Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Selasa, 15 Desember 2009

16 Des - Yes 45:6b-8.18.21b-25; Luk 7:19-23

"Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan seorang lain?"

(Yes  45:6b-8.18.21b-25; Luk 7:19-23)

 

"Ia memanggil dua orang dari antaranya dan menyuruh mereka bertanya kepada Tuhan: "Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan seorang lain?" Ketika kedua orang itu sampai kepada Yesus, mereka berkata: "Yohanes Pembaptis menyuruh kami bertanya kepada-Mu: Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan seorang lain?" Pada saat itu Yesus menyembuhkan banyak orang dari segala penyakit dan penderitaan dan dari roh-roh jahat, dan Ia mengaruniakan penglihatan kepada banyak orang buta. Dan Yesus menjawab mereka: "Pergilah, dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik.Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku." (Luk 7:19-23), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Guru atau orangtua yang baik senantiasa berusaha memberdayakan peserta didik atau anak-anaknya, antara lain mereka diajak bereksplorasi, sebagaimana dilakukan oleh Yohanes Pembaptis kepada para pengikutnya dengan mengutus mereka untuk bertanya kepada Yesus: "Engkaukah yang akan datang itu atau haruskan kami menantikan seorang lain?". Ketika Yesus, Guru Utama,  memperoleh pertanyaan juga tidak dengan 'terang-terangan' memberi jawaban, melainkan dengan menantang mereka untuk melihat dan mendengarkan apa yang Ia lakukan. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan para guru/pendidik, orangtua atau pembina dalam melaksanakan tugas pengutusan atau kewajibannya berpedoman pada motto bapak pendidikan kita, Ki Hajar Dewantoro, yang menurut saya dekat sekali dengan apa yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis maupun Yesus, yaitu "ing arso asung tulodho, ing madyo ambangun karso, tut wuri handayani" (=keteladanan, pemberdayaan dan motivasi). Saya mengajak untuk memberi perhatian perihal pemberdayaan, mengingat dan memperhatikan hal ini kurang diperhatikan, tentu saja tanpa meninggalkan keteladanan dan motivasi, yang inklusif ada dalam kegiatan pemberdayaan. Biasakan dan dampingi anak-anak sedini mungkin di dalam keluarga untuk bereksplorasi, misalnya dengan aneka macam alat permainan mereka atau peristiwa yang dialaminya. Biarkanlah mereka mendengarkan dan melihat sendiri apa yang ada dan terjadi, dan kemudian mawas diri alias bereksplorasi. Sebagai bantuan kepada mereka sering diminta untuk menceriterakan apa yang dilihat dan didengarkannya.

·   "Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi! Sebab Akulah Allah dan tidak ada yang lain. Demi Aku sendiri Aku telah bersumpah, dari mulut-Ku telah keluar kebenaran, suatu firman yang tidak dapat ditarik kembali: dan semua orang akan bertekuk lutut di hadapan-Ku, dan akan bersumpah setia dalam segala bahasa, sambil berkata: Keadilan dan kekuatan hanya ada di dalam TUHAN. Semua orang yang telah bangkit amarahnya terhadap Dia akan datang kepada-Nya dan mendapat malu" (Yes 45:22-24), demikian peringatan Yesaya kepada bangsanya, kepada kita semua orang beriman. "Keadilan dan kekuatan hanya ada di dalam Tuhan" , inilah yang sebaiknya kita renungkan atau refleksikan di masa Adven, dalam rangka menyongsong Hari Kelahiran Penyelamat Dunia, Pembawa keadilan dan kekuatan. Sebagai orang beriman kita diingatkan untuk lebih mengandalkan diri pada Tuhan daripada kekuatan sendiri, harta benda atau uang yang kita miliki dan kuasai. Kita dipanggil untuk tidak bersikap mental materialistis, melainkan bermoral baik dan rendah hati. Ingatlah dan hayatilah bahwa hidup kita serta segala sesuatu yang menyertai kita atau yang kita miliki dan kuasai sampai kini adalah anugerah Tuhan, yang kita terima melalui siapapun yang telah berbuat baik dengan kita, hidup dan bekerja dengan kita. Maka di masa Adven ini dengan rendah hati kita juga dipanggil untuk mengenangkan kebaikan-kebaikan saudara-saudari atau sesama kita alias memperbaharui, memperdalam dan memperkuat hidup persaudaraan atau persahabatan kita. Kedatangan Penyelamat Dunia, Allah yang menjadi manusia dan hadir di tengah-tengah kita merupakan anugerah persahabatan Allah kepada manusia. Marilah kita semua 'berpaling kembali kepada Allah' serta memperdalam persembahan diri kita kepada Allah. "Biarkanlah dirimu diselamatkan", artinya persembahkan diri anda secara total kepada Tuhan. Kepada mereka yang terbiasa suka marah kami harapkan bertobat dan tidak marah lagi.

 

"Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman. Kesetiaan akan tumbuh dari bumi, dan keadilan akan menjenguk dari langit. Bahkan TUHAN akan memberikan kebaikan, dan negeri kita akan memberi hasilnya. Keadilan akan berjalan di hadapan-Nya, dan akan membuat jejak kaki-Nya menjadi jalan" (Mzm 85:11-14)

Jakarta, 16 Desember 2009         

 


Senin, 14 Desember 2009

15 des - Zef 3:1-2.9-13; Mat 21:28-32

"Sesungguhnya pemungut cukai dan perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah".
(Zef 3:1-2.9-13; Mat 21:28-32)


"Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur. Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi. Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga. Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?" Jawab mereka: "Yang terakhir." Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya." (Mat 21:28-32), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

• Banyak orang melecehkan mereka yang pada umumnya disebut penjahat, seperti pencopet, penodong, gelandangan, pelacur, dst,,, dan dengan mudah menghormati mereka yang berpakaian rapi: memakai jas dan berdasi serta naik mobil Mercy, dst.. Jika dicermati secara mendalam hemat saya mereka yang dinilai jahat tersebut tidak sejahat sebagaimana dipikirkan dan dinilai kebanyakan orang: mereka terpaksa berbuat jahat karena keserakahan dan kesombongan orang lain. Sementara itu mereka yang dipandang terhormat belum tentu baik, mungkin adalah penjahat kelas kakap. Memang para petugas resmi pada umumnya takut menangkap dan mengadili penjahat kelas kakap. Akhir-akhir ini ada berita yang cukup menarik dan mengesan: (1) saudara-saudara kita, orang Madura, mengambil besi, yang tidak seberapa jumlahnya, yang akan digunakan untuk membangun jembatan Suramadu ditangkap dan diadili, (2) seorang ibu tua di daerah Jawa Tengah mengambil tiga butir buah kakao diadili dan dihukum, dst.. sementara para koruptor milarydan rupiah dibiarkan tetap bebas berkeliaran ke sana kemari. Maka benarlah apa yang disabdakan oleh Yesus bahwa "pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah", artinya mereka yang dipandang dan dinilai sebagai penjahat pada umumnya lebih mudah bertobat dan memperbaharui daripada para pejabat korup yang terhormat dan dipandang baik. Sama-sama diberi kesempatan untuk bertobat dan memperbaharui diri, mereka yang dinilai jahat lebih mudah daripada mereka yang dinilai dan dipandang terhormat.

• "Pada hari itu engkau tidak akan mendapat malu karena segala perbuatan durhaka yang kaulakukan terhadap Aku, sebab pada waktu itu Aku akan menyingkirkan dari padamu orang-orangmu yang ria congkak, dan engkau tidak akan lagi meninggikan dirimu di gunung-Ku yang kudus. Di antaramu akan Kubiarkan hidup suatu umat yang rendah hati dan lemah, dan mereka akan mencari perlindungan pada nama TUHAN" (Zef 3:11-12). Mereka yang dipandang sebagai `sisa', rendah atau jahat di masyarakat pada umumnya akan muhdah menjadi "umat yang rendah hati dan lemah, dan mereka akan mencari perlindungan pada nama Tuhan". Sementara itu orang yang dipandang terhormat begitu percaya diri dan hanya mencari perlindungan pada dirinya sendiri, alias sombong. Kepada siapapun yang dipandang dan dinilai jahat atau jelek oleh kebanyakan orang kami harapkan untuk tidak marah dan membenci mereka yang menjelekkan tersebut, melainkan tanggapi dengan rendah hati dan lemah lembut sambil mawas diri dan menyadari bahwa kita memang orang yang lemah dan rapuh. Dengan kata lain ketika kurang dihargai dan dihormati oleh sesama hendaknya hal itu menjadi kesempatan untuk menyadari dan menghayati diri sebagai orang berdosa yang dipanggil Tuhan, orang yang mencari perlindungan pada nama Tuhan. Marilah kita mempersiapkan diri bagaikan para gembala yang di malam Natal kesepian di padang rumput, namun terbuka terhadap Penyelenggaraan Ilahi dan kemudian menjadi umat pertama yang bertemu dengan Penyelamat Dunia, yang baru saja lahir di dunia.

"Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku.Karena TUHAN jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita. Tujukanlah pandanganmu kepada-Nya, maka mukamu akan berseri-seri, dan tidak akan malu tersipu-sipu. Orang yang tertindas ini berseru, dan TUHAN mendengar; Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya"

(Mzm 34:2-3.6-7)



Yogya, 15 Desember 2009


Minggu, 13 Desember 2009

14 Des - Bil 24:2-7.15-17a; Mat 21:23-27

"Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal itu?"

(Bil 24:2-7.15-17a; Mat 21:23-27)

 

"Lalu Yesus masuk ke Bait Allah, dan ketika Ia mengajar di situ, datanglah imam-imam kepala serta tua-tua bangsa Yahudi kepada-Nya, dan bertanya: "Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu?" Jawab Yesus kepada mereka: "Aku juga akan mengajukan satu pertanyaan kepadamu dan jikalau kamu memberi jawabnya kepada-Ku, Aku akan mengatakan juga kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu. Dari manakah baptisan Yohanes? Dari sorga atau dari manusia?" Mereka memperbincangkannya di antara mereka, dan berkata: "Jikalau kita katakan: Dari sorga, Ia akan berkata kepada kita: Kalau begitu, mengapakah kamu tidak percaya kepadanya? Tetapi jikalau kita katakan: Dari manusia, kita takut kepada orang banyak, sebab semua orang menganggap Yohanes ini nabi." Lalu mereka menjawab Yesus: "Kami tidak tahu." Dan Yesus pun berkata kepada mereka: "Jika demikian, Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu." (Mat 21:23-27), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Yohanes dari Salib, imam dan Pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Para tokoh hidup bersama, yang gila akan kekuasaan, kedudukan dan kehormatan duniawi, akan gusar jika tiba-tiba muncul tokoh pembaharu hidup bersama yang didukung oleh banyak orang atau rakyat.  Begitulah yang dirasakan oleh imam-imam dan tua-tua bangsa Yahudi dengan kedatangan Yesus, yang tidak percaya bahwa Yesus adalah Allah yang menjadi manusia. Mereka mencoba menjebak dan menjatuhkan Yesus, namun terbalik jadinya ketika mereka ditanyai perihal baptisan Yohanes; mereka dalam ketegangan antara tidak percaya dan takut pada orang banyak, serta kemudian membodohi diri dengan berkata "Kami tidak tahu". Yohanes dari Salib yang kita kenangkan hari ini adalah pembahaharu Ordo Karmelit, namun usaha pembaharuannya ditentang, bahkan ia diajuhi oleh rekan-rekannya. Mereka yang tidak percaya pada pembaharuan berarti kolot, tidak mengikuti perkembangan zaman, karena segala sesuatu di dunia ini terus berkembang, tumbuh, berubah dan diperbaharui terus menerus. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan kita semua untuk senantiasa bersikap terbuka terhadap aneka kemungkinan dan kesempatan untuk berubah atau diperbaharui, dalam rangka mempersiapkan diri kedatangan Sang Pembahaharu Sejati, Yesus, Penyelamat Dunia. Sikap terbuka ini perlu dijiwai oleh keutamaan rendah hati, yaitu "sikap dan perilaku yang tidak suka menonjolkan dan menomorsatukan diri, yaitu dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun pada kenyataannya lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan dirinya" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24).

·   "Aku melihat dia, tetapi bukan sekarang; aku memandang dia, tetapi bukan dari dekat" (Bil 24:17). Kutipan ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita di masa Adven ini. Siapapun yang telah 'melihat dan memandang', meskipun pada taraf atau tingkat rohani/spiritual,  yang dinantikan dan dikasihi kiranya akan hidup dan bertindak dengan penuh harapan: berharap agar segera dapat melihat dan memandang secara dekat alias bertatap muka dan bercakap-cakap bersama. Orang yang berharap pada umumnya juga terbuka terhadap aneka macam kesempatan dan kemungkinan, dan dengan demikian ia senantiasa menjaga diri siap sedia untuk melakukan sesuatu. Hal yang demikian ini kiranya dihayati oleh para pelajar atau mahasiswa menjalang ujian, para calon mempelai yang tidak lama lagi akan saling mengikat janji hidup berkeluarga, dst…Cara hidup dan cara bertindak para pelajar, mahasiswa atau calon mempelai dalam rangka menyambut hari "H" tersebut kiranya sesuai dengan yang diharapkan dari kita semua di masa Adven ini. Cara hidup dan cara bertindak itu antara lain diwarnai oleh pembersihan diri dalam rangka menampilkan diri sehingga menarik, mempesona dan menawan serta bekerja keras dalam melaksanakan tugas atau kewajiban. Marilah kita berusaha membersihkan diri dari aneka macam dosa, kejahatan maupun kebobrokan alias memperbaharui diri. Mungkin baik dalam kegiatan pembersihan diri ini kita bekerja sama, artinya saling membantu, melihat dan memandang satu sama lain untuk saling memberi tahu pembaharuan diri macam apa yang selayaknya harus dilakukan dalam rangka menyongsong Pesta Natal yang akan datang.

 

"Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, tunjukkanlah itu kepadaku. Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari. Ingatlah segala rahmat-Mu dan kasih setia-Mu, ya TUHAN, sebab semuanya itu sudah ada sejak purbakala.Dosa-dosaku pada waktu muda dan pelanggaran-pelanggaranku janganlah Kauingat, tetapi ingatlah kepadaku sesuai dengan kasih setia-Mu, oleh karena kebaikan-Mu, ya TUHAN" (Mzm 25:4-7).

              

Jakarta, 14 Desember 2009