Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Sabtu, 02 Januari 2010

4 Jan - 1Yoh 3:22-4:6; Mat 4:12-17.23-25

"Ia mengajar dalam rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu".

(1Yoh 3:22-4:6; Mat 4:12-17.23-25)

"Tetapi waktu Yesus mendengar, bahwa Yohanes telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea. Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: "Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, -- bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang." Sejak waktu itulah Yesus memberitakan: "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!"…Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu. Maka tersiarlah berita tentang Dia di seluruh Siria dan dibawalah kepada-Nya semua orang yang buruk keadaannya, yang menderita pelbagai penyakit dan sengsara, yang kerasukan, yang sakit ayan dan yang lumpuh, lalu Yesus menyembuhkan mereka. Maka orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Mereka datang dari Galilea dan dari Dekapolis, dari Yerusalem dan dari Yudea dan dari seberang Yordan." (Mat 4:12-17.23-25), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Yesus, Penyelamat Dunia, datang untuk menyelamatkan dunia, antara lain dengan "mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan". Sebagai orang beriman yang percaya kepadaNya, kita juga dipanggil untuk meneladan Dia, maka marilah kita mawas diri sejauh mana tugas pengutusan atau missioner tersebut kita hayati dalam hidup kita sehari-hari. "Memberitakan Injil Kerajaan Allah" berarti menyebarluaskan warta gembira atau kabar baik agar semua orang dirajai atau dikuasai oleh Allah, maka hendaknya cara hidup dan cara bertindak kita senantiasa baik dan menggembirakan serta menyelamatkan orang lain. Dari cara hidup dan cara bertindak kita senantiasa terpancarkan atau tersiarkan apa yang baik, menyelamatkan dan menggembirakan. Selain itu kita juga dipanggil untuk "melenyapkan segala penyakit dan kelemahan", dan tugas panggilan itu rasanya mendesak dan up to date, mengingat dan memperhatikan masih maraknya aneka penyakit dan kelemahan dalam kehidupan bersama kita, entah itu sakit hati, sakit jiwa, sakit akal budi atau sakit tubuh. Maka marilah kita cermati apakah di antara saudara-saudari atau kenalan kita ada yang sedang menderita sakit; kita datangi mereka yang sakit dan kita sembuhkan. Yang sakit hati hendaknya diampuni atau dikasihi, yang sakit jiwa hendaknya disapa dan diperlukan dengan ceria dan kasih mesra, yang sakit akal budi ditemani untuk belajar dengan rajin dan tekun, sedangkan yang sakit tubuh sekiranya kita tak dapat menyembuhkan baiklah kita bawa ke dokter atau rumah sakit.

·   "Inilah perintah-Nya itu: supaya kita percaya akan nama Yesus Kristus, Anak-Nya, dan supaya kita saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita. Barangsiapa menuruti segala perintah-Nya, ia diam di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dan demikianlah kita ketahui, bahwa Allah ada di dalam kita, yaitu Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita" (1Yoh 3:23-24). "Saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita" itulah panggilan dan tugas pengutusan kita semua, yang percaya kepadaNya. Saling mengasihi berarti siap sedia mengasihi maupun dikasihi, dan rasanya yang sulit pada masa kini adalah siap sedia dikasihi. Dikasihi tidak hanya diberi yang enak-enak dan nikmat saja, seperti dicium, diberi hadiah, dibelai, ditemani, dst.., tetapi juga ditegor, dikritik, dinasihati, diejek, dst. Beranikah kita menghayati aneka tegoran, kritik, nasihat dan ejekan dari saudara-saudari kita sebagai perwujudan kasih? Ingat dan sadari bahwa jika saudara-saudari kita tidak mengasihi kita pasti mendiamkan kita, namun karena mereka mengasihi kita maka mereka mengritik, menasihati, menegor maupun mengejek. Hemat saya orang menyampaikan kritik, nasihat, tegoran maupun ejekan tidak mendadak, melainkan telah persiapan cukup lama dengan memboroskan waktu dan tenaganya untuk mencermati dan mengamat-amati kita. Pemborosan waktu dan tenaga tersebut merupakan wujud konkret kasih mereka kepada kita, maka ketika yang keluar dari mereka terasa sakit pada diri kita (kritik, ejekan, nasihat). Terimalah dengan rendah hati segala kritik dan nasihat atau tegoran dari saudara-saudari kita, dan tanggapi dengan singkat 'terima kasih'. Dengan demikian ketika dikritik, ditegor, diejek dan dinasihati dari diri kita tetap terpancar kegembiraan yang menyelamatkan dan membahagiakan.

 

"Aku mau menceritakan tentang ketetapan TUHAN; Ia berkata kepadaku: "Anak-Ku engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini. Mintalah kepada-Ku, maka bangsa-bangsa akan Kuberikan kepadamu menjadi milik pusakamu, dan ujung bumi menjadi kepunyaanmu. Oleh sebab itu, hai raja-raja, bertindaklah bijaksana, terimalah pengajaran, hai para hakim dunia! Beribadahlah kepada TUHAN dengan takut dan ciumlah kaki-Nya dengan gemetar" (Mzm 2:7-8.10-11)

 

Jakarta, 4 Januari 2010


Jumat, 01 Januari 2010

3 Jan - Yes 60:1-6; Ef 3:2-3a.5-6; Mat 2:1-12

"Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia."

HR PENAMPAKAN TUHAN: Yes 60:1-6; Ef 3:2-3a.5-6; Mat 2:1-12


Dalam berbagai kesempatan pertemuan atau acara pada umumnya para peserta yang bertempat tinggal jauh dari tempat pertemuan datang lebih awal daripada mereka yang dekat. Mereka yang jauh takut terlambat, dan untuk itu memang harus jauh mempersiapkan diri,  berangkat lebih awal dan ketika mengikuti ibadat di gereja kiranya dapat mengambil tempat di depan, sementara yang dekat merasa aman dan pasti tak akan terlambat. Dengan kata lain mereka yang jauh memang lebih berkorban daripada yang dekat. Dalam Warta Gembira hari ini kita baca dan dengarkan bahwa 'orang-orang majus dari Timur' lebih cepat tergerak untuk "menyembah Dia", bersembah sujud kepada "Sang Bayi/Kanak-Kanak Yesus" daripada orang-orang Betlekem, termasuk tokoh-tokoh penting. Orang-orang majus yang jauh dari Betlekem lebih peka akan kedatangan  Penyelamat Dunia dengan melihat tanda-tanda, "Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia" (Luk 2:2). Pancaran Kabar Gembira dari Kanak-Kanak Yesus menggema jauh alias Kanak-Kanak Yesus sungguh bercirikhas missioner. Hari ini oleh Gereja Katolik juga dijadikan 'Hari Anak Misioner Sedunia', suatu ajakan untuk membina semangat missioner sedini mungkin kepada anak-anak kita. Maka baiklah kami mengajak anda sekalian untuk mawas diri perihal bina missioner anak-anak.

 

"Di manakah Dia, …yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia." (Luk 2:2)      

 

Pertanyaan orang-orang majus dari Timur "Di manakah Dia, ....yang baru dilahirkan itu", selayaknya juga menjadi pertanyaan kita, para orangtua, orang dewasa, dan mungkin pertanyaan dari kita akan seperti ini "Di manakah anak-anak kita…,adik-adik kita?".  Marilah kita perhatikan anak-anak maupun remaja kita, mereka yang berusia 13 tahun ke bawah, entah di dalam keluarga kita maupun lingkungan hidup dan kerja kita.

1)      Anak-anak usia balita: Anak-anak usia balita penting sekali untuk diperhatikan, menerima kasih-sayang dari orangtuanya, dan secara khusus dari ibunya. Kami berharap orangtua dengan rela hati, penuh kasih dan pengorbanan berani memboroskan waktu dan tenaga bagi anak-anak balitanya, alias 'bersembah-sujud kepada anak-anaknya selama usia balita'. Secara khusus kami mengingatkan dan mengajak para ibu untuk menyusui anak-anaknya secara memadai, konon menurut ahli gizi minimal menyusui anaknya sampai usia satu tahun. Untuk itu memang dari para ibu dituntut kebugaran dan kesegaran tubuh serta makan dan minum yang bergizi. Anak-anak usia balita pada umumnya sepenuhnya berada di rumah dalam asuhan orangtuanya, maka hendaknya sedini mungkin anak-anak dibina dalam hal kepekaan sosial, sopan santun, budi pekerti, dst.. . Pembelajaran membaca dan berhitung kiranya juga mendapat tempat khusus bagi anak-anak balita, yang diajarkan oleh bapak-ibunya.     

2)      Anak-anak usia sekolah/pendidikan dasar: Sekolah adalah pembantu orangtua dalam rangka mendidik anak-anak mereka, maka hendaknya ada kerjasama antara sekolah/para guru dan orangtua dalam proses pembelajaran di sekolah. Para guru dalam rangka melaksanakan tugas pengajaran, hendaknya menghayati tehnik-tehnik mengajar sebagai berikut:

·        "Mulai dengan kasih sayang"

·        "Belajar dengan melakukan"

·        "Bergerak dari yang mudah ke yang sulit"

·        "Mengajar satu per satu"

·        "Guru sebagai teman baik para siswa"

·        "Membuat belajar menyenangkan"

(lihat: Rung Kaewdang PhD: Suatu Cara Reformasi Pembelajaran yang Mangkus, BELAJAR DARI  MONYET, Grasindo – Jakarta 2002, hal 61-71).

Baik di dalam keluarga maupun sekolah kiranya perlu dibina semangat missioner bagi anak-anak. Salah satu cara bina misioner antara lain anak-anak diminta mengenali dengan cermat lingkungan hidupnya minimal dalam radius satu kilometer, entah dari rumah/tempat tinggal atau sekolah. Mereka, anak-anak diminta berjalan kaki sambil melihat-lihat apa yang ada di jalanan, dan kemudian diminta menceriterakan apa yang mereka lihat, apa yang mengesan dst.. Jika mungkin hendaknya anak-anak diajak melihat atau mendatangi mereka yang miskin dan berkekurangan, entah di kota-kota atau pedesaan atau panti asuhan, dst..

 

"Memang kamu telah mendengar tentang tugas penyelenggaraan kasih karunia Allah, yang dipercayakan kepadaku karena kamu, yaitu bagaimana rahasianya dinyatakan kepadaku dengan wahyu,…yang pada zaman angkatan-angkatan dahulu tidak diberitakan kepada anak-anak manusia, tetapi yang sekarang dinyatakan di dalam Roh kepada rasul-rasul dan nabi-nabi-Nya yang kudus" (Ef 3:2-3a.5)  

 

Kutipan dari surat Paulus kepada umat di Efesus di atas ini kiranya dapat kita renungkan (1) pertama-tama kita diharapkan mendengarkan berbagai pengajaran yang disampaikan oleh 'para rasul dan nabi' dan (2) kita juga dipanggil untuk menjadi 'nabi atau rasul':

(1). Mendengarkan merupakan salah satu indera dari pancaindera, yang pertama-tama berfungsi; bayi sejak dalam kandungan sudah dapat mendengarkan. Keutamaan mendengarkan ini hendaknya terus 'dipelihara' dan diperdalam dalam diri anak-anak kita sampai dewasa; mendengarkan penting sekali dalam proses pembelajaran dalam bentuk apapun. Memang mendengarkan mengandaikan keutamaan kerendahan hati, tanpa kerendahan hati orang tak dapat mendengarkan dengan baik. Tentu saja kebiasaan mendengarkan perlu diimbangi dengan melatih memilah dan memilih, memilah mana yang baik dan buruk dan kemudian memilih yang baik untuk dilaksanakan. Masa kini cukup banyak informasi atau berita melalui aneka media massa atau lisan dari mulut ke mulut, yang perlu dipilah dan dipilih dengan cermat, teliti dan tekun.

(2). Sebagai orang beriman kita memiliki dimensi missioner, diutus sebagai 'nabi atau rasul'. Nabi adalah "orang yang diutus dan diilhami oleh Allah untuk menyatakan sesuatu yang tersembunyi, mengungkapkan suatu nubuat, menyatakan pikiran dan kehendak Ilahi, dan juga untuk meramalkan masa depan" (Xavier Leon – Dufour: Ensklopedi Perjanjian Baru, Penerbit Kanisius – Yogyakarta 1990, hal 412), sedangkan rasul adalah seseorang yang diutus untuk menyampaikan sesuatu dan tentu saja apa yang baik, menyelamatkan dan membahagiakan. Kita, orang yang percaya kepada Yesus Kristus, Pewarta Kabar Baik, dipanggil untuk menjadi pewarta-pewarta kabar baik: yang terdengar dan terlihat dari cara hidup dan cara bertindak kita adalah apa yang baik, dan juga diharapkan untuk senantiasa menyuarakan dan menyebarluaskan apa yang baik dalam berbagai kesempatan dan kemungkinan. Apa yang disebut baik senantiasa berlaku secara universal, dimana saja dan kapan saja dan bagi siapapun juga. Apa yang disebut baik antara lain buah-buah Roh seperti " kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri"(Gal 5:22-23), maka baiklah keutamaan-keutamaan sebagai buah Roh ini kita hayati dan sebarluaskan dalam hidup kita sehari-hari.   

"Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu" (Yes 60:1-2). Apa yang diserukan oleh nabi Yesaya ini baiklah kita renungkan dan hayati; panggilan atau ajakan bagi kita agar menjadi 'terang' bagi siapapun yang kita jumpai atau hidup bersama-sama dengan kita. Marilah kita saling menerangi dengan penuh harapan dan gairah, karena 'terang Tuhan' di atas kita semua.

 

"Kiranya semua raja sujud menyembah kepadanya, dan segala bangsa menjadi hambanya! Sebab ia akan melepaskan orang miskin yang berteriak minta tolong, orang yang tertindas, dan orang yang tidak punya penolong;ia akan sayang kepada orang lemah dan orang miskin, ia akan menyelamatkan nyawa orang miskin" (Mzm 72:11-13).

 

Jakarta, 3 Januari 2010     


2 Jan - 1Yoh 2:22-28; Yoh 1:19-28

"Membuka tali kasutNya pun aku tidak layak."

(1Yoh 2:22-28; Yoh 1:19-28)

 

"Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia: "Siapakah engkau?" Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya: "Aku bukan Mesias." Lalu mereka bertanya kepadanya: "Kalau begitu, siapakah engkau? Elia?" Dan ia menjawab: "Bukan!" "Engkaukah nabi yang akan datang?" Dan ia menjawab: "Bukan!" Maka kata mereka kepadanya: "Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?" Jawabnya: "Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya." Dan di antara orang-orang yang diutus itu ada beberapa orang Farisi. Mereka bertanya kepadanya, katanya: "Mengapakah engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?" Yohanes menjawab mereka, katanya: "Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak."Hal itu terjadi di Betania yang di seberang sungai Yordan, di mana Yohanes membaptis." (Yoh 1:19-28), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Basilius Agung dan Gregorius dari Nazianze hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Hari ini kepada kita ditampilkan tokoh Yohanes Pembaptis, yang dengan rendah hati mempersiapkan jalan bagi Penyelamat Dunia. Ia dinilai atau dipandang sebagai seorang nabi besar, namun dibandingkan dengan Sang Penyelamat Dunia, Yesus, dirinya bukan apa-apa, maka ia bersaksi "Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.". Sikap mental Yohanes Pembaptis ini kiranya baik kita tiru dan hayati juga dalam hidup dan bertindak kita setiap hari, sebagai orang beriman, khususnya kita yang beriman kepada Yesus, Penyelamat Dunia. Kita semua dipanggil untuk dengan rendah hati mempersiapkan jalan bagi Tuhan, artinya melalui atau dengan cara hidup dan cara bertindak kita, kita dapat menjadi petunjuk jalan bagi orang lain untuk semakin beriman, semakin suci, semakin mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, Yang Ilahi. Mereka yang melihat atau kena dampak cara hidup dan cara bertindak kita tergerak untuk semakin beriman, semakin berbudi pekerti luhur. "Rendah hati adalah sikap dan perilaku yang tidak suka menonjolkan dan menomorsatukan diri, yaitu dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun pada kenyataannya lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan dirinya"(Prof Dr. Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Kami berharap kepada mereka yang berpengaruh dalam kehidupan bersama di tingkat atau ranah kehidupan apapun, misalnya orangtua, pemimpin, ketua, pejabat, dst. dapat menjadi saksi atau teladan dalam hal penghayatan keutamaan kerendahan hati.

·   "Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus?" (1Yoh 2:22). Yohanes Pembaptis dengan jujur mengakui dirinya bukan Penyelamat yang didambakan banyak orang, melainkan hanya menyiapkan jalan bagiNya: ia percaya bahwa "Yesus adalah Kristus', Yesus adalah Penyelamat Dunia. Sebagai orang Kristen atau Katolik kita percaya bahwa Yesus adalah Penyelamat Dunia, maka marilah kepercayaan kita itu kita hayati dalam hidup sehari-hari, antara lain dengan menghayati ajaran atau sabda Yesus maupun meneladan cara bertindakNya, sebagaimana diwartakan dalam dan melalui Kitab Suci. Jika kita tidak menghayati ajaran atau sabda Yesus maupun meneladan cara bertindakNya berarti kita adalah pendusta, mengakui diri sebagai orang Kristen atau Katolik tetapi cara hidup maupun cara bertindaknya tidak sesuai dengan ajaran Yesus. Mungkin kita semua tidak sempurna dalam menghayati ajaran maupun meneladan cara bertindak Yesus, maka baiklah kita saling membantu dan mengingatkan satu sama lain. "Di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari pada-Nya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu -- dan pengajaran-Nya itu benar, tidak dusta -- dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia"(1Yoh 2:27). Kita tidak mau saling mengajar, melainkan saling mengingatkan dengan rendah hati. Yang juga diharapkan dari kita adalah keterbukaan satu sama lain, dalam rangka menghayati keterbukaan kita terhadap Penyelenggaraan Ilahi, kehendak Tuhan, bisikan Roh Kudus.

 

"Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, sebab Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan kepada-Nya oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus.TUHAN telah memperkenalkan keselamatan yang dari pada-Nya, telah menyatakan keadilan-Nya di depan mata bangsa-bangsa. Ia mengingat kasih setia dan kesetiaan-Nya terhadap kaum Israel, segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang dari pada Allah kita. Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi, bergembiralah, bersorak-sorailah dan bermazmurlah!" (Mzm 98:1-4)

  Jakarta, 2 Januari 2010