Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Selasa, 20 Oktober 2009

21 Okt - (Rm 6:12-18; Luk 12:39-48)

"Siapakah pengurus rumah yang setia dan bijaksana"

(Rm 6:12-18; Luk 12:39-48)

 

"Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pukul berapa pencuri akan datang, ia tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan." Kata Petrus: "Tuhan, kamikah yang Engkau maksudkan dengan perumpamaan itu atau juga semua orang?" Jawab Tuhan: "Jadi, siapakah pengurus rumah yang setia dan bijaksana yang akan diangkat oleh tuannya menjadi kepala atas semua hambanya untuk memberikan makanan kepada mereka pada waktunya? Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya. Akan tetapi, jikalau hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya: Tuanku tidak datang-datang, lalu ia mulai memukul hamba-hamba laki-laki dan hamba-hamba perempuan, dan makan minum dan mabuk, maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkakannya, dan pada saat yang tidak diketahuinya, dan akan membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang yang tidak setia.Adapun hamba yang tahu akan kehendak tuannya, tetapi yang tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan.Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut."(Luk 12:39-48), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

 

· Kata bahasa Latin "administrare" antara lain berarti mengurus atau mengelola, dan dari akar kata bahasa Latin tersebut kita kenal kata 'administrasi', 'administrator'/kepala/pemimpin, yang erat kaitannnya dengan hal-ihwal atau seluk-beluk duniawi. Kita semua, sesuai dengan tugas, fungsi atau jabatan dan kedudukan kita masing-masing, memiliki tugas atau kewajiban yang harus kita laksanakan, urus atau kelola. Sejauh mana kita mengurus atau mengelola tugas atau kewajiban kita dengan setia dan bijaksana? Setia pada tugas atau kewajiban pada masa kini memang tidak mudah, mengingat dan memperhatikan cukup banyak orang tidak atau kurang setia pada panggilan, tugas, kewajiban dan jabatan atau fungsinya. Bahkan ketika ada orang lain mengingatkan perihal ketidak-setiaannya sering mendapat perlakuan yang tidak baik. Setia dalam mengurus atau mengelola berarti tidak mengurangi sedikitpun alias tidak korupsi. Dalam anggota tubuh kita yang kelihatan hemat saya 'leher' merupakan anggota tubuh yang setia: semua makanan, minuman dan udara yang masuk melalui mulut dan hidung diteruskan semuanya ke dalam tubuh; ketika anggota tubuh lain beristirahat leber tetap bekerja terus sebagai 'jalan' yang harus dilewati, jalan udara. Marilah, apapun yang harus kita urus atau kelola, kita mengurus atau mengelolanya dengan setia. Secara khusus kami mengingatkan kita semua yang terpanggil untuk hidup berkeluarga, imamat maupun membiara, untuk setia menghayati panggilan.

 

·"Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran"(Rm 6:18), demikian peringatan Paulus kepada umat di Roma, kepada kita semua umat beriman. Dimerdekakan dari dosa berarti dosa-dosa kita telah diampuni, dan kemudian diharapkan tidak melakukan dosa lagi melainkan melakukan apa yang baik dan benar alias 'menjadi hamba kebenaran'. Kata 'kebenaran' disini juga dapat diartikan keselamatan, dan tentu saja pertama-tama dan terutama adalah keselamatan jiwa. Maka 'menjadi hamba kebenaran' kiranya dapat diartikan sebagai berikut: barometer, patokan atau ukuran keberhasilan usaha, kerja, pelayanan dan kesibukan kita adalah keselamatan jiwa, entah keselamatan jiwa kita sendiri maupun keselamatan jiwa dari mereka yang menerima pelayanan atau kena dampak cara hidup dan cara kerja kita. Secara konkret di bidang pendidikan atau sekolah, hendaknya lebih diutamakan agar para peserta didik menjadi pribadi baik dan unggul dalam hal berbudi pekerti luhur daripada daripada dalam hal pencapaian nilai-nilai mata pelajaran. Dengan kata lain dalam bidang pendidikan atau sekolah hendaknya 'kecerdasan spiritual' para peserta didik menjadi sasaran atau tujuan. Kecerdasan spiritual merupakan kemampuan untuk bersikap kreatif, mengubah situasi, mengubah aturan maupun memahami atau menguasai makna dari setiap peristiwa. Jika orang cerdas secara spiritual maka kecerdasan lain seperti kecerdasan intelektual dan emosional dapat diusahakan dengan lebih mudah. Kecerdasan  spiritual merupakan kecerdasan tertinggi, yang mendasari kecerdasan-kecerdasan lainnya. Salah satu cara mempersiapkan anak menjadi cerdas spiritual antara lain ketika masih bayi, selama kurang lebih satu tahun menikmati ASI, Air Susu Ibu, maka kami ingatkan kepada para ibu untuk menyusui anak-anaknya secara memadai.

 

"Terpujilah TUHAN yang tidak menyerahkan kita menjadi mangsa bagi gigi mereka! Jiwa kita terluput seperti burung dari jerat penangkap burung; jerat itu telah putus, dan kita pun terluput! Pertolongan kita adalah dalam nama TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi."(Mzm 124:6-8)

 

Jakarta, 21 Oktober 2009

 


Senin, 19 Oktober 2009

20 Okt - Rm 5:12.15b.17- 19.20b-21; Luk 12:35-38

"Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala"

(Rm 5:12.15b.17- 19.20b-21; Luk 12:35-38)



"Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala. Dan hendaklah kamu sama seperti orang-orang yang menanti-nantikan tuannya yang pulang dari perkawinan, supaya jika ia datang dan mengetok pintu, segera dibuka pintu baginya.7 Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia akan mengikat pinggangnya dan mempersilakan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka. Dan apabila ia datang pada tengah malam atau pada dinihari dan mendapati mereka berlaku demikian, maka berbahagialah mereka" (Luk 12:35-38), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.



Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
• Apa yang disebut `persiapan' hemat saya merupakan suatu langkah kegiatan penting dalam aneka usaha atau kesibukan kita; dengan persiapan baik ada harapan cita-cita atau usaha akan sukses. Persiapan yang baik membuat orang yang bersangkutan senantiasa dalam keadaan siap-siaga untuk dipanggil dan diutus. Tanpa melecehkan prosfesi lainnya, hemat saya militer dapat menjadi contoh dalam hal persiapan. Militer memiliki tugas utama dalam `perang', maka ketika tidak berperang pun pada umumnya mereka terus mempersiapkan diri dengan berbagai latihan. Dengan kata lain mereka belajar terus menerus. Bagi para pelajar atau mahasiswa, tugas belajar juga merupakan persiapan, entah persiapan untuk ujian atau profesi masa depan, dalam rangka hidup bermasyarakat, berbangsa maupun bernegara. Hidup kita hemat saya juga merupakan persiapan untuk mati atau dipanggil Tuhan. Maka dengan ini kami mengingatkan dan mengajak kita semua untuk mawas diri bahwa tugas atau pekerjaan kita apapun dan dimanapun adalah persiapan atau pembelajaran. Sikap mental selama persiapan atau belajar antara lain: kerja keras, terbuka, siap sedia terhadap aneka kemungkinan dan kesempatan, bergairah, dst.. atau berjaga-jaga seperti satpam atau penjaga malam yang baik. Salah satu usaha yang tak boleh dilupakan selama persiapan atau belajar menjaga kesehatan dan kebugaran jiwa dan raga. Untuk menjaga keshatan dan kebugaran jiwa dan raga antara lain tidak melupakan hidup doa serta senantiasa berbuat baik jika ada kesempatan, maupun rajin berolahraga dan mengkomsumsi makanan sesuai dengan pedoman `empat sehat lima sempurna', hidup teratur baik dalam kerja maupun istirahat. Usaha menjaga kesehatan dan kebugaran jiwa dan raga ini hendaknya sedini mungkin diusahakan di dalam keluarga: anak-anak dibiasakan hidup sehat dan bugar dengan teladan dan bimbingan orangtua/bapak- ibu.
• "Jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus. Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup"(Rm 5:17-18). Perbuatan atau perilaku kita senantiasa berdampak sosial atau mempengaruhi lingkungan hidup serta sesama kita. Mengingat hal ini kami harapkan agar kita semua senantiasa berperilaku baik dan benar alias berbudi pekerti luhur. Ciri-ciri berbudi pekerti luhur antara lain: " bekerja keras, berani memikul resiko, berdisiplin, beriman, berhati lembut, berinisiatif, berpikir matang, berpikiran jauh ke depan, bersahaja, bersemangat, bersikap konstruktif, bersyukur, bertanggung jawab, bertenggang rasa, bijaksana, cerdik, cermat, dinamis, efisien, gigih, hemat, jujur, berkemauan keras, kreatif, kukuh hati, lugas, mandiri, mawas diri, menghargai karya orang lain, menghargai kesehatan, menghargai waktu, pemaaf, pemurah, pengabdian, pengendalian diri, produktif, rajin, ramah tamah, rasa kasih sayang, rasa percaya diri, rela berkorban, rendah hati, sabar, setia, sikap adil, sikap hormat, sikap tertib, sopan santun, sportif, susila, tangguh, tegas, tekun, tetap janji, terbuka dan ulet"(Prof.Dr. Sedyawati: Pedoman Penananam Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka, Jakarta 1997). Di antara ciri-ciri budi pekerti luhur di atas ciri mana yang sebaiknya lebih kita utamakan untuk dihayati, kiranya perlu diperhatikan lingkungan hidup kita masing-masing. Unggul dalam salah satu ciri, hemat saya ciri-ciri lain secara inklusif terhayati juga. Sekiranya salah satu ciri telah dihayati dengan baik, hendaknya terus diusahakan menghayati ciri lain, sehingga semakin banyak ciri-ciri budi pekerti luhur tersebut dihayati, dan dengan demikian juga semakin banyak orang diselamatkan atau dibahagiakan.

"Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan dan korban sajian, tetapi Engkau telah membuka telingaku; korban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau tuntut. Lalu aku berkata: "Sungguh, aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang aku; aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku."Aku mengabarkan keadilan dalam jemaah yang besar; bahkan tidak kutahan bibirku, Engkau juga yang tahu, ya TUHAN "(Mzm 40:7-10)


Jakarta, 20 Oktober 2009


Minggu, 18 Oktober 2009

19 Okt - "Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri"

(Rm 4:20-25; Luk 12:13-21)



" Seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus: "Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku." Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?" Kata-Nya lagi kepada mereka: "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu." Kemudian Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, kata-Nya: "Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku. Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah ! Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah." (Luk 12:13-21), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.


Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
• Dalam rangka pengelolaan dana atau uang sering ada yang disebut dengan `dana abadi', tentu saja tidak dimaksudkan bahwa dana tersebut bersifat abadi alias tak akan berubah, melainkan yang dimaksudkan adalah dana yang dapat digunakan dalam keadaan sungguh terpaksa. Dana, uang atau harta benda memang tidak abadi; perhatikan saja dengan peristiwa gempa bumi atau kebakaran dan banjir yang akhir-akhir ini melanda wilayah Indonesia: bangunan roboh, aneka macam jenis harta benda ludes terbakar atau hanyut dalam hitungan menit dst.. Cukup banyak orang menjadi stress alias sinthing karena kehilangan harta benda atau kekayaan duniawi tersebut, bahkan ada yang bunuh diri atau hidup ngawur. Harta benda pada dasarnya bersifat sosial, tidak egois, maka hendaknya menyikapi aneka macam jenis harta benda sebagai sarana untuk membangun hubungan sosial, persaudaraan atau persahabatan sejati dalam rangka mengupayakan keselamatan jiwa manusia. Dengan kata lain yang utama adalah keselamatan jiwa bukan keselamatan harta benda atau uang. Kami berharap kepada mereka yang masih mengutamakan atau menempatkan diri sebagai yang tergantung pada harta benda atau kekayaan duniawi alias bersikap mental materialistis atau duniawi, untuk bertobat dan memperbaharui diri. Kepada siapapun yang kaya atau semakin kaya akan harta benda atau uang, kami harapkan juga semakin beriman, dan dengan demikian memfungsikan semua harta benda atau kekayaannya sebagai sarana untuk menjadi lebih suci, lebih mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan melalui pelayanan kepada sesamanya. 


• "Terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan"(Rm 4:20-21), demikian kesaksian Paulus perihal iman bapa Abraham. Sebagai orang beriman kita diharapkan meneladan iman bapa Abraham. Kepada kita semua atau masing-masing dari kita, Allah telah menjanjikan hidup mulia di sorga untuk selama-lamanya setelah dipanggil Tuhan nanti atau meninggal dunia. Janji ini hendaknya memperkuat iman atau penyerahan diri kita kepada Allah melalui sesama atau saudara-saudari kita, dengan kata lain mengimani janji Allah ini berarti kita saling menyerahkan diri, saling membahagiakan dan saling menyelamatkan. Kuasa Allah dalam pemenuhan janji perlu disertai atau didukung oleh cara hidup dan cara bertindak kita yang saling mempersembahkan atau menyerahkan diri satu sama lain. Cara hidup dan cara bertindak yang demikian ini hendaknya pertama-tama dan terutama dihayati di dalam keluarga-keluarga, sebagai dasar hidup bersama, hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara maupun beragama, dengan teladan konkret dari bapak-ibu atau orangtua. Sedini mungkin anak-anak di dalam keluarga dididik.atau dibiasakan dalam hal saling menyerahkan diri, saling membahagiakan satu sama lain. Marilah kita bekerjasama dalam rangka mengupayakan kebahagiaan, keselamatan dan kesejahteraan jiwa kita; marilah kita fungsikan keterampilan, bakat atau hobby kita demi keselamatan jiwa kita sendiri maupun saudara-saudari kita.

"Ia menumbuhkan sebuah tanduk keselamatan bagi kita di dalam keturunan Daud, hamba-Nya itu, -- seperti yang telah difirmankan- Nya sejak purbakala oleh mulut nabi-nabi-Nya yang kudus -- untuk melepaskan kita dari musuh-musuh kita dan dari tangan semua orang yang membenci kita, untuk menunjukkan rahmat-Nya kepada nenek moyang kita dan mengingat akan perjanjian-Nya yang kudus, yaitu sumpah yang diucapkan-Nya kepada Abraham, bapa leluhur kita, bahwa Ia mengaruniai kita, supaya kita, terlepas dari tangan musuh, dapat beribadah kepada-Nya tanpa takut, dalam kekudusan dan kebenaran di hadapan-Nya seumur hidup kita"

(Luk 1:69-75)


Jakarta, 19 Oktober 2009