibuat dan dirumuskan setelah mendengarkan mereka yang akan menerimanya atau yang dilayani. Karena apa yang diajarkan atau disampaikan oleh Paus pada umumnya merupakan tanggapan atas suka-duka umat Allah atau para anggota Gereja Katolik dan masyarakat dunia, maka yang diajarkan atau disampaikan sungguh berwibawa dan pada umumnya ditaati dan dilaksanakan oleh umat Allah. Sampai saat ini Paus melalui para pembantunya atau langsung senantiasa menerima masukan-masukan atau informasi suka-duka umat Allah yang harus dilayani secara teratur. Maka baiklah dalam rangka mengenangkan Takhta St.Petrus hari ini, kami mengingatkan dan mengajak siapapun yang berpartisipasi dalam kepemimpinan umat Allah di tingkat apapun untuk menghayati kepemimpinan partisipatif: dengan rendah hati mendengarkan suka-duka dari mereka yang harus dipimpin dan dilayani, dan kemudian menanggapinya dengan rendah hati dan penuh kasih.

·   "Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri. Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu"(1Ptr 5:2-3). Kutipan ini kiranya mengingatkan dan mengajak kita semua, yang merasa menjadi pemimpin atau atasan, untuk menghayati kepemimpinan dengan semangat gembala dan keteladanan. Gembala, sebagaimana gembala itik atau kerbau, kiranya menghayati tugasnya seperti motto bapak pendidikan kita, Ki Hajar Dewantoro "ing arso asung tulodho, ing madyo ambangun karso, tut wuri handayani" (=keteladanan, pemberdayaan dan motiviasi). Yang cukup mendesak dan up to date untuk dihayati dan disebarluaskan pada masa kini hemat kami adalah keteladanan, maka kami berharap kepada para pimimpin dimanapun dan tingkat apapun untuk menjadi teladan dalam hal kerendahan hati dan cara hidup serta bertindak yang melayani. Tanda pemimpin yang baik dan dicintai oleh yang dipimpin antara kehadiran dan sepak terjangnya, cara hidup dan cara bertindaknya senantiasa memberdayakan orang lain, menggairahkan orang lain dalam hidup dan bekerja; ia juga dapat menjadi motivasi bagi orang lain untuk terus tumbuh berkembang sebagai pribadi dewasa yang cerdas beriman. Pemimpin yang baik juga tidak mencari mencari keuntungan bagi dirinya sendiri atau mencari enaknya sendiri, tetapi siap sedia menderita dan berkorban demi kebahagiaan, keselamatan dan kedamaian yang mereka pimpin. The last but not the least adalah: para orangtua kami dambakan dapat menjadi teladan bagi anak-anaknya dalam hal kerendahan hati dan hidup saling melayani.

 

"TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa."

(Mzm 23)

   Jakarta, 22 Februari 2010