Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Selasa, 29 Desember 2009

30 des - 1Yoh 2:12-17; Luk 2:3640

"Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa".

(1Yoh 2:12-17; Luk 2:3640)

 

"Lagipula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya, dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa. Dan pada ketika itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem. Dan setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea. Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya" (Luk 1:36-40), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Pada hari ini kepada kita ditampilkan seorang nabi perempuan, bernama Hana, yang "tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa". Tokoh nabi Hana ini kiranya baik menjadi bahan refleksi bagi rekan-rekan perempuan. Dari berbagai pencermatan dan pengalaman kiranya dapat dikatakan bahwa rekan-rekan perempuan pada umumnya lebih berperan dalam "beribadah dengan berpuasa dan berdoa". Pertemuan-pertemuan bersama untuk pendalaman iman atau doa bersama di lingkungan/stasi pada umum lebih banyak dihadiri oleh rekan-rekan perempuan daripada rekan laki-laki. Perhatian ibu kepada anak-anaknya pada umumnya lebih besar daripada perhatian bapak terhadap anak-anaknya, sebagaimana sering dikumandangkan dalam sebuah lagu "Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia". Maka dengan ini kami berharap kepada kita semua untuk sungguh bersyukur dan berterima kasih kepada ibu kita masing-masing, yang telah mengandung, melahirkan, membesarkan kita sehingga kita "bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat dan kasih karunia Allah" berkanjang dalam diri kita masing-masing. Sebagai ucapan syukur dan terima kasih hendaknya kita juga rajin 'beribadah dengan berpuasa dan berdoa', yang menandai atau menjadi cirikhas hidup beriman atau beragama. Tujuan beribadah tidak lain adalah agar kita senantiasa tetap berada dalam 'kasih karunia Allah', dan dengan demikian hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Allah, setia pada janji-janji yang pernah kita ikrarkan dan terkait dengan cara hidup dan panggilan kita masing-masing. Maka baiklah kita saling membantu dan mengingatkan satu sama lain dalam hal 'beribadah' ini.          

·   "Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya" (1Yoh 2:15-17). Apa yang dimaksudkan dengan 'mengasihi dunia'  disini kiranya adalah sikap mental materialistis atau duniawi atau bisnis, dimana orang mengurus atau mengelola aneka karya pelayanan secara materialistis atau bisnis melulu. Kita dipanggil mendunia sesuai dengan kehendak Allah, mengurus dan mengelola hal-ikhwal duniawi sesuai dengan kehendak Allah alias mengusahakan kesucian hidup dengan berpartipasi dalam seluk beluk duniawi. Ingat dan hayati bahwa kita baru saja merayakan pesta Kelahiran Penyelamat Dunia, yang datang untuk menyelamatkan dunia dengan mendunia. Maka baiklah kami mengingatkan dan mengajak kita semua dalam pelayanan atau kegiatan hendaknya sesuai dengan visi yang telah dicanangkan atau dimaklumkan. Setiap hidup dan kerja bersama maupun pribadi kiranya memiliki visi yang bagus dan indah serta baik, maka hendaknya visi tidak berhenti dalam tulisan atau wacana, melainkan sungguh menjiwai cara hidup dan cara bertindak kita. Bagi para anggota Lembaga Hidup Bakti, biarawan dan birawati, berarti hidup dan bertindak dijiwai oleh charisma pendiri, bagi suami-isteri berarti setia pada janji untuk saling mengasihi baik dalam untung maupun malang, sehat maupun sakit sampai mati, dst.. Kepada para pejabat atau pemimpin masyarakat maupun bangsa kami harapkan untuk hidup dan bertindak dijiwai oleh semangat melayani, sehingga segala usaha dan kegiatan terarah pada kesejahteraan umum ('bonum commune'). Semakin berpartisipasi dalam seluk beluk duniawi/mendunia hendaknya juga semakin beriman; mendunia tanpa iman akan terjadi kekacauan.

 

"Kepada TUHAN, hai suku-suku bangsa, kepada TUHAN sajalah kemuliaan dan kekuatan! Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya, bawalah persembahan dan masuklah ke pelataran-Nya! Sujudlah menyembah kepada TUHAN dengan berhiaskan kekudusan, gemetarlah di hadapan-Nya, hai segenap bumi! Katakanlah di antara bangsa-bangsa: "TUHAN itu Raja! Sungguh tegak dunia, tidak goyang. Ia akan mengadili bangsa-bangsa dalam kebenaran." (Mzm 96:7-10)

 

Jakarta, 30 Desember 2009


Senin, 28 Desember 2009

29 Des - 1Yoh 2:3-11; Luk 2:22-35

"Biarkanlah hambaMu ini pergi dalam damai sejahtera sesuai dengan firmanMu"

(1Yoh 2:3-11; Luk 2:22-35)

 

"Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: "Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah", dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati. Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya: "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel." Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia. Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan -- dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri --, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang." (Luk 2:22-35), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Pada hari ini kepada kita diketengahkan seorang tokoh bernama Simeon, "seorang benar dan saleh…Roh Kudus di atasnya". Ia yang sungguh menantikan penghiburan sejati dan kini telah menyaksikan dalam Kanak-Kanak Yesus yang sedang dipersembahkan di bait Allah, maka ia pun memuji Allah serta bersyukur, antara lain dengan berkata "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hambaMu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firmanMu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari padaMu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa". Sebagai orang yang telah usur alias lansia kiranya kutipan di atas ini baik menjadi permenungan atau refleksi. Hendaknya ketika sudah usia lanjut, sesuai dengan aturan di Indonesia ketika usia 60 tahun ber-KTP abadi, dengan jiwa besar dan hati rela berkorban untuk 'mengundurkan diri' serta memberi kesempatan kepada generasi muda lebih berperan dalam kehidupan bersama. Hal yang sama kiranya juga baik dilakukan oleh mereka yang merasa senior terhadap yang yunior. Marilah kita beri kepercayaan kepada generasi muda sebagai pembaharu, "untuk menjatuhkan dan membangkitkan banyak orang…supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang". Sebaliknya kepada generasi muda kami harapkan siap sedia untuk mengambil alih peran dan fungsi generasi tua.

·   "Barangsiapa berkata, bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang.Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan" (1Yoh 2:9-10). Kutipan dari surat Yohanes ini kiranya dialami oleh Simeon, yang "berada di dalam terang, dan dalam dia tidak ada penyesatan". Kutipan ini juga baik menjadi permenungan bagi para orangtua, para senior, pendidik/guru, dst..: hendaknya senantiasa berada dalam terang dan tidak ada penyesatan dalam cara hidup dan cara bertindaknya, sehingga dalam mendampingi dan mendidik anak-anak, yunior, peserta didik, dst.. sungguh bermanfaat bagi masa depan mereka. Hendaknya orangtua, pendidik/guru dst. tidak menyesatkan. Tanda bahwa tidak menyesatkan antara lain senantiasa hidup berbudi pekerti luhur serta mengajarkan dan membina anak-anak/peserta didik untuk berbudi pekerti luhur. Maka perkenankan sekali lagi saya kutipkan ciri-ciri budi pekerti luhur, yang harus dihayati dan dibinakan, yaitu "bekerja keras, berani memikul resiko, berdisiplin, beriman, berhati lembut, berinisiatif, berpikir matang, berpikiran jauh ke depan, bersahaja, bersemangat, bersikap konstruktif, bersyukur, bertanggung jawab, bertenggang rasa, bijaksana, cerdik, cermat, dinamis, efisien, gigih, hemat, jujur, berkemauan keras, kreatif, kukuh hati, lugas, mandiri, mawas diri, menghargai karya orang lain, menghargai kesehatan, menghargai waktu, pemaaf, pemurah, pengabdian, pengendalian diri, produktif, rajin, ramah tamah, rasa kasih sayang, rasa percaya diri, rela berkorban, rendah hati, sabar, setia, sikap adil, sikap hormat, sikap tertib, sopan santun, sportif, susila, tangguh, tegas, tekun, tetap janji, terbuka dan ulet "(Prof.Dr.Sedyawati: Pedoman Penananam Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka, Jakarta 1997)

"Biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak-sorak, biarlah gemuruh laut serta isinya, biarlah beria-ria padang dan segala yang di atasnya, maka segala pohon di hutan bersorak-sorai di hadapan TUHAN, sebab Ia datang, sebab Ia datang untuk menghakimi bumi. Ia akan menghakimi dunia dengan keadilan, dan bangsa-bangsa dengan kesetiaan-Nya" (Mzm 96:11-13).

 

Jakarta, 29 Desember 2009


Minggu, 27 Desember 2009

28 Des - 1Yoh 1:5-2:2; Mat 2:13-18

"Ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya"

(1Yoh 1:5-2:2; Mat 2:13-18)

 

"Setelah orang-orang majus itu berangkat, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: "Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia." Maka Yusuf pun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir, dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: "Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku." Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diperdayakan oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu. Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia:"Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi" (Mat 2:13-18), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. .

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta Kanak-Kanak suci, martir, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Penguasa yang gila akan harta benda, kedudukan/jabatan dan kehormatan duniawi menjadi gusar dan merasa tidak aman dan tidak nyaman ketika muncul tokoh baru yang mengambil atau mendominasi hati rakyat. Itulah yang dialami Herodes ketika menerima info telah lahir seorang Raja sesuai dengan ramalan para nabi, ia ingin membunuhnya, namun karena sulit atau tidak dapat menemukan Sang Raja yang dimaksud maka ia memerintahkan agar semua anak-anak laki-laki usia dibawah 2 (dua) tahun di Betlekem dibunuh. Kanak-kanak pun akhirnya dibunuh dan mereka menjadi martir. Kanak-kanak memang lebih suci daripada orangtua atau orang dewasa, maka pada pesta Kanak-Kanak suci, martir, hari ini saya mengajak kita semua untuk memberi perhatian selayaknya atau istimewa kepada anak-anak. Anak-anak adalah masa depan kita, masa depan bangsa dan Gereja; tidak memperhatikan anak-anak berarti bunuh diri pelan-pelan. Secara khusus kami mengingatkan para ibu untuk berani memboroskan waktu dan tenaga bagi anak-anaknya yang masih balita, 2 atau 5 tahun ke bawah, juga menyusui anaknya secara memadai (menurut berbagai nasihat sebaiknya anak-anak dapat menyusu atau menikmati ASI kurang lebih satu tahun). Kami mengharapkan tidak dengan mudah 'menyerahkan' kanak-kanak kepada asuhan pembantu/baby sitter atau neneknya, sebagaimana dilakukan sebagian ibu/orangtua di kota-kota yang mabuk kerja alias materialistis. Berilah makanan bergizi, sesuai pedoman empat sehat lima sempurna, kepada kanak-kanak.

·   "Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil. Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia." (1Yoh 2:1-2). Kanak-Kanak Yesus yang baru saja kita kenangkan kelahiranNya adalah pendamaian untuk segala dosa kita. Hemat saya jika kita hidup dalam kasih juga akan mengimani bahwa setiap kanak-kanak adalah pendamaian bagi kita semua. Sebagai contoh: suami-isteri tanpa anak dapat uring-uringan terus, sebaliknya ketika mereka memiliki anak kiranya suami-isteri akan bersama-sama mengasihi dan membesarkan atau mendidik anak-anaknya, mengingat dan memperhatikan bahwa anak adalah hasil atau buah kerjasama atau gotong-royong. Maka ketika anda sebagai orangtua, bapak atau ibu ataupun guru/pendidik tergoda atau dirayu untuk berbuat dosa atau menyeleweng, kenangkan dan ingat anak-anak atau peserta didik anda, dengan demikian kiranya anda tak tergerak untuk melakukan dosa. Memang para penjahat sering memanfaatkan anak untuk kepentingan mereka sendiri antara lain dengan menculik seorang anak dan minta tebusan berupa uang sebanyak mungkin. Betapa tinggi nilai seorang anak? Ketika orang dewasa tidak ada alias bepergian kiranya kita cuek saja alias tidak/kurang gusar, tetapi ketika anak kecil tidak ada di rumah kiranya banyak orang gusar dan was-was. Lihatlah dalam dan dengan mata kasih anak-anak, maka anda akan tergerak untuk hidup dan bertindak dalam kasih, saling mengasihi. Anak sungguh membawa damai bagi siapapun yang hidup dan bertindak dalam dan oleh kasih.

 

"Jikalau bukan TUHAN yang memihak kepada kita, ketika manusia bangkit melawan kita, maka mereka telah menelan kita hidup-hidup, ketika amarah mereka menyala-nyala terhadap kita; maka air telah menghanyutkan kita, dan sungai telah mengalir melingkupi diri kita, maka telah mengalir melingkupi diri kita air yang meluap-luap itu" (Mzm 124:2-5).

Jakarta, 28 Desember 2009