Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Sabtu, 24 Oktober 2009

24 Okt - Rm 8:1-11; Luk 13:1-9

"Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma!"

(Rm 8:1-11; Luk 13:1-9)


"Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan. Yesus menjawab mereka: "Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian. Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian." Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini: "Seorang mempunyai pohon ara yang tumbuh di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya. Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma! Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!" (Luk 13:1-9), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.


Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
• Bertobat berarti memperbaharui diri dan meninggalkan cara hidup atau cara bertindak yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan; dengan kata lain terjadi perubahan, dan tentu saja perubahan ke arah yang lebih baik. Yang abadi di dunia ini adalah perubahan, dan masing-masing dari kita seiring dengan bertambahnya usia, pengalaman dan pergaulan pasti mengalami perubahan-perubahan tertentu. Dari kita semua diharapkan agar perubahan-perubahan yang terjadi dalam diri kita masing-masing tidak percuma, yang berarti menghasilkan buah-buah, yaitu nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan hidup yang menyelamatkan. Maka baiklah kita mawas diri: apakah di tempat tinggal dan tempat tugas/kerja kita masing-masing, kita sendiri tumbuh berkembang dalam iman dan kecerdasan dan cara hidup serta cara bertindak kita mempengaruhi lingkungan hidup kita semakin baik, menyenangkan dan mempesona bagi siapapun. Sebagai tanda atau gejala bahwa cara hidup dan cara bertindak kita tidak percuma, antara lain kita semakin dikasihi oleh Tuhan maupun sasama kita. Kepada kita semua yang mungkin dinilai percuma kehadiran dan sepak-terjang kita, marilah kita perbaiki dengan rendah hati dan kerja keras. Bahwa kita masih diperkenankan hidup dan bertindak sebagaimana adanya pada masa kini hendaknya dihayati sebagai kemurahan dan kesabaran hati Tuhan, maka jangan disia-siakan kemurahan dan kesabaran hati Tuhan.
• "Mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh. Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera" (Rm 8:5-6), demikian peringatan Paulus kepada umat di Roma, kepada kita semua orang beriman. Kita semua kiranya mendambakan hidup dan damai sejahtera, maka marilah hidup menurut kehendak Roh Kudus, sehingga cara hidup dan cara bertindak kita menghasilkan buah-buah Roh seperti : "kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri" (Gal 5:22-23). Jika kita menghayati keutamaan-keutamaan sebagai buah Roh tersebut di atas ini maka kita pasti akan hidup damai sejahtera, selamat dan sehat lahir dan batin, jasmani dan rohani. Kepada mereka yang masih hidup menurut daging alias sesuai kehendak setan seperti "percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora"(Gal 5:19-21) , kami harapkan bertobat dan meninggalkan cara bertindak yang akan membawa ke penderitaan untuk selamanya. Perkenankan saya mengangkat salah satu keutamaan yang menurut saya up to date dan mendesak untuk kita hayati dan sebarluaskan, yaitu kesetiaan. Kami mengajak kita semua untuk setia pada panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing, sehingga cara hidup dan cara bertindak kita tidak percuma, tetapi berbuahkan apa-apa yang menyelamatkan dan membahagiakan baik diri kita sendiri maupun orang lain yang kena dampak cara hidup dan cara bertindak kita.


"TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya. Sebab Dialah yang mendasarkannya di atas lautan dan menegakkannya di atas sungai-sungai. "Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?" "Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia."

(Mzm 24:1-5)


Jakarta, 24 Oktober 2009


Kamis, 22 Oktober 2009

23 Okt - Rm 7:8-25a; Luk 12:54-59

"Mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?"

(Rm 7:8-25a; Luk 12:54-59)

 

"Yesus berkata pula kepada orang banyak: "Apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata: Akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi. Dan apabila kamu melihat angin selatan bertiup, kamu berkata: Hari akan panas terik, dan hal itu memang terjadi. Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini? Dan mengapakah engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar? Sebab, jikalau engkau dengan lawanmu pergi menghadap pemerintah, berusahalah berdamai dengan dia selama di tengah jalan, supaya jangan engkau diseretnya kepada hakim dan hakim menyerahkan engkau kepada pembantunya dan pembantu itu melemparkan engkau ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas."(Luk 12:54-59), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Yohanes dari Capestrano, imam, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Karena wilayah Indonesia terletak di antara lempengan bumi, maka sering terjadi gempa bumi, dan akhir-akhir ini gempa bumi tiada henti terjadi. Para pakar gempa bumi telah memprediksi akan terjadinya gempa bumi, dan memang tidak tahu persis hari "H'nya; mereka mencermati dan menilai gerakan lempengan bumi serta berpesan pada daerah-daerah yang kemungkinan akan terjadi gempa bumi agar siap-siaga sewaktu-waktu terjadi gempa bumi. Dalam peristiwa gempa bumi terakhir yang melanda wilayah Sumatera Barat akhir September lalu nampak bahwa kita belum memiliki sarana yang memadai dalam mengatasi dampak gempa bumi, sebagaimana telah dimiliki beberapa Negara lain yang berpartisipasi mencari korban gempa (antara lain mereka mimiliki alat dan anjing yang dapat mendeteksi keberadaan korban yang masih hidup atau mayat). Gempa bumi hanya merupakan salah satu peristiwa yang menandai zaman ini, dan kiranya masih banyak peristiwa yang sering terulang kembali. Sabda Tuhan hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua untuk meningkatkan kepekaan dan perhatian kita atas berbagai macam peristiwa yang memiliki dampak sosial cukup besar. Mungkin pertama-tama dan terutama masing-masing dari kita hendaknya peka terhadap apa yang terjadi dalam tubuh kita masing-masing, misalnya gejala akan sakit, bagi rekan perempuan gejala datang bulan/menstruasi atau hamil, dst.. Hemat saya ketika kita peka terhadap apa yang terjadi dalam tubuh kita, maka dengan mudah kita akan mampu mendeteksi aneka kemungkinan peristiwa yang akan terjadi di lingkungan hidup kita, dan kita tergerak untuk mempersiapkan segala sesuatu yang kiranya dibutuhkan untuk mengatasi aneka dampak peristiwa. St Yohanes, imam, yang kita rayakan hari ini juga menjadi pelindung pelayanan pastoral/pastor angkatan bersenjata; hemat saya angkatan bersenjata erat kaitannya dengan pendeteksian dan penilaian peristiwa-peristiwa. Dalam kasus atau peristiwa gempa bumi di Indonesia pada umumnya angkatan bersenjata yang siap sedia untuk terjun di lapangan guna membereskan aneka dampak gempa bumi.

 

· "Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku. Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku"(Rm 7:21-23), demikian kesaksian Paulus. Apa yang dikatakan oleh Paulus ini merupakan buah pengenalan diri sendiri, apa yang terjadi dalam dirinya. Anggota-anggota tubuh kita memang dapat menghambat untuk berbuat baik, mungkin karena anggota tubuh kita tidak sehat. Marilah kita cermati diri kita masing-masing: anggota tubuh mana yang sering menghambat atau menghalang-halangi kita untuk berbuat baik kepada saudara-saudari kita? Jika kita telah mengenali dengan baik anggota tubuh kita yang sering mengganggu atau menghalangi kita untuk berbuat baik, hendaknya diusahakan perbaikan atau penyembuhan atas anggota tubuh tersebut atau mungkin butuh pengendalian khusus. Salah satu usaha perbaikan atau pengendalian antara lain kita minta bantuan orang lain untuk menegor ketika kita berbuat jahat atau melakukan apa yang merugikan orang lain alias melawan hukum Allah, perintah untuk saling mengasihi satu sama lain. Jika kita mampu mengendalikan anggota-anggota tubuh kita sehingga tidak melakukan apa yang jahat, maka kita juga lebih mudah berbuat baik kepada orang lain dan sikap kita terhadap orang lain berarti melayani bukan menguasai.

 

"Biarlah kiranya kasih setia-Mu menjadi penghiburanku, sesuai dengan janji yang Kauucapkan kepada hamba-Mu.Biarlah rahmat-Mu sampai kepadaku, supaya aku hidup, sebab Taurat-Mu adalah kegemaranku"

(Mzm 119:76-77)

 

Jakarta, 23 Oktober 2009


Rabu, 21 Oktober 2009

22 Okt - Rm 6:19-23; Luk 12:49-53

"Aku datang untuk melemparkan api ke bumi"

(Rm 6:19-23; Luk 12:49-53)


"Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala! Aku harus menerima baptisan, dan betapakah susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung! Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan. Karena mulai dari sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga.Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya."( Luk 12:49-53), demikian kutipan Warta Gembira hari ini


Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
• Ketika terjadi kebakaran rumah atau gedung kiranya hampir semua jenis barang dan bahan material bangunan dapat luluh lantak atau menjadi abu, kecuali logam emas murni. Emas murni terbakar berarti semakin nampak kemurnian atau keasliannya. Sabda Yesus hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua untuk mawas diri: sejauh mana kita setia pada charisma atau spiritualitas atau visi kita masing-masing, entah secara pribadi maupun organisatoris. Berbagai tantangan, hambatan, masalah maupun godaan kiranya sedikit banyak telah membuat kita kurang setia pada charisma, spiritualitas atau visi yang pernah kita ikrarkan, bahkan ada kecenderungan sementara orang untuk hidup dan berindak hanya mengikuti selera pribadi alias seenaknya sendiri serta mengesampingkan aneka aturan dan tatanan hidup yang berfungsi sebagai pendukung penghayatan charisma, spiritualitas atau visi. Maka dengan ini kami mengajak kita semua: marilah kita setia pada charisma, spiritualitas atau visi kita masing-masing, dan sekiranya telah mengalami erosi dalam penghayatan, marilah kita memperbaharui diri, back to basic. Sebagai suami-isteri hendaknya setia pada pasangan masing-masing, saling mengasihi baik dalam untung maupun malang, serta meninggalkan semangat kekanak-kanakan, sebagai religius marilah kita setia pada charisma pendiri serta meninggalkan cara hidup dan cara bertindak menurut adapt-istiadat keluarga yang tidak sesuai dengan charisma, dst.. Bagi kita semua orang beriman, hendaknya kita hidup dan bertindak sesuai dengan iman kita, hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan. Orgnanisasi- organisasi politik, kemasyarakatan, social dst.. hendaknya setia pada visi dasar organisasi, meskipun perwujudan strategi cara bertindak senantiasa dapat berubah sesuai tuntutan zaman, situasi dan kondisi.

 

"Aku mengatakan hal ini secara manusia karena kelemahan kamu. Sebab sama seperti kamu telah menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan yang membawa kamu kepada kedurhakaan, demikian hal kamu sekarang harus menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa kamu kepada pengudusan." (Rm 6:19), demikian kesaksian iman Paulus kepada umat di Roma, kepada kita semua umat beriman. Kita semua dipanggil untuk "menyerahkan anggota-anggota tubuh kita menjadi hamba kebenaran yang membawa kita kepada pengudusan atau kesucian". Anggota-anggota tubuh yang mungkin perlu kita perhatikan antara lain: pancaindera (mata, telinga, hidung, dst..), kaki dan tangan, dan yang tak boleh dilupakan tentu saja alat kelamin. Hendaknya memfungsikan anggota-anggota tubuh tersebut untuk berbuat benar atau melakukan apa-apa yang baik, yang membawa kita menuju ke kesucian atau pengudusan diri kita. Pada masa kini mungkin baik saya angkat masalah anggota tubuh yang cukup vital yaitu alat kelamin, entah penis atau vagina. Banyaknya pengguguran kandungan yang dilakukan oleh para remaja kita yang belum menikah menunjukkan bahwa cukup banyak remaja atau generasi muda memfungsikan alat kelamin demi kenikmatan diri sendiri, bukan demi kehendak Tuhan dalam rangka partisipasi karya penciptaan manusia. Tuhan menganugerahi kenikmatan hubungan seksual bukan untuk berfoya-foya atau cari enak sendiri, melainkan sebagai sarana atau bantuan bagi manusia dalam berpartisipasi dalam karya penciptaan manusia. Maha hendaknya hubungan seksual hanya dilakukan dengan suami atau isterinya sendiri alias dengan pasangan hidup masing-masing, tidak sebelum menikah maupun dengan berselingkuh dengan orang lain. Pengendalian mata dan telinga juga penting bagi kita semua, lebih-lebih bagi anak-anak kecil, yang belum dapat membedakan mana yang baik dan buruk.


"Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiupkan angin." (Mzm 1:1-4)

 

Jakarta, 22 Oktober 2009